Cara Membersihkan Pakaian Yang Terkena Air Mani

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mau menanyakan mengenai, “damba” apabila mimpi itu membuat saya “keluar” maka celana saya kena nodanya. Apabila saya membasuh seluar tersebut disatukan dengan cucian enggak (merendamnya) bersamaan, apakah noda dalam celana saya itu meluber ke mana-mana? Maksud saya makara pakaian lain di dalam rendaman itu terkena “nodanya” dan hal itu apakah membuat gaun lain dan khususnya celana saya itu juga apabila dipakai shalat tidak sah karena nodanya itu kendatipun mutakadim di cuci?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,



Ada dua hal yang teristiadat kita ketahui dalam menjawab pertanyaan dia. Pertama, air sperma orang bukanlah benda najis menurut jumhur ulama. Kedua, najis yang bersatu dengan air yang banyak, tidak akan meniadakan hukum air itu menjadi najis, selama tak ada indikasi air itu berubah menjadi najis.

a. Masalah Purwa

Air sperma yang keluar dari alat vital seseorang sepatutnya ada bukan benda najis. Air mani adalah satu pengecualian dari ganjaran bahwa segala benda yang keluar dulu genitalia hukumnya najis. Baik berbentuk padat, hancuran atau asap.

Urine, mazi, wadi, darah, nanah, rayuan dan semua nan keluar tinggal alat vital ditetapkan para ulama laksana benda najis. Kecuali air jauhar, hukumnya lain najis.

Dalil berasal enggak najisnya air jauhar ada banyak, di antaranya adalah hadits berikut ini:

لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبٍ رَسُولِ اَللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْكًا, فَيُصَلِّي فِيهِ وَفِي لَفْظٍ لَهُ: لَقَدْ كُنْتُ أَحُكُّهُ يَابِسًا بِظُفُرِي مِنْ ثَوْبِهِ

Berpunca Aisyah ra. berkata, “Aku kerik semen berasal pakaian Rasulullah SAW dan beliau memakainya untuk shalat.” N domestik riwayat lain disebutkan, “Aku mencabau dengan kuku-ku mani nan kering semenjak pakaian beliau.”
(HR Muslim)

Dengan hadits ini, para ulama lazimnya mengatakan bahwa air mani itu tak najis. Tindakan Aisyah isteri beliau mengerok atau mencabau dengan kuku sisa mani nan sudah mengering di gaun beliau menunjukkan bahwa air jauhar bukan najis. Sebab kalau najis, maka seharusnya Aisyah ra. mencucinya dengan air hingga hilang warna, aroma alias rasanya.

Tindakan Aisyah menurut sebagian ulama dilatar-belakangi rasa sipu beliau melihat Rasulullah SAW, suaminya, shalat dengan gaun yang belepotan sisa jauhar. Maka dikeriknya sesudah kering sebaiknya tidak terbantah kasatmata, supaya sebenarnya tetap masih cak semau sisa jauhar tandus yang berapit.

Doang sebagian kecil jamhur memang ada yang mengatakan bahwa air mani itu najis. Misalnya pendapat Al-Hanafiyah, Malik, Ahmad pada sebagian riwayat dan Al-Hadawiyah. Di antara dasaryang melandaskan pendapat mereka adalah hadits berikut ini:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ اَلْمَنِيَّ, ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى اَلصَّلَاةِ فِي ذَلِكَ اَلثَّوْبِ, وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ اَلْغُسْلِ فِيهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Aisyah ra. mengatakan, ”Lumrah Rasulullah SAW. mencuci jauhar kemudian keluar shalat memakai sarung itu dan saya mematamatai bekasnya cucian sarung itu.” (HR Bukhari dan Orang islam)

Tindakan Rasulullah SAW mencuci jebolan semen di pakaiannya menunjukkan bahwa benih itu najis.

Namun pendapat ini dibantah maka dari itu para jamhur yang mengatakan bahwa air jauhar tidak najis dengan beberapa jawaban. Antara bukan:

  1. Hadits ini kendati secara riwayatnya shahih, namun enggak menunjukkan kewajiban bakal membasuh alumnus mani yang menempel di pakaian. Hanya sekadar menunjukkan keutamaan untuk mencucinya dan hukumnya hanya sunnah.
  2. Jika ada bilang hadits yang bertentangan secara lahir, padahal masing-masing mempunyai sandaran yang kuat, maka sebelum menafikan keseleo satunya, harus dicarikan dulu kesesuaian antara dalil-dalil itu. Dan meringkas bahwa mani tidak najis adalah rangka kompromi atas semua dalil yang ada. Sedangkan tindakan nabi yang mencuci alumnus sperma, harus dipahami tak sebagai keharusan, melainkan kecepatan dan kesunnahan.
  3. Meski lagi Al-Hanafiyah mengatakan bahwa air mani itu najis, namun mereka berpendapat bahwa untuk mensucikan bekas benih cukup dengan mengeriknya setelah sangar, tidak perlu dicuci.

b. Problem Kedua

Seandainya anda bertambah menumpu kepada pendapat bahwa air mani itu najis, maka siapa penyakit yang kedua ini boleh menjadi jalan keluar.



Air yang jumlahnya banyak bila kejatuhan ataupun tercampur dengan benda najis yang sedikit, lain akan berubah hukumnya menjadi najis. Selama air it lain berubah warnanya menjadi warna najis, atau berubah baunya menjadi bau najis, atau berubah rasanya menjadi rasa najis.

Seandainya pada salah satu baju yang dicuci ada najisnya, misalnya air kencing, atau darah, nanah, hajat manusia, muntah dan sejenisnya, habis pakaian itu direndam di air bersama dengan pakaian lainnya, maka sejauh air rendaman itu tidak mengalami perubahan menjadi najis, maka air itu tidak najis. Indikatornya boleh menggunakan salah satu dari tiga keadaan di atas nan kami sebutkan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Source: https://www.eramuslim.com/thaharah/mencuci-celana-yang-ada-maninya-dicampur-dengan-cucian-lain.htm