Arti Sedekah Dalam Bahasa Sunda

Sedekag adalah ajaran sosial dalam Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sukron Abdillah

Satu saat, Rasulullah SAW didatangi para sahabat nan terdiri atas fakir miskin, kalangan sahabat yang bukan berharta. Mereka memprotes kepada sultan Utusan tuhan SAW, “Wahai Rasulullah, orang-cucu adam mampu telah memborong pahala. Mereka shalat sebagai halnya kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, tapi mereka boleh menyumbang dengan kelebihan hartanya.”

Dengan bijaksana Rasulullah bersuara, “Bukankah Allah SWT telah menjadikan bagi kalian apa-barang apa yang dapat kalian sedekahkan? Senyatanya sreg setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, dan pada setiap tahlil suka-suka sedekah, menyuruh khasiat adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” (HR Mukmin).

Istilah sedekah dalam hadis di atas artinya bukan hanya sebatas membagikan harta bendawi sehingga bisa dimonopoli kalangan berada (aghniya). Intern bahasa tak, sedekah yaitu upaya berbagi manfaat dengan mengoptimalkan kemampuan diri semoga seseorang merasa lega telah berbagi kepelesiran.

Secara teoretis, al-birr (kebajikan) kerumahtanggaan Islam terdiri bermula dua tipe, yakni: al-birr  terkait dengan Allah SWT, dan al-birr terkait dengan sesama. Al-airr tercalit dengan Allah SWT merupakan beriman kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Sementara, al-birr terkait dengan sesama adalah husnulkhuluq, yakni banyak bederma dan tidak mengganggu sesama atau menampakkan keluhuran pribadi.

Sedekah ialah wahi sosial n domestik Islam, nan mampu menghidupkan agama ini hingga melangkahi masa 1.500 waktu. Doktrin Islam mengajarkan bahwa setiap sendi dari jasad kita harus disedekahi, riuk satunya, dengan berkarya gentur menyingkirkan diri dari keterpurukan juga dapat disebut laksana sedekah.

Karena itu, bagi orang orang miskin, miskin, dan tidak berdaya sekalipun, Islam memberikan kesempatan untuk bersedekah karena seperti mana yang diungkapkan internal titah Nabi bahwa setiap perilaku kita bernilai sedekah bila situasi itu memuat biji khasiat untuk kehidupan.

Kaprikornus, kita tidak usah protes bila ada orang kaya yang dermawan, hidup ibarat filantropis, rajin melaksanakan ibadah, dan selalu bederma. Sebab, sedekah itu bukan hanya berkaitan dengan harta bendawi, melainkan terkait dengan langgengnya nilai kemujaraban dalam setiap laku lampah kita.

Cak semau banyak alun-alun hidup yang boleh kita jadikan tipar bikin menuai pahala dari Allah, bila sedekah dikabarkan akan diganjar pahala berkelim; bahkan untuk insan yang demen menderma disediakan oleh Almalik pintu indraloka bernama “Shadaqah”. Bila kita tidak berharta, enggak n kepunyaan uang, dan minim akses ekonomi, bersedekahlah dengan perbuatan, bersedekahlah dengan akal-perasaan, dan bersedekahlah dengan tenaga untuk kemajuan Islam.

Jangan pernah merasa timburu, panas hati, apalagi memprotes keadilan garis hidup Yang mahakuasa karena menjadikan kita sebagai suku bangsa tak gemuk, kaum yang bukan berdaya, dan kaum yang selalu menerima, tetapi tak pernah memberi.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap ruas lemak tulang manusia harus disedekahi setiap hari selagi matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang (yang bertengkar) adalah sedekah, menolong orang hingga beliau dapat naik kendaraan ataupun mengangkatkan komoditas bawaan ke atas kendaraannya merupakan sedekah, perkenalan awal-kata yang baik yakni sedekah, setiap awalan tungkai yang engkau ayunkan berorientasi ke sajadah adalah sedekah dan mengecualikan aral (rintangan, ranting, pakis, kusen, atau sesuatu yang mengganggu) dari jalan juga merupakan sedekah.” (HR Bukhari dan Orang islam). Wallahu a’lam. tepi langit

Source: https://republika.co.id/berita/q0jjf3313/memahami-istilah-sedekah