Bahasa Jepang Saya Tidak Mengerti

Sungkap dari pendidikan kriteria 12 tahun berlatih bahasa Inggris sejak sekolah radiks hingga universitas, banyak orang Jepang yang merasa kesulitan berbahasa (khususnya kerumahtanggaan situasi bercakap) Inggris. Sahaja, dengan semakin merentang pengelolaan Olimpiade Tokyo 2022 dan Expo 2025 di Osaka, Jepang mengamalkan upaya penting memusat globalisasi. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa Jepang sederhana dari negara lain dalam keadaan pendidikan bahasa Inggis.

*Artikel ini ditulis makanya orang Jepang nan lahir dan dibesarkan di Jepang, serta mutakadim mengikuti sistem pendidikan Jepang, dan belajar bahasa Inggris secara otodidak. Ini merupakan hasil pengamatan yang dibuat olehnya tentang keterikatan dan kesulitan yang cenderung dimiliki orang Jepang terhadap bahasa Inggris.

1. Pendidikan Bahasa Inggris Invalid pada Pelajaran Sumber akar yang Diarahkan Menuju Kelulusan Ujian

Intern pendidikan bahasa Inggris, sekolah-sekolah Jepang sebagian besar berpusat pada mengaji dan menulis. Keterampilan ini utamanya diasah dengan tujuan cak bagi dapat ki amblas eksamen, dan masa yang dihabiskan untuk melatih kemampuan mengomong dan mendengar sangatlah adv minim. Sederhananya, sistem pendidikan Jepang jelas kurang mempunyai metode yang tepat untuk mempelajari bahasa Inggris kerumahtanggaan kehidupan nyata. Semakin bertambahnya usia petatar, mereka menulis dan mendaras esai yang lebih panjang kerumahtanggaan bahasa Inggris, sekadar pada akhirnya kejadian itu tidak serta merta berkontribusi plong kemampuan bahasa Inggris yang kian baik. Membaca kutipan berusul novel dan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kutipan tersebut doang berfungsi untuk menguji kemampuan kesadaran membaca seseorang, pengetahuan tentang kosa kata, dan frasa idiomatik. Biarpun situasi tersebut dapat menunjukkan tingkat kemampuan bahasa Inggris, itu masih jauh berpunca kederasan bahasa nan sebenarnya.

Di sebagian raksasa kelas, hawa meleleh di depan dan murid-pesuluh mencatat dengan sepi. Gaya mengajar Jepang bersejarah sebagaimana ini enggak sejadi bikin berlatih bahasa Inggris. Selain itu, tidak musykil lagi linguis Inggris di Jepang hanya perlu ki amblas tes kosa prolog tertinggal bikin mendapatkan pekerjaan, padahal tidak lancar bercakap bahasa Inggris. Intern beberapa perian terakhir, Anda akan melihat bilang sekolah memberlakukan latihan interaktif menggunakan bahasa Inggris antara siswa dan guru selama kelas berlangsung. Namun, mereka melewatkan proses

memperoleh keterampilan menerobos kegagalan
, yang merupakan langkah penting ketika mempelajari sesuatu. Guru lebih gegares berbicara di depan kelas, kemudian murid mendengarkan dan berlatih pengucapan, lalu papan bawah berakhir begitu saja. Dengan kata lain, walaupun siswa Jepang unggul dalam pemberitahuan luas tentang struktur bahasa dan kosa prolog, mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan kerjakan membuat kesalahan dan berlatih darinya.

2. Sistem Pendidikan Bahasa Inggris Belum Membidikkan Plong Keterampilan Terdahulu untuk Belajar Bahasa Inggris

Lakukan meringkas barang apa yang sudah lalu kita bahas selama ini, masalah pendidikan bahasa Inggris di Jepang keluih karena tidak adanya patut perian yang diluangkan untuk menggunakan ilmu nan mutakadim dipelajari secara langsung. Mereka bukan luang cara menggunakan kelincahan tersebut dan justru berfokus bikin mendapatkan nilai bagus ketika ujian/lenyap ujian, yang bukan akan mengarah pada kecepatan berbahasa. Sampai-sampai lagi, doang ada sedikit kesempatan untuk berbicara dengan penutur suci bahasa Inggris, melakukan percakapan, “berdiskusi”, penyampaian dalam bahasa Inggris juga sangat jarang. Selain menonton sinema, makhluk Jepang mendatangi tetapi berinteraksi dengan bahasa Inggris dalam rang tulis.

Saat belajar mengomong bahasa baru, Anda perlu keterampilan dan enggak hanya sekedar kosa prolog maupun informasi sekadar. Bahkan meskipun Anda tahu cara menggunakannya, peristiwa itu akan sulit untuk ditingkatkan tanpa praktek sesungguhnya. Poin yang paling terdepan saat melakukan percakapan adalah mengegolkan manah Anda ke dalam kata-introduksi. Tidak akan suka-suka gunanya apabila Anda cuma mengisi gembong dengan kosa kata dan frasa. Pengetahuan akan bermanfaat dan menjadi “pengiring” praktek. Cara mengajar yang digunakan lega kelas bahasa Inggris di Jepang diibaratkan seperti pelatih sepak bola yang mengajarkan anak komidi bagi menendang bola melewati kiper semata-mata melalui kata-kata, dan bukan latihan selayaknya.

3. Pendidikan Jepang Mendorong Mentalitas Kelompok – Kehilangan Kesempatan kerjakan Belajar karena Takut Membuat Kesalahan

“Dengan membuat kesalahan, Ia bisa belajar sesuatu nan hijau”. Ini bukanlah konsep yang asing di Jepang. Namun, alasan orang Jepang kesulitan menuntaskan bahasa baru enggak namun karena prinsip yang diajarkan di kelas namun, semata-mata itu kembali memiliki penggait karib dengan karakteristik nasional yang berurat puas sistem pendidikan.

Di sekolah-sekolah Jepang, murid belajar tentang menjadi babak dari suatu kelompok dan pentingnya berputar bersama kelompok tersebut. Tipe pendidikan inilah yang membuat rasa takut bikin berlaku berbeda dari orang-cucu adam di sekitarnya. Tentu saja, setiap individu memiliki keunikan dengan caranya tiap-tiap, tetapi individu Jepang diajarkan kerjakan memfokus pada kelompok sejak usia mulai dewasa, dan banyak orang nanang bahwa mengikuti apa yang dilakukan cucu adam lain adalah peristiwa yang benar kerjakan dilakukan. Secara umum, manusia Jepang terbiasa untuk bergaya tidak radikal sreg lingkungan mereka. Banyak momongan nan tumbuh dengan mentalitas ini n domestik pendidikan mereka sampai dewasa.

Itulah sebabnya mengapa banyak orang menghalangi diri bikin tidak berbicara dan menjawab pertanyaan di kelas. Ketimbang membuat kesalahan, mereka mengutamakan memencilkan perasaan sipu, dan bahkan tidak mencoba bakal menantang diri mereka koteng.

Karakteristik orang Jepang lainya adalah khuluk “pemalu”, yang mendorong seseorang bikin selalu mencaci lingkungan mereka sebelum berperan. Sebagian ki akbar manusia Jepang merasa berat dan musykil lakukan bersabda di depan inferior, jadi hanya suka-suka sedikit kesempatan bagi seseorang untuk aktif berkata dengan bahasa Inggris internal lingkungan pendidikan serupa ini.

4. Bahasa Inggris Lain Diperlukan di Masyarakat Jepang

Daeah seperti negeri Kanto (Tokyo, Yokohama, dll) dan kewedanan Kansai (Osaka, Kyoto, dll) memiliki populasi penduduk dan wisatawan asing yang relatif tinggi, tetapi bukan di kawasan bukan yang sahaja menyenggangkan sedikit kesempatan bagi individu-orang untuk berinteraksi dengan penutur kalis bahasa Inggris. Oleh sebab itulah tidak banyak bani adam Jepang nan menganggap bahasa Inggris diperlukan untuk semangat sehari-hari.

Jepang terus berkembang selama bertahun-tahun di bawah pengaruh bahasa dan budaya Barat. Ini boleh dilihat dari berjenis-jenis aspek di seluruh Jepang, terutama pada papan tanda berpendidikan Inggris nan terbantah di stasiun-stasiun, jalanan, iklan, desain pakaian, dan masih banyak lagi. Meskipun peristiwa itu tampak bukan komplikasi dari sudut pandang orang Jepang, cinta kali ada kesalahan penggunaan bahasa Inggris nan akan bersama-sama disadari oleh perawi aslinya. Mungkin ada banyak orang yang membeli pakaian hanya karena mereka suka dengan desainnya dan tidak terlalu memperdulikan kalimat intern bahasa Inggris sreg rok nan dibeli. Seandainya Anda berada di Jepang buat liburan, coba perhatikan apa yang orang kenakan di jalanan! Anda pasti akan mematamatai bahasa Inggris yang aneh di semua tempat.

Terlebih lagi, pada proporsi internasional, Jepang adalah umum yang dulu homogen, sebagian besar populasinya merupakan penduduk Jepang ceria. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang terbit luar distrik yang bermigrasi ke Jepang, dan ada eskalasi wisatawan asing dari tahun ke tahun. Jumlah turunan asing yang tampak di kronologi pun terus meningkat di kota-ii kabupaten osean. Namun, jumlah tersebut masih terbilang cukup rendah sehingga kebanyakan orang Jepang menganggap tidak perlu untuk belajar bahasa Inggris.

5. Lambang bunyi Katakana Semakin Membantut Pembelajaran Bahasa Inggris

Budaya Jepang yang mengutarakan berbagai aspek individual, seperti anime, manga, video game, elektronik, dan oto, sudah lalu mengalami beberapa perubahan asing protokoler sepanjang bertahun-tahun. Segala macam ide, mulai dari makanan, budaya, hingga IT, telah diserap dari seluruh dunia dan diintegrasikan dengan mulus ke kerumahtanggaan budaya Jepang. Tidak diragukan lagi, Jepang sudah sangat apik dalam mengambil konsep dari luar negeri dan menjadikannya reka cipta Jepang asli. Misalnya, omelet dibuat menjadi “omurice”, dan taco diubah menjadi “nasi taco”. Jepang sangat terampil dalam mengambil ide asing selama itu bukan menyertakan bahasa.

6. Bahasa Jepang Penuh dengan “Wasei Eigo”, Alas kata Bahasa Inggris Sintetis Jepang yang Sebenarnya Tidak Digunakan kerumahtanggaan Bahasa Inggris

“Wasei eigo”, atau kata-kata bahasa Inggris buatan Jepang, lagi merupakan faktor lain yang menghambat pertambahan bahasa Inggris cucu adam Jepang. Kata-perkenalan awal itu tidak ada dalam bahasa Inggris, tetapi dibuat dengan menggabungkan perkenalan awal-perkenalan awal bahasa Inggris cak bagi mencocokkan kebutuhan bahasa orang Jepang. Beberapa teladan di antaranya, “charm point” bagi “best feature“, “skinship” untuk “physical contact“, dan “morning call” untuk “wake-up call“. Dengan membuat pembukaan-kata plonco yang mereka anggap tidak sesak langka, itu tambahan pula akan mempersulit orang Jepang buat sparing bahasa Inggris.

Contoh mencolok lain berpangkal wasei eigo adalah kata “imechen” (kependekan dariimage change). Kata ini digunakan ketika seseorang ingin etis-moralistis merubah penampilan mereka. Jika seseorang cak hendak menukar gaya rambut, sira akan mengatakan “I want to image change“, tetapi itu tidak akan dipahami makanya pencerita salih bahasa Inggris. Anda cuma tahu bahwa mereka ingin melakukan sesuatu, hanya Anda tidak akan mengarifi sesuatu yang dimaksud itu.

Tension” pun merupakan kata yang sering digunakan sehari-hari dalam bahasa Jepang buat menunjukkan kegembiraan, tetapi internal bahasa Inggris, “tension” digunakan ketika merumuskan manah agitasi (kekhawatiran ataupun kegugupan). Apabila seseorang mengatakan “I’m so high tension!“, itu akan menimbulkan kegalauan.

Pembukaan-kata ini digunakan sehari-hari oleh basyar Jepang dengan anggapan bahwa alas kata-kata tersebut pula memiliki arti yang ekuivalen internal penggunaannya plong bahasa Inggris. Semua itu mereka gunakan secara luas di internet, media, dan percakapan sehari-hari, tetapi sebenarnya mereka sendirilah yang membuat pengadang besar bagi basyar Jepang yang ingin atau menengah berlatih bahasa Inggris.

Kesimpulan

6 faktor penting di atas menjelaskan kok sebagian besar orang Jepang tidak bisa berajar Inggris. Namun, masyarakat Jepang belum sepenuhnya mengarifi alasan tersebut, dan dengan rendah ataupun enggak adanya transisi privat sistem pendidikan, penyakit ini lain akan menjadi lebih baik, tidak peduli berapa lama musim mangkat. Sebenarnya ada banyak cucu adam Jepang yang ingin berlatih bahasa Inggris, saja mereka bukan dapat karena bukan mengetahui mandu yang tepat. Kenyataannya, berbicara bahasa Inggris dengan benar akan menjadi situasi yang semakin terdepan bagi Jepang di era globalisasi ini.

Makara, selama kunjungan Anda di Jepang, daripada berasumsi bahwa semua manusia Jepang tidak bisa berbahasa Inggris, cobalah mengomong pada mereka dengan kalimat yang jelas dan sederhana. Sira mungkin akan terlibat interlokusi singkat, dan itu akan membantu membangun percaya diri pada kemampuan bahasa Inggris mereka. Seiring berjalannya waktu, usaha ini mungkin akan membuahkan hasil dan menumpu menuju ke dunia yang makin baik bagi semua orang.

Jika Dia ingin memberikan komentar lega keseleo satu kata sandang kami, memiliki ide untuk pembahasan yang kepingin Sira baca, atau punya pertanyaan akan halnya Jepang, hubungi kami di Facebook, Twitter, atau Instagram!

Misalnya, “application” yang biasa disebut “apuli”, “patrol car” adalah “patocaa”, “air conditioner” disebut “eacon”, “intellectual” disebut “inteli”. Semua kata itu ditulis dengan katakana, huruf yang digunakan untuk menulis introduksi dari bahasa luar dan umumnya dipakai sreg bahasa Jepang. Di sinilah letak masalahnya.

Contoh lainnya adalah layanan mengebon musik Spotify dan Apple Music. Orang Jepang menjuluki media itu dengan “sabusuku” bakal “subscription (berlangganan)”. Belaka, itu bukan berlaku bagi layanan melanggani film seperti Netflix dan Amazon Prime. Dengan bilang alasan, kedua ki alat itu disebut dengan keunggulan masing-masing dan bukan “sabusuku”. Hal ini terjadi karena mungkin sebagian segara orang Jepang tak mengarifi barang apa kelebihan “sabusuku” dan dari mana introduksi aslinya terbit. Seseorang mulai mengucapkan prolog-kata yang disingkat ini karena mereka mendekati kata-kata aslinya dan mudah lakukan diucapkan.

Apalagi, dalam beberapa tahun bontot, orang Jepang sering menggunakan kata bahasa Inggris yang sudah di katakana-kan bagi mengoper kata-pengenalan yang mutakadim ada dalam bahasa Jepang. Itu menjadi masalah ki akbar yang membancang kemampuan belajar bahasa Inggris orang Jepang. Contohnya, kata “launch” yang berarti “tachiage” kerumahtanggaan bahasa Jepang, nan kemudian berkembang ke kerumahtanggaan konversasi bahasa Jepang sehari-perian menjadi bagan katakana:roonchi. Walaupun “tachiage” seorang sudah lebih berasal cukup cak bagi memajukan makna kata ini, kata seperti “roonchi paati” (launch party – makan besar peluncuran) lebih-lebih lebih sering digunakan. Akibatnya, ada banyak bani adam yang menjadi tidak berpengharapan dengan kaidah pengucapan pengenalan yang tepat, sama dengan alas kata “black“, “red“, “light“, dan “rigth“. Ditambah lagi, kata-alas kata dengan huruf “r” dan “l” dilafalkan sama persis dalam bahasa Jepang.

The information in this article is accurate at the time of publication.

Source: https://www.tsunagujapan.com/id/6-real-reasons-why-japanese-cannot-speak-english/