Bahasa Sunda Udah Makan Belum

Bandung

Sebagai riuk satu bahasa daerah di Indonesia, Bahasa Sunda n kepunyaan keunikan dibanding bahasa nasional dan bahasa wilayah lainnya. Bahasa Sunda memiliki nahu nan mengatur strata, mengatur tatakrama atau mengatur kepada boleh jadi mudahmudahan kata itu diucapkan. Tingkatan kata dalam bahasa Sunda ini dikenal dengan sebutan undak usuk basa.

Salah satu transendental alas kata nan sering membuat bingung dalam penggunaan bahasa Sunda adalah perkenalan awal ‘bersantap’. Dalam bahasa Indonesia kata makan bisa digunakan ataupun memiliki ‘rasa’ yang sama ketika diucapkan kepada siapa saja. Alas kata ‘makan’ bisa digunakan kepada orang yang kita hormati dan prolog ‘makan’ pula digunakan kepada binatang.

Cuma kejadian itu berlainan internal bahasa Sunda, ada banyak perkenalan awal bermakna ‘makan’, yang pengucapannya harus disesuaikan dengan aturan undak usuk basa Sunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kata ‘makan’ dalam bahasa Sunda nan minimum tersohor merupakan ‘dahar’. Perkenalan awal ini kelihatannya kata berarti ‘makan’ yang minimal sering terdengar internal interlokusi umum tatar Sunda. Tapi jangan salah, pembukaan ‘dahar’ bukan moralistis jika diucapkan kepada orang tua, senior ataupun individu yang kita segani. Berikut merupakan sebagian kata dalam bahasa Sunda yang bermanfaat makan dengan tingkatan tatakrama dan contoh penggunaannya.

1. Dahar

Introduksi ini mempunyai tahapan tatakrama loma ataupun rapat persaudaraan. Penggunaan alas kata ‘dahar’, pas digunakan kepada kawan sebaya yang telah dekat. Misalnya digunakan pada kalimat “maneh geus dahar acan?” yang berarti “kamu telah makan belum?”.
Selain ‘dahar’ ada bahasa Sunda lain yang tingkatannya setara, yakni ‘madang’. Sahaja kata ‘madang’ umumnya digunakan makanya awam Sunda yang letak geografisnya berbatasan dengan area Jawa Tengah, seperti Pangandaran, Ciamis, Banjar dan lainnya. Kata ‘madang’ ini ialah bahasa hasil akulturasi bahasa Sunda dan Jawa.

2. Tuang

Kata ‘tuang’ yakni versi halus dari ‘dahar’. Introduksi ini digunakan kepada orang yang harus kita hormati atau kita ingin memasrahkan penghormatan kepadanya. Misalnya digunakan pada kalimat “Dupi bapa parantos tuang?”. Kalimat ini bermakna “Apakah bapak mutakadim makan?”.

3. Neda

Keunikan bahasa Sunda juga terdapat pada perbedaan pilihan alas kata untuk menunjuk diri sendiri dan menunjuk anak adam lain. Misalnya introduksi ‘neda’ dan ‘tuang’ ini adalah sama-sama bahasa halus berusul makan, tapi ‘neda’ digunakan bagi menunjuk diri sendiri sementara ‘tuang’ digunakan kerjakan menunjuk orang tak.
Contoh penggunaannya “Antosan sakedap abdi bade neda heula” yang berarti “Tunggu sekelebat saya mau makan habis,”. Walau sekali lagi sama-sekelas terdengar renik tapi kalimat “Antosan sakedap abdi bade tuang heula” adalah pengusahaan yang keliru.

4. Emam

Emam alias mamam merupakan bahasa Sunda dari ‘makan’ yang tergolong halus. Tapi penggunaannya cocok dilafalkan kepada anak-anak alias sebagai bahasa kasih sayang. Misalnya dalam kalimat “Geura emam geulis,” nan berjasa “Bersantap lalu cantik,”.
Bukan sedikit masyarakat Sunda nan sering salah kaprah privat penggunaan kata ’emam’ ini. Alas kata untuk anak-anak asuh tersebut, sampai-sampai digunakan kepada khalayak nan harus dihormati. Walau pun dianggap subtil, tapi jikalau merujuk penggunaan bahasa Sunda yang etis, situasi itu ialah sebuah kekeliruan.

5. Nyatu

Perkenalan awal ini adalah ‘bersantap’ dalam versi kasar. Biasanya terdengar diucapkan oleh insan yang sedang terbakar emosi alias digunakan kepada dabat. Misalnya “Ucing gering teu daek nyatu” nan berarti “Kucing sakit tak cak hendak bersantap”. Selain kata ‘nyatu’ adalah banyak lagi kata berarti makan privat bahasa Sunda kasar. Diantaranya barang hakan, lolodok, teteleg, jajablog, cacapluk, ngagares dan lainnya.

(mud/mud)

Source: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5835097/apa-bahasa-sundanya-makan-jangan-sampai-salah-pakai-ya