Apakah Motivasi Belajar Di Ukur Dengan Soal Tes

Setelah kisi-kisi angket disusun, selanjutnya disusunlah pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk menimbang motivasi belajar peserta selama pembelajaran berlangsung di kelas kontrol dan eksperimen. Indeks senawat belajar siswa terhadap penataran PKn yang akan diukur yaitu: : (1) tekun menghadapi tugas; (2) ulet menghadapi kesulitan; (3) menunjukkan minat terhadap berbagai keburukan; (4) lebih senang berkarya mandiri; (5) cepat bosan dengan tugas-tugas rutin; (6)dapat mempertahankan pendapatnya; (7) lain mudah melepaskan hal yang diyakini; (8) senang mengejar dan memecahkan soal. Penunjuk motivasi belajar tersebut diadaptasi mulai sejak Sardiman (20121:83).

Perhitungan nilai lecut belajar murid menggunakan skala
Likert

rajah checklist. Penanda motivasi belajar dijabarkan ke intern deskriptor berupa pernyataan operasional. Pendirian menotal klasifikasi hasil penilaian senawat belajar siswa bersendikan hasil jawaban pada angket merupakan:

Skor Akhir =




x 100.

Angka tertinggi transendental diperoleh dengan mengalikan jumlah soal alias aspek penilaian dengan jumlah pilihan.(Widoyoko 2022:151)

Dengan klasifikasi selang antara ibarat berikut:

Diagram 3.3.klasifikasi hasil penilaian cambuk belajar petatar. Skor Akhir Klasifikasi

>78 – 100 Baik (B) >55 – 78 Cukup (C)

33 – 55 Cacat (K) Jarak jeda dihitung dihitung dengan rumus:

48 Jarak interval = (Skor terala kamil – skor terendah ideal) : jumlah kelas jeda Jarak pause = (100 – 33) : 3 = 22, 23 (dibulatkan menjadi 22).

Soal angket motivasi berlatih siswa nan digunakan seumpama instrumen penelitian harus menyempurnakan syarat sebagai alat ukur tembung belajar nan baik. Alat ukur yang baik harus menetapi dua syarat, adalah validitas dan reliabilitas. Selain itu, alat ukur teristiadat dibakukan dalam sebuah proses uji coba sehingga gawai ukur boleh menghasilkan data yang akurat dan handal (Purwanto 2022:114).
3.6.6
Soal-soal Pemeriksaan ulang

Soal testimoni digunakan untuk memaklumi hasil membiasakan siswa secara psikologis.Instrumen tes disusun dengan mengacu pada celah-celah soal nan telah pengkaji lakukan sebelumnya.Tanya pembuktian yang digunakan dalam penelitian ini ialah pertanyaan konfirmasi nonblok berjumlah 25 soal dengan 4 alternatif jawaban. Masing-masing jawaban bermartabat diberi bobot 1 sehingga jikalau siswa menjawab benar seluruh tanya akanmendapatkan skor maksimal 25. Bakal menentukan biji petatar, digunakan rumus:



× 100

Cak bertanya tes objektif nan digunakan misal instrumen penelitian harus menetapi syarat umpama alat ukur hasil berlatih yang baik. Radas ukur nan baik harus menunaikan janji dua syarat, adalah validitas dan kredibilitas. Selain itu, alat ukur teradat dibakukan dalam sebuah proses uji coba sehingga alat ukur boleh menghasilkan data nan akurat dan handal (Purwanto 2022:114).

Di samping adanya syarat validitas dan reliabilitas, soal konfirmasi yang baik yaitu pertanyaan yang tidak terlalu mudah alias tak plus rumit (Arikunto 2010:207).Lakukan itu, diperlukan amatan taraf kesukaran soal.Soal tes kembali terlazim

49 memiliki siasat pembeda soal, yaitu kemampuan satu tanya untuk membedakan siswa yang berkemampuan janjang dengan siswa yang berenergi rendah.Penjelasan akan halnya validitas dan reliabilitas tes adil maupun angket, serta taraf kesukaran, daya pembeda pertanyaan soal nonblok yakni sebagai berikut.


3.6.5.1 Kesahihan

Keabsahan adalah suatu matra nan menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau legalitas suatu perkakas.Instrumen nan jujur mempunyai validitas strata.Padahal perlengkapan yang rendah valid berarti memiliki kesahihan adv minim (Arikunto 2010:211).Cak bagi mengerti valid atau tidaknya instrumen, diperlukan uji kesahihan.N domestik penelitian ini, uji kesahihan dilakukan dengan memperalat keabsahan logis.Validitas membumi yakni kondisi bagi sebuah perkakas yang menyempurnakan persyaratan valid berlandaskan hasil penalaran (Arikunto 2010:65).

Terserah dua keberagaman validitas logis, yaitu kesahihan isi dan validitas konstruksi.Menurut Arikunto (2010:67) validitas isi mengacu lega suatu kondisi sebuah instrumen yang disusun beralaskan isi materi tutorial nan dievaluasi.Sementara itu keabsahan konstruksi mengacu pada satu kondisi instrumen yang disusun beralaskan konstruk aspek-aspek kejiwaan nan sebaiknya dievaluasi.

Mula-mula, akan dilakukan pengujian validitas isi dengan membandingkan antara isi perabot dan materi tuntunan (teori), serta menyejajarkan instrumen tersebut dengan kisi-kisi cak bertanya yang telah dibuat. Lebih lanjut, dilakukan pengujian validitas konstruk. Puas pengujian kesahihan bangunan, peranti dikonsultasikan kepada skuat ahli yang terdiri berpokok dua pihak yaitu Drs. Sigit Yulianto, M.Pd sebagai

50 dosen pembimbing dan Tri Awet, S.Pd ibarat master kelas III SD Bihun Sutapranan. Setelah pengujian bangunan semenjak tim ahli radu, selanjutnya diteruskan dengan uji coba instrumen kepada peserta kelas uji coba adalah siswa kelas bawah III SD Kwetiau Sutapranan Kabupaten Huma, dengan responden 29 siswa pada rontok 12 Maret 2022.

Setelah data didapat dan ditabulasikan, pengujian keabsahan konstruksi dilakukan dengan amatan faktor, yaitu dengan mengkorelasikan skor item instrumen dengan rumus Reability Analysis memperalat program aplikasi SPSS versi 20. Apabila angka korelasi antara item soal dan ponten total (rhitung) lebih dari poin rtabel
dengan taraf pengertian 5%, maka item soal dinyatakan kredibel. Sebaliknya, apabila rhitung< rtabel, maka item soal dinyatakan tak valid.Data butir tanya seleksian ganda dan butiran soal angket motivasi nan dinyatakan valid dapat dilihat pada diagram hasil uji validitas lega Lampiran 12.

Sehabis instrumen diuji cobakan dan diperoleh data nilai pesuluh di kelas uji coba, pemeriksa melakukan uji kebenaran dengan program SPSS 20. Hasil uji legalitas pada soal pilihan ganda menunjukkan terwalak 32 granula soal yang dinyatakan valid, yaitu granula soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 11, 12, 16, 18, 22, 24, 25, 27, 28, 30, 31, 32, 33, 38, 39, 40, 44, 46, 54, 55, 56, 57, 59, 60. Sementara itu plong angket motivasi, 22 soal dinyatakan dinyatakan valid.

Pasca- mendapatkan uji validitas peneliti menjeput 25 soal kredibel yang digunakan bakal mengeti kemampuan awal siswa inferior eksperimen dan kontrol, serta membandingkan hasil kemampuan akhir peserta antara kelas eksperimen dan kontrol.Padahal hasil uji coba angket 22 granula tanya angket yang telah diuji coba,

51 ada 22 pertanyaan valid. Peneliti kemudian memintal 20 cak bertanya terbit 22 soal nan valid yang digunakan cak bagi mengukur keadaan cemeti awal siswa kelas eksperimen maupun pengaturan dan membandingkan perhitungan lecut akhir siswa antara kelas bawah eksperimen dan papan bawah kontrol.


3.6.5.2
Reliabilitas

Uji keterandalan digunakan untuk mengetahui keajegan atau konsistensi alat ukur (Priyatno 2022: 120). Menurut Sekaran n domestik Priyatno (2012:120), reliabilitas abnormal berpokok 0,6 ialah kurang baik, kredibilitas kian dari 0,7 dapat dituruti, dan reliabilitas bertambah pecah 0,8 adalah baik. Uji keterandalan dilakukan dengan acara SPSS 20 berdasarkan pembilangan
Cronbach’s Alpha plong

tiap-tiap item soal nan dinyatakan valid. Data hasil uji keterandalan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.4. Hasil Uji Keterandalan Soal Objektif Keseluruhan Item

Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha

N of Items

,855

60

Diagram 3.5.Hasil Uji Reliabilitas Angket motivasi

Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha

Horizon of Items

52 Plong hasil uji Reabilitas keseluruhan soal pilihan ganda maupun angket dinyatakan Reliabel, hasil uji reabilitas bagi tiap item tanya dapat dilihat intern Suplemen 12

Setelah mengerjakan uji validitas dan reabilitas lakukan soal angket, pengkaji mengidas 20 cak bertanya semenjak 22 soal yang dinyatakan valid dan reliabel. Butir soal angket yang digunakan buat mengukur senawat belajar peserta, yaitu butir cak bertanya nomor: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16,17, 18, 19, 22. Sementara itu bakal cak bertanya tes objektif yang mutakadim diuji kesahihan dan reabilitasnya, peneliti melanjutkan dengan uji taraf kesukaran serta ki akal penyelaras soal.


3.6.5.3
Taraf Kesukaran

Tingkat kesukaran soal merupakan peluang untuk menjawab benar suatu cak bertanya plong tingkat kemampuan tertentu yang umumnya dinyatakan dalam buram indeks. Indikator tingkat kesukaran puas rata-rata dinyatakan dalam tulangtulangan proporsi yang besarannya berkisar 0,00 – 1,00 (Aiken dalam Wahidmurni, dkk. 2010: 131).

Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal, digunakan rumus : Tingkat kesukaran (TK) =

Hasil antisipasi dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu.Klasifikasi tingkat kesukaran tanya dapat dicontohkan begitu juga berikut ini.

0,00 – 0,30 soal tergolong pelik 0,31 – 0,70 cak bertanya tergolong menengah 0,71 – 1,00 soal tergolong mudah (Wahidmurni, dkk. 2010: 132)

53 Butir soal nan telah diuji diuji keabsahan dan reliabilitasnya, selanjutnya dilakukan analisis taraf kesukaran soal.Soal nan baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau enggak terlalu sukar. Sebelum peranti diuji cobakan, peneliti telah mengkonsultasikan taraf kesukaran 30 butir tanya kepada dua khalayak pandai, yakni Drs. Sigit Yulianto, M.Pd sebagai dosen penyuluh dan Tri Lestari, S.Pd laksana guru inferior III SD MI Sutapranan Kabupaten Tegal. Akibatnya, seluruh butir soal mutakadim menepati kriteria soal yang baik yaitu 26,7% (16 butiran tanya) tertera tanya mudah, 50% (30 butiran tanya) termasuk tanya sedang, dan 23,3% (14 granula soal) tertulis soal jarang. Namun setelah dilakukan uji coba instrumen, data statistik menunjukkan 25% (15 butir soal) termasuk soal sangat mudah, 31,66% (19 butir soal) termasuk tanya mudah, 40% (24 granula soal) tertulis soal sedang, dan 3,33% (2 butir tanya) termasuk soal sukar berasal 60 butiran soal. Hasil enumerasi taraf kesukaran pertanyaan tiap-tiap item soal dapat dilihat pada Lampiran 13


3.6.5.4
Daya Pembeda

Daya pengimbang soal adalah kemampuan suatu butiran soal dapat mengeluarkan antara pemukim belajar/murid pendidik yang telah menguasai materi nan sudah lalu ditanyakan dan warga belajar/pelajar pendidik yang tidak/kurang/belum menguasai materi nan ditanyakan. (Wahidmurni, dkk. 2010: 132)

Bagi mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini.

54 DP =

DP = gerendel pembeda soal,

BA = jumlah jawaban bermartabat puas kerumunan atas, BB = jumlah jawaban benar lega kelompok dasar Kaki langit = jumlah peserta pendidik yang mengajarkan pembuktian (Wahidmurni, dkk. 2010: 135)

Adapun klasifikasinya ialah seperti berikut ini (Croker dan Algina dalam Wahidmurni, dkk. 2010: 136)

0,40 – 1,00 soal dituruti baik

0,30 – 0,39 soal diterima sekadar teradat diperbaiki 0,20 – 0,29 cak bertanya diperbaiki

0,00 – 0,19 soal tidak dipakai/dibuang

Hasil penghitungan analisis daya pembeda menunjukkan bahwa 24 butir tanya diterima, 9 butir pertanyaan diterima dan perlu diperbaiki, 7 butir soal diperbaiki/diuji coba lagi dan 20 butir tanya tidak dipakai/dibuang. Berdasarkan hasil tersebut, hanya 33 butir soal nan layak dijadikan sebagai organ penekanan.Berasal 33 butir soal tersebut, pengkaji sudah mengidas 25 butir soal yang akan digunakan sebagai instrumen penelitian. Hasil enumerasi analisis rahasia beda tiap item soal dapat dilihat pada Lampiran 13

Seluruh butir tanya tes adil yang telah diuji kesahihan, reabilitas, taraf kesukaran, dan daya tikai kemudian dipilih 25 butir soal untuk digunakan privat pelaksanaan
pretest dan posttest
di kelas eksperimen dan papan bawah kontrol. Soal tersebut yakni cak bertanya nomor 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 11, 12, 16, 18, 22, 25, 28, 38, 39, 40,

55 44, 46, 54, 55, 56, 60. Hasil rekapitulasi penghitungan validitas, reabilitas, taraf kesukaran, dan siasat pembeda dapat dilihat pada Suplemen 13

Source: https://123dok.com/article/soal-angket-motivasi-belajar-siswa-instrumen-penelitian.eqo1ngmz