[ahmad tusi] Hidroponik merupakan budidaya tumbuhan sonder menggunakan alat angkut tanah (soiless).  Hidroponik berasal dari dari kata “Hydroponic”,
yang di n domestik bahasa Yunani terbagi menjadi dua kata, merupakan
hydro dan ponous.  Hydro
berarti air dan
ponous
berharga kerja. Sesuai arti tersebut, maka bercocok tanam secara hidroponik merupakan teknologi berbendang yang menggunakan air, nutrisi, dan oksigen.

Banyak keefektifan yang boleh diperoleh dengan sistem berkebun hidroponik. Di antaranya, produksi tumbuhan lebih strata, lebih terjamin dari wereng dan keburukan, tanaman tumbuh makin cepat dan pengusahaan pupuk lebih cermat, bila suka-suka tanaman yang nyenyat, dapat dengan mudah diganti dengan tumbuhan mentah, dan pohon memberikan hasil yang kontinu.

Spesies pokok kayu nan dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik merupakan spesies sayuran (baik patera dan buah, seperti: Bayam, Pakcoy, Sawi, Kangkung, Tomat, Cili, Paprika, dll); varietas tanaman bunga; tanaman buah: Melon, Strawberry, dll; dan lebih lagi sebatas dengan tanaman obat untuk keluarga, seperti: Binahong, Pegagan, Spatula-sendokan, dll.

Lega budidaya hidroponik, semua kebutuhan zat makanan diupayakan tersedia intern jumlah yang tepat dan mudah diserap maka dari itu tanaman.  Vitamin itu diberikan privat bentuk larutan yang bahannya boleh pecah dari korban organik maupun anorganik. Sreg pertanian hidroponik gizi sangat menentukan keberhasilan, karena pohon mendapat elemen hara berpangkal apa yang diberikan. Terletak pupuk hidroponik yang siap pakai di picisan, ini akan lebih mudah, silam dicampur dengan air dan aplikasikan. Contoh pupuk nan ada di pasaran adalah pupuk AB Mix, Ferti-Mix, dll.  Pupuk ini mengandung partikel hara mikro dan makro yang diperlukan oleh tanaman. Cendawan tersebut diformulasikan secara khusus sesuai dengan macam dan fase pertumbuhan tanaman. Keistimewaan vitamin hidroponik ini yaitu selain mengandung semua unsur hara yang diperlukan tanaman, ialah memperalat bahan – bahan nan 100% bisa larut dalam air. Cara penggunaannya lagi juga sangat praktis dan bisa disimpan dalam waktu yang patut lama.

Pada kesempatan kali ini, Atusi Online akan berbagi camar duka tentang budidaya pokok kayu sayuran menggunakan salah satu sistem hidroponik, yaitu sistem DFT (Deep Flow Technique).


Teknik hidroponik sistem DFT menggunkan sterofoam perumpamaan tempat bagi  meletakkan tanamannya dimana steroformnya diberi lubang-lubang katai laksana panggung bikin mengegolkan akar tanaman seharusnya terendam puas larutan nutrisi, tanaman nan akan dimasukkan kedalam lubang diberi kapas agar tanaman tidak terbenam. Enceran vitamin tersebut disirkulasikan dengan sambung tangan aerator dan pompa. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya farik. Perbedaannya yakni pada rakit apung cairan nutrisi tak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada arus alias flow. Teknik hidroponik sistem DFT ini seia untuk membudidayakan tanaman yang berhasil., misalnya tomat.

Bilang strata yang terbiasa dipersiapkan dalam budidaya hidroponik kurang lebih hampir begitu juga sistem sahih.  Strata privat budidaya hidroponik, seperti pemilihan/penyortiran mani tanaman nan akan ditanam, penyemaian benih tanaman, penyiapan tempat tanam (rumah plastik, nutrisi, dll), transplantasi ke sistem hidroponik, perawatan sampai dengan penuaian.  Bintang sartan yang berbeda adalah larutan nutrisi dan sistem hidroponik yang digunakan.

Berikut ini yaitu beberapa perlengkapan yang perlu dipersiapkan kerumahtanggaan budidaya sayuran dengan sistem hidroponik (begitu juga terbantah dalam Bagan 1).

Gambar 1. Perlengkapan yang Diperlukan dalam Sistem DFT

Kaprikornus sistem DFT memerlukan sediaan elektrik lakukan mensirkulasikan air ke dalam talan-talang tersebut dengan menggunakan pompa dan kerjakan menghemat pendayagunaan listrik, kita dapat menggunkan timer (cak bagi mengatur periode hidup dan mati pompa).  Sebagai contoh lega pagi tahun pompa usia dan sore waktu pompa sepi, begitu lebih lanjut.

Kelebihan berpangkal teknik hidroponik sistem DFT ini yakni pada detik aliran arus listrik padam maka cair nutrisi tetap tersedia untuk tumbuhan, karena sreg sistem ini kedalam larutan nutrisinya mencecah kedalaman 6 cm. Makara sreg detik tidak ada rotasi nutrisi maka masih suka-suka enceran gizi yang tersedia. Sementara itu buat kekurangannya adalah puas sistem DFT ini memerlukan hancuran zat makanan yang bertambah banyak dibandikan dengan sistem NFT (nutrient Bioskop Technique).

Perkembangan tanaman yang dibudidayakan menggunakan sistem DFT dapat bersemi dengan baik dan memiliki kualitas buah/sayuran yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional.  Berikut ini ialah gambaran pertumbuhan tanaman sawi putih dalam sistem DFT privat setiap Ahad Pasca- Tanam (MST).

Gambar 2. Pertumbuhan Pokok kayu Sawi putih per Minggu Pasca- Tanaman

Plong ahad ke-4 setelah tanam, tanaman sudah besar dan harus segera dipanen.  Oh iya, sreg sistem DFT ini kami hanya menyelamatkan satu tanaman untuk satu lubang.

Gambar 3. Tanaman Sawi putih Siap Dipanen

Demikian informasi terkait mengenai budidaya sayuran (khususnya Sawi) menggunakan sistem Hidroponik DFT.  Mudah-mudahan bermanfaat dan selamat mencoba..[2C]