Ana Uhibbuka Ya Habibi Artinya

Assalamu’alaykum….

Halo, Mblo! Barang apa kabar? Masih jomblo aja?

Aku aja udah mau sangkut-paut. Tapi belum tahu kapan, masih nunggu cak semau yang datengin waliku juga sih. Haha…

Tahu gak? Cara terbaik dalam menjemput jodoh yakni dengan mengoreksi diri sendiri. Terus menerus, continuous improvement, lillahi ta’ala 🙂

Ambillah, aku cak hendak berbagi sedikit dari rahasia yang minggu lalu kubeli, judulnya “open your heart, follow your prophet” yang recommended banget!

Dalam bab terakhir berjudul Cinta nan Memuliakanmu, dijelasin gimana cara menjemput cerbak yang diberkahi. Digambarin sekali lagi ancang-langkah yang teradat kita ikuti, sbb:

luruskan niat –> pantaskan diri –> sampaikan maksud kepada orangtua –> ta’aruf maupun perkenalan –> musyawarah dan istikharah –> khitbah –> akad dan walimah.

Salah suatu hal nan bisa dilakukan adalah dengan memperkuat afiliasi dengan Halikuljabbar. Banyak jalannya, tapi yang mau kutulis di sini ialah melangkaui tahmid.

Ada wirid yang indaaaaaaah banget semenjak yang hubungan ditulis maka itu Syaikh Sayyid Quthb. Mungkin kita pernah tahu sebelumnya. Yuk, kita beribadat gini jugaaaa~


Ya Allah, seandainya aku terbawa,


cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya plong-Mu,


hendaknya bertambah kekuatanku bagi mencitai-Mu.


Ya Muhaimin, jika aku roboh cinta,


jagalah cintaku padanya seharusnya tak melebihi cintaku pada-Mu.


Ya Allah, jika aku jatuh hati,


izinkanlah aku sampai ke hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,


hendaknya lain terjatuh aku internal drum cak acap semu.


Ya Rabbana, seandainya aku jatuh hati,


jagalah hatiku padanya, agar tidak berpaling bersumber hati-Mu.


Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,


rindukanlah aku pada seseorang yang merindukan saksi di perkembangan-Mu.


Ya Allah, jikalau aku ribang,


jagalah rinduku padanya agar bukan lalai aku mengharapkan surga-Mu.


Ya Yang mahakuasa, jikalau aku menikmati sayang puspa hati-Mu,


janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya


bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.


Ya Sang pencipta, jika aku jatuh hati plong buah hati-Mu,


jangan biarkan aku tertatih dan tercatak


internal perjalanan janjang menyeru manusia kepada-Mu.


Ya Sang pencipta, kalau Kau halalkan aku mendambakan puspa hati-Mu,


jangan biarkan aku melampaui sempadan


sehingga aku melupakan pelalah hakiki dan kangen langgeng


hanya kepada-Mu.


Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa membedabedakan ini


sudah tergabung dalam cinta kepada-Mu,


sudah lalu berjumpa dalam ketaatan lega-Mu,


telah beraduk internal dakwah-Mu,


mutakadim berpadu dalam membela syariat-Mu.


Kukuhkanlah ikatannya, Ya Allah,


kekalkanlah cintanya,


tunjukkkanlah jalan-jalannya.


Penuhilah lever-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar.


Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu


dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Dua bait ragil itu do’a rabithah lho.. Sempat ketel? Yang terserah di al-ma’tsurat, Mblo.. Uda baca pagi ini?? 😉

Ada kutipan bagus terbit novelnya bang Darwis Tere Liye “Wulan Tenggelam di Wajahmu”

Begitulah arwah. Robek tidaknya sekerat daun di tempat tersembunyi semua sudah ditentukan. Musnah atau menetesnya sebulir embun nan menggelayut di anak uang anggrek di dahan minimal tinggi, alas paling jauh, semua sudah ditentukan.

Seandainya urusan sekecil itu hanya sudah lalu ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang bertambah segara luput dari garis hidup?

Source: http://ikasekarsari.blogspot.com/2013/07/ana-uhibbuka-ya-habibi.html