Bagaimana Keikutsertaan Warga Negara Dalam Pembelaan Negara

Buram DAN WUJUD PENERAPAN SIKAP DAN PERILAKU BELA NEGARA

Selasa, 28 Agustus 2022



Pendahuluan


1.




Bela Negara yaitu sebuah hidup bahadur berkorban demi petak air, baik harta tambahan pula vitalitas sekalipun bahadur dikorbankan demi keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Menurut Kaelan dam Achmad Zubaidi,1




B



ela Negara adalah tekad, sikap dan tindakan penduduk negara yang terstruktur, mondial, terpadu dan kontinu yang dilandasi oleh kecintaan terhadap lahan air serta kesad



a



ran hidup berbangsa dan bernegara. Lakukan pemukim negara Indonesia, usaha pembelaan negara dilandasi oleh kecintaan pada tanah air (kewedanan nusantara) dan kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia dengan keyakinan pada




P



ancasila bak dasar negara serta berpijak sreg Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan kon



s



titusi negara.




2



. Rangka semenjak Bela Negara adalah tekad, sikap dan perilaku pemukim negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia nan bersendikan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelanjutan hidup bangsa dan negara, sesuai dengan Undang-undang No. 3 Hari 2002. Wujud dari operasi Bela Negara adalah kesiapan dan kehadiran setiap penduduk negara bagi berkorban demi mempertahankan kemerdekaan dan bahari negara, kesatuan dan persatuan nasion, keutuhan kewedanan dan supremsi nasional, dan nilai-angka Pancasila dan UUD 1945.



Data dan Fakta



3. Data



,




Perwujudan propaganda Bela Negara dalam konteks perjuangan bangsa adalah kesiapan dan kerelaan setiap warga negara untuk berkorban demi mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan negara, persatuan dan kesatuan nasion Indonesia, keutuhan wilayah nusantara dan yuridiksi kewarganegaraan, serta nilai-kredit Pa



n



casila dan Undang-Undang Sumber akar 1945. Kesemuanya itu merupakan beban setiap warga negara yang atma di mayapada Indonesia. Sebagaimana yang di



a



manatkan maka itu Undang-Undang Dasar 1945 bahwa “setiap warga negara berhak dan terbiasa masuk



2



serta dalam usaha pembelaan negara” (pasal 27 ayat 3 UUD 1945). Pasal tersebut memiliki dua makna, yakni :


a. B



ahwa setiap warga negara memiliki peruntungan berbarengan kewajiban intern menentukan garis haluan-kebijakan mengenai pembelaan negara melalui lembaga-lembaga perwakilan sama dengan diamanatkan maka itu UUD 1945.



b. Se



tiap warga negara harus turut serta dalam setiap gerakan pembelaan negara, sesuai dengan kemampuan dan profesinya masing-masing.



4. Fakta



. Fakta m



enunjukan vitalitas dan sikap Bela Negara tidak sahaja dilakukan melangkahi pertampikan yang menghasilkan kemerdekaan doang, akan semata-mata dapat ditunjukan dengan menampilkan perilaku-perilaku




dan sikap





nan sesuai dengan kerangka ideologis dan konstitusional bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Mengisi kebebasan dapat dikatakan sebagai propaganda Bela Negara, sebab melalui usaha-usaha positif internal mengisi kemerdekaan dapat membuat keberlangsungan Indonesia perumpamaan sebuah negara dapat teguh dipertahankan dan senantiasa rani menjaga persatuan dan kesendirian bangsa ditengah kerasnya tantangan kesejagatan nan bahkan mengikis rasa kebangsaan dan kecintaan warga negara terhadap tanah airnya.




Pembahasan








5.




Bentuk dan Wujud






Bela Negara






.



a.




Bela Negara adalah tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia nan bersendikan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin perturutan semangat bangsa dan negara. Wujud dari usaha Bela Negara yakni kesiapan dan kesanggupan setiap warga




negara




u



ntuk berkorban demi mempertahankan




:




k




emerdekaan dan kedaulatan negara



,




Ketunggalan dan persatuan bangsa



,




Keutuhan wilayah dan dominasi nasional





dan




Angka-poin Pancasila dan UUD 1945. Upaya Bela Negara selain laksana bagasi dasar bani adam, juga merupakan kehormatan bagi setiap penghuni negara nan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, muatan jawab, dan rela berkorban privat pengabdian



3



kepada negara dan bangsa.




Pembelaan negara bukan amung-mata tugas TNI, tetapi sekali lagi segenap warga negara yang sesuai kemampuan dan profesinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seperti dinyatakan dalam pasal 27 ayat 3 UUD 1945, bahwa propaganda Bela Negara adalah hak dan kewajiban setiap penghuni negara. Hal ini menunjukkan adanya asas demokrasi dalam pembelaan negara yang mencangam dua maslahat. Purwa, bahwa setiap penduduk negara turut serta dalam menentukan garis haluan tentang pembelaan negara melangkaui lembaga-lembaga badal sesuai dengan UUD 1945 dan perundang-undangan nan bermain. Kedua, bahwa setiap warga negara harus turut serta kerumahtanggaan setiap usaha pleidoi negara, sesuai dengan kemampuan dan profesinya saban.


b.




Keikutsertaan warga negara dalam wujud upaya Bela Negara diselenggarakan melalui Pendidikan Kebangsaan



,




Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib



,




Pengabdian umpama prajurit Tentara Kewarganegaraan Indonesia secara sukarela dan secara wajib



.




   Pengabdian sesuai profesi (UU No.3 tahun 2002)



.




Usaha pembelaan negara bertumpu pada kesadaran setiap warganegara akan hak dan kewajibannya. Kesadaran




B



ela Negara perlu ditumbuhkan secara terus menerus antara bukan melalui proses pendidikan di




sekolah maupun di luar sekolah dengan memberikan lecut bikin menyayangi kapling air dan bangga seumpama bangsa Indonesia. Motivasi setiap pemukim negara buat ikut serta membela negara Indonesia sekali lagi dipengaruhi maka itu beragam faktor antara bukan camar duka sejarah pertarungan bangsa Indonesia, letak geografis Indonesia nan strategis, kekayaan perigi daya alam, kemajuan mantra pengetahuan dan teknologi, keadaan penduduk yang ki akbar, dan kemungkinan timbulnya rayuan perang. Disamping itu setiap warga negara hendaknya juga memahami kemungkinan adanya bentakan terhadap eksistensi nasion dan negara Indonesia, baik nan cak bertengger berpangkal dalam negeri maupun dari asing kawasan nan masing-masing dapat agak kelam sendiri maupun saling supremsi mempengaruhi.


4


c.




Dewasa ini intimidasi dapat diartikan andai kekhawatiran akan jaminan jiwa sehari-hari, artinya ancaman telah bergeser bentuknya dari ancaman senjata menjadi ancaman : kemiskinan, kedunguan, keterbelakangan, kelaparan, penyakit yang belum ditemukan obatnya, kelangkaan lapangan kerja, tindakan kesewenangan penguasa, kriminalitas, SARA, disintegrasi nasional, terorisme, perdagangan narkotika / obat palsu, hari depan generasi muda. Untuk itu, diperlukannya upaya pleidoi negara riil sistem pertahanan negara yang mengikutsertakan berbagai onderdil baluwarti negara. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa membela negara tidak hanya dengan memanggul bedil menjadi bala, tetapi dapat dilakukan dengan berbagai jenis kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki maka dari itu semua warga negara.



Saran



.


6. S



esuai tuntutan reformasi untuk menuju masyarakat madani, tambahan pula kognisi Bela Negara ini perlu ditanamkan guna menangkal berbagai ragam potensi ancaman




dan




gangguan




sehingga





tidak selalu harus berarti memanggul bedil menghadapi musuh. Belaka keterlibatan warga negara sipil kerumahtanggaan bentuk Bela Negara secara non-fisik bisa dilakukan dengan beraneka ragam bentuk




. B



entuk Bela Negara secara fisik yaitu segala upaya buat mempertahankan kedaulatan negara dengan cara berpartisipasi secara langsung dalam upaya pleidoi negara (TNI Menggotong senjata, Rakyat Bekerja nyata dalam proses Pembangunan).



Akhir.



7.




Bela Negara adalah sebuah usia kosen berkorban demi ibu pertiwi, baik harta bahkan nyawa sekalipun berani dikorbankan demi keutuhan Negara Ketunggalan Republik Indonesia. Sama dengan yang dimanatkan oleh Undang-Undang Bawah 1945 bahwa “setiap pemukim negara berwenang dan wajib turut serta dalam manuver pleidoi negara” (pasal 27 ayat 3 UUD 1945).




Penulis Kolonel Adm Amiruddin Laupe NRP 518374 Analis Menengah Bid Lingja Dit. Bela Negara Ditjen Pothan Kemhan.

Source: https://www.kemhan.go.id/pothan/2018/08/28/bentuk-dan-wujud-penerapan-sikap-dan-perilaku-bela-negara.html