Biloks Fe Cn 6 3

Dalam tulisan ini, kita akan mempelajari mengenai pembentukan beberapa macam perhubungan ilmu pisah, sebagai halnya kawin ionik, pergaulan kovalen, serta ikatan kovelen sinkronisasi. Selain itu, kita kembali akan mempelajari cara penulisan rumus dan pengelolaan nama plural paduan kimia.

Natrium tersurat besi yang patut reaktif. Molekul ini berkilau, lunak, dan merupakan konduktor listrik nan baik. Umumnya sodium disimpan di dalam patra untuk mencegahnya bereaksi dengan air yang berasal berasal udara. Takdirnya sepotong logam natrium yang bau kencur dipotong dilelehkan, kemudian diletakkan ke dalam gelas beaker yang terisi penuh oleh gas klorin yang bercelup baru kekuningan, sesuatu nan sangat menakjubkan akan terjadi. Natrium nan meleleh menginjak berdamar dengan cahaya ceria nan semakin lama semakin binar. Temporer, gas klorin akan terbaur dan warna gas menginjak lenyap. Dalam sejumlah menit, reaksi radu dan akan diperoleh garam bidang datar atau NaCl nan terendapkan di dalam gelas beaker.

Proses pembentukan garam kenap yakni sesuatu yang sangat menakjubkan. Dua zat yang mempunyai sifat yang berbeda dan berbahaya dapat bereaksi secara kimiawi menghasilkan senyawa bau kencur nan berperan terdahulu dalam kehidupan.

Sodium adalah metal alkali (Sira). Logam sodium memiliki suatu elektron valensi dan jumlah seluruh elektronnya yakni 11, sebab nomor atomnya adalah 11. Klorin yaitu unsur lega golongan halogen (VIIA)  pada tabel ajek. Elemen ini n kepunyaan tujuh elektron valensi dan jumlah seluruh elektronnya yaitu 17.

Gas mulia adalah molekul golongan VIIIA lega tabel periodik yang habis tidak reaktif, karena tingkat energi valensinya (tingkat energi terluar ataupun selerang terluar) terisi mumbung oleh elektron ( punya delapan elektron valensi, kecuali gas helium yang namun memiliki dua elektron valensi). Mencontoh konfigurasi elektron gas mulia ialah tenaga pendorong alami dalam reaksi ilmu pisah, sebab dengan cara itulah unsur menjadi stabil atau “sempurna”. Unsur gas mulia tidak akan kehilangan, mendapatkan, atau berbagi elektron.

Molekul-unsur lain di golongan A pada tabulasi periodik mendapatkan, kesuntukan, maupun berbagi elektron valensi untuk mengisi tingkat energi valensinya mudah-mudahan hingga ke peristiwa “sempurna”. Pada umumnya, proses ini melibatkan pengisian kulit terluar seyogiannya punya delapan elektron valensi (dikenal dengan istilah
sifat oktet), yakni
unsur akan mendapatkan, kehilangan, atau berbagi elektron untuk mengaras keadaan penuh delapan/oktet.

Natrium mempunyai satu elektron valensi. Menurut
hukum oktet, anasir ini akan berwatak stabil ketika punya delapan elektron valensi. Ada dua kemungkinan untuk natrium untuk menjadi stabil. Anasir ini dapat memperoleh tujuh elektron untuk menepati alat peraba M atau bisa kehilangan suatu elektron plong selerang M, sehingga kulit L (yang terisi munjung oleh okta- elektron) menjadi indra peraba terluar. Lega kebanyakan, kekeringan ataupun mendapatkan satu, dua, tambahan pula adakalanya tiga elektron dapat terjadi. Elemen enggak akan kehabisan atau mendapatkan lebih berpunca tiga elektron. Dengan demikian, buat mencapai kestabilan, sodium kehilangan satu elektron puas kulit M. Plong keadaan ini, natrium memiliki 11 proton dan 10 elektron. Molekul natrium yang pada awalnya berkarakter netral, masa ini mempunyai satu kewajiban substansial , sehingga menjadi
ion
(atom yang bermuatan karena kehabisan atau memperoleh elektron). Ion yang bermuatan positif karena kehilangan elektron disebut
kation.

11Na  :   2  .  8  .  1

11Na+

:   2  .  8

Ion natrium (Na+) mempunyai konfigurasi elektron nan seperti mana neon (10Ne), sehingga adalah
isoelektron

dengan neon. Terdapat perbedaan satu elektron antara atom natrium dan ion natrium. Selain itu, reaktivitas kimianya berlainan dan  ukurannya pun berbeda. Kation makin boncel bila dibandingkan dengan atom netral. Hal ini akibat hilangnya satu elektron saat atom sodium berubah menjadi ion natrium.

Klor punya tujuh elektron valensi. Untuk menetapi
kebiasaan oktet, elemen ini bisa kehabisan tujuh elektron pada kulit M atau mendapatkan suatu elektron pada kulit M. Oleh karene satu unsur tak dapat memperoleh atau kehabisan lebih berpunca tiga elektron, klor harus mendapatkan satu elektron bagi memenuhi valensi pada alat peraba M. Puas keadaan ini, klor memiliki 17 proton dan dan 18 elektron, sehingga klor menjadi ion dengan satu muatan negatif (Cl). Atom klorin objektif berubah menjadi ion klorida.
Ion dengan muatan destruktif karena mendapatkan elektron disebut
anion
.

17Cl  :   2  .  8  .  7

17Cl
:   2  .  8  .  8

Anion klorida adalah isoelektron dengan argon (18Ar). Anion klorida juga terbatas lebih besar dari elemen klor objektif. Secara umum,
kation lebih kecil dari atomnya dan anion sedikit makin raksasa dari atomnya.

Natrium bisa mencapai delapan elektron valensi (kestabilan) dengan melepaskan suatu elektron. Sementara, klor dapat memenuhi
resan oktet
dengan mendapatkan satu elektron. Jika keduanya berpunya di dalam satu bejana, jumlah elektron natrium yang hilang akan sebagai halnya total elektron yang diperoleh oleh klor. Sreg keadaan ini, satu elektron dipindahkan dari natrium menuju klor. Evakuasi elektron menghasilkan ion yakni
kation
(bermuatan positif) dan
anion
(bermuatan subversif). Muatan yang berlawanan akan saling tarik-menarik. Kation Na+
menarik anion Cl
dan membentuk paduan NaCl atau garam kenap.

Proses ini merupakan ideal dari
ikatan ionik, adalah
kontak ilmu pisah (kecenderungan tarik-menyedot yang kuat yang tetap menyatukan dua unsur kimia) yang berasal mulai sejak gaya tarik elektrostatik (gaya tarik-menggandeng berbunga muatan-pikulan yang berlawanan) antara kation dan anion. Senyawa nan memiliki
ikatan ionik
bosor makan disebut
garam. Pada natrium klorida (NaCl), susunan antara ion Na+
dan Cl
menciptakan menjadikan pola nan berulang dan teratur (disebut struktur
kristalin). Spesies garam yang berbeda memiliki struktur
kristalin
nan berbeda. Kation dan anion dapat punya bertambah dari satu muatan positif atau negatif bila kehilangan atau mendapatkan lebih dari suatu elektron. Dengan demikian, mungkin boleh terjaga bermacam rupa variasi garam dengan rumus ilmu pisah yang bervariasi.

Proses dasar nan terjadi momen natrium klorida terbentuk pula terjadi ketika garam-garam lainnya terbimbing. Zarah
logam
akan kehilangan elektron membentuk
kation
dan zarah
nonlogam
akan mendapatkan elektron membentuk
anion. Gaya tarik-menarik antara muatan positif dan merusak menyatukan partikel-molekul dan menghasilkan senyawa
ionik.

Secara umum, tanggung ion yang dimiliki satu partikel dapat ditentukan berdasarkan lega letak unsur tersebut plong tabel periodik. Semua logam alkali (unsur Beliau) kekurangan satu elektron bagi takhlik
kation
dengan beban +1. Logam alkali persil (unsur IIA) kehabisan dua elektronnya untuk takhlik
kation
+2. Aluminium yang ialah anggota pada golongan IIIA kehilangan tiga elektronnya bakal membentuk
kation
+3.

Dengan alasan nan sama, semua halogen (partikel VIIA) memiliki tujuh elektron valensi. Semua halogen mendapatkan satu elektron untuk memenuhi kulit valensi sehingga membentuk
anion
dengan satu bagasi merusak. Unsur VIA mendapatkan dua elektron kerjakan mewujudkan
anion
dengan pikulan -2 dan zarah VA mendapatkan tiga elektron bagi membentuk
anion
dengan beban -3.

Berikut ini adalah tabel bilang kation
monoatom
(satu atom) umum dan bilang anion monoatom masyarakat nan sering digunakan para pandai kimia.


Bilang Kation Monoatom Mahajana

Golongan

Anasir

Nama Ion

Simbol Ion
Ia Litium Kation Litium Li+
Sodium Kation Natrium Na+
Potasium Kation Kalium K+
IIA Berilium Kation Berilium Be2+
Magnesium Kation Magnesium Mg2+
Kalsium Kation Zat kapur Ca2+
Stronsium Kation Stronsium Sr2+
Barium Kation Barium Ba2+
IB Fidah Kation Perak Ag+
IIB Seng Kation Seng Zn2+
IIIA Aluminium Kation Aluminium Al3+

Bilang Anion Monoatom Umum

Golongan

Anasir

Jenama Ion

Simbol Ion
VA Nitrogen Anion Nitrida N3-
Fosfor Anion Fosfida P3-
VIA Oksigen Anion Oksida Ozon2-
Sulfur Anion Sulfida S2-
VIIA Fluorin Anion Fluorida F
Klorin Anion Klorida Cl
Bromin Anion Bromida Br
Iodin Anion Iodida I

Hilanganya beberapa elektron berpunca anggota unsur logam transisi (partikel golongan B) bertambah sukar ditentukan. Faktanya, banyak dari zarah ini kehilangan sejumlah elektron yang bervariasi, sehingga dapat membentuk dua atau lebih
kation
dengan pikulan nan farik. Muatan setrum nan dimiliki ataom disebut dengan
bilangan oksidasi. Banyak mulai sejak ion persilihan (unsur golongan B) mempunyai
bilangan oksidasi
yang bervariasi. Berikut ialah diagram yang menunjukkan beberapa logam transisi awam dengan
predestinasi oksidasi
yang bervariasi.


Beberapa Besi Umum yang Memiliki Lebih pecah Satu Bilangan Oksidasi

Golongan

Anasir

Stempel Ion

Tanda baca Ion
VIB Kromium Krom (II) alias Kromo Cr2+
Krom (III) alias Kromi Cr3+
VIIB Mangan Mangan (II) atau Mangano Mn2+
Mangan (III) atau Mangani Mn3+
VIIIB Besi Besi (II) atau Fero Fe2+
Ferum (III) atau Feri Fe3+
Kobalt Kobalt (II) alias Kobalto Co2+
Kobalt (III) atau Kobaltik Co3+
IB Tembaga Tembaga (I) atau Cupro Cu+
Tembaga (II) atau Cupri Cu2+
IIB Raksa Merkuri (I) atau Merkuro Hg2
2+
Merkuri (II) atau Merkuri Hg2+
IVA Timah Rejasa (II) alias Stano Sn2+
Timah (IV) atau Stani Sn4+
Timbal Imbang (II) alias Plumbum Pb2+
Timbal (IV) atau Plumbik Pb4+

Kation-kation
tersebut dapat mempunyai lebih dari satu nama. Cara pemberian nama suatu
kation
ialah dengan menggunakan tanda ferum dan diikuti maka dari itu muatan ion nan dituliskan dengan angka Romawi di dalam tanda kurung. Cara lama hadiah nama suatu
kation
yakni menggunakan sufiks
–o
dan
–i. Logam dengan
bilangan oksidasi
adv minim diberi akhiran
–o. Sementara, besi dengan
garis hidup oksidasi
tinggi diberi akhiran
–i.

Ion tidak selalu monoatom yang tersusun atas hanya satu zarah. Ion dapat juga berwujud
poliatom
yang tersusun makanya sekelompok atom. Berikut ini adalah sejumlah ion
poliatom
penting nan disajikan dalam buram tabel.


Beberapa Ion Poliatom Bermanfaat

Merek Ion

Simbol Ion

Label Ion

Simbol Ion
Sulfat SO4
2-
Hidrogen Fosfat HPO4
2-
Sulfit SO3
2-
Dihidrogen Fosfat H2PO4
Nitrat NO3
Bikarbonat HCO3
Nitrit NO2
Bisulfat HSO4
Hipoklorit ClO Merkuri (I) Hg2
2+
Klorit ClO2
Amonia NH4
+
Klorat ClO3
Fosfat PO4
3-
Perklorat ClO4
Fosfit PO3
3-
Asetat CH3COO Permanganat MnO4
Kromat CrO4
2-
Sianida CN
Dikromat Cr2O7
2-
Sianat OCN
Arsenat AsO4
3-
Tiosianat SCN
Oksalat C2O4
2-
Arsenit AsO3
3-
Tiosulfat S2O3
2-
Peroksida Ozon2
2-
Hidroksida OH Karbonat CO3
2-

Ketika suatu fusi
ionik
terlatih,
kation
dan
anion
saling mengganjur menghasilkan garam. Hal nan utama bagi diingat adalah bahwa senyawanya harus
netral, ialah
memiliki jumlah tanggung positif dan subversif yang separas.

Seumpama contoh, saat logam magnesium direaksikan dengan cairan bromin, akan terbentuk senyawa
ionik. Rumus kimia alias formula ilmu pisah dari senyawa yang dihasilkan dapat ditentukan menerobos konfigurasi elektron masing-masing zarah.

12Mg  :  2  .  8  .  2

35Br  :  2  .  8  .  18  .  7

Magnesium, ialah zarah logam alkali tanah (golongan IIA), memiliki dua elektron valensi, sehingga bisa kehilangan elektronnya membuat suatu
kation
bermuatan +2.

12Mg2+
:   2  .  8

Bromin adalah halogen (golongan VIIA) nan mempunyai tujuh elektron valensi, sehingga dapat memperoleh satu elektron untuk melengkapi keadaan oktet (okta- elektron valensi) dan membentuk
anion
bromide dengna muatan -1.

35Br
:  2  .  8  .  18  .  8

Senyawa yang terbentuk harus
objektif, yang berjasa kuantitas muatan aktual dan negatifnya harus selevel. Dengan demikian, secara keseluruhan, muatannya kosong. Ion magnesium mempunyai muatan +2. Dengan demikian, ion ini memerlukan dua ion bromida yang sendirisendiri memiliki satu muatan negatif bagi “mengimbangi” muatan +2 dari ion magnesium. Kaprikornus, rumus senyawa yang dihasilkan yaitu MgBr2.

Pada saat menuliskan nama campuran garam, tulislah malah dahulu segel logamnya dan kemudian nama nonlogamnya. Bak contoh, fusi nan dihasilkan dari reaksi antara litium dan belerang, Li2S. Pertama siapa, tulislah logo logammya, yaitu litium. Kemudian, tulislah nama nonlogamnya, dengan menambah sufiks
–ida
sehingga sulfur (welirang) menjadi sulfida.

Li2S  :  Litium Sulfida

Senyawa-campuran ion yang melibatkan ion-ion poliatom lagi mengikuti adat bawah yang sama. Nama logam ditulis apalagi dahulu, kemudian diikuti tanda nonlogamnya (anion
poliatom tak terbiasa diberi akhiran
–ida).

(NH4)2CO3
:  Amonium Karbonat

K3PO4
:  Kalium Fosfat

Apabila logam nan berkujut adalah metal perubahan dengan makin dari satu bilangan oksidasi, terletak dua kaidah penamaan yang bermoral. Sebagai contoh, kation Fe3+
dengan anion CN
dapat mewujudkan sintesis Fe(CN)3.  Metode yang lebih disukai adalah menggunakan nama ferum yang diikuti dengan bagasi ion yang ditulis dengan angka Romawi dan diletakkan dalam tanda kurung : Besi (III). Belaka, metode penamaan lama masih digunakan, yaitu dengan menggunakan akhiran
–ozon (ketentuan oksidasi rendah)
dan
–i (bilangan oksidasi tinggi). Makanya karena ion Fe3+
memiliki qada dan qadar oksidasi lebih tinggi dari Fe2+, ion tersebut diberi nama
ion ferri.

Fe(CN)3
:  Besi (III) Sianida

Fe(CN)3
:  Ferri Sianida

Tidak semua asosiasi ilmu pisah terjaga melalui mekanisme
beri-songsong elektron. Atom-atom pula dapat mencapai kestabilan melalui mekanisme
eksploitasi bersama p versus elektron. Ikatan yang terasuh dikenal dengan istilah
kawin kovelen.
Campuran kovelen
adalah senyawa yang namun memiliki
afiliasi kovelen.

Sebagai transendental, molekul hidrogen n kepunyaan satu elektron valensi. Kerjakan mencapai kestabilan (isoelektronik dengan helium), atom hidrogen membutuhkan satu elektron tambahan. Ketika dua atom hidrogen menciptakan menjadikan ikatan ilmu pisah, enggak terjadi situasi
serah-sambut elektron. Yang akan terjadi merupakan kedua atom akan menggunakan elektronnya secara sambil. Kedua elektron (suatu dari saban hidrogen) menjadi eigendom kedua atom tersebut. Dengan demikian, anasir H2
terbentuk melalui pembentukan
susunan kovelen, yakni ikatan kimia nan berasal bersumber pendayagunaan bersama satu atau makin pasangan elektron antara dua atom.
Ikatan kovalen terjadi di antara dua anasir nonlogam.

Susunan kovalen dapat dinyatakan dalam bentuk
Struktur Lewis, yaitu representasi perpautan kovelen, dimana elektron yang digunakan bersama digambarkan sebagai garis atau sepasang dot antara dua atom; provisional pasangan elektron nan tidak digunakan bersama (lone pair) digambarkan sebagai oponen dot lega atom bersangkutan. Puas galibnya, proses ini melibatkan pengisian elektron plong kulit terluar (kulit valensi) nan disebut umpama
aturan oktet, yaitu
unsur akan berbagi elektron buat mencapai keadaan penuh delapan elektron valensi (oktet), kecuali hidrogen dengan dua elektron valensi (duplet).

Atom-atom bisa membentuk plural variasi ikatan kovelen.
Afiliasi tunggal
terjadi saat dua atom memperalat sepasang elektron bersama.
Ikatan rangkap
dua (ganda)
terjadi ketika dua anasir menggunakan menggunakan dua teman elektron bersama. Sementara,
gabungan rangkap tiga
terjadi ketika dua atom menggunakan tiga kebalikan elektron bersama.

Senyawa ionik punya sifat yang berlainan dari senyawa kovalen. Senyawa ionik, pada master kamar, lazimnya berbentuk padat, dengan titik didih dan titik leleh tinggi, serta bersifat elektrolit. Sebaliknya, paduan kovelen, sreg hawa kamar, bisa berbentuk padat, cair, alias gas. Selain itu, senyawa kovalen punya titik didih dan titik leleh nan relatif kurang bila dibandingkan dengan paduan ionik serta cenderung bersifat nonelektrolit.

Saat zarah klorin berikatan secara kovalen dengan atom klorin lainnya, lawan elektron akan digunakan bersama secara sepadan. Konsistensi elektron yang mengandung perhubungan kovalen terletak di paruh-tengah di antara kedua zarah. Setiap atom menghirup kedua elektron yang berikatan secara seimbang. Ikatan sebagai halnya ini dikenal dengan istilah
kekeluargaan kovalen nonpolar.

Sementara, segala yang akan terjadi bila kedua unsur nan terlibat dalam sangkut-paut kimia tidak sepadan? Kedua inti yang bermuatan berupa yang n kepunyaan gaya tarik berbeda akan menghirup pasangan elektron dengan derajat (kekuatan) yang berbeda. Hasilnya adalah pasangan elektron condong ditarik dan beringsut ke riuk satu partikel yang bertambah elektronegatif. Ikatan semacam ini dikenal dengan istilah
kekeluargaan kovalen polar.

Adat yang digunakan lakukan membedakan
ikatan kovalen polar
dengan
wasilah kovalen nonpolar
adalah
elektronegativitas (keelektronegatifan), yaitu kemustajaban (kemampuan) suatu atom bakal menarik pasangan elektron yang bersendi. Semakin besar nilai
elektronegativitas, semakin besar pun maslahat zarah bikin menarik pasangan elektron pada ikatan. Kerumahtanggaan tabel berkala, pada suatu waktu, elektronegativitas akan naik dari kiri ke kanan. Sebaliknya, dalam satu golongan, akan turun berpunca atas ke sumber akar.

Perpautan kovelen nonpolar
terbentuk bila dua atom nan terkebat dalam perhubungan adalah sama atau bila
beda elektronegativitas
terbit atom-molekul yang terkebat pada interelasi sangat kecil. Sementara, pada
kontak kovelen polar, atom yang menarik pasangan elektron pengikat dengan bertambah kuat akan kurang makin bermuatan negatif; sedangkan atom lainnya akan menjadi adv minim lebih bermuatan kasatmata. Ikatan ini terbimbing bila atom-atom yang berkujut dalam korespondensi adalah farik. Semakin raksasa
beda elektronegativitas, semakin polar pula ikatan nan bersangkutan. Sebagai tambahan, apabila
cedera elektronegativitas
atom-atom dulu besar, maka yang akan terbentuk justru adalah
ikatan ionik. Dengan demikian,
selisih elektronegativitas
merupakan salah suatu cara untuk meramalkan jenis ikatan nan akan terdidik di antara dua unsur yang berikatan.

Perbedaan Elektronegativitas Jenis Susunan yang Terbentuk
0,0 sampai 0,2 Kovalen nonpolar
0,3 sampai 1,4 Kovalen polar
> 1,5 Ionik

Ikatan kovalen koordinasi (datif)
terjadi ketika salah satu unsur menyumbangkan sekelamin elektron untuk digunakan secara bersama-sama dengan unsur lain yang membutuhkan elektron. Sebagai contoh, reaksi antara atom NH3
dan ion H+
mewujudkan ion NH4
+. Molekul NH3
memiliki sepasang elektron objektif yang digunakan bersama-seperti ion H+. Partikel NH3
mendonorkan elektron, sedangkan ion H+

menerima elektron. Kedua elektron digunakan bersama-sama.

Lega dasarnya paduan kovalen mempunyai aturan nomenklatur yang tidak farik jauh terbit sintesis ionik. Tulislah nama atom permulaan, kemudian diikuti dengan cap atom kedua yang diberi akhiran
–ida.

HCl  :  Hidrogen Klorida

SiC  :  Silikon Karbida

Apabila masing-masing unsur terdiri lebih pecah satu unsur, prefik nan menunjukkan jumlah partikel digunakan. Prefik yang sering digunakan internal pencadangan senyawa kovelen bisa dilihat sreg grafik berikut.

Prefik Jumlah Partikel Prefik Total Elemen
Mono- 1 Heksa- 6
Di- 2 Hepta- 7
Tri- 3 Okta- 8
Tetra- 4 Pemudi- 9
Penta- 5 Deka- 10

CO  :  Monokarbon Monoksida maupun Karbon Monoksida

CO2
:  Monokarbon Dioksida atau Karbon Dioksida


Catatan : awalan mono- puas zarah pertama boleh dihilangkan

SO2
:  Sulfur Dioksida

SO3

:  Sulfur Trioksida

Tepi langit2O4
:  Dinitrogen Tetraoksida

Campuran kovalen yang mengandung atom Hidrogen (H) tak menggunakan tata nama di atas, tetapi menggunakan nama trivial yang telah dikenal sejak habis.

B2H6
:  Diborana                            PH3
:  Fosfina

CH4
:  Metana                               H2Udara murni  :  Air

SiH4
:  Silana                                 H2S  :  Hidrogen Sulfida

NH3
:  Amonia

Bacaan:

Andy. 2009. Pre-College Chemistry.

Chang, Raymond. 2007. Chemistry Ninth Edition. New York: Mc Graw Hill.

Moore, John Horizon. 2003. Kimia For Dummies. Indonesia:Pandai Raya.



Internal tulisan ini, kita akan mempelajari tentang sifat anasir perubahan masa keempat, reaksi kimia dan penggodokan partikel transisi periode keempat, pemanfaatan elemen transisi periode keempat dalam semangat sehari-hari, rasam senyawa obsesi yang terbentuk berbunga berbagai partikel transisi musim keempat, serta penulisan nama senyawa mania yang terbentuk.

Partikel transisi periode keempat umumnya memiliki elektron valensi pada subkulit 3d nan belum terisi mumbung (kecuali zarah Seng (Zn) sreg Golongan IIB). Hal ini menyebabkan unsur perubahan waktu keempat n kepunyaan bilang resan khusus nan tidak dimiliki oleh unsur-unsur  golongan utama, seperti sifat magnetik, rona ion, aktivitas katalitik, serta kemampuan takhlik senyawa kompleks. Unsur transisi perian keempat terdiri terbit deka- anasir, merupakan Skandium (Sc), Titanium (Ti), Vanadium (V), Kromium (Cr), Mangan (Mn), Besi (Fe), Kobalt (Co), Nikel (Ni), Tembaga (Cu), dan Seng (Zn). (
klik di sini untuk melihat sifat Unsur Transisi Periode Keempat kerumahtanggaan Grafik Ajek
)

Dalam suatu periode dari kidal (Sc) ke kanan (Zn), keelektronegatifan unsur hampir setimbang, tidak meningkat alias menurun secara bermakna. Selain itu, ukuran atom (jari-jari unsur) serta energi ionisasi lagi enggak mengalami perubahan signifikan. Oleh sebab itu, boleh disimpulkan bahwa semua unsur transisi periode keempat mempunyai adat kimia dan rasam fisika nan serupa. Hal ini berbeda dengan elemen penting nan mengalami peralihan aturan yang sangat berharga dalam satu periode (lihat materi Unsur –Unsur Periode Ketiga).

Elemen transisi periode keempat biasanya mempunyai keelektronegatifan yang bertambah besar dibandingkan unsur Alkali maupun Alkali tanah, sehingga kereaktifan zarah transisi tersebut lebih sedikit bila dibandingkan Alkali atau Alkali Kapling. Sebagian segara unsur pergantian periode keempat mudah teroksidasi (n kepunyaan E°red
negatif), kecuali unsur Tembaga nan cenderung mudah tereduksi (E°Cu
= + 0,34 V). Hal ini signifikan bahwa secara teoritis, sebagian osean unsur transisi periode keempat dapat bereaksi dengan asam kuat (seperti HCl) menghasilkan gas hidrogen, kecuali unsur Tembaga. Akan cuma, sreg kenyataanya, umumnya unsur perlintasan periode keempat sulit atau bereaksi lambat dengan larutan cemberut akibat terbentuknya lapisan oksida yang bisa menyergap reaksi seterusnya. Hal ini tertentang jelas sreg unsur Kromium. Biarpun memiliki potensial standar reduksi negatif, unsur ini sulit bereaksi dengan asam akibat terbentuknya lapisan oksida (Cr2O3) yang inert. Sifat inilah nan dimanfaatkan dalam proses proteksi logam mulai sejak korosi (perkaratan).

Dibandingkan zarah Alkali dan Alkali Tanah, unsur-molekul persilihan periode keempat memiliki afiliasi molekul yang lebih berdekatan (closed packing). Kesannya, unsur peralihan tersebut memiliki konsistensi (densitas) yang jauh makin besar dibandingkan Alkali ataupun Alkali Tanah. Dengan demikian, koalisi logam (metallic bonds) nan terjadi pada unsur transisi makin kuat. Situasi ini berdampak pada bintik didih dan tutul leleh unsur transisi yang jauh lebih tataran dibandingkan partikel logam golongan utama. Selain itu, entalpi pelelehan dan entalpi evaporasi unsur pergantian juga jauh kian tinggi dibandingkan unsur ferum golongan utama.

Unsur pergantian periode keempat memiliki tingkat oksidasi (bilangan oksidasi) yang berbagai. Hal ini disebabkan oleh tingkat energi subkulit 3d dan 4s yang hampir sama. Oleh sebab itu, momen molekul transisi melepaskan elektron pada subkulit 4s membentuk ion berupa (kation), sejumlah elektron pada subkulit 3d akan ikut dilepaskan. Kadar oksidasi publik nan dijumpai pada tiap atom transisi periode keempat adalah +2 dan +3. Sementara, bilangan oksidasi tertinggi pada unsur transisi periode keempat adalah +7 puas unsur Mangan (4s2
3d7). Ketentuan oksidasi rendah umumnya ditemukan pada ion Cr3+, Mn2+, Fe2+, Fe3+, Cu+, dan Cu2+, sedangkan ketentuan oksidasi tinggi ditemukan puas anion oksida, sama dengan CrO4
2-, Cr2O7
2-, dan MnO4
.

Pertukaran qada dan qadar oksidasi ditunjukkan oleh perubahan warna enceran. Umpama contoh, momen ion Cr+7
direduksi menjadi ion Cr3+
,
warna larutan berubah pecah orange (jingga) menjadi mentah.

Cr­2Udara murni7
2-
(aq)
+  14 H+
(aq)

+  6 e
——>  2 Cr3+
(aq)

+  7 H2Ozon(l)

Besi (Fe) ialah anasir yang memadai melimpah di kerak dunia (sekitar 6,2% konglomerat kerak bumi). Besi runyam ditemukan dalam keadaan adil di alam. Besi umumnya ditemukan dalam bentuk mineral (bijih logam), begitu juga
hematite (Fe2O3),
siderite (FeCO3), dan
magnetite (Fe3O4).

Ferum Metal bereaksi dengan larutan bersut klorida menghasilkan asap hidrogen. Reaksi yang terjadi yaitu sebagai berikut :

Fe(s)
+  2 H+
(aq)
——>  Fe2+
(aq)
+  H2(g)

Larutan asam sulfat pekat bisa mengoksidasi logam Ferum menjadi ion Fe3+. Sementara hancuran bersut nitrat pekat akan membentuk lapisan oksida Fe3O4
yang dapat menghambat reaksi lebih lanjut. Kebanyakan, Besi dijumpai dalam bentuk paduan dengan tingkat oksidasi +2 dan +3. Beberapa pola senyawa Besi (II) antara lain FeO (hitam), FeSO4. 7H2O (hijau), FeCl2
(kuning), dan FeS (hitam). Ion Fe2+
dapat dengan mudah teroksidasi menjadi ion Fe3+
bila terdapat asap oksigen nan sepan dalam cair Fe2+. Padahal, senyawa yang mengandung ion Logam (III) yakni Fe2O3
(coklat-abang) dan FeCl3
(coklat).

Tembaga (Cu) yakni unsur yang susah ditemukan di pan-ji-panji (precious metal). Tembaga umumnya ditemukan intern bentuk senyawanya, ialah bijih mineral, sebagai halnya
kalkopirit (CuFeS2)
dan
kalkosit (Cu2S). Metal Tembaga dapat diperoleh melintasi pemanggangan
kalkopirit, sama dengan yang dinyatakan dalam persamaan reaksi di sumber akar ini :

2 CuFeS2(s)
+  4 O2(g)
——>  Cu2S(s)
+  2 FeO(s)
+ 3 SO2(g)

Cu2S(s)
+  O2(g)
——>  2Cu(l)
+  SO2(g)

Logam Tembaga boleh dimurnikan melalui proses elektrolisis (lihat materi Elektrokimia II). Logam Tembaga memiliki koduktivitas elektrik yang tangga. Dengan demikian, logam tembaga besar perut digunakan andai benang kuningan penghantar listrik. Selain itu, Tembaga kembali digunakan pada pembuatan
alloy
(sebagai contoh,
kuningan, adalah
alloy
mulai sejak
Cu dan Zn
),incaran pembuatan pipa, dan bahan dasar pembuatan koin (uang lelah besi).

Besi Tembaga bereaksi saja dengan fusi asam sulfat dan cemberut nitrat pekat menggiurkan (dikenal dengan istilah
aqua regia). Takdir oksidasi Tembaga ialah +1 dan +2. Ion Cu+
kurang stabil dan membidik mengalami
disproporsionasi
dalam larutan. Reaksi nan terjadi adalah sebagai berikut :

2 Cu+
(aq)
——>  Cu(s)
+  Cu2+
(aq)

Semua sintesis Tembaga (I) bersifat
diamagnetik
dan tidak bercelup (kecuali Cu2O nan berwarna abang), sedangkan semua sintesis Tembaga (II) berkepribadian
paramagnetik
dan berwarna. Sintesis hidrat yang mengandung ion Cu2+
berwarna spektakuler. Beberapa paradigma senyawa yang mengandung Tembaga (II) merupakan CuO (hitam), CuSO4.5H2O (biru), dan CuS (hitam).

Fusi Koordinasi
adalah senyawa yang terbentuk berpokok ion terlambat (kation maupun anion) serta
ion obsesi. Atom transisi waktu keempat boleh membentuk berbagai macam jenis
ion obsesi.
Ion mania
terdiri dari
kation besi transisi
dan
ligan.
Ligan
yaitu molekul alias ion yang terikat puas kation logam transisi
. Interaksi antara
kation logam perlintasan
dengan
ligan
merupakan reaksi
asam-basa Lewis. Menurut
Lewis,
ligan
adalah
basa Lewis
nan main-main sebagai spesi pendonor (donator) elektron. Provisional itu,
kation logam transisi
ialah
asam Lewis
yang berperan andai spesi penerima (akseptor) elektron. Dengan demikian, terjadi ikatan

kovalen koordinasi (datif
) antara
ligan
dengan
kation logam transisi
puas proses pembentukan
ion kompleks.
Kation metal transisi
kekurangan elektron, sedangkan
ligan
n kepunyaan sekurangnya sepasang elektron bebas (PEB). Beberapa contoh elemen nan dapat bermain andai
ligan
adalah H2O, NH3, CO, dan ion Cl.

Qada dan qadar koordinasi
adalah jumlah
ligan
yang tercantol pada
kation logam transisi. Sebagai pola,
bilangan koordinasi
Ag+
lega ion [Ag(NH3)2]+
yakni dua,
bilangan koordinasi
Cu2+
lega ion [Cu(NH3)4]2+
adalah empat, dan
ketentuan koordinasi
Fe3+
plong ion [Fe(CN)6]3-
yakni enam.
Bilangan koordinasi yang gelojoh dijumpai adalah 4 dan 6.

Beralaskan jumlah molekul donor  yang mempunyai tampin elektron bebas (PEB) pada
ligan,
ligan
dapat dibedakan menjadi
monodentat,
bidentat, dan
polidentat
.
H2O dan NH3
merupakan
ligan monodentat (mendonorkan satu pasang elektron). Sedangkan Etilendiamin (H2Lengkung langit-CH2-CH2-NH2, caruk disebut dengan istilah
en) yakni paradigma
ligan bidentat (mendonorkan dua pasang elektron).
Ligan bidentat dan polidentat
cerbak disebut bak
agen chelat
(mampu mencengkram
kation metal transisi
dengan kuat).

Barang bawaan
ion
kompleks
yakni penjumlahan dari muatan
kation ferum perlintasan
dengan
ligan
yang mengelilinginya. Sebagai abstrak, lega ion [PtCl6]2-, bilangan oksidasi masing-masing
ligan (ion Cl)
adalah -1. Dengan demikian, bilangan oksidasi Pt (kation logam transisi) yakni +4. Contoh bukan, plong ion [Cu(NH3)4]2+, bilangan oksidasi masing-masing
ligan (unsur NH3)
adalah 0 (nol). Dengan demikian, bilangan oksidasi Cu (kation ferum transisi) yaitu +2.

Berikut ini adalah beberapa rasam yang berlaku kerumahtanggaan penamaan suatu
ion kompleks
maupun
senyawa kompleks
:

1. Penamaan kation mendahului anion; sejajar seperti pengemukaan senyawa ionik plong rata-rata.

2. Dalam
ion obsesi, nama
ligan
disusun menurut urutan huruf, kemudian dilanjutkan dengan nama
kation ferum transisi.

3. Tanda
ligan
yang pelalah terlibat dalam pembentukan
ion kompleks
dapat dilihat pada
Tabel Nama Ligan.

4. Ketika beberapa
ligan
sebangsa terdapat dalam
ion kompleks, digunakan langkah
di-, tri-, tetra-, penta-, heksa-,
dan sebagainya.

5. Bilangan oksidasi
kation logam persilihan
dinyatakan dalam qada dan qadar Romawi.

6. Ketika
ion kompleks
bermuatan negatif, keunggulan
kation ferum transisi
diberi akhiran
–at. Segel
kation logam perlintasan
sreg
ion kompleks
bermuatan negatif dapat dilihat pada
Tabel Nama Kation pada Anion Kompleks.

Tabel Label Ligan

Ligan

Jenama Ligan

Bromida, Br

Bromo

Klorida, Cl

Kloro

Sianida, CN

Siano

Hidroksida, OH

Hidrokso

Oksida, O2-

Okso

Karbonat, CO3
2-

Karbonato

Nitrit, NO2

Nitro

Oksalat, C2O4
2-

Oksalato

Amonia, NH3

Amina

Karbonium Monoksida, CO

Karbonil

Air, H2Ozon

Akuo

Etilendiamin

Etilendiamin (en)

Tabel Tanda Kation pada Anion Kompleks

Kation

Tera Kation pada Anion Kompleks

Aluminium, Al

Aluminat

Kromium, Cr

Kromat

Kobalt, Co

Kobaltat

Cuprum, Cu

Cuprat

Aurum, Au

Aurat

Ferrum, Fe

Ferrat

Plumbum, Pb

Plumbat

Mangan, Mn

Manganat

Molibdenum, Mo

Molibdat

Nikel, Ni

Nikelat

Galuh, Ag

Argentat

Stannum, Sn

Stannat

Tungsten, W

Tungstat

Zink, Zn

Zinkat

Berikut ini adalah beberapa contoh penulisan namamaupun rumus ilmu pisah berpangkal berbagai
senyawa kompleks
:

1. Ni(CO)4

Ketentuan koordinasi = 4

Muatan ion kegandrungan = 0

Pikulan ligan = 0

Bagasi kation logam transisi = 0

Nama fusi =
tetrakarbonil nikel (0)
atau
nikel tetrakarbonil

2. NaAuF4

Terdiri dari kation sederhana (Na+) dan anion kompleks (AuF4
)

Bilangan penyelarasan = 4

Tanggung anion kompleks = -1

Bahara ligan = -1 x 4 = -4

Kewajiban kation ferum transisi = +3

Tera fusi =
natrium tetrafluoro alat vital (III)

3. K3[Fe(CN)6]

Terdiri mulai sejak kation sederhana (3 ion K+) dan anion kompleks ([Fe(CN)6]-3)

Bilangan koordinasi = 6

Beban anion kompleks = -3

Bagasi ligan = -1 x 6 = -6

Muatan kation logam pertukaran = +3

Nama senyawa =
kalium heksasiano ferrat (III)
atau
kalium ferrisianida

4. [Cr(en)3]Cl3

Terdiri berbunga kation kompleks ([Cr(en)3]3+) dan anion sederhana (3 ion Cl)

Qada dan qadar kesepadanan = 3 x 2 (bidentat) = 6

Muatan kation kompleks = +3

Bagasi ligan = 3 x 0 = 0

Muatan kation metal transisi = +3

Nama fusi =
tris-(etilendiamin) kromium (III) klorida

5. Pentaamin kloro kobalt (III) klorida

Terdapat 5 NH3, satu Cl, satu Co3+, dan ion Cl

Muatan kation kompleks = (5 x 0) + (1 x -1) + (1 x +3) = +2

Lakukan membentuk senyawa kompleks, dibutuhkan dua ion Cl

Rumus senyawa obsesi =
[Co(NH3)5Cl]Cl2

6. Dikloro bis-(etilendiamin) platinum (IV) nitrat

Terdapat 2 Cl, 2 en, satu Pt4+, dan ion NO3

Muatan kation obsesi = (2 x -1) + (2 x 0) + (1 x +4) = +2

Buat mewujudkan senyawa kompleks, dibutuhkan dua ion NO3

Rumus senyawa kegandrungan =
[Pt(en)2Cl2](NO3)2

7. Sodium heksanitro kobaltat (III)

Terdapat 6 NO2
, satu Co3+, dan ion Na+

Muatan anion kompleks = (6 x -1) + (1 x +3) = -3

Untuk takhlik senyawa kompleks, dibutuhkan tiga ion Na+

Rumus senyawa kegandrungan =
Na3[Co(NO2)6]

8. Tris-(etilendiamin) kobalt (III) sulfat

Terwalak 3 en, suatu Co3+, dan ion SO4
2-

Beban kation mania = (3 x 0) + (1 x +3) = +3

Bagi takhlik campuran kompleks, dua kation kompleks membutuhkan tiga ion SO4
2-

Rumus sintesis kompleks =
([Co(en)3])2(SO4)3

Bagan
ion kompleks
dipengaruhi oleh kuantitas
ligan, variasi
ligan, dan jenis
kation logam transisi. Secara umum, bentuk
ion kompleks
boleh ditentukan menerobos
kodrat koordinasi. Susunan antara
kodrat koordinasi
terhadap rancangan
ion kompleks
dapat dilihat plong tabel berikut :

Bilangan Rekonsiliasi

Rencana Ion Kompleks

2

Linear

4

Tetrahedral atau
Square Planar

6

Oktahedral

Referensi:

Andy. 2009. Pre-College Chemistry.

Cotton, F. Albert dan Geoffrey Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Penerbit UI Press

Chang, Raymond. 2007. Chemistry Ninth Edition. New York: Mc Graw Hill.

Ratcliff, Brian, dkk. 2006. AS Level and A Level Chemistry. Dubai: Oriental Press.

Moore, John T. 2003. Kimia For Dummies. Indonesia: Pakar Raya.



Source: https://andykimia03.wordpress.com/tag/bilangan-oksidasi/