Contoh Etika Lingkungan Dalam Kehidupan Sehari Hari







KATA PENGANTAR



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah yang sudah menolong hamba-Nya menyelesaikan kertas kerja ini dengan munjung kemudahan. Tanpa pertolongan Dia barangkali penggubah bukan akan sanggup menguasai dengan baik.

Makalah ini di susun oleh penggarap dengan berbagai rintangan. Baik itu yang nomplok dari diri penyusun atau yang datang dari luar. Hanya dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Halikuljabbar akibatnya makalah ini boleh tertanggulangi.

Kertas kerja ini memuat adapun Etika dan Lingkungan yang sengaja penulis membeda-bedakan karena menarik perhatian notulis cak bagi dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada temperatur / dosen penyuluh nan telah banyak membantu perakit agar bisa menyelesaikan kertas kerja ini.

Sepatutnya makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun kertas kerja ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Songsong hidayah.



wssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Carik




i.




DAFTAR
ISI

Kata pengantar
……………………………………………





i


DAFTAR ISI
……………………………………………

ii

BAB I PENDAHULUAN
……………………………………………
1

BAB II PEMBAHASAN


A.



UNSUR ETIKA LINGKUNGAN HIDUP………………………………
3


B.



MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN LINGKUNGANHIDUP
4


C.



TEORI
ETIKA LINGKUNGAN
……………………………………
5


D.



PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN Atma
……………………………
6

Gerbang III PENUTUP


A.



SIMPULAN

……………………………………
10


B.



SARAN
…………………………………….
10

DAFTAR Bacaan

………………………………………


11

ii


BAB I


PENDAHULUAN

Di kalangan akademisi, usaha mileu mulai marak pada tahun 1970-
an, dengan terbitnya referat berjudul
The Historical Roots of Our



Ecological Crisis


(Lynn White, 1967) dan
The Tragedy of The Commons


(Garet Hardins, 1968). Kemudian copot 5 Juni ditetapkan sebagai Hari
Lingkungan Sedunia oleh Majelis Umum Perserikatan Nasion-Bangsa

dengan resolusinya nomor 2994 lega rontok 15 Desember 1972. Tujuannya untuk memperdalam kesadaran publik memelihara dan meningkatkan ling­kungan internal bagan keselamatan dan kedamaian nyawa dimuka bumi. Copot tersebut dipilih karena simultan dengan pembukaan Konferensi Perguruan tinggi Bangsa-Nasion adapun Mileu Vitalitas di Stockholm pada tahun 1972, nan lebih jauh mendorong terbentuknya Program Mileu
Perserikatan Bangsa-Bangsa atau dikenal sebagai
United Nations Environ­ment Programme


(UNEP). Kerusakan lingkungan yang mengglobal antara

lain disebabkan karena pemanasan global (gas-gas yang menyerap dan

menahan sensual dari matahari sehingga
mencegah sekali lagi keruang


angkasa), penyusutan ozon, hujan angin bersut (berkaitan dengan pembakaran

bahan bakar fosil yang akan bercampur dengan nyamur di awan), sampah

padat, dan penyusutan sediaan mineral.

Di Indonesia sendiri sepantasnya etika mileu bukanlah merupa
cerek situasi yang baru, etika lingkungan sebenarnya telah suka-suka sejak zaman kuno, karena leluhur kita sebenarnya sudah menyebarkan hal ini melalui syair,

mite alias legenda. Contoh kaki yang masih mempertahankan kearifan

tradisional ini adalah masyarakat Dayak, Asmat, Badui, Nias, Kampung

Hantu bumi atau Tengger. Hendaknya etika mileu yang penuh warna

kearifan dan kebenaran tradisional ini dapat dikembangkan cak bagi penyelamatan lingkungan yang bertambah luas di negara kita.

Komersial nan benar adalah menggalas yang dapat memberi keefektifan maksimal

pada lingkungan, enggak sebaliknya, menggerogoti keserasian lingkungan.

Kerusakan lingkungan pada dasarnya berasal dari dua sumber adalah polusi

dan penyusutan sumber resep. N domestik kasus PT Lapindo Brantas misalnya, bencana memaksa penghuni harus ke flat ngilu, bahkan sudah menzinahi

alamat jiwa dengan meledaknya pipa gas Pertamina akibat rayapan lahan.

Perusahaan pun terkesan lebih mengutamakan penyelamatan aset-asetnya

daripada mengatasi soal lingkungan dan sosial yang ditimbulkan, lamun
bahan jiwa sudah lalu terjadi. Atau kasus pembukaan lahan gambut dan rawa

bakal pembangunan Pantai Indah Kapuk yang mengakibatkan banjir buat

wilayah Jakarta. Ataupun krisis air yang berkepanjangan nan menimpa

intim seluruh wilayah di Indonesia. Juga mencemaskan yakni penyedotan
air persil melebihi kemampuan alam bikin mengisinya kembali sehingga
tagihan air internal kapling makin berkurang.

1

Di Indonesia tetapi, luas areal hutan telah amat menciut. Dikhawatir-
kan bilang periode ke depan sekali lagi alas di Pulau Sumatera akan plontos, dan dasa tahun lagi usia sama main-main bakal Pulau Kalimantan. Kondisi

sungai-sungai terutama di Pulau Jawa mutakadim habis tercemar. Lautan di Indonesia bagian
barat

sudah terkuras ikannya melebihi kemampuan
perkembangbiakannya, sehingga jumlah stok ikan di laut menyusut.

Kerusakan lingkungan Indonesia berdampak global. Tahun 2006

kebakaran hutan Indonesia dan pembakaran tanah menjadi masalah yang

tidak terpecahkan, sehingga kebakaran rimba ini seakan tak teratasi pula, dan berlaku setiap tahun hingga kini. Semakin menciutnya alas, pasti enggak

dapat menghasilkan bahan bagi industri kayu. Lauk nan terkuras habis tentu

akan membangkrutkan firma perikanan. Demikian juga dengan kondisi

sungai nan tercemar mematikan tumbuhan beririgasi. Pesisir laut nan tercemar mematikan industri pariwisata. Singkatnya, lingkungan yang tembelang akan menyebabkan mandegnya pembangunan ekonomi.

Kurangnya kesadaran masyarakat intern menata ketetapan ling­
kungan dituduh ibarat penyebab terjadinya kemelut yang melebar.

Kegentingan lingkungan yang terjadi akhir-pengunci ini berjalur bermula kesalahan perilaku bani adam yang bermula berasal cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam.

Keburukan lingkungan semakin terasa jauh terpinggirkan, bahkan sering hanya merupakan embel-embel atau tempelan sekadar dalam programa-program

pembangunan, kesadaran awam terhadap problem lingkungan melandai. Padahal, bermacam-macam gangguan akibat pengelolaan mileu yang tidak

benar telah berulang kali terjadi dan merupakan fragmen dari hidup sehari hari masyarakat. Menciptakan kesadaran masyarakat yang berwa
wasan mileu merupakan fondasi buat menjaga agar lingkungan

terhindar berusul heterogen varietas pengrusakan dan pencemaran. Karena plong

dasarnya kerusakan lingkungan tersebut dikarenakan maka itu langkan
makhluk itu sendiri.

Etika lingkungan disini lain hanya mengomongkan mengenai perilaku khalayak terhadap alam, namun berbicara mengenai perkariban diantara semua kehidupan tunggul semesta, antara manusia dengan basyar yang mempunyai

dampak terhadap alam, dan antara manusia dengan makhluk tak atau

dengan bendera secara keseluruhan, tertulis dengan garis haluan garis haluan dan

ekonomi nan berhubungan atau berdampak berbarengan atau tidak dengan

alam. Etika lingkungan dapat diartikan bagaikan sumber akar moralitas nan mem-berikan pedoman bagi manusia maupun masyarakat kerumahtanggaan berperilaku atau

memilih tindakan yang baik intern menghadapi dan menyikapi segala
sesuatu sekaitan dengan lingkungan sebagai kesatuan simpatisan kelang-sungan perikehidupan dan ketenteraman umat manusia serta khalayak hidup

lainnya.

Etika lingkungan yang baik bisa menjadikan perilaku kita semakin

arif dan bijaksana terhadap mileu, sebaliknya etika yang pelecok akan menciptakan malapetaka bagi usia manusia, karena merusak Etika

lingkungan hidup adalah pertimbangan filosofis dan biologis tentang

kontak manusia dengan tempat tinggalnya serta dengan semua makhluk

nonmanusia.

2


BAB II
PEMBAHASAN



A.





UNSUR ETIKA LINGKUNGAN Semangat

Setiap cabang etika, memiliki unsure etika lingkungan atma sebagai peengembangannya.

Etika kehidupan ekonomi pun tidak semata-mata berpikir

secara sosiologis-ekonomis, melainkan juga secara ekologis. Sedikitnya ada

dua unsur utama kerumahtanggaan menjualbelikan etika lingkungan jiwa yang ditawar
kan oleh Velasques (2005) yaitu etika ekologi dan etika konservasi mata air
taktik yang bisa habis.


1.Etika ekologi


menjagakan bahwa manusia bukanlah penguasa kalimantang. Dalam situasi ini terbiasa diubah sikap anak adam yang antroposentrik, yaitu meng-anggap bahwa hanya dirinya yang pantas memufakati pertimbangan budi pekerti.

Akhirnya, semuanya yang di luar manusia tak berarti dan pantas

dieksploitasi sonder asa-asa. Anak adam harus mencatat adanya poin intrinsik dalam tiap unsur nonmanusia. Episode-putaran lingkungan yang bukan manu­
sia itu mesti dijaga, tidak masalah apakah peristiwa tersebut menguntungkan

manusia maupun tidak.


2.Etika konservasi sumberdaya


yang bisa habis mengacu puas peng
hematan sumberdaya liwa bikin digunakan di masa mendatang, disini mem
pertimbangkan kepentingan generasi nan akan hinggap. Setidaknya ada dua variasi kepedulian lingkungan, yaitu kepedulian lingkungan nan cangkat
(shallow ecology)
dan kepedulian mileu nan dalam
(deep ecology).

Kepedulian lingkungan yang dangkal menunjukkan ingatan kepada
keefektifan-kepentingan yang sering diabaikan privat ekonomi tradisional, pandangan ini menganggap alam bernilai hanya sejauh beliau bermanfaat bagi kepentingan hamba allah, dan bukan karena alam bernilai puas dirinya sendiri. Pada kepedulian lingkungan yang dalam sudah ki memenungkan kepen­tingan generasi-generasi yang akan menclok.

3



B.





MASALAH Nan BERKAITAN DENGAN LINGKUNGAN Roh

Kontaminasi
dan dekadensi
loklok lingkungan hidup manusia karena

polah bani adam itu seorang yang merusak habitatnya koteng. Pemanfaatan ilmu

pengetahuan dan teknologi demi kedamaian umat insan terkadang

tanpa disertai dengan wawasan mileu yang benar dan pemahaman yang

pas dalam memanfaatkan sumberdaya alam, hal tersebut tentu akan
menyebabkan kejatuhan mutiara lingkungan.

Dalam proses produksi misalnya diperlukan proses produksi nan

efisien dan ramah lingkungan. Perusahaan hendaknya mengupas lim
bah nan dihasilkan. Kaprikornus pada dasamya hamba allah itu harus memiliki

komitmen tata krama untuk menciptakan solidaritas manusiawi kiranya lebih

peduli terhadap penciptaan kehangatan hidup sesama orang dengan lingkungannya secara serasi dan seimbang.

Setidaknya agenda enam masalah yang timbul berkaitan dengan

lingkungan, yaitu:






(1)







Limbah Berbisa

Seringkali perusahaan membuang limbahnya ke sungai di sekitarnya, tanpa

terlebih lewat mengolahnya menjadi tak beracun. Balasannya air sungai

menjadi tercemar sehingga bukan layak dipakai, ikan-lauk menjadi sunyi, bah
centung limbah tersebut merembes ke air lahan mengakibatkan air tanah tidak

sepan untuk dikonsumsi, dan karuan peristiwa ini boleh membahayakan kesegaran

masyarakat.






(2)







Sekuritas Flat Kaca

Naiknya suhu permukaan marcapada disebabkan karena panas yang diterima bumi terhalang oleh partikel-partikel tabun yang dilemparkan dalam ruang angkasa karena

ulah manusia, sehingga tidak bisa keluar. Penyebabnya diantaranya adalah

karena pembakaran produk-produk minyak bumi dan batu bara. Hal ini akan

berbuntut negatif adalah memperluas padang pasir, melelehkan lapisan es di kutub serta meningkatkan permukaan air laut.






(3)







Perusakan Lapisan Ozon

Lapisan ozon berfungsi untuk menapis sinar ultralembayung. Saja masa ini lapisan ozon semakin rusak, peristiwa ini boleh terjadi karena pelepasan gas klorofluorokarbon (CFC) ke udara, pengaruh terbesar disebabkan karena pemancaran aerosol, bufet es, dan AC.






(4)







Hujan Cemberut

Asam bersumber emisi industri bergabung dengan air hujan, nan nantinya akan

masuk ke dalam tanah, danau ataupun bengawan. Tentunya kejadian ini dapat meng­akibatkan kerusakan hutan, subversif gedung, dan terlebih bisa menghancur-kan logam-logam beracun karena derajat keasamannya.






(5)







Penebangan Hutan

Penebangan hutan secara liar minus menghijaukannya kembali pasti ber
akibat sangat buruk.

4

Kejadian ini sudah dibuktikan dengan rayuan yang terjadi

intiha-akhir ini, dimana longsor dan banjir bandang telah menggagahi bahan

hidup yang tidak tekor jumlahnya.






(6)







Pengotoran
Peledak



Polusi udara bukanlah komoditas baru, udara telah bersama kita semenjak

terjadinya Revolusi industri manjapada, saat cerobong-cerobong asap pabrik

mulai ngeri. Terutama dikeluarkan berpokok pembuangan wahana bermotor dan proses industri. Ditambah pula dengan kebakaran hutan yang asapnya

sangat mempengaruhi kesehatan dan pun mengganggu jarak pandang kita.

Bahaya Pencemaran Kendaraan Bermotor, Misal selepas hujan diselimuti kabut. Terutama di petang masa. Kelihatan dingin dan campah. Tapi jangan salah terka. Itu tidak kabut saintifik. Kabut “buatan” yang pecah dari sisa pembakaran ki alat bermotor kamu. Data Kompas menunjukkan sebesar
2-3 juta mobil berada di Kota Jakarta sreg jam-jam kantor, dan sebesar 3-4

juta bagi motor. Jika sepotong namun terbit jumlah sarana bermotor tersebut

menderu pada saat yang selaras, berapa miliun karbon monoksida (CO),
nitrooksida (NOx), dan hidrokabon (HC) yang melayang-layang mencari mangsa di udara kota?

NOx dan HC sebabat beracunnya. Keduanya merusak paru-paru runcit. Kita tentu lain inginkan alat pernapasan bocor setelah sekian lama beraktivitas di perkembangan raya. Gejala kabut di sore musim dan pasca- hujan merupakan fenomena kimiawi beracun di angkasa kota Kamu. Penyebabnya merupakan dua spesies gar beracun ini. Jika tagihan tabun NOx dan HC sudah demikian berat menggelayut di angkasa, maka hujan abu asam akan terjadi sekali lagi di atas atmosfir.



C.





TEORI
ETIKA LINGKUNGAN

Terdapat 3 (tiga) rukyah teori mengenai etika lingkungan, sebagaimana diuraikan sebagai berikut:


1. Teori Antroposentrisme

Teori ini memandang manusia bagaikan pusat dari system duaja semesta.

Manusia dan kepentingannya dianggap yang minimal menentukan privat

tatanan ekosistem dan n domestik garis haluan yang diambil internal kaitannya

dengan alam, baik secara langsung ataupun tidak serta merta.

Segala apa sesuatu yang tak di umbul-umbul semesta ini sahaja akan mendapat

pikiran dan kredit selama menunjang maslahat cucu adam. Bikin teori ini

etika sahaja berlaku bagi anak adam, segala tuntutan terhadap kewajiban dan tanggungjawab kesusilaan manusia terhadap lingkungan hidup dianggap sesuatu nan berlebihan, kalaupun terserah itu saja demi menepati kelebihan

sesama sosok.

5

Teori semacam ini dinilai bersifat instrumentalistik (karena meng­
anggap pola hubungan manusia dan kalimantang dilihat belaka privat ikatan instru­
mental, kalaupun peduli demi memenuhi kebutuhan insan) dan egoistis
(karena sahaja mengutamakan kepentingan manusia).




2.



Teori Biosentrisme

Teori ini menganggap alam mempunyai nilai pada dirinya sendiri lepas dari

kepentingan manusia. Ciri etika ini adalah
biocentric,
karena menganggap setiap jiwa dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada
dirinya koteng.


Liwa perlu diperlakukan secara moral tanggal berusul apakah ia

berfaedah atau tidak kerjakan makhluk. Sehingga etika tidak lagi dipahami secara
terbatas pada peguyuban bani adam, cuma bermain juga untuk seluruh

peguyuban biotis, termasuk komunitas individu kehidupan tak.




3.



Teori Ekosentrisme

Etika ini memusatkan puas seluruh komunitas ekologis baik yang hidup

maupun tidak, karena secara ekologis makhluk kehidupan dan benda-benda

abiotis lainnya saling terkait suatu seimbang lain. Keseleo suatu versi yang terkenal

dari teori ini ialah
Deep Ecology.

Teori ini memusatkan perhatian pada kepada semua diversifikasi, termasuk

spesies lain manusia, dan menegaskan perhatiannya pada jangka janjang, dan enggak kalah pentingnya merupakan gerakan diantara orang-individu yang

n kepunyaan sikap dan keimanan yang setara, kondusif suatu gaya hidup yang selaras dengan pan-ji-panji, dan selevel-sama memperjuangkan isu
lingkungan
dan politik.



C.





Kaidah ETIKA LINGKUNGAN Spirit

Prinsip ini menjadi pegangan dan permohonan bikin perilaku kita dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara bertepatan atau

perilaku terhadap sesama individu yang bertelur tertentu terhadap alam

(Keraf, 2002):


(1)






Sikap Hormat terhadap Bendera



(Respect for Nature)

Pada dasarnya semua teori etika lingkungan mengamini bahwa alam seberinda

perlu bikin dihormati. Secara spesial sebagai pelaku moral, insan mem-punyai kewajiban moral untuk menghormati kehidupan, baik pada manusia

maupun makhluk tidak dalam komunitas ekologis seluruhnya. Khidmat

terhadap bendera merupakan suatu kaidah dasar bagi turunan perumpamaan bagian

dari liwa semesta seluruhnya.

6


(2)






Prinsip Tanggung Jawab



(Moral Responsibility for Nature)

Setiap adegan dan benda di alam segenap ini diciptakan makanya Tuhan dengan

tujuannya masing-masing, copot dari apakah tujuan itu bakal kepentingan

manusia maupun bukan. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam

semesta bertanggungjawab pula bagi menjaganya.

Bagasi jawab ini

bukan saja bersifat individual semata-mata pun kolektif. Kekekalan dan kerusakan

duaja yakni tanggungjawab bersama seluruh umat manusia. Semua

turunan harus bisa bekerjasama bahu menggalas untuk menjaga dan meles-
tarikan alam dan mencegah serta memulihkan kebinasaan alam, serta saling mengingatkan, melarang dan memidana siapa saja yang merusak pataka.


(3)






Solidaritas


Kosmis
(Cosmic Solidarity)

Kerumahtanggaan diri anak adam timbul perasaan setia kawan, sepenanggungan sepenanggungan

dengan alam dan sesama makhluk hidup lain. Cara ini bisa menunda
manusia buat menyelamatkan lingkungan dan semua kehidupan di alam ini.

Mandu ini berfungsi bak pengendali moral lakukan mengharmonisasikan

anak adam dengan ekosistemnya dan untuk mengontrol perilaku makhluk

n domestik batas-bats keseimbangan kosmis. Solidaritas ini juga memurukkan

khalayak untuk mengutuk dan mendatangi setiap tindakan nan menyakitkan

binatang tertentu alias bahakn memusnakan spesies tertentu.


(4)






Kaidah Kasih Sayang dan Kepedulian



(Caring for Nature)

Pendirian ini tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi, tetapi hanya demi kemustajaban alam. Dengan semakin peduli terhadap alam,

maka orang menjadi semakin matang dengan identitas yang kuat.


(5)








Prinsip


”No Harm”


Terdapat muatan, sikap solider dan kepedulian, minimum tidak dengan tidak

mengerjakan tindakan nan merugikan atau mengancam eksistensi hamba allah
kehidupan tidak di alam semesta ini
(no harm).
Jadi bahara dan tanggung

jawab moral dapat dinyatakan dengan merawat, mereservasi, menjaga dan

melestarikan kalimantang, dan tak berbuat tindakan seperti menggiatkan rimba

dan membuang limbah mengacak.


(6)






Pendirian Hidup Tersisa dan Selaras dengan Alam

Prinsip ini mengistimewakan plong nilai, kualitas, cara atma yang baik, bukan

mementingkan pada sikap rakus dan tamak. Ada batas bikin hidup secara

cukup sebagai manusia, yang selaras dengan alam.

7


(7)






Mandu Keadilan

Prinsip ini menekankan bahwa terwalak akses yang sama untuk semua

kelompok dan anggota umum buat ikut n domestik menentukan strategi

pengelplaan dan pelestarian serta pengusahaan sumur daya alam.

Dalam prinsip ini kita perlu memetiakan kemujaraban masyarakat

adat secara lebih khas, karena dalam segi pemanfaatan sumber daya alam dibandingkan dengan masyarakat modern akan kalah dari segi permodalan,

teknologi, informasi dan sebagainya, sehingga arti masyarakat

sangat rentan dan terancam.


(8)






Prinsip Demokrasi

Prinsip ini terkait erat dengan hakikat alam, yaitu keragaman dan

pluralitas. Demokrasi memberi arena seluas-luasnya bagi perbedaan,

keanekaragaman dan pluraritas.

Prinsip ini sangat relevan dengan pengam-bilan strategi di bidang lingkungan, dan menyerahkan garansi untuk
politik yang pro lingkungan hidup.

Dalam prinsip ini tercakup beberapa prinsip moral lainnya, yaitu,


a.



Demokrasi menjamin adanya keanekaragaman dan pluralitas yang
memungkinkan biji lingkungan roh mendapat habuan tempat bakal diperjuangkan ibarat agenda politik dan ekonomi nan sebanding pentingnya
dengan agenda tidak.


b.



Demokrasi menjamin independensi n domestik mengeluarkan pendapat dan

memperjuangkan nilai yang dianut oleh setiap khalayak dan gerombolan

masyarakat dalam bingkai arti bersama.


c.



Kerakyatan
menjamin
setiap
orang
dan keramaian
umum
masuk

berpartisipasi intern menentukan ketatanegaraan publik dan memperoleh

manfaatnya.


d.



Demokrasi menjamin rasam transparansi.


e.



Adanya akuntabilitas awam.


(9)






Prinsip Integritas Kepatutan

Cara ini terutama untuk pejabat mahajana, seyogiannya punya sikap dan

perilaku moral yang terhormat serta menjawat teguh kaidah-mandu moral

nan mengatasi kepentingan publik, untuk menjamin faedah di

permukaan lingkungan.

Padahal para pengikut
deep ecology
menganut delapan prinsip,

diantaranya merupakan:


1.



Kesentosaan dan keadaan baik dari nasib manusiawi ataupun

bukan di manjapada n kepunyaan nilai intrinsik.

8


2.



Khasanah dan keberbagaian bentuk-lembaga hidup menyedekahkan

kepada terwujudnya nilai-angka ini dan adalah nilai-ponten sendiri.


3.



Khalayak enggak berkuasa mengurangi kekayaan dan kemajemukan ini,

kecuali untuk memenuhi kebutuhan vitalnya.


4.



Keadaan baik berusul semangat dan kebudayaan anak adam boleh dicocok-
centung dengan dikuranginya secara kasatmata besaran penduduk.


5.



Campur tangan manusia dengan dunia bukan manusia kini berlebih lautan


6.



Garis haluan umum harus dirubah, yang menyangkut struktur-struktur

dasar di bidang ekonomis, teknologis, dan ideologis.


7.



Pergantian
ideologis
terutama
menghargai
kualitas
hidup
dan

bukan berpegang pada tolok jiwa yang semakin tinggi.


8.



Mereka yang ifltjiyetujui buur-granula sebelumnya berkewajiban secara langsung dan tidak iangsung untuk berusaha mengadakan pertukaran-
transisi yang mesti.

Cara-prinsip etika lingkungan perlu diupayakan dan diimplemen-tasikan n domestik semangat manusia karena ketegangan, persoalan ekologi dan
godaan aiam yang terjadi pada dasamya diakibatkan oleh kesadaran yang
salah.
Yaitu
bahwa
alam
ialah
obyek
yang
boleh
diberlakukan
dan
dieksploitasi sekehendak kita.

Pola pembangunan yang berlangsung sekarang perlu diubah dan diimplementasikan

secara jelas. Aspek pembangunan enggak semata-mata hanya pemenuhan kebutuhan aspek ekonomi semata-mata juga perlu memberikan bobot yang

setara pada aspek-aspek sosial, budaya dan lingkungan. Kerusakan yang terjadi puas musim sekarang, tidak hanya dirasakan oleh kita sekarang ini,
semata-mata lagi akan dirasakan pula oleh generasi nan akan datang.
Pembangunan nan dilakukan harus merupakan pembangunan

membumi yang selalu setolok dengan keseimbangan umbul-umbul. Pembangunan membumi dapat dikatakan identik dengan pembangunan yang membenang

yang berwawasan lingkungan.

9


BAB III


Intiha



A.





SIMPULAN

Beralaskan uraian bahasan “ Etika dan Lingkunngan “ dapat disimpulkan bahwa :


1.



Zarah etika mileu roh yang ditawarkan oleh velasques yaitu etika ilmu lingkungan dan etika konservasi sumberdaya.


2.



Komplikasi problem yang ditimbulkan oleh lingkungan ialah limbah berbisa, efek rumah kaca, perusakan lapisan ozon, hujan abu asam, penebangan jenggala, pencemaran mega.


3.



Suka-suka 3 teori lingkungan hidup adalah teori antroposentrisme, teori biosentrisme, teori ekosentrisme.



B.





SARAN

Bertolak dari pembahasan Etika dan Liongkungan penyusun memberikan saran bak berikut :


1.



Dalam berbisnis hendaknya memperhatika mileu sekitar.


2.



Pengusahaan sumberdaya sumber pokok alam harus dimanfaatkan secara bijak dan munjung beban jawab sehingga bukan merusak kingkungan sekitar.

10


DAFTAR
PUSTAKA

Ruky, Achmad S. 2000, Menjadi Manajer Jagat rat, Jakarta, PT Gramedia Wacana Terdahulu.

11


ETIKA DAN Mileu


Makalah Etika Bisnis


Dosen : Said Muhammad Rahimin, S.Ag.MM

STAI copy


Maka itu :



1.





Bambang Royani



2.





Wan Muslim


SEKOLAH Janjang AGAMA ISLAM (STAI) NATUNA


JURUSAN EKONOMI ISLAM


SEMESTER III D

Source: http://www.gudangmakalah.site/2016/02/makalah-etika-dan-lingkungan.html