Cerita Liburan Ke Rumah Nenek

Tantangan tahun ke-28

#Tantangangurusiana

Oleh Mimin Yulistiyowati, S.Pd

Sengaja memilih judul Fenomenal ini, bikin mengenang masa sekolah Kwetiau dulu. Periode masih sangat polos, suntuk culun dengan rambut mumbung minyak kepala. Detik dimana saya mulai membiasakan dari Bullyan teman padanan sekolah.

Baiklah kita tiba ceritanya, gaess

Setiap radu liburan, atau tepatnya hari permulaan masuk sekolah setelah liburan, bapak ibu suhu selalu suka-suka rapat. Entah apa nan di bahasnya. Nan pasti kelas nihil dan beberapa temperatur tentu memasrahkan tugas detik para hawa sedang berkembar. Dan tugas favorit nya adalah takhlik karangan tentang kelepasan. Apalagi kalau bukan Libur DI Kondominium NENEK. Sebagai siswa sekolah pangkal segala apa coba yang boleh dilakukan selain menurut pada instruksi guru. Mau memungkiri judul ngeri dosa, eh .. takut keliru, takut salah, agak kelam nanti jikalau dikoreksi serempak di coret. Secara kop ada privat posisi paling atas. Pasti nan akan dibaca secepat-cepatnya. Jadinya jadilah semua siswa berjudul kembar. Sekelas berjudul kembar. Andai saja satu Indonesia, semua guru mengasihkan tugas yang sama, pastilah rekor dunia terkendali. Karangan dengan judul Liburan ke rumah Nenek. Hehehe.

Seperti absah saya akan menulis kisah tentang kunjungan kami ke rumah Mbah buyut, nini dari ibuku.

Ini kisah ku

Pada suatu hari saya beserta keluarga pergi ke flat nenek di Ambulu. Ibu dan adik adikku naik angkutan umum dari Balung ke Ambulu. Dari rumah ke Memetik ayah akan mengirimkan kami satu persatu mendaki besikal motor. Sehabis berbintang terang angkutan mahajana, aku bonceng ayah naik pencetus tuanya. Aku tidak senang menaiki angkutan mahajana karena aku enggak tahan asap rokok, bau air atar dan bau bensin. Seandainya semua bau terbaur maka aku akan berpendar, enek dan terakhir mabuk. Padahal Menusuk Ambulu hanya berjarak sekitar 12 kilometer. Sesampainya di Ambulu, kembali ayah mengoper kami satu persatu. Karena rumah nenek dari kota Ambulu masih sekitar 4 Kilometer.

Rumah nenek yang sebagian yaitu terbuat berpangkal bambu membuat angin dapat melalui masuk melalui sela-sela gedek. Temaram semarak rembulan pula bisa kami nikmati karena rumah nini bukan ada langit-langit nya. Takdirnya pagi menclok pecah sadel bilik muncul cahaya verbatim dari sinar matahari. Galibnya kami akan menampung mukul bantal agar debu yang berterbangan dapat dilihat bersama rambatan harfiah sinar mentari dari sela gedek itu. Kemudian kami akan berlomba menggetah nya. maupun kadang sering pula kami membuka telapak tangan di terang tadi, kemudian akan tertumbuk pandangan dandan berma bakat kami pada telapak tangan.

Pelataran rumah mbak buyut sangatlah luas. Berbagai keberagaman pokok kayu ada. Aku paling suka mencari mempelam yang merosot dipagi hari karena kemarin aku memberi nya garam dan terasi pada akarnya. Kata orang hamba allah itu boleh membuat mangga nan sudah lalu tua jatuh. Aku mencoba nya dan berdampak. Entah karena memang waktunya jatuh atau memang efek garam dan terasi.

Atau sumur Mbah buyut yang tidak sebagai halnya sumber di rumah kami. Mata air di rumah Mbah buyut masih memakai bambu untuk mengambil air kami memasukkan bambu ke dalam perigi kemudian mengangkatnya. Saya suka dolan di sumur karena di sela lantai sumur aku jumpai banyak cacing. Aku akan mengambilnya dan diberikan pada si Pemenang, ayam aduan nekat properti Mbah Pekih. Mbah Pekih merupakan ayunda nini terbit ibu. sedangkan nenek ku sendiri sudah meninggal momen ibu berumur 7 tahun.

Makara sebenarnya aku lain n kepunyaan nini nan harus aku kunjungi. Karena nini berbunga ibu sudah lalu meninggal. Dan nini dari ayah setiap hari aku kunjungi. Bagaimana bukan lha wong saya adv amat menyerentakkan nenek. Sejak kecil semangat dengan nenek. Bagaimana aku berkunjung lha wong tinggal serumah.

Bintang sartan hari ini saya ingin untuk pengakuan jikalau saya bukan pernah berlibur di kondominium nenek. Yang etis saya berlibur ke rumah Mbah buyut. Maaf para guruku, sesudah sekian lama penipuan ini aku lakukan.

Ruang kelas, 11 Februari 2022

Buat diriku sendiri

Source: https://www.gurusiana.id/read/miminyulistiyowati/article/pergi-ke-rumah-nenek-268130