Cara Membuat Soal Pelajaran Ujian Nasional Tinkat Tk Adalah








A.





Pendahuluan





Sesuai dengan permendikbud No 43 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Ujian yang Diselenggarakan Eceran Pendidikan dan Ujian Nasional untuk musim 2022 ini tidak cak semau kembali Tentamen Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Namun eksamen nan terserah hanya tentamen diselenggarakan oleh asongan pendidikan dengan umumnya kita sebut dengan Testing Sekolah (US). Ujian sekolah ini mempunyai tantangan tersendiri bagi sekolah atau guru di satuan pendidikan masing-masing. Artinya diminta kreativitas sekolah maupun guru dalam mengelola dan melaksanakan eksamen sekolah ini.



Puas pasal 5 Permendikbud no 43 ini menyebutkan susuk ujian dapat positif portofolio, pengutusan, tes tertulis dan/atau kerangka lainnya. Bentuk lain ini lah yang memaui kreativitas sekolah atau guru dalam melaksanakan rencana dan varietas testing yang bisa dilakukan. Gambar ujian lain ini dapat saja positif kerja substansial siswa di umum, melaksanakan projek/penelitian sederhana, eksamen praktek tentang pengusaaan sikap/keterampilan yang berkaitan dengan keagamaan, atau lainnya sesuai dengan tanda sekolah sendirisendiri.



Selain tulang beragangan testing yang bisa dikembangkan waktu pelaksanaan bentuk ujian tersebut dapat juga dilaksanakan pada semester ganjil dan/atau semester genap plong akhir jenjang. Artinya satuan pendidikan bisa berangkat melaksanakan rencana penilaian nya di semester ganjil atau semester 5 tanpa menunggu semester 6. Keadaan ini juga menuntut sekolah dan temperatur perlu merencanakan tentamen sekolah lega semula tahun tutorial berlangsung.





Seyogiannya soal yang disiapkan oleh setiap hawa menghasilkan bahan ulangan/ujian yang sahih dan handal, maka harus dilakukan langkah-anju berikut, yaitu: (1) menentukan tujuan pemeriksaan ulang, (2) menentukan kompetensi yang akan diujikan, (3) menentukan materi yang diujikan, (4) menetapkan penyebaran butir pertanyaan berdasarkan kompetensi, materi, dan rangka penilaiannya (tes termaktub: bentuk saringan ganda, uraian; dan tes praktik), (5) merumuskan kisi-kisinya, (6) menulis butir soal, (7) memvalidasi butiran soal ataupun menelaah secara kualitatif, (8) merakit cak bertanya menjadi perangkat tes, (9) menyusun pedoman penskorannya (10) uji coba butiran soal, (11) analisis butiran soal secara kuantitatif berusul data empirik hasil uji coba, dan (12) perbaikan soal bersendikan hasil analisis kuantitatif sebagai halnya yang digambarkan pada gambar di bawah ini.

      Semata-mata bikin tulisan ini panitera masih mengomongkan bentuk testing sekolah tersebut masih berupa rancangan tes tertulis. Tulisan ini juga dilengkapi dengan pembahasan tes secara umum, menentukan materi/IPK nan akan dibuat butiran soalnya, cara membuat penunjuk soal yang baik, kaidah mengekspresikan granula soal nan baik tertulis cak bertanya HOTS, pendirian melakukan analisis kualitatif, dan amatan kuantitatif. Lega bagian penghabisan coretan terletak alamat-bahan yang di unduh sama dengan bahan penyampaian pembuatan butiran soal, dimensi jari-jari-kisi, aplikasi analisis kualitatif, aplikasi kuantitatif, dan aplikasi Kartan untuk membuat terali-kisi serta merta kartu soal dan soalnya sekaliagus. Sebaiknya bermanfaat.



B.





Konotasi Alat Pemeriksaan ulang

Secara harfiah kata tes mulai sejak terbit bahasa Perancis historis yaitu testum artinya piring cak bagi menyempatkan metal-logam mulia yang silam tinggi nilainya. Dalam bahasa Inggris ditulis dengan test nan diterjemahakan ke internal bahasa Indonesia berfaedah pembenaran, ujian ataupun percobaan dan intern bahasa Arab berarti imtihan.

Sedangkan secara istilah test yakni perangkat atau prosedur yang digunakan privat rangka pengukuran dan penilaian
. Pembenaran merupakan alat bagi memperoleh data tentang perilaku bani adam (Allen dan Yen, 1979:1). Karena itu, di kerumahtanggaan tes terwalak sekumpulan soal yang harus dijawab ataupun tugas nan akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis tertentu (spesimen perilaku) berlandaskan jawaban nan diberikan hamba allah yang dikenai tes tersebut (Anastari,1982:22).

Tester artinya orang yang melaksanakan pemeriksaan ulang, pembuat tes atau eksperimentor merupakan khalayak yang madya melakukan percobaan
,

testee adalah pihak nan medium dikenai konfirmasi atau pihak yang sedang dikenai percobaan (peserta testimoni).

Tes yaitu sejumlah pertanyaan yang diberikan untuk dijawab. Sedangkan pengukuran lebih luas dari pengecekan. Mengenai evaluasi mencakup pengecekan dan pengukuran yaitu proses pengumpulan informasi bikin mewujudkan penilaian, yang kemudian digunakan

s
ebagai bahan pertimbangan intern membuat keputusan
.

Padahal berdasarkan Permendikbud No 43 Tahun 2022 tentang Tata Ujian yang Diselenggarakan Satuan Pendidikan dan Ujian Nasional mendefenisikan

Testing adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi murid ajar bak pengakuan prestasi sparing dan/atau perampungan dari suatu Satuan Pendidikan.




C.







Cara Seleksi Materi/KD/IPK Eksamen Sekolah







Penentuan materi/KD/IPK yang akan dibuat soalnya dapat dilakukan dengan memperalat cara UKRK (Urgensi, Kontinuitas, Relevansi, dan Keterpakaian). Peristiwa ini perlu dilakukan biar tanya yang dibuat memang sudah diseleksi dengan baik. Tolok tersebut antara bukan (1)
Urgensi, adalah materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh murid didik; (2)
Kelangsungan, yaitu materi lanjutan yang yakni pendalaman berpunca satu alias kian materi nan mutakadim dipelajari sebelumnya; (3)
Relevansi, yaitu materi yang diperlukan kerjakan mempelajari ataupun mengetahui, mata tutorial lain; (4)
Keterpakaian, yaitu materi yang memiliki nilai terapan hierarki dalam semangat sehari­-perian.



Bikin soal tentamen sekolah penyeleksian berdasarkan tolok UKRK ini perlu dilakukan kiranya bukan berlebih banyak butir pertanyaan yang diujikan sehingga tujuan penilaian akan tercapai.



      D.





Penentuan dan Penyebaran Cak bertanya

Sebelum mengekspresikan jeruji-kisi dan butir soal mesti ditentukan kuantitas soal setiap kompetensi dasar dan penyebaran soalnya. Bikin lebih jelasnya, perhatikan eksemplar penilaian akhir semester berikut ini.

Sempurna penyebaran granula pertanyaan untuk penilaian penghabisan semester ganjil

No

Kompetensi

Dasar

Materi

Jumlah soal tes tulis

Jumlah soal

Praktik

PG

Uraian

1

1.1 …………

………..

6



2

1.2 …………

………..

3

1


3

1.3 …………

………..

4


1

4

2.1 …………

………..

5

1


5

2.2 …………

………..

8

1


6

3.1 …………

………..

6


1

7

3.2 ………..

………..


2


8

3.3 ……….

………..

8



Total soal

40

5

2




E.







Cara Membuat Jeruji-Kisi Soal








Kisi – jari-jari merupakan satu perencanaan dan cerminan tebaran butir pada tiap–tiap kompetensi pangkal yang juga didasarkan pada patokan dan persyaratan tertentu. Penyusunan kisi – kisi digunakan bakal menentukan spesimen tes yang baik, dalam kebaikan mencengam keseluruhan materi dan kompetensi dasar secara proporsional serta berkeadilan. Di samping itu juga tujuan penyusunan kisi-kisi merupakan bikin menentukan ruang skop dan andai ajaran dalam menulis tanya. Makanya karena itu, sebelum memformulasikan butir – butir tes hendaknya ruji-ruji – kisi dibuat apalagi dahulu bak pedoman dalam memuat jumlah butir nan harus dibuat untuk setiap rang butir, materi, tingkat kesukaran serta bagi setiap aspek kemampuan yang hendak diukur.



Jari-jari-ruji-ruji dapat berbentuk format atau matriks seperti mana komplet berikut ini.




Keterangan:

Isi pada ruangan 2, 3. 4, dan 5 yaitu harus sesuai dengan pernyataan yang ada di privat silabus/kurikulum.

Penulis kisi-ganggang enggak diperkenankan mengarang sendiri, kecuali pada kolom 6.

Kisi-kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini.


1.



Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang sudah lalu diajarkan



secara tepat dan sederajat.


2.



Suku cadang-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami.


3.



Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya.


4.



Macam dan bentuk tes menutupi tes lisan, tertulis (bentuk uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah), dan tes perbuatan yang menutupi: prestasi (performance), penugasan (project) dan hasil karya (product).



F.





Perumusan Indikator Soal

Parameter dalam kisi-terali merupakan pedoman n domestik merumuskan soal yang dikehendaki. Kegiatan formulasi indikator pertanyaan merupakan adegan berpunca kegiatan penyusunan kisi-kisi. Untuk menyusun indikator dengan tepat, guru harus memperhatikan materi nan akan diujikan, indikator penerimaan, kompetensi pangkal, dan standar kompetensi. Penunjuk yang baik
dirumuskan secara singkat dan jelas. Syarat indikator yang baik:


1.



Menggunakan perkenalan awal kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat,


2.



Menggunakan satu alas kata kerja operasional untuk pertanyaan objektif, dan suatu atau kian kata kerja operasional kerjakan soal uraian/tes kelakuan,


3.



Dapat dibuatkan cak bertanya ataupun pengecohnya (buat soal pilihan ganda).

Penulisan indikator yang pola mencengam A =
audience
(peserta didik) , B =
behaviour
(perilaku yang harus ditampilkan), C =
condition
(kondisi yang diberikan), dan D =
degree
(strata yang diharapkan). Ada dua hipotetis penulisan indikator. Paradigma pertama yakni memangkalkan kondisinya di awal kalimat. Kamil pertama ini digunakan lakukan tanya nan disertai dengan dasar pernyataan (stimulus), misalnya berupa sebuah kalimat, paragraf, gambar, denah, diagram, kasus, atau lainnya, sedangkan paradigma yang kedua ialah menempatkan peserta asuh dan perilaku yang harus ditampilkan di sediakala kalimat. Model permulaan ini biasanya juga digunakan untuk soal yang tingkat berpikirnya strata (HOTS). Ideal yang kedua ini digunakan untuk soal yang tidak disertai dengan dasar cak bertanya (stimulus).

Soal HOTS (Higher Order Thinkings Skill) meminta pelajar untuk memahami fakta, meringkas fakta, menghubungkan fakta dengan fakta atau konsep lain, menganalisis fakta, menyatukan fakta untuk membentuk hal yunior, dan meggunakan fakta untuk menyelesaikan kebobrokan. Tingkat berpikir bersumber soal HOTS dimulai dari C4 ke atas.

Contoh transendental pertama untuk soal menyimak plong netra pelajaran Bahasa Indonesia.

Penunjuk: Diperdengarkan sebuah pernyataan pendek dengan topik “berlatih mandiri”, petatar didik dapat menentukan dengan tepat pernyataan nan sama artinya.

Soal     :           (Soal dibacakan atau diperdengarkan hanya satu siapa, kemudian peserta ajar memilih dengan tepat suatu pernyataan yang seimbang artinya. Soalnya yaitu: “Tahun harus turut inferior pukul 7.00., semata-mata dia datang pukul 8.00 pagi hari.”)

Lembar pembuktian hanya berisi sortiran seperti berikut:

a. Hari masuk kelas tepat hari pagi ini.

b. Musim timbrung papan bawah terlambat dua jam pagi ini

c. Musim masuk Kelas tersisa siang hari ini,

d. Hari masuk Inferior terlambat satu jam periode ini

e. Hari masuk Kelas bawah terbelakang pagi hari ini

Gerendel: d

Arketipe komplet kedua

Indikator: Peserta tuntun boleh menentukan dengan tepat penulisan fon pada biji komisi.

Soal     :           Penulisan nilai uang nan ter-hormat yaitu ….




a. Rp 125,-


b. RP 125,00


c. Rp125



d. Rp125.





e. Rp.125

Kunci: b



G.





Menulis Butir Cak bertanya

Awalan lebih lanjut n domestik mengembangkan tes adalah menulis butir soal. Ada beberapa visiun yang wajib diperhatikan dalam menulis butir tanya, antara lain:


1.



Butir soal yang dibuat harus valid. Artinya, granula tersebut mampu mengeti ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.


2.



Granula soal harus boleh dikerjakan dengan menggunakan satu kemampuan partikular, tanpa dipengaruhi maka itu kemampuan tak nan tidak relevan. Seperti halnya membuat butir soal matematika dengan menggunakan bahasa asing. Jelas antara kemampuan ilmu hitung dan bahasa luar merupakan dua kemampuan yang berbeda separas sekali dan tidak bisa disangkutpautkan kerumahtanggaan satu butir cak bertanya dalam tes.


3.



Butir soal harus punya (rahasia) jawaban yang benar. Butir konfirmasi nan enggak memiliki jawaban akan lalu mengalutkan siswa, bahkan akan membuang waktu siswa jauh makin banyak tinimbang tanya yang n kepunyaan tingkat kesulitan tinggi sekalipun. Butiran yang lain memiliki jawaban yang benar dapat berkarisma pada mental psikologis siswa, terlebih bisa pula berimbas kepada kurang kredibelnya kegiatan pengukuran yang dilakukan.


4.



Butir nan dibuat harus terlebih lalu dikerjakan atau terjamah dengan langkah – langkah lengkap sebelum digunakan sreg tes sesungguhnya. Khususnya butir uraian atau essay pada bidang ilmu pasti seperti matematika, fisika dan lainnya langkah – langkah lengkap lewat dibutuhkan dalam pedoman penskoran butir.


5.



Hindari kesalahan ketik ataupun penulisan. Kesalahan penulisan dapat farik makna dalam bahasa tertentu, bidang eksakta sampai-sampai rataan sosial sekalipun dan ini akan menimbulkan perbedaan sisi granula. Makanya karena itu, dibutuhkan pengeditan yang teliti dan kecermatan.


6.



Tetapkan sejak tadinya aspek kemampuan yang hendak diukur cak bagi setiap butir nan akan dibuat. Aspek kemampuan dapat mengacu pada ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan alias boleh pula mengacu puas salah satu aspek di masing–masing lengang tersebut seperti pemahaman dalam tenang pengetahuan atau mengamalkan duplikasi dalam ranah kecekatan.


7.



Berikan petunjuk pengerjaan soal secara contoh dan jelas. Petunjuk pengerjaan soal selain dituliskan di semula soal alias kerubungan soal, hendaknya juga disosialisasikan terlebih habis kepada siswa dengan cara dibacakan sebelum tes berlangsung.



a.





Penulisan Soal Seleksian Ganda

Batik soal bentuk seleksian ganda sangat diperlukan ketangkasan dan presisi. Situasi yang paling sulit dilakukan intern menulis soal buram pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh nan baik yakni pengecoh nan tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan, serta tangga-ringkasnya nisbi sama dengan trik jawaban. Bakal memudahkan dalam penulisan cak bertanya gambar saringan ganda, terlazim menirukan anju-awalan seperti: (1) menuliskan buku soalnya; (2) awalan kedua menuliskan kunci jawabannya; (3) langkah ketiga menuliskan pengecohnya.

Buat melicinkan pengelolaan, restorasi, dan perkembangan soal, maka pertanyaan ditulis di n domestik format kartu cak bertanya. Setiap satu soal ditulis di internal suatu matra. Adapun formatnya begitu juga berikut ini.






KARTU SOAL

Diversifikasi Sekolah            :  ……………………………….  Penyusun   :  1.

Netra Tuntunan         :  ……………………………….                       2.

Bulan-bulanan Kls/Smt         :  ……………………………….                       3.

Bentuk Soal             :  ……………………………….

Tahun Ramalan           :  ……………………………….

Aspek yang diukur   :  ……………………………….

KOMPETENSI DASAR

Sentral Sumur

RUMUSAN BUTIR SOAL

MATERI

NO Cak bertanya:

KUNCI    :

INDIKATOR SOAL

KETERANGAN Soal

NO

DIGUNAKAN Buat

Copot

JUMLAH SISWA

TK

DP

PROPORSI PEMILIH

KET.

A

B

C

D

E

OMT


Soalnya mencaplok: (1) radiks cak bertanya/stimulus (bila ada), (2) pokok cak bertanya (stem), (3) pilihan jawaban yang terdiri atas: kunci jawaban dan penipu.

Perhatikan contoh berikut!




Prinsip penulisan soal pilihan ganda yaitu (1)
materi
: pertanyaan harus sesuai dengan indikator, penipu harus bertungsi, setiap soal harus punya satu jawaban yang benar, materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tahapan tipe sekolah atau tingkat kelas bawah; (2)
gedung
: (a) sendi soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas, (b) rumusan anak kunci cak bertanya dan saringan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja, (c) pokok pertanyaan jangan membagi petunjuk ke arah jawaban yang benar, (d) daya tanya jangan mengandung pernyataan yang berperilaku negatif ganda, (e) seleksian jawaban harus homogen dan rasional ditinjau bermula segi materi, (f) panjang rumusan seleksian jawaban harus relatif sama, (g) pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”, (h) pilihan jawaban yang berbentuk angka ataupun waktu harus disusun bersendikan cumbu besar kecilnya nilai angka ataupun kronologis, (i) bagan, grafik, tabel, diagram, bacaan, dan sejenisnya yang terletak pada soal harus jelas dan berfungsi, (j) rumusan buku soal tidak menunggangi ungkapan atau pembukaan nan berguna tidak pasti seperti mana: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang, (k) butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya; (3)
bahasa/budaya
: (a) setiap soal harus menunggangi bahasa yang sesuai dengan prinsip bahasa Indonesia; (b) bahasa nan digunakan harus komunikatif;(c) pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang tak merupakan satu kesatuan pengertian.



                   a.



Penulisan Pertanyaan Bentuk Uraian

Menulis cak bertanya bentuk jabaran diperlukan akurasi dan kelengkapan dalam merumuskannya. Presisi yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bagan uraian, yaitu menuntut murid didik kerjakan mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertera dengan menggunakan perkenalan awal-katanya sendiri. Adapun kelengkapan nan dimaksud adalah kecukupan perilaku yang diukur nan digunakan buat menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskorannya. Kejadian yang minimal sulit dalam penulisan pertanyaan rancangan uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. Penulis soal harus dapat menyusun setepat-tepatnya pedoman penskorannya karena kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat subyektivitas penskorannya.

Berlandaskan metode penskorannya, rancangan uraian diklasifikasikan menjadi dua, yaitu jabaran objektif dan jabaran non-objektif. Bentuk uraian nonblok adalah satu soal alias pertanyaan yang memaksudkan sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu, sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif. Artinya perilaku yang diukur dapat diskor secara dikotomus (moralistis – salah atau 1 – 0). Bagan uraian non-bebas adalah satu soal yang memaui sehimpunan jawaban dengan konotasi/konsep menurut pendapat masing-masing peserta jaga, sehingga penskorannya sukar bikin dilakukan secara objektif. Buat mengurangi tingkat kesubjektifan dalam pemberian skor ini, maka dalam menentukan perilaku yang diukur dibuatkan skala. Hipotetis misalnya perilaku yang diukur yaitu “kesesuaian isi dengan permintaan tanya”, maka skala yang disusun disesuaikan dengan tingkatan kemampuan peserta didik nan akan diuji.

Agar tanya yang disusun bermutu baik, maka carik soal harus menyerang kaidah penulisannya. Bagi memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan pengembangan cak bertanya, maka pertanyaan ditulis di dalam format kartu tanya Setiap suatu soal dan pedoman penskorannya ditulis di intern satu format. Teoretis format soal rajah jabaran dan format penskorannya adalah seperti mana berikut ini.



Karcis SOAL

Macam Sekolah       :  ………………………………

Penyusun             : …………………………………….

Alat penglihatan Cak bimbingan     : ……………………………..

Target Kls/Smt    : ………………………………

Tulangtulangan Tanya         : ………………………………

Tahun Ajaran       :  ……………………….

Aspek yang diukur : ………………………………

KOMPETENSI Pangkal

BUKU SUMBER:

RUMUSAN Granula Pertanyaan

MATERI

NO SOAL:

Parameter Pertanyaan

KETERANGAN SOAL

NO

DIGUNAKAN Bakal

Rontok

Jumlah SISWA

TK

DP

Neraca PEMILIH ASPEK

KET.

A

B

C

D

E

OMT

Ukuran PEDOMAN PENSKORAN

NO

Pertanyaan

KUNCI/KRITERIA JAWABAN

Kredit

Bentuk soalnya terdiri dari: (1) dasar pertanyaan/stimulus bila ada/diperlukan, (2) pertanyaan, dan (3) pedoman penskoran.

Kaidah penulisan soal jabaran seperti berikut­.


1)



Materi


a)



Cak bertanya harus sesuai dengan indeks.


b)



Setiap tanya harus diberikan batasan jawaban yang diharapkan.


c)



Materi nan ditanyakan harus sesuai dengan harapan peugukuran.


d)



Materi nan ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas bawah.


2)



Konstruksi


a)



Memperalat pengenalan tanya/perintah yang menghendaki jawaban terderai.


b)



Ada visiun yang jelas tentang cara mengerjakan tanya.


c)



Setiap soal harus ada pedoman penskorannya.


d)



Grafik, bagan, tabulasi, peta, atau nan sejenisnya disajikan dengan jelas, terbaca, dan berfungsi.


3)



Bahasa


a)



Rumusan kalimat soal harus komunikatif.


b)



Menunggangi bahasa Indonesia yang baik dan bersusila (baku).


c)



Tidak menimbulkan penafsiran ganda.


d)



Lain menggunakan bahasa yang berlaku setempat/pemali.


e)






Tidak mengandung pengenalan/ungkapan yang menyinggung perhatian peserta didik

Source: https://www.ruangkepalasekolah.com/2020/02/cara-menyusun-butir-soal-ujian-sekolah.html