Al Hujurat Ayat 9 10

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ


Dan seandainya terserah dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi seandainya yang satu menumbuk perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang menyampuk perjanjian itu ia berantas sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau engkau telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah sira main-main adil; sepantasnya Allah menyayangi individu-manusia yang main-main adil.

Cak hendak rezeki berbenda dengan berkah?
Ketahui rahasianya dengan Klik disini!

(Dan jika ada dua golongan dari bani adam-hamba allah mukminat) hingga akhir ayat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan satu keburukan, yaitu bahwa Rasul saw. pada suatu hari menaiki keledai kendaraannya, terlampau ia melangkaui Anak laki-laki Ubay. Ketika melewatinya seketika keledai yang dinaikinya itu kencing, lalu Bani Ubay menutup hidungnya, maka berkatalah Bani Rawwahah kepadanya, “Demi Sang pencipta, sungguh bau kencing keledainya jauh lebih wangi daripada bau minyak kesturimu itu,” maka terjadilah antara kaum mereka berdua saling baku hantam dengan tangan, bakiak dan tangkai daun kurma (berperang) Dhamir yang ada sreg ayat ini dijamakkan karena memandang berpangkal segi makna yang dikandung lafal Thaaifataani, karena saban Thaaifah atau golongan terdiri dari keropok hamba allah. Menurut suatu qiraat ada sekali lagi yang membacanya Iqtatalataa, yakni sekadar memandang dari segi lafal saja (maka damaikanlah antara keduanya) dan Dhamir pada lafal ini ditatsniyahkan karena memandang dari segi lafal. (Jika melakukan azab) alias melakukan melewati batas (salah suatu dari kedua golongan itu terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan nan melakukan aniaya itu sehingga golongan itu kembali) artinya, rujuk lagi (kepada perintah Allah) kepada jalan yang ter-hormat (sekiranya golongan itu telah kembali kepada perintah Halikuljabbar maka damaikanlah antara keduanya dengan nonblok) yaitu dengan cara pertengahan (dan bermain adillah) bersikap jangan memihaklah. (Sesungguhnya Halikuljabbar mengesir bani adam-orang yang berlaku adil.)

Wahai sosok-orang Mukmin, jika cak semau dua golongan cucu adam Mukmin bergesekan, maka damaikanlah mereka. Seandainya salah satunya berbuat aniaya dan tak mau rukun, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya sampai mereka kembali kepada syariat Tuhan. Dan jika mereka mutakadim sekali lagi kepada hukum Allah, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil. Berlaku adillah di antara semua cucu adam internal segala apa urusan. Sesungguhnya Allah menyukai bani adam-makhluk yang mengamalkan adil.

Anda harus

untuk bisa menambahkan tafsir

Admin

Submit :

2022-04-01 02:13:32
Link sumber:

http://tafsir.web.id/

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berfirman, “Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sekiranya dia memusat Abdullah bin Ubay.” Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi mendatanginya dan menaiki keledai, dan kaum muslimin ikut pergi berjalan bersama Dia. Detik itu, tanah yang dilewati ialah tanah yang tidak menumbuhkan tanaman. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya, maka Abdullah bin Ubay mengomong, “Menjauhlah dariku. Demi Almalik, bau keledaimu mutakadim menggangguku.” Lalu salah koteng Anshar di antara mereka berbicara, “Demi Allah, keledai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih wangi baunya tinimbang kamu.” Maka salah sendiri berbunga kaum Abdullah (kacang Ubay) ada yang berang untuknya dan memakinya, sehingga tiap-tiap kawannya ganti marah. Ketika itu, antara keduanya saling pukul-menabok dengan pelepah kurma, bakiak, dan tangan. Lewat disampaikan kepada kami, bahwa telah drop ayat, “Dan kalau suka-suka dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” (Terj. Al Hujurat: 9)

Ayat ini mengandung tabu mengerjakan zalim antara sesama kaum mukmin dan larangan untuk mereka untuk saling bertekun, dan bahwa jika di antara dua golongan orang islam saling berperang, maka kaum mukmin nan lain harus memadamkan keburukan besar ini dengan merujukkan mereka dan berpose tengah-paruh secara sempurna sehingga terlampiaskan perdamaian, dan hendaknya mereka menempuh jalan yang condong kepadanya. Jika kedua golongan itu berbaik, maka dulu baik sekali, tetapi jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang bukan, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu sehingga golongan itu, juga kepada perintah Allah, yakni kembali kepada ketetapan Sang pencipta dan Rasul-Nya kasatmata mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kelainan yang di antaranya adalah kutat.

Ayat ini terletak perintah kerjakan berdamai dan perintah berlaku netral intern shulh (perdamaian), karena terkadang shulh ada namun lain objektif, lebih lagi dengan berperan zalim atau memihak kepada keseleo satu di antara kedua golongan. Kalau demikian, maka bukanlah shulh nan diperintahkan, ia wajib tidak cak membela hanya karena pertalian kekerabatan, sesuku atau karena maksud dan maksud tertentu yang membuatnya menyimpang dari keadilan.

Ialah mereka yang adil dalam menyerahkan keputusan di antara turunan dan dalam memimpin, bahkan tersurat pula adilnya sendiri laki kepada istri dan anaknya n domestik memenuhi nasib baik mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Source: https://tafsirq.com/49-al-hujurat/ayat-9