Cerpen Protes Karya Putu Wijaya

Cerpen Putu Wijaya “2011”

“Pengunci
tahun membawa banyak hal yang ekuivalen. Misalnya harapan bahwa masa mendatang akan bertambah baik. Tapi umumnya, selepas cak bertengger, ternyata juga setimpal. Tak terserah persilihan. Kemajuan hanya harapan. Hanya perasaan-perasaan kita nan berubah. Boleh jadi memang di situ peluangnya.”

Aku tergegau. Aku bertukar kanan daan kiri. Mungkin yang sudah mengatakan itu. Ternyata tidak ada bani adam. Itu pikiran-pikiranku sendiri setelah merenungi beraneka ragam peristiwa nan sudah silam. Sehabis puluhan tahun bergulir, tapi nasibku tidak bergerak. Aku merasa begitu juga dipaku ke atas dinding beton.
Dengan tampang kuyu kutatap isi flat. Dinding yang itu-itu saja. Kenap nan kemarin. Foto-foto semuanya setimpal. Tak ada yang berubah. Mana tahu sekadar cicak dan tokek nan berselang-selang karena antap. Lainnya sebagaimana abadi. Sehingga timbul pertanyaan. Apakah tahun mendalam berganti atau hanya berulang kembali.
Wajahku melusuh di meja bersantap. Istriku makara khawatir.
“Kliyengan, Sampul?”
Aku mengangguk.
“Mau dipijit?”
“Ini tidak masuk kilangangin kincir tapi pikiran kacau.”
Istriku manggut-manggut.
“Kalau seperti itu kronologi-jalanlah keluar rumah, tenangkan pikiran.”
Aku seia. Setelah ganti pakaian, aku keluar rumah. Tapi setelah sampai di jalan, aku bingung, tidak tahu cak hendak ke mana. Masa itu muncul Pak Manuel yang hendak pergi ke katedral.
“Kepingin ke gereja, Pak Manuel?”
“Betul, Pak. Buya sendiri  mau ke mana?”
Aku menjawab malu.
“Tidak ke mana-mana, mau makan angin belaka, menghibur perhatian sumpek.”
“Kalau sumpek jangan makan angin, nanti tambah terbang.”
Aku ketawa.
“Saya cuma tidak habis pikir, Pak Manuel, kok tidak ada yang berubah. Tiap tahun kita ingin terserah pembaruan, tapi akhirnya sering kecewa. Ternyata tidak ada masa depan. Kita seperti mana panjat mobil yang bannya
kejeblos. Tambah digas, sepeda muter makin kencang tapi teguh di situ-danau juga. Terkadang bukan bergerak. Hidup ini seperti mana macet. Ya
centung, Pak Manuel?”
Manuel manggut-manggut.
“Begini, Pak, kalau Bapak semenjana menaiki mobil nan
kejeblos, senyatanya Bapak tidak bepergian di medan, tapi Buya sedang masuk ke dalam tanah lebih dalam, sampai boleh pijakan yang memadai abadi kerjakan memurukkan mobil keluar bersumber luluk. Bapak kelihatannya terlambat, tapi enggak tidak ada gunanya. Sebab kalau tidak
kejeblos
lumpur, bisa jadi senggang, mungkin, mobil Bapak yang ditabrak truk nan nyelonong hambruk karena keberatan muatannya itu. Bersyukurlah! Buya selayaknya sedang diselamatkan!”
Aku mesem, tapi kaprikornus berpikir dalam-dalam.
“Cangkang Manuel!”
Tapi Manuel tidak  menunggu. Lelaki nan aktif di gerejanya itu sudah sampai ke tikungan dan berbelok sonder berpaling. Aku kaprikornus merinding.
“Apa itu etis-benar Pak Manuel atau saja pikiranku yang kacau?”
Cepat aku berbalik pulang, batal cari kilangangin kincir. Aku langsung menghinggapi istriku yang medium menata makan malam.
“Sudah makan angin, Paket?”
Nggak
kaprikornus….”
“Kenapa?”
Lantas kuceritakan pertemuanku dengan Buntelan Manuel.
“Buntelan Manuel?”
“Ya.”
“Bukannya Kemasan Manuel sudah kembali ke Flores tahun sangat?”
Aku terperanjat.
“Masak?”
“Ya, sudah pun ke Flores. Kecuali kalau dia sudah lalu datang lagi!”
Aku jadi penasaran. Cepat aku keluar flat pun,
ngecek
ke apartemen Pak Manuel. Di depan rumahnya aku disapa.
“Bapak ke gereja, Pak.”
Aku ki beralih. Itu Yozef terakhir Manuel.
“He, beliau sudah kembali? Katanya mutakadim pindah ke Flores.”
“Mutakadim kembali lagi, Sampul.”
“Kapan?”
“Mentah tadi.”
Aku bengong. Kutatap anak asuh itu.
“Kamu sudah samudra kini.”
“Ya, Bungkusan. Saya mau cepat-cepat mau masuk armada.”
“Ya? Kenapa?”
“Mau memperbaiki dunia!”
Aku bengong. Lagi kuplototi anak itu mencolok. Masa ini aku yakin bahwa semua itu tidak nyata. Itu fragmen dari pikiranku yang kacau.
“Sepakat
kan, Pak?!”
Aku menggeleng.
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Karena bukan senjata yang dapat menafsirkan dunia ini.”
“Terus segala?”
“Perasaan. Ingatan kita. Semua boleh tidak berubah. Semua boleh setinggi. Tapi kalau perhatian kita berubah, semua yang sepadan itu dengan sendirinya akan timbrung berubah. Saja perasaan kita yang mampu mengubah semuanya ini. Ingatan kita. Dan hanya kita sendiri. Bukan senjata!”
Yozef tak menjawab, aku cepat berbalik pulang. Hingga di rumah, baru aku merasa perasaanku menjadi terang. Tak perlu ada lampu busur. Kalau manah terang, segalanya akan cuaca.
Aku turut ke dalam rumah dengan ingatan yang sederajat sekali berubah.
Sampai di dalam rumah, aku menoleh ke sekeliling. Dinding, meja, potret-potret di atas tembok enggak suka-suka yang selevel. Semuanya terasa baru. Lewat aku cium bau gorengan tempe yang masih mengebulkan asap di atas meja. Itu bukan tempe yang bertahun-masa lampau aku kunyah, itu tempe plonco. Dan ketika kemudian aku mengunyahnya suatu, kurasakan kenikmatan yang belum perikatan kukecap sebelumnya.
“Lain cak semau yang tekun sama. Semuanya berubah, sekiranya manah kita sehat. Tempe ini bukan tempe nan
kemaren, tapi tempe baru nan belum pernah aku rasakan. Karena perasaanku mengubahnya. Eco sekali!” kataku sambil mencomot juga dua runjam tempe sekaligus.
Istriku memandang takjub.
“Berbunga tadi pagi Bapak diam-diam saja jikalau diajak
ngomong. Sekonyongkonyong saja sekarang
ngoceh ngomong
nan aneh-aneh. Salah! Itu bukan tempe. Itu morong krupuk udang rebon, tahu!”
Aku tergemap. Kutatap baik-baik segala apa nan sedang aku bersantap. Memang itu bukan tempe, tapi kemplang udang. Tapi itu tidak mengurangi kenikmatannya. Ya. Ternyata barang apa yang kupikirkan seharian di tutup tahun ini, terjawab. Yang terpenting dari segalanya adalah pikiran.
Lalu aku mengangguk.
“Betul! Tapi selama kita masih memiliki perasaan, hidup ini akan berubah!”
Istriku tidak menjawab. Ia  menganggap bukan mendengar barang apa-apa.
Malam masa selepas semua sosok tidur, kulihat seakan periode 2010 sedang menanggalkan pakaian kerjanya buat diserahkan pada 2022. Aku cepat bersimpuh intern pikiranku lalu berdoa.
“Ya, Yang mahakuasa, apa yang sedang terjadi dengan negeri ini? Apa yang harus kami lakukan untuk membuat distrik, nasion dan rakyat yang usianya jalan 66 tahun ini dewasa. Percaya lega diri, mampu mempergunakan seluruh kekayaannya untuk kesukaan seluruh warga, serta dihormati maka itu bangsa dan negara-negara lain, tak karena takut, tapi karena cinta?”
“Aku tidak mohon barang apa-apa kepada-Mu ya Allah, aku sekadar mencari bintik pandang, tempat aku mendengar kembali suaraku ini. Karena perhatian-Mu sudah lalu lebih dari patut. Yakni kami yang menjadi pangkal, sebab dan seluruh nasib kami ini. Yaitu kami nan harus tidak hanya nanang, merasa dan berharap
tok, tetapi harus segera mengerjakan untuk memilkul dan mengubah segala yang sedikit pantas ini, sampai terjadi apa yang kami mimpikan.”
“Sekadar apa sebenarnya nan kami mimpikan? Apakah mimpiku, harapanku sama dengan yang ditumbuhkan 220 juta sayak ketua manusia lain di sekitarku?”
Esoknya aku merencanakan akan bertanya plong siapa-siapa yang kutemui. Segala apa sebenarnya yang menjadi impian mereka. Jangan-jangan mimpi itu lain seimbang, tapi berbeda, justru inkompatibel. Dan itulah nan menjadi pangkal semua kekeruhan  ini.
“Kalau Bapak tanya Ibu,” jawab istriku yang purwa kali kujadikan bulan-bulanan, “aku hanya ingin biar kita semua selamat. Kurang lebih itu biasa, namanya juga spirit. Asal kita jangan hanya saling menyalahkan dan merasa lebih tahu padahal nan paling tahu itu adalah orang lain nan selalu kita adapun karena partainya lain.”
Aku tertawa. Aku heran sejak pron bila istriku itu jadi suka politik. Kemudian kucecer anakku. Begitu juga biasa anak asuh muda, dia menjawab acuh, gagah, dan pongah.
“Sepatutnya ada semua ini adalah proses jenjang intern menyadarkan kita bahwa kita tidak pula dijajah. Kita sudah merdeka. Cuma di dalam kemerdekaan, kita belum siap cak bagi tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Sampai-sampai kita tergegau, karena segala apa yang kita miliki sebelum merdeka, ternyata saat ini sudah lalu bukan terserah. Misalnya tidak ada yang benar-etis mengelola kita. Semua orang bersaing ikutikutan dirinya sendiri. Kita menengah internal sparing merdeka. Seperti kata professor Ben Anderson, bayak bani adam menganggap merdeka itu yakni saat untuk membagi kue pusaka. Kesudahannya yang terjadi sekarang sehabis lepas dari penjajahan yakni bentrokan antara kita dengan kita, karena semua ingin  mendapat kue warisan yang lebih banyak. Harusnya enggak nafsu memberi warisan, tapi nafsu memberi yang dihidupkan. Seperti introduksi Kennedy, pertanyaannya bukan apa yang dapat diberikan negara kepadamu, doang apa yang bisa anda berikan kepada negara!”
Jawaban itu mempesonaku. Aku lebih bersemangat sekali lagi bagi mendengar pendapat insan tak. Tapi ketika mau melangkah ke setangga, anakku mencegah.
“Jangan cuma mendengar pendapat orang. Pendapat Bapak sendiri bagaimana?”
Aku senyum.
“Pendapatku tidak utama.”
“Penting! Jangan nanti baru berendapat sesudah mendengar pendapat turunan tak. Itu namanya
nyontek. Atau Kiai tidak mempunyai pendapat? Mau sama dengan bunglon?”
Lho
jangan hantam kromo. Buya punya pendapat.”
“Ya apa?!”
Aku jadi  mikir.
“Tapi pendapat pribadi Bapak yang sejujur-jujurnya!”
“Lho memang itu tujuannya buya bertanya-tanya.”
“Jangan cuma bilang ingin cak semau persatuan, kesadaran kebangsaan, keadilan, kebenaran, keserasian, kepemimpinan yang transparan, hukum yang hayat dan berjalan, peradilan yang berwibawa, demokrasi dan sebagainya dan sebagainya. Itu sudah klise. Mutakadim banyak dikatakan sosok. Bahkan pun sudah lalu diulang-ulang oleh para ahli-ahli. Saya mau senggang apa kerinduan Bapak sejujurnya ibarat warga negara. Jangan takut. Tidak cak semau nan mendengar dan tidak akan dihukum seandainya semata-mata mengatakan kejujuran. Tapi katakan atas nama sumpah!”
Aku terkinjat.
“Kenapa pakai sumpah?”
“Harus! Sebab ini soal kejujuran. Kualat! Bapak mau barang apa?”
Aku bengong.
“Jangan nanang. Sebab kalau Bapak nanang, artinya Bapak ingin cari selamat saja. Katakan saja sejujurnya.
Nggak
suka-suka orang lain di sini!”
Kemudian istriku muncul.
“Belaka ada Ibu. Tapi Ibu
kan
lain basyar lain. Katakan saja terus terang. Bapak inginnya apa? Bagaimana?”
Aku menoleh puas istriku.
“Anakmu ini sudah gila. Matang aku disuruh bersumpah kerjakan mengatakan aku cak hendak apa?”
Ternyata istriku mendukung anaknya.
Lho, Bapak
ketel
sudah
nanyain
kami, kenapa mengelis kalau
ditanyain? Ibu juga cak hendak dengar apa jawaban Bapak.”
Aku terdesak ketawa.
“Bisa ketawa. Tapi ini tulah! Harus sejujurnya!”
“Apa, Pak?”
Aku menganjur napas janjang.
“Aku ingin kita….”
“Ingat serapah, Kelongsong!”
Aku tertegun. Suntuk bicara dengan pilih-pilih.
“Aku berharap kawasan kita ini….”
“Awas, ini sumpah!”
Aku rapat persaudaraan cuma marah, merasa dipermainkan. Aku ini kepala keluarga,
kok
didikte makanya anggota batih? Tapi lain ada senyum sinis yang biasa ngintip di sudut bibir anakku. Ia serius. Istriku juga sama. Aku jadi terdakwa.
Waktu itu unjuk ingatan aneh. Seakan untuk mula-mula kalinya sesudah secabik abad aku memandangi wajah anak dan istriku. Kulihat apa yang tak pernah kulihat. Entah bagaimana kudapatkan kacamata nan sama sekali lain. Lalu kutemukan apa yang bukan persaudaraan dan enggak ingin kulihat. Apa yang selalu kulewati dan lupakan. Apa yang selalu kuhindari dan aku tunda.
Tahu-tahu namun aku menemukan uban terserak di kepala istriku. Kerutan di leher dan di sudut matanya. Wajahnya yang polos tapi tertikam. Di balik kesahajaan itu tertekan berbagai kerinduan yang tak terkabul. Betapa rentan jangat pipi nan dulu abang itu. Kini sira kusut dan tak mampu pun meliputi apa yang menjadi kekecewaan dan hasratnya yang tak terpuaskan.
Sementara anakku yang belum mandi, karena sedang membersihkan kamar-kamar, terasa kampungan. Jauh sekali dari wajah-roman cantik di layar sinetron Indonesia. Berbeda dengan putri-gadis generasi baru Indonesia nan arketipe vitamin. Walau tubuhnya weduk dan semampai, cuma tidak terserah independensi dan keceriaan di matanya. Belum menikah, ia sama dengan sudah mendapat beban niaga bumi. Itu bukan generasi baru yang bebas, cuma momongan muda minus yang digondeli berbagai kesulitan nan sepatutnya ada bukan tanggungannya.
Mendadak aku menjadi tersentuh perasaan dan
kejeblos. Aku ingin menyetip semua itu. Mengecualikan keluargaku dari ketaklukan lega nasib buruk. Menyulap rumahku yang berduli, kumuh, yang ibarat gudang cemar nan tak selayaknya untuk seorang penghuni negara di negara yang sudah merdeka dan mewah sekali lagi.
Mendadak aku ingin memiliki flat yang enggak sekadar tempat pulang, tapi sebuah puri bagi hamba allah yang unggul. Kenapa aku tidak ikut mengenyam keuntungan urut-urutan raya dengan mengerapkan mobil mewah di atasnya? Aku cak hendak tak tetapi memandang hotel dan kejapan gaya nasib di
betulan estate
mewah, tapi pula masuk menyerang dan memilikinya. Aku tidak mau hanya mengibarkan tunggul tanda merdeka, saja masuk terkirai-kirai.
Sambil mengeruk isi dada, lalu aku merasa perutku mual. Karena bukan berhasil menahannya lagi, lalu begitu saja aku muntah.
“Aku cak hendak menjadi komposit. Makhluk nan berkuasa dan ditakuti. Aku cak hendak menjadi wakil rakyat, semua dapat semua prioritasnya. Jangan sekadar medalion film, artis, dan pelawak-pelawak itu saja nan menikmati gaji 40 jutaan sebulan. Aku cak hendak menjadi pejabat, bupati, walikota, gubernur, menteri, mahaduta dan juga presiden. Aku ingin punya dolok, tambang, dan awan proyek. Aku ingin membahagiakan anak asuh cucuku sebatas tujuh orang. Aku ingin sukses, unggul, berkuasa, dan lebih internal apa hal bersumber orang lain yang kalah. Aku ingin kian merdeka, lebih netral, lebih nyaman, dan bertambah berkuasa berpokok turunan tidak. Aku kepingin independen berusul segala kesulitan dan beban batin karena aku sudah lalu merdeka. Aku cak hendak, ingin apa saja yang belum kumiliki. Aku cak hendak segala nan tak ada….”
Mendadak istriku menghapus air matanya. Tapi tetes nan berjatuhan di pipinya tidak terbendung. Ia pun mengisak. Anakku memalingkan mukanya seperti tak tega melihat itu. Sangat ia menjauh.
Provisional aku tak berdampak berhenti. Mulutku terus bicara.
“Aku ingin anak dan istriku enggak pernah sekali lagi menangis dan selalu bangga kepadaku. Karena aku kepala flat tangga yang tahir. Aku ingin menjadi pahlawan dalam hidup meraka nan tidak tergantikan. Dan karena aku tak mampu mendapatkan semua itu, maka aku ingin, memimpikan semua itu siang malam. Sementara itu apa yang rendah? Aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Aku sudah berjuang, tidak kekeluargaan cak jongkok sedetik juga. Tapi ternyata nan kudapat lain satu persen pun dari harapanku. Aku hanya lelaki manula yang penuh dengan harapan, keinginan, impian, nan rimbun setiap saat, sehingga pohon kehidupanku semakin ringkih dan hampir hambruk, tak sanggup menggalas. Aku tak rani mengamalkan apa-apa. Aku saja seekor cacing….”
“Sudah, Sampul!”
“Maafkan aku, Bu.”
Kudekati istriku.
“Harusnya sira rangkaian dengan maskulin tak yang pasti akan memberikan semua itu, lain dengan aku. Tapi kalau kamu tidak menikah dengan aku, aku akan brengsek. Nasibku akan konyol. Kalau tidak ada beliau yang menemaniku selama ini, mengingatkan akau sebaiknya konsisten di jalan yang benar ini sekadar, boleh jadi sudah lama aku suka-suka di rumah tahanan.”
“Padalah, Pak!”
Sembunyi-sembunyi aku masuk menyetip air ain sebelum sempat keluar. Hari itu anakku menghampiri pula.
“Lain cuma Bapak, itu kerinduan semua orang sekarang. Saya kira keinginan semua insan Indonesia. Entah kenapa kita bersama-ekuivalen menjadi orang yang tak sempat diri. Semua kita. Tidak terkecuali kelihatannya kembali. Hanya ada yang mampu menutupi, ada nan tidak. Terserah yang tampak gagah dan bijak, tapi sebenarnya dalam hatinya sepadan saja. Jadi Bapak tidak terbiasa lagi meminang kepada mana tahu lagi apa harapan mereka. Jika mau beribadat, beribadat belaka, mudah-mudahan kita bisa melewati hari yang langka ini.”
Aku menggeleng.
“Buya tidak akan berdoa lagi. Sudah sepan. Yang mesti sekarang mengamalkan.”
Istriku melongok dan berhenti menghapus air matanya.
“Ya, betul itu. Berbuat. Tapi tidak usah yang
neko-neko
sebagaimana yang Buya bilang tadi. Kalau cak hendak, kalau masih kuat, ambil saja sapu bersihkan halaman di bokong. Cukup! Tidak perlu jadi pejabat atau konglomerat, memangnya gampang. Seandainya
andeng-andeng
ketiban rezeki datang, sebesar itu, belum karuan Bapak kuat, kalau mentalnya enggak siap.”
Sembari membuang seluruh kesedihannya istriku kembali ke dapur. Waktu itu anakku tersenyum lantas mengangguk ke arahku.
“Terima karunia, Cangkang.”
“Cak dapat kasih?”
“Ya. Syukur telah mengembalikan Bapak saya sebagai suami Ibu saya dan Kiai saya.”
“Memangnya selama ini enggak?”
Ami mengangguk.
“Bukan! Sebagai halnya umumnya semua makhluk lain.
Kemaren-kemaren
Buya tak diri Buya yang sebenarnya.”
“O ya? Sangat kamu koteng?”
“Saya juga begitu. Semua kita sejajar!”
Aku berpikir dalam-dalam.
“Jikalau itu betul, tapi berapa lama kita dapat teatap makara diri kita?”
Anakku menggotong pundaknya.
“Ya bilang detik saja memadai. Karena sebagian besar ki kenangan kita adalah ki kenangan anak adam yang lupa.”
Aku tertegun. Kali hanya bilang detik dalam hidup kita yang tataran ini, kita benar-benar mampu jadi diri kita. Tapi lumayan. Yang terdahulu kesahihan itu masih mau cak bertengger. Walaupun barangkali enggak perantaraan bisa kita miliki selamanya, karena hidup bergerak. Karena kita ditakdirkan harus terus mengejarnya. Terus saja mengejarnya. Dan tidak perlu mendapatkannya. Karena mengejar tetapi telah sepan. Mencari jauh lebih indah tinimbang mendapatkannya.
Kok
senyum-senyum seorang?” pertanyaan istriku sekonyongkonyong.
Aku menoleh. (*)

Jakarta, 16 Desember 2010

Source: https://khairfilsuf.blogspot.com/2016/01/cerpen-putu-wijaya-2011.html