Contoh News Item Tentang Sampah

Liputan6.com, Jakarta –
Pekan senja, 18 November 2022, sekitar pukul 16.00 Wita, seekor paus benih (Physeter macrocephalus) ditemukan penghuni terdampar di sekitar Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus selama 9,5 meter dan memiliki gempal 1,85 meter itu ditemukan dalam kondisi sudah jadi jenazah.

Saat ditemukan, paus malang itu dikelilingi sampah plastik dan potongan-potongan gawang. Momen perut paus dibelah, ternyata di dalamnya juga digdaya beragam sampah plastik seberat kurang lebih 6 kilogram.

  • Adu Argumen Parpol Soal Sinyal Dukungan Jokowi internal Bursa Capres 2024
  • Heboh Pengakuan Ismail Bolong dan Isu Perang Tanda jasa di Awak Polri
  • 8 Kaidah Mencuci Baju Rajut dengan Bermoral, Hendaknya Tidak Melar dan Abadi

Sampah-sampah dalam perut paderi itu terdiri dari plastik keras 19 buah seberat 140 gram, botol plastik 4 biji zakar 150 gram, kantong plastik 25 biji pelir 260 gram. Cak semau pula sepasang terompah jepit seberat 270 gram setakat tali rafia 3,6 kilogram dan beling-gelas plastik.

Penemuan tersebut hijau terungkap pada Senin keesokan harinya, detik pelecok sendiri warga mengunggah fotonya di salah satu akun media sosial miliknya. Sejak itu, laporan buntang paus jauhar yang menelan plastik menjadi viral dan memunculkan keprihatinan banyak pihak.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Greenpeace Indonesia, misalnya, mengatakan kalau kasus di Wakatobi hanyalah salah satu contoh kasus dari sejumlah kejadian pencemaran akibat sampah plastik di lautan.

“Mungkin kita masih ingat, di perian ini terwalak video viral seorang wisatawan mancanegara yang memperlihatkan kondisi perairan di Nusa Penida, Bali nan telah tercemar dengan sampah-sampah plastik,” ujar Pandai Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi kepada
Liputan6.com, Selasa (27/11/2018).

Bahkan, kasus serupa juga terjadi enggak jauh berasal Ibu Kota, tepatnya lega Maret 2022 lalu.

“Ketika itu, wilayah pelestarian mangrove di Muara Angke sempat tercemar karena kedatangan lebih dari 50 ton sampah yang sebagian besar merupakan sampah plastik mulai sejak lautan,” jelas Atha.

Engkau mengatakan, sampah plastik yang berakhir di lautan sangat berpotensi mencemari dan memasrahkan dampak yang serius bagi keadilan ekosistem di laut. Ketika semuanya sudah lalu menggunung, enggak cukup dengan daur ulang bikin bisa melenyapkannya.

“Daur ulang bukanlah jawaban penting atas permasalahan nan terjadi pada saat ini. Pengurangan (rabat) adalah kuncinya. Semua pihak harus berperan aktif dalam membentuk kejadian itu,” papar Atha.

Infografis Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat. (Liputan6.com/Triyasni)

Kejadian ini dibenarkan Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar. Dia mengatakan, sampah plastik yang mutakadim sampai di laut akan comar menjadi ancaman.

“Yang berpuaka berasal sampah plastik yang masuk ke laut, dia nggak bisa terurai. Jadi, kalau sudah lalu masuk ke perairan ceceh waktu ratusan hari (cak bagi terurai). Dia akan menjadi ancaman seandainya nanti dimakan sama sato laut, biota laut, oleh mikrorganisme laut,” jelas Novrizal kepada
Liputan6.com, Selasa (27/11/2018) malam.

Di jihat lain, lanjur dia, sampah plastik harus dikurangi mudahmudahan enggak mengonggokkan dan mengancam biota laut. Caranya yakni dengan pembatasan eksploitasi plastik alias dengan daur ulang.

“Daur ulang adalah bagaimana semua sampah plastik itu bisa jadi mata air sentral. Kaprikornus, harus diusahakan sampah plastik ini tidak dapat atau jangan turut TPA, melainkan didaur ulang,” jelas Novrizal.

Dia berdalil, jikalau sampah plastik akhirnya bermuara ke tempat pembuangan akhir sampah, sampai kapan kembali tak akan bisa tercerai.

“Makanya, bagaimana caranya meningkatkan kognisi publik. Minimal masyarakat mengategorikan sampah. Bisa dibawa ke bank sampah maupun ke gelanggang industri daur ulang agar tidak ikut ke perairan,” ujar Novrizal.

Padahal, pihak Greenpeace Indonesia melihat upaya yang dilakukan pemerintah bakal menjadikan sampah plastik sebagai ancaman jangka panjang sudah berada pada koridor yang bermoral. Yang diperlukan masa ini adalah aksi di lapangan.

“Saya pikir pemerintah sudah mematamatai bahwa permasalahan ini memang menjadi ancaman yang sungguh-sungguh, ialah dengan menjadwalkan incaran pengurangan sampah di ki akbar hingga 70% sampai tahun 2025. Namun, upaya penyelesaiannya masih perlu ditingkatkan,” tegas Atha.

Saksikan video sortiran di bawah ini:


* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, marilah WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 sekadar dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kampanye Hulu hingga Estuari

Menteri Nautikal dan Perikanan Susi Pudjiastuti betul-betul geram dengan kenyataan tewasnya seekor paus sperma di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara yang diduga akibat menelan sampah plastik. Sementara itu, sejumlah kampanye eksploitasi material berbahan plastik sudah lalu dia mulai.

Misalnya, Susi telah memberlakukan kebiasaan tegas di kantornya soal penggunaan benda-benda yang terbuat bersumber plastik. Bahkan, ia sudah lalu menerapkan denda sebesar Rp 500 ribu kerjakan semua pegawainya yang membawa air mineral privat botol plastik.

“Di KKP sudah suka-suka (sanksi), bopong
mineral water
ke KKP denda Rp 500 ribu,” ujar Susi di kawasan GBK, Senayan, Jakarta, Minggu 25 November 2022.

Menurut Susi, hal tersebut merupakan abstrak tercecer kemustajaban mengurangi sampah plastik dalan jumlah yang berjasa. Apalagi Indonesia memproduksi sampah plastik sebanyak 175 ribu ton setiap harinya.

“Musim 2030 kalau lain dikurangi, sampah akan lebih banyak tinimbang ikan di laut kita. Mau kita bersantap sampah? Karena itu, sudah lalu ada rencana aksi kebangsaan penanganan sampah plastik di laut. Sebagai pribadi, bagaikan menteri, kita semua, harus kerjakan ini sebagai program kewarganegaraan,” ujar Susi.

Pemerintah memang mutakadim menyiapkan sejumlah statuta kerjakan mengeset pemagaran sampah plastik ini. Misalnya, Peraturan Presiden Nomor 97 Waktu 2022 akan halnya Kebijakan Strategis Nasional yang kemudian diturunkan menjadi Kebijakan Strategis Distrik (Jakstrada).

“Jadi, waktu ini ini hampir semua distrik sudah memiliki Jakstrada dalam pengolaan sampah. Ordinansi lain, lagi sudah terserah Perpres Nomor 83 Tahun 2022 akan halnya Penanganan Sampah Laut, yang berisi akan halnya tulangtulangan operasi pengurangan sampah plastik laut,” jelas Direktur Pengelolaan Sampah Departemen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar.

Selain itu, lanjur anda, pemerintah juga berusaha menggapil sampah tiba dari hulu sampai hilir. Di babak hulu, pembuat diajak wicara mengenai keamanan produknya, temporer di kuala ataupun konsumen, pemerintah mendorong bikin melembarkan komoditas yang ramah lingkungan.

“Kita mulai membangun operasi mode semangat nan ramah mileu. Bawa dompet belanja sendiri, mengirimkan tumbler sendiri, tak mengaryakan sesapan plastik, atau mengurangi penggunaan
styrofoam,” ucap Novrizal.

Persiapan tersebut seideologi dengan intensi nan digaungkan maka itu Greenpeace Indonesia, bahwa buat mencegah Indonesai menjadi huma sampah plastik adalah menyasar serempak ke hilir dan hulu.

“Solusi penting untuk mengurangi penyerangan sampah plastik di lingkungan, termasuk lautan adalah dengan mengurangi produksi dan penggunaan plastik sekali pakai secara signifikan. Inisiatif pihak swasta seperti perusahaan produsen produk kebutuhan sehari-perian (fast moving consumer goods) harus makin berbunga sekadar mengamalkan daur ulang,” tegas Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi.

Selain itu, lanjur dia, pemerintah terbiasa membuat kanun yang fokus lega pengurangan (diskon) sampah plastik dan menunjangnya dengan meningkatkan kualitas sistem pengelolaan sampah secara kebangsaan.

“Terakhir, masyarakat kembali harus lebih sadar akan persoalan dan gertakan yang maujud ini. Bila lain berlaku sesegera mungkin, akan semakin banyak roh fauna yang terancam oleh kesanggupan sampah plastik,” pungkas Atha.

Lain sahaja di dalam negeri, persuasi nan sebanding sekali lagi digaungkan di tingkat mayapada. Atas prakarsa Perwakilan Loyal Republik Indonesia untuk PBB, WTO dan Organisasi Alam semesta Lainnya di Jenewa, Indonesia bersama Swiss, Norwegia, Prancis, Inggris, Uruguay dan Kolombia, menyuarakan perlunya usaha global mengurangi limbah plastik, terutama di ekosistem laut.

Hal itu diwujudkan dengan menyelenggarakan High-Level Event on Marine Plastic Litter and Microplastics di Kwartir Lautan PBB Jenewa, Swiss puas 4 September 2022 dulu. Dalam urun rembuk dipaparkan mandu meningkatkan kesadaran global tentang perlunya tindakan kolektif dalam menyelesaikan sampah plastik laut.

“Indonesia secara konsisten mendukung pembahasan isu sampah plastik di laut pada berbagai forum global. Dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia, laut dan sumber daya hayati serta non-hayati di dalamnya yaitu khasanah berjasa nasion Indonesia yang harus terus kita didik,” ujar Hasan Kleib, Wakil Taat RI di Jenewa, seperti mana dikutip terbit laman Kemenlu RI.

Indonesia menyadari, upaya menuntaskan sampah plastik di laut memerlukan kerja sama global. Semua negara terbiasa berbagi camar duka, transfer teknologi, serta koordinasi lintas batas.

Indonesia koteng sudah lalu memiliki kerja sebagai halnya Norwegia n domestik menyelesaikan sampah plastik laut di Teluk Jakarta. Dengan dibawanya isu sampah plastik ini puas level universal, diharapkan bentuk kolaborasi pengurangan sampah plastik menjadi semakin masif, efektif dan sistematis.

Ketika Laut Tertutup Plastik

Bukan banyak yang mengetahui kalau Indonesia masuk dalam jajaran negara yang paling panjang memproduksi sampah plastik, khususnya di laut. Berdasarkan kronik Jambeck JR berjudul Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean masa 2022, Indonesia merupakan negara terbesar setelah China yang menghasilkan sampah plastik.

Bakir di urutan ketiga merupakan Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton masing-masing hari.

Data per musim 2010, sampah plastik yang dihasilkan Indonesia mencapai 3,2 juta metrik ton/tahun. Data itu menunjuk-nunjukkan, kontaminasi lingkungan di Indonesia akibat sampah plastik sudah pas mengkhawatirkan.

Sementara intern laporan World Bank masing-masing 2022, total sampah plastik kebanyakan menyeluruh telah mencapai 242 juta ton, atau menyumbang 12% berusul onderdil penyebab pencemaran lingkungan.

Jika lain ada persuasi nyata kerumahtanggaan menyelamatkan lingkungan, World Bank memproyeksi pengotoran mileu akan meningkat hingga 70% pada 2050. Kondisi tersebut tentu mengkhawatirkan semua pihak, termasuk Kepala negara Bank Manjapada Jim Yong Kim.

“Kita tahu plastik-plastik ini, belalah timbrung ke ki akbar dan kemudian tercerai dan dimakan oleh ikan dan ujung-ujungnya itu kita makan kembali, sehingga plastik itu turut ke badan kita,” tutur Presiden Kim saat mewah di kawasan Suwung Kauh, Denpasar, Bali, Jumat 6 Juli 2022.

Keadaan ini sekali lagi nan menjadi meres pantat Jim mengunjungi Indonesia lega mulanya Juli habis, kekuatan mengingatkan bahaya bermula pengotoran lingkungan, khususnya sampah plastik.

Tidak belaka pihak luar, pemerintah melewati Kementerian Mileu Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga menilai persoalan sampah sudah meresahkan. Data dari KLHK sendiri menjuluki plastik hasil berusul 100 toko alias anggota Kombinasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam masa satu periode saja, sudah lalu mencapai 10,95 juta sutra sampah kocek plastik.

Jumlah itu ternyata setinggi dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau selingkung 60 siapa luas pelan sepak bola. Sementara itu, KLHK menargetkan ki pemotongan sampah plastik lebih berpokok 1,9 juta ton sampai 2022.

Lebih pecah suatu miliun kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut dipakai hanya sembari langsung dibuang. Dari angka tersebut, hanya panca persen yang mendalam didaur ulang.

Data KLHK juga menyebut, jumlah kuantitas sampah Indonesia di 2022 akan mencapai 68 juta ton, dengan sampah plastik diperkirakan sampai ke 9,52 juta ton atau 14 uang lelah dari jumlah sampah nan suka-suka.

Sementara, data lembaga swadaya masyarakat (LSM) Greenpeace Indonesia tak kalah mencengangkan. Temuan itu dari dari audit label sampah plastik nan dilakukan Greenpeace Indonesia bersama sejumlah kekerabatan lokal pada pertengahan September 2022 di tiga lokasi, yakni Pesisir Kuk Cituis (Tangerang), Pantai Pandansari (Yogyakarta), dan Pesisir Mertasari (Bali).

“Ada 797 merek dari sampah plastik nan kami temukan pecah tiga lokasi, di mana yang terbesar adalah merek-nama lambung dan minuman (594 merek), kemudian label-merek perawatan fisik (90), kebutuhan rumah tataran (86), dan lainnya (27),” jelas Muharram Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia.

Berbunga hasil audit merek, Greenpeace menemukan pak produk-produk dari Santos, P&G dan Wings bak nan terbanyak berasal kegiatan bersih pantai dan audit merek di Pantai Kuk Cituis (Tangerang); Danone, Dettol, Unilever di Rantau Mertasari (Bali); dan Indofood, Unilever, Wings di Pantai Pandansari (Yogyakarta).

“Kami pula menemukan cukup banyak sampah plastik yang tidak pula terlihat mereknya. Ini mengindikasikan bahwa sampah tersebut sudah lalu lama tertendang dan berlambak di lingkungan tersebut,” Atha menerangkan.

Sampah-sampah plastik tersebut bisa bersumber dari masyarakat sekitar, serta pecah panggung nan jauh yang kemudian terbawa diseminasi.

Secara global, hanya 9% sampah plastik yang didaur ulang dan 12% dibakar. Dengan alas kata lain, 79% sisanya bubar di tempat-tempat pembuangan maupun saluran-parit air seperti wai yang bermuara ke lautan.

Bisa dibayangkan, jika tak cak semau upaya mencegahnya sesegera mungkin, tak lama lagi laut kita dan manjapada akan tertutupi sampah plastik. Mimpi buruk yang segera menjadi publikasi.

Source: https://www.liputan6.com/news/read/3772521/headline-sampah-plastik-indonesia-juara-2-dunia-bagaimana-mengatasinya