Bank Soal Untuk Butir Butir Tunjuk Ajar

Buku Angkat tangan Ajar Melayu

Tunjuk Asuh Jawi (TAM) identik dengan nama mendiang Tenas Effendy, budayawan kenamaan asal Riau. TAM ditetapkan sebagai warisan budaya tidak benda (WBTB) Indonesia masa 2022. TAM sarat dengan petuah roh yang makara panduan spirit Orang Melayu.

Tenas Effendy (9 November 1936 – 28 Februari 2022) adalah seorang yang lampau pakar dan intim n domestik seni bahasa dan tradisi Melayu. Ia konstan mengumpulkan adverbia-kata tambahan empirik dan kitab-kitab otoritatif yang berserakan dengan kondisi kenyataan yang terus berubah. Anda mampu mengambil intipati berpokok kata tambahan-kata keterangan tersebut dulu kemudian dipadukan dengan kelaziman sastrawi. Engkau begitu juga sosok pengembara kultur yang mampu terus berkisah intern merawat tali peranti dan tamadun melayu melalu seni baca tulis.

TAM sakti pernyataan yang bertabiat khas, mengandung nilai nasihat dan selang, amanah, visiun dan pengajar serta contoh teladan yang baik. Bisa mengarahkan manusia pada kehidupan yang benar dan baik serta dalam keridhaan Halikuljabbar untuk mendapatkan vitalitas yang bahagia di dunia dan akhirat.

Tenas Effendy merumuskan TAM. Ia memajukan :
yang disebut mengacungkan tangan asuh mulai sejak nan lanjut usia,
petunjuknya mengandung tuah
pengajarannya berisi marwah
nasihat berisi berkah
amanahnya berisi hikmah
nasehatnya berisi kelebihan
pesannya berisi iman
kajinya mengandung budi
contohnya pada nan senonoh
teladannya di jalan Allah
(hal. 10-11)

Tunjuk Ajar Melayu yang disusun oleh Tennas Effendy tersebut secara garis osean berilmu 25 pemikiran penting nan disebut juga sebagai Pakaian Dua Puluh Lima. Dari ke 25 butir pemikiran terdahulu tersebut, di setiap butirnya mengandung kredit konseling spiritual yang dapat digunakan cak bagi membimbing kondisi spiritual seseorang. Diantara aturan yang 25 itu yaitu sifat tahu asal mula kaprikornus, senggang berpedoman lega Nan Satu, sifat sempat membalas budi, sifat hidup bertenggangan, mati berpegangan, rasam tahu kan bodoh diri, sifat tahu diri, sifat usia menjabat amanah, rasam lungsin arang, sifat tahan menentang matahari dan sebagainya.

Upaya penyerantaan dan pewarisan angkat tangan bimbing Melayu yang dilakukan secara tradisional meliputi dua cara ialah melangkahi lisan-verbal dan suri-teladan. Melangkahi suri tauladan misalnya dengan sinkron menunjukkan perbuatan, tindakan serta prilaku privat kehidupan sehari-waktu nan mengacu pada nilai-nilai tunjuk jaga tersebut, sementara melalui pewarisan dilakukan dengan hal lisan nan dilakukan sehari-masa, misalnya ujar-ujar para oran lanjut umur kepada anaknyanya, dongeng seorang ibu kepada anaknya menjelang tidur, dendang syair dan cerita-narasi khayalan yang serampak keluar dari si tukang cerita. Dapat juga melintasi seremoni adat yang suka-suka privat adat istiadat nasib jawi.

TAM secara simile memiliki bilang kelebihan intern usia masyarakat Jawi diantaranya yakni :
Sebagai pekerjaan
Sebagai azimat,
Sebagai pakaian
Bagaikan rumah
Sebagai sumsum
Sebagai jagaan
Bagaikan amalan dan
Sebagai timang-timangan bagi diri.

Sementara kerjakan mereka nan menyundul nilai-poin tunjuk jaga tersebut, dikatakan akan:
tidak jadi makhluk,
bukan selamat,
tidak terpuji
bukan bertuah
tidak terpandang
tidak sentosa
lain terseleksi
tidak diberkahi
tidak disayangi

Butiran-butir yang terkandung intern Tunjuk Bimbing Melayu seringkali disandarkan pada pernyataan ‘kata orang tua-tua dulu’. Wawasan asam garam yang didapati maka itu orang-orang terdahulu melampaui dua sendang merupakan wacana terhadap alam (melalui interaksi ekologis), serta wacana terhadap kitab-kitab kanonis.

Sehabis Selam timbrung ke kerumahtanggaan tradisi dan budaya melayu, kata tambahan-tafsir tersebut semakin kekal karena semakin membuat kebudayaan Melayu lebih menyinar. Al-Quran, Hadits, kitab-kitab para ulama dan aulia mengekalkan lagi isi setiap kata keterangan dari butir mengacungkan tangan ajar yang terserah. Pada kondisi ini tidak heran jika Tunjuk Asuh Melayu n kepunyaan posisi yang sangat terdahulu kerumahtanggaan roh mahajana. Dijadikan ibarat rujukan dan kriteria utama untuk kognisi, moralitas, serta pembentukan jatidiri dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu tradisional. **

Source: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/tunjuk-ajar-melayu-dan-tennas-effendy/