6 Saddha Dalam Agama Buddha

Umpama umat Buddha, kita tentunya mempunyai keyakinan terhadap Buddha, Dharma dan Sangha. Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana keyakinan (saddha) dalam agama Buddha, kita harus sempat bahwa keyakinan sangat penting cak bagi peluasan dan pelatihan batin sehingga membawa kesenangan. Di privat Anguttara Nikaya III, 206 disebutkan bahwa keyakinan terhadap agama Buddha merupakan salah satu dari lima ‘kekayaan’ nan dimiliki oleh koteng umat Buddha. Di n domestik Anguttara Nikaya III, 127 juga disebutkan bahwa umat Buddha harus mengembangkan keyakinan terhadap ajaran Buddha.

Kok keyakinan penting? Sesuai dengan Jalan Sani Berunsur Delapan, keyakinan atau Saddha dapat membentuk pikiran sopan dengan peluasan ke dalam diri. Padahal pengembangan pikiran caruk anugerah (metta), pikiran melepas dan memberi (dana) dan pikiran welas asih (karuna) adalah pengembangan pikiran benar secara aktif seperti yang disebutkan di dalam Samyutta Nikaya 45.8 dengan objek pelatihan ke luar yang melibatkan orang lain. Bintang sartan Saddha (keimanan) merupakan satu susuk pelatihan pikiran ter-hormat nan dikembangkan hanya dengan pikiran sendiri tanpa melibatkan orang lain. Makara religiositas yakni salah suatu aspek yang kontributif pikiran bermartabat.

Keyakinan sangat utama karena mendorong kita cak bagi membuktikan sendiri ajaran Buddha. Dilukiskan oleh Nagarjuna bahwa keyakinan menganjuri kognisi karena tanpa religiositas bagaimana boleh mengarifi. Doang, keyakinan dalam agama Buddha tidak sekedar keyakinan terhadap satu sosok tertinggi yang akan mengebumikan kita jika meyakininya. Bakal mencecah pencerahan sebagai sosok tulen (arahat), keragu-raguan sekali lagi teristiadat dilenyapkan dengan keyakinan terhadap kebenaran realitas marcapada ini (Dharma).

Keagamaan Tesmak Pandang Buddhis

Keyakinan dalam agama Buddha disebut Saddha. Sasaran keagamaan dalam agama Buddha suka-suka tiga, merupakan:

  1. Buddha
  2. Dharma
  3. Sangha

Perlu diingat bahwa keagamaan terhadap Buddha, Dharma maupun Sangha bukanlah religiositas terhadap rancangan objeknya, seperti patung, kitab nirmala, atau biksu. Sekadar, keyakinan yang benar yaitu keyakinan terhadap makna dibalik simbol tersebut, seperti keyakina terhadap Buddha mengambil alih keagamaan terhadap seorang guru (Buddha) yang teradat diteladani. Beliau mempertunjukkan bagaimana perilaku-perilaku yang baik (sila), ucapan yang penting, pikiran yang positif. Keyakinan terhadap Dharma juga bukanlah keyakinan buta terhadap ajaran yang tertulis internal kitab kudus. Keimanan terhadap Dharma yaitu keyakinan terhadap tanzil Buddha nan diwujudkan melalui praktik berwujud dan langsung. Keyakinan terhadap Sangha mewakili keyakinan terhadap kemampuan setiap orang untuk mencapai tahap pencerahan begitu juga Buddha. Keagamaan terhadap Sangha juga mempunyai makna bahwa kita perlu menyebarkan kebenaran kepada orang lain agar produktif di dalam jalan pelatihan spiritual.

Ciri-ciri Keyakinan Dalam Buddhis

Terserah 2 ciri keyakinan dalam buddhis, yakni:

  1. Mengungkapkan pandangan; menutupi keterbukaan dan keingintahuan
  2. Praktik; menghampari ritual (puja) dan pelaksanaan moralitas (sila) nan benar

N domestik keyakinan dibutuhkan satu pandangan bermartabat nan sependapat dengan Kronologi Indah Berunsur Delapan. Rukyah etis yang karenanya akan membuka wawasan kebijaksanaan nan lugu dan tidak ternoda yang akan membawa kepada pencerahan sejati.

Pratik adalah bentuk keimanan dalam buddhis. Praktik berdasar keyakinan boleh diwujudkan melalui tindakan nyata. Bentuknya adalah implementasi ajaran Buddha kerumahtanggaan perbuatan, ucapan dan pikiran yang bermoral. Moralitas dilaksanakan sebagai wujud keagamaan. Selain itu, praktis keyakinan bisa diwujudkan melalui upacara (puja). Tentunya ritual yang dilaksanakan dilakukan dengan kesadaran nan benar. Formalitas dapat meningkatkan religiositas, namun jangan menjadi perkariban dan salah pengertian. Ritual nan baik adalah perenungan terhadap perbuatan nan dilakukan sejauh ini dan ekspansi pikiran penuh cinta hadiah, welas asih, dan kebijaksanaan.


Source: https://kmbui.ui.ac.id/2015/09/keyakinan-dalam-agama-buddha/