Buya Syafii Diminta Fadli Zon Belajar Soal Sastra

Plong Sabtu, 2 Maret 2022 palu 15.58, detik.com meletakkan sebuah berita yang berjudul:
Sebut Puisi Neno Tebal hati, Buya Syafii Diminta Fadli Zon Belajar soal Sastra.
Sebuah kepala karangan nan diambil langsung bersumber congor Fadli Zon di hari yang sama.

Saya berusaha membaca berita ini secara lever-hati dan seksama untuk menjauhi sangsi wasangka. Sekaligus bikin menghormati Tuan Zon selaku Konsul Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang amat terhormat.

(Prof. Dr. H. Buya) Ahmad Syafii Maarif, begitu juga yang dinasihati oleh Empunya Zon untuk belajar sastra, yaitu bani adam manusia merdeka kelahiran 83 tahun yang silam di Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatra Barat. Buya sudah lalu kenyang makan cemberut garam kehidupan sejak era kolonial, pendudukan Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Perombakan, sebatas sekarang. Peran kewarganegaraan dan keummatannya tak sekali lagi diragukan. Dia adalah Atasan Umum PP Muhammadiyah 1998-2005. Karya-karya pemikirannya terus mengalir n domestik tulang beragangan tulisan dan lisan. Gaya bahasanya sangat sastrawi, puitis, dan reflektif. Empunya Zon pasti tahu jika sudah lalu mendaras.

Berjiwa merdeka, Kiai bukan dapat diintervensi. Hati nuraninya akan mengatakan A yakni A dan B merupakan B. Kiai pasti akan terus berupaya menyadarkan nurani Bangsa selama mereka belum siuman. Jangankan Bunda Neno, cucu adam-orang terdekatpun lain luput dari kritiknya. Batinnya tidak akan nongkrong menambat sepanjang situasi dan kondisi Nasion masih jauh salai berpangkal api. Itulah Bapak, orang tua kita semua, bani adam negarawan, bukan politisi.

Pertanyaan puisi, bagi saya, ialah Bunda Neno yang artis itu sudah terlalu jauh kerumahtanggaan kapasitasnya andai seorang artis yang terlibat di politik praktis dengan ki melibatkan agama. Siapapun nan membela dan bagaimanapun pembelaannya atas puisi Bunda Neno, adalah tidak teruji sreg diri sendiri. Tentu orang mudah saja menilai puisi tersebut sangat strategis dalam koteks ketika ini. N domestik hal ini kita dapat cedera pendapat.

Ketatanegaraan serba kepentingan sering membutakan mata dan hati. Pelecok dan bermartabat menjadi serba benar di mata seorang penyuka. Sebaliknya, salah dan benar menjadi serba salah di alat penglihatan seorang pembenci. Sosok bukan lagi berlaku adil dalam membiji. Semua diukur dengan kaca alat penglihatan “semau gue”. Padahal objektif itu, kata Yang mahakuasa, makin dekat pada takwa.

Kalau sekadar Tuan Zon sempat, Bapak Syafii sejauh ini tidak pernah menggosipkan peristiwa yang neko-neko tentang Tuan Zon, tambahan pula tentang Selongsong Prabowo. Kepada saya, secara empat mata, sejumlah mungkin Bapak mendongeng mengenang kebersamaannya dengan Bungkusan Prabowo saat bilang tahun yang silam. “Bersama Selongsong Prabowo,” alas kata Buya, “kami pernah satu mobil saat di Afrika terlampau.”

Tuan Zon yang terhormat, berasal sekian banyak karya tulis Buya Syafii, terserah diantaranya yang sudah lalu diterjemahkan ke intern bahasa Inggris atas terbitan Leiden University Press. Siasat itu kini mutakadim menyebar di bineka negara. Bahkan juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pemikiran keislaman dan keindonesiaan Buya Syafii menjadi pamrih bagi bumi tentang lengkap keberagamaan kerumahtanggaan keberagaman.

Petuah Tuan Zon kepada Bapak Syafii cak bagi berlatih sekali lagi tentang sastra tampaknya mencerminkan bukan main Pemilik Zon belum mengenal Buya Syafii secara baik. Jika semenjana melawat ke Jogja, sempatkan ke kampung Nogotirto di Sleman. Buya akan terlampau mudah dijumpai saat salat berjamaah di Bandarsah Nogotirto. Detik Magrib umumnya Buya meluangkan waktu hingga Isya di Bandarsah untuk ngobrol-ngobrol dengan pelawat, takmir zawiat, anak-momongan muda, dan lainnya.

Jika tidak sempat ke Jogja karena Tuan Zon pasti super sibuk mengurus negara, Buya juga sering ke Jakarta paling kecil sekali dalam sepekan. Bisa ketemu di Jakarta. Namun haruslah yang mulai dewasa nan pergok. Jangan menjengkelit. Kita Bangsa yang menjunjung pangkat tata krama, enggak?

Karenanya, setelah mengenal Buya Syafii secara kian dempet dan lebih baik nantinya, silakan Tuan Zon menyoal plong diri sendiri secara jujur dan tulus: Kelihatannya Fadli Zon dan boleh jadi Buya Syafii Maarif?

Source: https://islami.co/pilihan-menjadi-fadli-zon-atau-buya-syafii-maarif/