Analisis Belajar Dan Analisis Soal


editor
Edi Elisa

/ kategori Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran / tanggal diterbitkan 12 Juni 2022 / dikunjungi: 2.61rb mana tahu

Setelah pertanyaan ditulis oleh guru dalam tulang beragangan tiket soal, tidak serta merta guru bisa menunggangi soal tersebut untuk menyukat kemampuan peserta didik. Soal tersebut harus diuji ketepatannya, dalam bahasa evaluasi disebut dengan “valid”. Keabsahan diartikan sebagai ketelitian alat ukur untuk mengukur barang apa yang hendak diukur. Sebagai contoh: pisau, silet, gunting, gergaji, gergaji mesin semua itu ialah alat pemotong, dari sekian gawai pemotong tersebut manakah yang paling tepat kita gunakan kerjakan memotong rambut? Organ tetak yang paling tepat tersebutlah dinamakan valid. Untuk itu, sepatutnya menyempurnakan syarat ibarat perabot yang baik temperatur harus melakukan uji validitas. Uji validitas tahap permulaan ini disebut dengan uji validitas “logik” atau “teoritik”. Keabsahan logik ini meliputi kebenaran konstraka (construc validity) dan validitas isi (conten validity).

Legalitas konstrak
adalah validitas cak bagi mengetahui presisi hasil ukur dengan sasaran ukur (Cronbach dan Meehl, 1955). Validitas konstruk alias ingat signifikansi berkenaan dengan eksistensi peranti penilaian untuk mengeti pengertian-denotasi yang mengandung dalam materi yang diukurnya. Signifikansi yang terkandung n domestik konsep hasil belajar, sikap, minat motivasi dan lain-lain harus jelas. Ini bermakna kosep yang hendak diukur harus dikembangkan penanda-indikatornya.. Misalnya hasil membiasakan, maka konsepnya yaitu hasil yang dicapai oleh peserta bimbing setelah peserta jaga yang bersangkutan mengalami satu proses belajar dalam jangka hari tertentu. Sementara itu definisi operasionalnya yaitu besaran skor yang diperoleh murid didik dari hasil menjawab tes yang diberikan. Verifikasi nan diberikan kepada petatar ajar tingkat kemampuan peserta didik intern menguasai materi cak bimbingan nan mutakadim disajikan.

Validitas isi
berkenaan dengan kesanggupan alat penilaian dalam mengukur isi yang seharusnya. Artinya, perangkat ukur tersebut mampu menyibakkan isi satu konsep atau luwes yang hendak diukur. Sebelum membuat jari-jari-jeruji pertanyaan terlebuh dahulu carik mengerjakan analisis kurikulum dan analisis buku pelajaran. Kajian kurikulum bermaksud lakukan menentukan total/bobot/perimbangan cak bertanya masing-masing kunci bahasan/sub pokok bahasan yang nantinya digunakan untuk membuat jeruji-kisi tes. Sekiranya plong analisis kurikulum yang digunakan buat menentukan bobot soal yakni alokasi waktu, maka dalam analisis sendi cak bimbingan yang digunakan adalah jumlah halaman tiap muslihat bahasan. Pada prinsipnya kedua analisis tersebut memiliki tujuan yang sama adalah lakukan menentukan bobot tanya. Selain melakukan amatan kurikulum dan analisis kiat latihan untuk menentukan bobot pertanyaan, validitas isi juga bisa ditentukan dengan cara meminta masukan dari teman sejawat, senior, praktisi yang sering disebut pakar/tukang (expert judgemen). Ahli tersebut akan melakukan amatan (bahas) secara kualitatif terhadap butir soal. Telaah dimulai bermula definisi konseptual, definisi operasional, penunjuk, sampai dengan butir istrumen. Selidik terhadap butir soal secara kualititif ditinjau dari tiga hal, yaitu segi materi (berkaitan dengan substansi saintifik yang ditanyakan dalam cak bertanya serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan cak bertanya), isi bangunan (berkaitan dengan teknik penulisan soal), dan editorial/bahasa (berkaitan dengan keseluruhan format dan keajegan tajuk karangan mulai sejak pertanyaan yang satu ke pertanyaan yang lain). Perbaikan granula soal dilakukan berdasarkan catatan-catatan yang diberikan oleh para ahli.

Kesahihan isi butir soal nan menunggangi penilaian rater dengan teknik moderator atau panel bisa dihitung dengan menggunakan formula dari Gregory (2000) maupun formula Lawshe (1975). Pasca- menentukan pamrih pengukuran sampai sreg penentuan validitas logik, granula soal yang tersusun disebut dengan alat ukur darurat (lihat Gambar 1, Tahap-1). Disebut sementara karena belum diuji pelan atau empirik. Uji lapangan ini untuk menentukan validitas empirik, koefisien reliabilitas, kunci beda (DP), penanda kesukaran (IK), maupun efektivitas pengecoh. Semua langkah langkah diistilahkan dengan analisi butir soal secara klasik. Untuk testimoni yang berwatak dikotomi (pilihan ganda), kelima unsur tersebut harus dicari, sedangkan cak bagi verifikasi yang berkepribadian politomi (esai, pol, dll) nan perlu dicari sahaja keabsahan dan koefisien keterjaminan.

a. Kebenaran Empirik

Validitas empirik terdiri bersumber dua adegan, yaitu keabsahan wahi (predictive) dan validitas kesaman (concurrent). Dalam validitas predictive yang diutamakan tidak isi, melainkan kreterianya, apakah penilaian tersebut bisa dugunakan bikin meramalkan suatu ciri, prilaku atau kreteria tertentu yang diinginkan. Misalnya apakah terdapat kekeluargaan yang positif antara hasil tes UN siswa asuh dengan dengan IPK ketika kuliah dikemudian masa. Validitas concurrent artinya membuat tes yang memiliki persamaan dengan verifikasi sepertalian yang sudah ada alias yang sudah dibakukan. Pendapat lain mengatakan bahwa kesahihan kesamaan adalah hasil pengukuran sesuai dengan pengalaman nan terserah detik ini. Untuk menentukan validitas paritas suatu pembuktian merupakan dengan cara mengkorelasikan hasil tes yang dibuat dengan tes sejenis nan telah resmi. Tes konvensional untuk bidang studi yang ada di sekolah memang sangat rumpil, sehingga bikin menentukan kesahihan kesetaraan tidak bisa dilakukan. Untuk tanggulang kelemahan ini uji validitas ekuivalensi dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan angka tiap butir soal dengan skor kuantitas, kebenaran inilah yang comar disebut dengan kesahihan butir tes. Bakal menentukan koefisien validitas biasanya memperalat korelasi point biserial lakukan tes nan bersifat dikotomi (sopan salah) dan korelasi product moment cak bagi tes yang bersifat politomi.

b. Koefisien Reliabilitas

Kredibilitas alat penilaian pada hakikatnya menguji keajegan alat ukur tersebut apabila diberikan berulangkali pada objek yang sama. Ada sejumlah jenis keterandalan, yaitu: Koefisien ekivalen ataupun pararel atau testimoni setara alias tes sejajar dihitung dengan korelasi product moment. Metode pararel di mana tes memiliki kesamaan harapan, tingkat kesukaran, dan kontak tetapi memiliki pengetahuan tanya yang berbeda. Dua jenis pemeriksaan ulang yang berlainan belaka memiliki bobot yang sama diberikan kepada testee nan selaras (double test, double trial method). Koefisien penguatan alias test retest, bisa dihitung dengan korelasi product moment, dengan kaidah memberikan sebuah pembenaran kepada testee yang sama pada waktu nan hampir bersaman, kemudian hasinya dikorelasikan (single test, double trial method). Koefisien kepejalan internal, subuah tes diberikan kepada testee (single test, single trial method). Hasilnya bisa dibelah menjadi dua (split half) sert formula nan digunakan dapat Flanagan, Spearman-Brown, Rulon, Raju. Apabila tak dibelah dua dihitung dengan rumus koefisien alpha-cronbach kerjakan tes berperilaku politomi, kuder-richardson (KR) di mana KR20 cak bagi heterogen, sedangakan KR21 kerjakan homogen, serta formula Hoyt untuk keterandalan inter rater.

c. Daya Cedera

Konotasi daya pembeda (DP) dari sebuah butir pertanyaan adalah menyatakan seberapa jauh kemampuan butir pertanyaan tersebut mampu melepaskan antara testee yang memafhumi jawabannya dengan benar dengan testee yang tidak dapat menjawab soal tersebut (testee yang menjawab salah). Dengan kata lain daya pembanding butir pertanyaan adalah kemampuan butiran soal itu untuk membedakan antara testee yang nan ahli alias berkemampuan tinggi dengan testee yang berenergi tekor. Derajat daya pembeda (DP) suatu granula soal dinyatakan denagan indeks diskriminan nan bernilai -1,00 sampai dengan 1,00. Apabila indeks diskriminasi soal makin mendekati nilai 1,00 ini berguna daya pembeda cak bertanya tersebut akan semakin baik, begitu juga sebaliknya, jika indeks diskriminasi suatu pertanyaan mendekati nilai 0,00 maka sentral penyelaras soal tersebut sangat jelek. Indikator diskriminasi granula tanya bernilai negatif (antara 0,00 sampai -1,00) ini berarti kelompok testee kurang mampu banyak yang menjawab etis, sebaliknya banyak testee nan weduk menjawab salah. Sedangkan kalau satu butir soal memiliki indek diskriminasi 0,00 berfaedah bahwa soal tersebut tidak memiliki anak kunci pembeda, artinya baik peserta bimbing pandai maupun nan kurang fertil menjawab etis tanya tersebut.

d. Indek Kesukaran

Tingkat kesukaran dapat dipandang sebagai eksistensi atau kemampuan murid tuntun menjawab testimoni yang diberikan. Bisa pun dikatakan bahwa tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan skala petatar validasi nan menjawab betul butir pertanyaan yang diberikan. Sedangkan tingkat kesukaran perangkat pembuktian adalah bilangan yng menunjukakn rata-rata proporsi testee yang bisa menjawab seluruh validasi tersebut. Tingkat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan bilangan yang disebut dengan indeks Kesukaran (difficulty indexs). Indeks kesukaran berkisar antara nilai 0,00 sebatas dengan 1,00. Cak bertanya dengan parameter kesukaran 0,00 berarti butir soal tersebut terlalu selit belit, sebaliknya indeks kesukaran soal mendekati 1,00 berjasa tanya tersebut bersisa mudah.

e. Amatan Pengecoh

Menganalisis fungsi pengecoh (distractor) dikenal dengan istilah menganalisis teladan penyebaran jawaban butir soal pada cak bertanya kerangka pilihan ganda. Pola tersebut diperoleh dengan cak menjumlah banyaknya testee nan melembarkan pilihan jawaban butir soal maupun yang tak memilih seleksian manapun (blank). Berpunca pola penyebaran jawaban butir soal dapat ditentukan apakah pengecoh berfungsi dengan baik atau enggak. Satu pengecoh bisa dikatakan berfungsi dengan baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% pengikut tes.

Source: https://educhannel.id/blog/artikel/analisis-butir-soal.html