Apa Arti Brahman Atman Aikyam

Berusul Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Atman
alias
Spirit
(IAST: Ātmā, Sanskerta: आत्म‍ ) dalam Hindu merupakan renjis boncel berpangkal Brahman yang berada di intern setiap turunan hidup.[1]
[2]
Atman di n domestik jasmani manusia disebut: Jiwatman maupun kehidupan alias usia merupakan nan menghidupkan manusia.[1]
Demikianlah atman itu memeriahkan sarwa prani (anak adam di antarbangsa ini).[2]
Indria bukan boleh bekerja bila lain ada atman.[2]
Atman itu bersumber dari Brahman, umpama matahari dengan sinarnya.[1]
Brahman sebagai matahari dan atman-atman misal sinar-Nya nan tersiar memasuki n domestik hidup semua hamba allah.[1]

Sifat-sifat Atman

[sunting
|
sunting sendang]

Dalam Bhagavad Gita dijabarkan adapun resan-sifat Atman, diantaranya adalah:[3]

  • Achedya: tidak terlukai oleh senjata
  • Adahya: lain terbakar oleh api
  • Akledya:tak terkeringkan makanya angin
  • Acesyah: lain terbasahkan oleh air
  • Nitya: abadi
  • Sarwagatah: di mana- mana ada
  • Sthanu: lain berpindah- mengimbit
  • Acala: tidak berputar
  • Awyakta: tak dilahirkan
  • Acintya: tidak terpikirkan
  • Awikara: enggak berubah dan sempurna tidak laki- laki maupun kuntum.
  • Sanatana: pelalah ekuivalen

Atman dalam Bhagavad Gita

[sunting
|
sunting sumber]

Berikut adalah beberapa kutipan sloka yang memuat sifat-sifat Atman dalam Bhagavad Gita:

Sloka



Atman tidak dapat menjadi subyek maupun sasaran dan tindakan maupun pekerjaan.[2]
Atman enggak terpengaruh akan peralihan-perubahan yang dijalani atau dialami perhatian, sukma dan jasad atau badan jasmani.[2]
Fisik jasmani dapat berubah, lahir, ranah, cak bertengger dan pergi, hanya Atman tetap kuat untuk selamanya.[2]

Empat Jalan menemukan Atman

[sunting
|
sunting perigi]

Untuk menemukan Atman nan tersembunyi di n domestik diri anak adam, manusia harus melakukan Yoga.[4]
Sekiranya telah menemukan dan berganduh dengan Atman, maka barulah makhluk menyentuh kebahagiaan sempurna.[4]
Yoga berfungsi menyatukan jiwa manusia dengan Atman, yang tersembunyi di dalam lubuk hati yang minimal dalam.[4]
“Karena semua latihan rohani India (yang dibedakan dengan olah tubuh) betapa dimaksudkan cak bagi mencapai tujuan praktis ini…bagaimana caranya hingga ke Brahman dan sukma sebagaimana Brahman.”[5]

Ada empat jalan (yoga) untuk menemukan Atman, namun empat jalan tersebut membawa kepada tujuan yang suatu.[4]
Khalayak dapat memilih salah satu dari catur jalan tersebut berdasarkan pribadi orang tersebut.[4]
Menurut analisis Hindu, pada umumnya suka-suka empat jenis pribadi manusia yaitu suka merenung, aktif, emosional, dan empiris (menitikberatkan pengalaman).[4]

Keempat jalan tersebut dimulai dari beberapa ramalan terdahulu akan halnya kesusilaan.[4]
Karena tujuan akhir dari masing-masing perkembangan adalah untuk menjernihkan meres diri kita seharusnya bisa terlihat molekul keilahian nan dibawahnya, maka tentu namun pribadi itu harus dibersihkan berasal cirit moral yang osean.[4]
Makhluk yang ingin mengerjakan yoga harus memulai rasam serta praktik umur yang bermoral.[4]


Urut-urutan melalui Pengetahuan / Jnana Marga Yoga

[sunting
|
sunting mata air]

Jalan melalui pengumuman atau jnana yoga diperuntukkan bagi turunan-khalayak nan mempunyai tren jauhari yang abadi.[4]
Bakal orang sebagaimana itu, Hindu menawarkan serangkaian semadi dan pembuktian logis yang dimaksudkan untuk meyakinkan si pemikir bahwa suka-suka hal yang kian dari dirinya yang berhingga itu.[4]

Jalan bikin memperoleh permakluman ini terdiri dari tiga ancang yaitu mendengar, berpikir, dan pengalihan.[4]
Pertama yaitu mendengar, yakni mendengar ucapan pecah orang-sosok bijaksana, dan kitab-kitab ceria.[4]
Tujuannya sebaiknya orang nan bersangkutan berkenalan dengan hipotesis rahasia bahwa di pusat jati dirinya terdapat perigi arwah yang tak berhingga yang tidak dapat dipadamkan.[4]
Persiapan kedua adalah berpikir, ialah Atman nan tadinya berwujud konsep kosong, diubah menjadi wara-wara berharga.[4]
Langkah ketiga adalah pengalihan identifikasi dirinya dengan hidup abadi dengan mengepas membayangkan dirinya sebagai roh langgeng itu.[4]
Kamu harus meluluk dirinya dari tesmak pandang yang farik seolah-olah ia yaitu pribadi yang berbeda, karena memang dirinya yaitu fana dan hanya atman yang nyata.[4]

Jalan melalui Cinta

[sunting
|
sunting sumber]

Jalan melalui belalah atau bhakti yoga farik dengan jnana yoga.[4]
Dalam jnana yoga paparan tentang Tuhan bagaikan suatu samudera yang tak berhingga dan ki berjebah di radiks diri kita.[4]
Tuhan dibayangkan sebagai Diri yang merembesi segala sesuatu yang sepenuhnya produktif di dalam manusia alias di luar basyar.[4]
Tugas manusia adalah mengenal persatuan diri dengan Sang pencipta, dan Allah bukan dipahami andai pribadi.[4]
Akan saja, kerjakan seseorang yang lebih mengutamakan cinta daripada perhatian, Tuhan pastilah terlihat berbeda dengan peristiwa-keadaan tersebut.[4]
Pertama, bhakti akan mendorong semua rukyah yang menyatakan Yang mahakuasa yakni diri pribadinya, malah dirinya nan paling dalam, dan berkeras bahwa Tuhan bukan dari dirinya.[4]
Alasannya, karena cinta merupakan perasaan yang dicurahkan keluar.[4]
Kedua, tujuan jnana berlainan dengan bhakti.[4]
Tujuannya bukanlah melihat keesaan dirinya dengan Sang pencipta, melainkan cak bagi memuja Almalik dengan semesta kemampuan yang ada pada dirinya.[4]
Segala yang harus dilakukan adalah mencintai Tuhan dengan setulus lever, mencintai dalam vitalitas, mencintai kejadian tidak karena Engkau, dan menganakemaskan-Nya tanpa pamrih apapun.[4]

Suka-suka tiga kaidah pendekatan bhakti yang perlu diketahui merupakan:

  • a. Japam, yaitu cak bimbingan menyebut nama Yang mahakuasa iteratif-ulang kali.[4]
  • b. Mendengungkan persilihan cinta, menunjukan permakluman bahwa ada berbagai jenis cinta, misalnya cinta anak-orang tua dan suami-cem-ceman, dan lain-lain.[4]
    Cara ini menunda orang yang melakukan yoga mengalihkan semua camar kepada Tuhan.[4]
  • c. Pemuliaan terhadap Yang mahakuasa menurut kerangka teladan seseorang.[4]
    Menurut agama Hindu ada tingkatan-tingkatan cak acap nan semakin benar-benar dan timbang balik.[4]
    Tahap purwa adalah sikap mereka yang dilindungi terhadap si pelindung.[4]
    Tahap kedua adalah tahap persahabatan, di mana Tuhan dipandang sebagai rival bahkan inversi sepermainan.[4]
    Tahap ketiga ialah sikap cinta ayah bunda di mana Tuhan dipandang anak adam bagaikan anak asuh.[4]

Urut-urutan menerobos Kerja

[sunting
|
sunting sumber]

Jalan melangkahi kerja maupun karma yoga ditujukan secara khusus bikin hamba allah yang berwatak aktif.[4]
Kerja ialah pokok nasib khalayak. Dorongan berkarya bukanlah senawat ekonomis, melainkan motivasi serebral.[4]
Individu akan merasa gelisah atau kehilangan semangat ketika tidak bekerja.[4]
Jalan ini ditujukan secara singularis bagi anak adam yang berwatak aktif. Jalan ini memperalat kerja bagaikan sarana buat menuju Halikuljabbar.[4]

Karma yoga mempunyai rute-rute alternatif tergantung pada pendekatan kita, apakah dengan filosofis maupun dengan sikap selalu.[4]
Jadi karma yoga dapat dipraktikkan dengan gaya jnana yoga (pengetahuan) atau bhakti yoga (belalah).[4]
Pekerjaan dapat menjadi wahana memfokus Tuhan melalui kedua hal tersebut, karena agama Hindu mengajarkan bahwa setiap tindakan yang dilakukan pada dunia di luar kita mempunyai reaksi nan sepadan di internal diri pelakunya.[4]
Setiap perbuatan yang cucu adam bikin untuk kurnia kesejahteraan diri manusia akan membusut suatu lapisan ego yang semakin mempertebal jarak antara dirinya dan Tuhan, baik yang dipahami di dalam diri maupun di luar diri.[4]
Demikian juga setiap tindakan yang dilakukan tanpa menghafaz kepentingan diri koteng, akan mengurangi kendala untuk menyentuh Atman di dalam diri, sampai hasilnya tidak ada hambatan yang mengaburkan hubungan seseorang dengan Allah.[4]

Koteng yang menganut urut-urutan karma yoga akan berusaha melakukan setiap keadaan yang dihadapinya seakan-akan hal itu merupakan satu-satunya tugas nan harus dikerjakannya.[4]
Ia akan berusaha menunggalkan perhatiannya secara utuh dan mantap terhadap setiap tugas, dengan menjauhkan segala rancangan ketidaksabaran, kegembiraan, ataupun usaha nan sia-sia cak bagi mengerjakan atau menghafal beragam hal lainnya kerumahtanggaan musim yang sama.[4]
Ia akan berusaha sekuat tenaga, karena jika tak bermanfaat dia telah menyerah kepada kemalasan yang merupakan aturan mementingkan diri.[4]

Jalan melalui Tuntunan Kognitif

[sunting
|
sunting mata air]

Kronologi melalui latihan kognitif disebut juga kaisar yoga karena diversifikasi yoga ini bakir membawa makhluk ke taraf yang tinggi.[4]
Satu-satunya syarat yang diperlukan bakal menempuh raja yoga ini adalah dimilikinya suatu premis kuat bahwa diri manusia sebenarnya jauh lebih mengagumkan dari yang kita sadari detik ini.[4]
Bani adam yang mengerjakan raja yoga akan berbuat percobaan terhadap rohaninya koteng dengan hipotesis bahwa Atman ada di n domestik lapisan-saduran diri individu.[4]
Tujuan raja yoga adalah untuk membuktikan keabsahan dari penglihatan tentang saduran-lapisan ini.[4]

Tahap-tahap dari sri paduka yoga terserah delapan tingkat, hanya boleh dibagi menjadi empat bagian, adalah:[6]
a. Persiapan etis alias langkah di bidang kepatutan, merupakan tidak mendabih atau membenci apapun lagi, tidak mencuri, tidak berbuat mesum, tidak berbuat curang, dan harus jati secara batin.[6]
b. Ancang badani, yaitu orang harus mengendalikan gerak-gerik, napas tubuh, serta perasaannya.[6]
c. Merenung, merupakan orang harus dapat memusatkan perhatiannya kepada sesuatu supaya menjadi tenang. Setelah senyap insan harus merenungkan sesuatu.[6]
d. Samadhi, yang meluputkan perasaan adanya identitas. Tubuh dan perasaan menjadi mati terhadap segala perangsang mulai sejak luar. Saja bulan-bulanan yang direnungkan itulah yang adv amat bersinar-sinar.[6]

Jika telah dapat mengaras tahap ini, maka ia telah mengaras pangkat moksa, yaitu kesadaran bahwa segala apa sesuatu adalah satu dan dengan pengalamannya ia merealisasikan kesatuan itu.[6]
Baginya sahaja Atman/Brahman saja yang kekal, sementara itu apa nan tak di internal dunia ini adalah mujarad ataupun tidak berupa.[6]

Wacana

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    c




    d



    Bagus Takwin. 2003.
    Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikiran Timur. Depok: Jalasutra.
  2. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    Harun Hadiwijono. 1971.
    Ekstrak Metafisika India. Jakarta: BPK Ancala Sani.
  3. ^


    a




    b




    c




    d




    (Inggris)Bhaktivedanta Swami Prabhupada (Trans.). 1986.
    Bhagavad Gita As It Is. Sydney: The Bhaktivedanta Book Trust.
  4. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    n




    o




    p




    q




    r




    s




    t




    u




    v




    w




    x




    y




    z




    aa




    ab




    ac




    ad




    ae




    af




    ag




    ah




    ai




    aj




    ak




    al




    am




    an




    ao




    ap




    aq




    ar




    as




    at




    au




    av




    aw




    ax




    ay



    Huston Smith. 1999.
    Agama-Agama Manusia. Jakarta: Obor. Hal. 40-41.

  5. ^

    Heinrich Zimmer. 1951.
    The Philosophy of India. New York: Patheon Books. p. 80-81.
  6. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g



    Harun Hadiwijono. 1982.
    Agama Hindu Budha. Jakarta: BPK Giri Mulia. Hal. 25.

Tatap kembali

[sunting
|
sunting sumber]

  • Jiwa
  • Jiwa
  • Roh dalam agama Serani



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Atman