Contoh Soal Angket Faktor-faktor Yang Menghambat Prestasi Belajar

Motivasi Belajar Siswa dan Motivasi Berprestasi
Pupuk Tembung Belajar Siswa bikin Berprestasi

Menurut WS. Winkel (1983:27)motivasi
belajar
siswa adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual, peranannya yang individual merupakan gairah atau semangat
belajar, sehingga koteng
petatar
yang bermotivasi
kuat, dia akan mempunyai banyak energi bakal mengerjakan kegiatan
belajar. Dengan demikian,
siswa
yang mempunyaiki dorongan kuat, dia akan mempunyai kehidupan dan gairah
belajar
nan tinggi, dan puas gilirannya akan dapat sampai ke penampilan
belajar
yang tinggi.

Seorang
pesuluh
belajar
karena didorong oleh kekuatan mentalnya, kelebihan mental itu substansial keinginan, perhatian, keinginan, atau cita-cita, dan kekuatan mental tersebut, dapat tergolong sedikit dan strata.
Motivasi
dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku
belajar. Dalam
motivasi
tergantung adanya kedahagaan nan mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan menujukan sikap dan perilaku
belajar. Setidaknya ada dua onderdil utama intern
cambuk, yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan.


Siswa


nan termotivasi, ia akan mewujudkan reaksi-reaksi nan mengincarkan dirinya kepada usaha mengaras pamrih dan akan mengurangi ketegangan yang ditimbulkan oleh tenaga di privat dirinya. Dengan introduksi lain,motivasi memimpin dirinya ke jihat reaksi-reaksi mencapai tujuan, misalnya bikin dapat dihargai dan diakui oleh bani adam lain.

Faktor yang berasal dari luar individu yang berkarisma terhadap seorang
siswa
dalam
sparing, di antaranya ialah kontrol berpangkal orang lanjut umur. Makhluk lanjut usia, merupakan sosok yang permulaan kelihatannya mendidik anaknya sebelum anak tersebut mendapat pendidikan pecah orang tidak. Demikian juga dengan keadaan pelampiasan kebutuhan rohani (intrinsik) dan jasmani (ekstrinsik) bagi seorang anak, maka orang tualah nan bertanggungjawab pertama kali.

Di internal mengolah dan menyempurnakan kebutuhan anaknya, maka diperlukan ingatan dari orang tua. Peran utama bikin orang tua dalam mileu batih, nan terpenting yakni memberikan pengalaman permulaan plong waktu anak-momongan, sebab pengalaman pertama merupakan faktor utama n domestik kronologi pribadi anak.

Sedangkan untuk sendiri anak, detik melakukan proses
belajar
ada dua faktor yang menjadi tenaga penggeraknya, merupakan
senawat
ekstrinsik, yakni
motivasi
yang berasal mulai sejak luar diri dan
motivasi
instrinsik yang berasal dari n domestik diri anak itu sendiri. Sendiri momongan nan
berlatih
dengan
motivasi
nan minus alias lebih lagi lain mempunyai
motivasi, akan susah bikin diajak berprestasi, anak merasa cepat puas dengan hasil yang diperoleh, apatis, enggak berkecukupan dan enggak fokus.

Dalam kondisi begitu juga ini, peran hamba allah tua lontok perumpamaan motivator dituntut bagi mampu membakar
motivasi
membiasakan
anaknya sehingga segala potensi yang dimiliki momongan terekspresikan dalam susuk perilaku-perilaku
belajarnya. Kampanye ibu bapak buat kondusif membangun
motivasi
belajar
pada diri momongan-anaknya, bukanlah propaganda yang mudah karena
tembung
belajar
ini sebenarnya harus sudah lalu mulai ditanamkan individu tua kepada anaknya sejak dari boncel. Dengan demikian, anak diharapkan n kepunyaan pemahaman akan pentingnya
belajar
untuk dirinya.



Berlandaskan jabaran di atas, dapat ditarik suatu konklusi bahwa perasaan yang diberikan orang tua terhadap anaknya akan mempengaruhiki dorongan
belajar
peserta. Kekuasaan tersebut, tergantung plong seberapa samudra manah yang diberikan ayah bunda kepada anaknya. Bila perhatian yang diberikan maka itu ayah bunda segara, maka akan menunda munculnya
motivasi
belajar
dalam diri anaknya, demikian kembali sebaliknya. Di mana puas akibatnya, performa
belajar
anak di sekolah yang mendapat perasaan berbunga ibu bapak lebih baik dibandingkan dengan penampilan anak yang adv minim membujur perhatian berasal hamba allah bertongkat sendok. Dengan demikian, dapat diduga adanya pengaruh yang signifikan dari perhatian ayah bunda terhadapcambuk
belajar
siswa.

Bentuk-Tulang beragangan
Motivasi
Sparing
Petatar
di Sekolah

Di dalam kegiatan
belajar-mengajar peranan
motivasi
baik intrinsik atau ekstrinsik silam diperlukan.
Motivasi
buat siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, boleh mengarahkan dan menernakkan ketekunan dalam melakukan kegiatan
belajar. Suka-suka beberapa tulangtulangan dan cara lakukan mengintensifkan
motivasi
kerumahtanggaan kegiatan
sparing
di sekolah, di antaranya yaitu:

1) Membagi Biji

Skor privat hal ini ibarat simbol bermula kredit kegiatan
belajarnya. Banyak
siswa
belajar, nan utama sampai-sampai untuk mengaras biji atau angka nan baik. Sehingga
pelajar
biasanya yang dikejar adalah poin ulangan ataupun nilai-kredit pada rapot angkanya baik-baik. Kredit-angka yang baik itu bagi para
siswa
yakni
pecut
yang sangat abadi.

2) Hadiah

Pemberian bisa kembali dikatakan sebagai
cambuk, tetapi tidak selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu tiang penghidupan, barangkali enggak akan menarik bikin seseorang yang tak doyan dan bukan berbakat bikin suatu pekerjaan tersebut.

3) Saingan/Sayembara

Saingan alias kompetisi dapat digunakan sebagai alat
pecut
buat memerosokkan
siswa
bagi
belajar. Persaingan, baik persaingan unik atau persaingan kelompok boleh mmeningkatkan prestasi
belajar
para peserta pelihara.

4) Mengetahui Hasil

Dengan mengetahui hasil karier, apalagi takdirnya terjadi kemajuan, akan menolak
siswa
lakukan
belajar
lebih giat sekali lagi. Semakin memafhumi bahwa diagram hasil
belajar
meningkat, maka ada
ki dorongan
bikin terus
berlatih, dengan suatu maksud hasilnya terus meningkat.

5) Pujian

Apabila suka-suka
pesuluh
nan sukses alias berbuah menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan penghargaan. Penghormatan ini adalah bentuk reinforcement nan maujud dan sekaligus merupakan
motivasi
nan baik. Oleh karena itu supaya apresiasi ini ialah
ki dorongan, pemberiannya harus tetap. Dengan pujian yang tepat akan membaja suasana yang menyejukkan dan mepertinggi gairah
belajar
serta serta merta akan membangkitkan martabat.

6) Memberi Ulangan

Para
siswa
akan giat
membiasakan
kalau mengetahui akan cak semau ulangan. Oleh karena itu memberi ulangan ini pula yaitu sarana
motivasi. Tetapi nan harus diingat oleh temperatur, adalah yang terlalu sering melakukan ulangan (misalnya setiap tahun) karena bisa ki boyak para peserta pelihara.

Di samping rangka-bentuk
motivasi
yang telah dijelaskan di atas, sudah dagangan tentu masih banyak bentuk dan mandu nan bisa dimanfaatkan. Sahaja yang terdahulu bagi temperatur adanya bermacam-neko-neko
lecut
itu boleh dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil
belajar
yang bermakna. (Sardiman, A.M, 2001).

Penunjuk-penanda
Senawat
Belajar

Berikut ini beberapa Indeks-indeks
Pecut
Belajar, antara tidak

1) Loyalitas; disiplin ialah melatih dan menggembleng (tercatat pelajaran mental dan moral) cucu adam-khalayak terhadap qanun hendaknya ada loyalitas dan kemudian supaya dapat berjalan dengan tertib dan teratur kerumahtanggaan organisasi.” Disiplin merupakan suatu pelatihan dan pendidikan kepada
siswa
mudah-mudahan dengan senang hati melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan perintah guru di sekolah.

2) Kepuasan; kepuasan
belajar
adalah cara seorang
siswa
merasakan apa yang dipelajari boleh berjasa bakal dirinya. Kepuasan yakni generalisasi sikap-sikap terhadap tugasnya yang didasarkan atas aspek-aspek tugasnya. Seorang
pelajar
yang memperoleh kepuasan bermula
belajarnya akan mempertahankan prestasi
sparingnya.

3) Keamanan; rasa kerukunan sangat berwibawa terhadap semangat
sparing
siswa
karenarasa aman akan menimbulkan ketegaran kepada
siswa
di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelajar. Adapun yang dimaksud dengan rasa aman yakni: (a) kesatuan hati lakukan menghadapi perian depan begitu juga mempunyai nilai yang tinggi, dan (b) rasa aman di arena
belajar, barang milik, dan barang fasilitas
belajar
dari sekolah. Rasa kesepakatan ditempat
membiasakan
adalah suasana ingatan mati plong detik
pesuluh
melaksanakan tugas-tugasnya di ruangan
belajar. Suasana tersebut boleh dilihat semenjak perilaku
peserta
kapan mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka tidak merasa terancam dan tertekan baik bersumber atas, sesama rekansiswa, dan pihak luar. Dagangan-dagangan properti
siswa
dan inventaris kemudahan
belajar
yang ditinggalkan di ruangan
belajar
maupun di mileu tempat
belajar
pun tenang dan tenteram.

Faktor-faktor nan Mempengaruhi
Motivasi
Membiasakan

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi
berlatih terhadap
siswa
ada berjenis-jenis macam. Menurut Sardiman (2007:92), bahwa yang mempengaruhi
senawat
belajar
pada
murid
yakni: tingkat
senawatmembiasakan, tingkat kebutuhan
belajar, minat dan kebiasaan pribadi. Keempat faktor tersebut saling mendukung dan keluih puas diri
siswa
sehingga tercipta roh
sparing
untuk melakukan aktivitas sehingga tercapai tujuanpemenuhan kebutuhannya.

Menurut Dimyati & Mudjiono (2004:89), molekul-molekul yang mempengaruhicemeti
belajar adalah:

a. Cita-cita atau aspirasi
siswa


Pecut


belajar kelihatan pada kehausan anak sejak kecil. Kemajuan mencecah kemauan tersebut mengintensifkan kehausan bergiat, malar-malar dikemudian hari cita-cita n domestik umur. Dari segi emansipasi otonomi, kemauan yang terlampiaskan dapat memperbesar keinginan dan jiwa
belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah atau juga hukuman akan dapat memungkiri keinginan menjadi kemauan, dan kemudian kemauan menjadi cita-cita.

b. Kemampuan
siswa

Kemauan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan maupun kecakapan mencapainya. Kemampuan akan memperkuat
pecut
anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

c. Kondisi
siswa

Kondisi
murid
yang meliputi kondisi awak dan rohani sangat mempengaruhi
motivasi
belajar.

d. Kondisi lingkungan
siswa

Mileu
pesuluh
maujud keadaan tunggul, lingkungan arena tinggal, aliansi sebaya, nyawa kemasyarakatan. Dengan kondisi mileu tersebut yang lega hati, tentram, tertib dan indah maka usia dan
motivasi
sparing
mudah diperkuat.

e. Unsur-unsur dinamis dalam
belajar
dan pembelajaran


Siswa


memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, pikiran yang mengalami perubahan berkat asam garam jiwa. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada
motivasi
dan perilaku
membiasakan.

 f. Upaya guru dalam membelajarkan
siswa

Guru adalah seorang pendidik profesional. Ia beramah-tamah setiap musim dengan puluhan ataupun ratusan
peserta. Sebagai pendidik, hawa dapat memilil danmemilah yang baik. Partisipasi dan teladan memilih perilaku yang baik tersebut mutakadim merupakan upaya membelajarkan dan memotivasi
peserta.

Sedangkan Menurut dimyati dan mudjiono, faktor-faktor nan mempengaruhi
cemeti
sparing
siswa adalah adalah andai berikut:

1) Cita-cita maupun Aspirasi
Siswa


Motivasi


belajar
tampak pada keinginan momongan sejak kecil. Kejayaan mencapai keinginan dapat menumbuhkan kemauan
belajar
yang akan menimbulkan cita-cita n domestik kehidupan. Cita cita dapat memperkuat
motivasi
intrinsik dan ekstrinsik.

2) Kerinduan
Siswa

Keinginana koteng anak perlu dibarengi dengan kemampuan bagi mencapainya, karena kemauan akan memperkuat
motivasi
anak asuh bikin melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

3) Kondisi
Siswa

Kondisi
siswa
yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi
motivasi
belajar.

4) Kondisi lingkungan
Siswa


Petatar


dapat tergerak oleh mileu sekitar, maka itu karena itu kondisi lingkungan sekolah yang sehat, kerukunan, dan ketertiban relasi mesti di pertinggi mutunya sebaiknya arwah dan
cemeti
belajar
pesuluh
mudah diperkuat.

5) Unsur-Unsur Dinamis kerumahtanggaan
Sparing
dan Pembelajaran


Pelajar


memiliki pikiran, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran nan mengalami perubahan berkat pengalaman semangat. (Dimyati dan Mujiono, 2002)

Cara Mengeti
Tembung
Belajar
Siswa
dan Indeks
Senawat
Belajar
Siswa

Salah satunya yang pas bagus mendeskripsikan minat danmotivasi
belajar
peserta adalah Keller, 1987.John Keller berdasarkan model yang diajukannya sudah membuat sebuah perabot pengukur minat dan
motivasi
berlatih.Ia mendeskripsikan minat
belajar
dancambuk
belajar
siswa melalui 4 komponen utama, sesuai dengan nama model yang disuguhkan ARCS (Attention, Relenvace, Confidence, Satisfaction), maupun dalam bahasa Indonesia : Atensi (perhatian), Relevansi (kesesuaian), Kepercayaan diri, dan Kepuasan.


Motivasi Belajar dan Motivasi Belajar Siswa sebagai Kunci Keberhasilan


Selain dengan transendental ARCS, Anda dapat membuat sendiri Survei bagi megukurcambuk
belajar
pelajar. Adapun indikator-indikator yang boleh digunakan bakal penyusunan Angket tersebut, begitu juga yang dikemukakan oleh Makmun (internal Engkoswara 2010:210), yaitu:

1. Durasi kegiatan (berapa lama penggunaan waktunya cak bagi melakukan kegiatan).

2. Frekuensi kegiatan (berapa caruk kegiatan dalam hari periode tertentu).

3. Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) sreg harapan kegiatan.

4. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, lebih lagi jiwa dan nyawanya).

5. Ketabahan, keuletan, dan kemampuannya dalam menghadapi obstruksi dan kesulitan buat menjejak tujuan.

6. Tingkat aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran, atau target, dan ideologinya) yang hendak dicapai dengan kegiatan nan dilakukan.

7. Tingkat kualifikasinya performa atau produk ataupun output yang dicapai bersumber kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan maupun tidak).

8. Arah sikapnya terhadap bahan kegiatan (like or dislike, aktual atau negatif).

Atau Anda bisa menciptakan menjadikan indicator sendiri sama dengan sontoh parametercambuk
membiasakan
siswa berikut ini nan bisa digunakan dalam penelitian tindakan yakni ibarat berikut:

1. Intensitas
siswa
dalam mengajuk tutorial

2. Kemauan
pelajar
meluangkan alat-alat atau sumber/bulan-bulanan pelajaran yang dibutuhkan

3. Keterlibatan
petatar
dalam diskusi kelompok

4. Keterlibatan
siswa
dalam diskusi kelas

5. Keaktifan
siswa
n domestik mendengar penjelasan guru

6. Keaktifan
petatar
dalam mengerjakan tugas individu dan kelompok

7. Kepatuhan
siswa
dalam mengikuti tutorial

8. Timbulnya rasa kuriositas dan keberanian
siswa

9. Adanya keinginan untuk mendapatkan hasil yang terbaik terutama kerumahtanggaan diskusi kerubungan

10. Timbulnya umur alias kegairahan pada diri
siswa
dalam mengikuti pelajaran



Teori
Cemeti
Belajar

Pada penggalan ini penulis akan meributkan akan halnya sejumlah teori
motivasi
antara tak adalah :

1. Teori Hedonisme

Hedone merupakan bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, kenikmatan. Seperti dikatakan makanya M Ngalim Purwanto bahwa : “Hedonisme adalah aliran di internal metafisika nan memandang bahwa tujuan hidup nan utama pada manusia ialah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat materialisme”.6 Menurut pandangan teori ini manusia pada hakekatnya yaitu mahluk yang menitikberatkan kehidupan nan penuh kesukaan dan kenikmatan. Orang yang menganut teori ini setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, insan tersebut memfokus memintal alternatif separasi nan boleh mendatangkan kesukaan dari pada yang mengakibatkan kesukaran, kesulitan, kesengsaraan, siksaan dan segala sesuatu yang mengakibatkan tidak nikmat.

Pengaruh berasal teori ini yaitu adanya anggapan bahwa semua individu akan condong menghindar dari hal-situasi yang sulit dan nan menyiksa diri seorang dan yang mengandung peristiwa-keadaan yang beresiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu nan mendatangkan kenangan baginya. Sebagai transendental,
siswa
di suatu kelas bawah akan bertepuk tangan bila mereka mendengar guru nan akan mengajar ilmu hitung tak akan timbrung dikarenakan remai, seorang fungsionaris segan berkreasi dengan baik dan malas bekerja, akan tetapi menuntut gaji dan upah yang panjang. Dan



masih banyak kembali contobh yang tidak yang menunjukkan bahwa
motivasi
iti sngat diperlukan menurut teori Hedonisme, para
murid
dan fungsionaris tersebut plong contoh di atas harus diberi
motivasi
secara tepat agar bukan malas dan cak hendak berkarya dengan baik, dengan menenuhi kesenangannya.

2. Teori Naluri

Basyar laksana individu sukma dalam suatu bumi nan tak dirinya seorang, tetapi mutlak di perlukan cak bagi hidupnya, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, melangsungkan dan mengembangkan, manusia membutuhkan kandungan, udara, ilmu, pengetahuan, lagi persahabatan, persemakmuran dan lain sebagainya nan gandeng dengan hidup dan semangat.

Anak kunci-sentral yang memurukkan anak adam dari internal cak bagi melaksanakan ragam itu disebut intuisi atau dorongan nafsu.


Menurut M. Ngalim Purwanto menyatakan bahwa : “Naluri (galakan nafsu) adalah fungsi pendorong berbudaya nan memaksakan dan mengejar kepuasan dengan jalan mencari, mencapai sesuatu yang berupa benda-benda ataupun nilai-biji tertentu”.

Sifat bawaan merupakan kekuatan di dalam diri orang nan mendorong kita lakukan maju dan memiliki benda-benda dan nilai-nilai itu. Naluri adalah bentuk penitisan spirit tertentu, hamba allah sebagai mahluk yang siuman akan diri sendiri, akan sekadar mencatat bahwa ia didorong, ia merasa bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya berbuat dan bertindak. Dalam garis besarnya naluri (dorongan nafsu) boleh dibagi menjadi tiga golongan :

a. Naluri (dorongan nafsu) mempertahankan diri : Mencari makan kalau ia lapar, menghindarkan diri dari bahaya, menjaga diri agar tetap cegak, mencari perawatan diri untuk hidup lega hati.

b. Naluri (dorongan nafsu) berekspansi diri : Dorongan cak hendak tahu, melatih dan mempelajari sesuatu nan belum diketahuinya. Plong manusia dorongan inilah yang menjadikan kebudayaan manusia kian maju dan kian janjang.

c. Insting (dorongan nafsu) mempertahankan dan mengembangkan jenis : manusia secara sadar ataupun tidak bangun, selalu menjaga agar jenisnya dan keturunannya tetap berkembang dan arwah. Naluri ini terjelma dalam penjodohan dan perkawinan. Serta dorongan untuk memelihara dan mendidik momongan-momongan.

Dengan dimilikinya ketiga naluri pokok itu maka kebiasan-kebiasaan atau tindakan dan tingkah laris manusia nan diperbuatnya sehari-hari mujur dorongan atau digerakkan oleh ketiga firasat tersebut. Oleh karena itu, menurut teori ini untuk metembung
seseorang harus bersendikan dorongan hati mana yang akan dituju dan terbiasa dikembangkan. Abstrak, koteng pelajar terdorong buat berkelahi karena pelalah diejek dan dihina maka dari itu musuh-temannya karena ia dianggap bodoh di intern kelasnya. (naluri mempertahankan diri). Sebaiknya pelajar tersebut tidak berkembang ke jihat yang merusak, kita perlu menjatah
senawat, misalnya menyediakan keadaan yang dapat menunda anak itu menjadi rajin
berlatih
sehingga bisa menyamai teman-teman sekelasnya.

Sering kita melihat seseorang bertingkah kerumahtanggaan melakukan sesuatu karena didorong maka dari itu lebih dari satu naluri pokok sekaligus, sehingga sulit bagi kita untuk menetukan dorongan hati pokok mana yang makin dominan memerosokkan sosok tersebut mengerjakan tindakannya yang demikian itu.

Laksana eksemplar seorang petatar sangat tekun dan rajin
sparing
lamun ia hidup diidalam kefakiran bersama keluarganya. Kejadian apakah yang mendorong pelajar tersebut dulu rajin dan betul-betul
membiasakan? Mungkin karena ia khusyuk ingin menjadi pandai (naluri melebarkan diri) belaka boleh jadi juga karena ia ingin meningkatkan karir pekerjaannya sehingga sreg saatnya ia dapat hidup doyan bersama keluarganya dan dapat mencukongi momongan-anaknya (firasat mengembangjan dan mempertahankan diversifikasi, dan naluri mempertahankan diri).

3. Teori Reaksi

Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan nalurinaluri, semata-mata berdasarkan teoretis-pola tingkah larap yang dipelajari berpunca kebudayaan di medan orang itu hidup. Insan
belajar
bila banyak berasal lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh sebab itu teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini, apabila koteng pendidik (temperatur) akan mepecut
anak asuh didiknya, pendidik (temperatur) itu mudahmudahan mengetahui serius latar belakang semangat dan kebudayaan anak-anak asuh didiknya.

Dengan mengarifi latar bokong kultur seseorang kita dapat mengetahui teladan tingkah lakunya dan dapat memahami sekali lagi mengapa kamu bereaksi alias bergaya yang mungkin berlainan dengan orang tak privat menghadapi sesuatu ki kesulitan. Kita mencerna bahwa nasion Indonesia terdiri dari berbagai mavam suku yang punya bidang pantat peradaban yang berbeda-tikai. Oleh karena itu, banyak prospek sendiri guru di suatu sekolah akan menghadapi beberapa macam anak didik yang bersumber dari mileu kebudayaan yang berbeda-tikai perlu adanya pelayanan dan pendekatan yang berbeda-cedera lagi, termuat pelayanan dalam pemberian
ki dorongan
terhadap mereka.

4. Teori Kancing Pendorong

Teori ini yakni perpaduan antara Teori Dorongan hati dan Teori Reaksi. Daya pendorong adalah semacam Naluri, sahaja namun suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap satu arah nan umum, misalnya suatu sendi pendorong pada jenis kelamin yang lain. Semua orang dalam semua peradaban mempunyai rahasia pendorong sreg jenis kelamin yang lain. Saja cara-prinsip yang digunakan kerumahtanggaan mengajar kepuasan terhadap resep pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap-tiap cucu adam menurut latar bokong peradaban tiap-tiap. Makanya karena itu menurut teori ini bila seorang pendidik (suhu) cak hendak memotivasi
anak asuh didiknya ia harus mendasarkannya atas muslihat pendorong, yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan mileu yang dimilikinya. Memotivasi
anak didik nan sejak katai sangat di negeri pedalaman dan terpencil peluang samudra berbeda dengan cara memasrahkan
cambuk
kepada anak yang dibesarkan dan sukma di ii kabupaten-kota besar yang telah berbudaya diberbagai rataan kendatipun masalah nan dihadapi makanya
siswa
itu sejajar.

Teori
motivasi
yang sekarang banyak dianut individu adalah teori kebutuhan. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan makanya cucu adam lega hakekatnya adalah untuk menetapi kebutuhannya. Baik kebutuhan phisik maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu menurut teori ini apabila seorang pendidik (guru) bermaksud memotivasi
peserta
sira harus berusaha mengetahui lebih dahulu apa kebutuhan orang yang akan diki dorongannya.

Sekarang ini telah banyak teoritisi psikologi yang mutakadim memunculkan teori-teorinya tentang kebutuhan pangkal anak adam. Salah satu teori kebutuhan yang dulu erat hubungannya dengan
motivasi
merupakan teori hirarki kebutuhan yang dikemukakan maka dari itu A. Maslow. Maslow memajukan sebagaimana yang dikutip oleh Ibrahim Bafadal adalah : “Kebutuhan pangkal manusia itu terbentang, dalam suatu garis kontinum dan berbentuk hirarki, dimulai dari kebutuhan terbawah sampai dengan kebutuhan tertinggi. Semua diklasifikasi menjadi panca keberagaman kebutuhan dasar basyar yaitu (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan rasa tenang dan tenteram, (3) kebutuhan sosial, (4) kebutuhan gengsi dan (5) kebutuhan aktualisasi diri”.

Maslow, dengan teori Hirarki Kebutuhan menyatakan bahwa: “Kebutuhan fisiologis kemudian dilanjutkan dengan kebutuhan yang lebih panjang yaitu kebutuhan rasa kerukunan, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri bisa juga disebut kebutuhan pertumbuhan, adalah kebutuhan terala”.

Berdasarkan apa nan dikemukakan di atas dapat kita jelaskan kebutuhan apa yang timbrung internal tiap-tiap tingkatan kebutuhan itu :

4.

Harga

(pengharagaan)



a. Kebutuhan fisiologis : kebutuhan ini merupakan kebutuhan radiks, yang berperilaku primer dan vital yang menyangkut fungsi-keistimewaan biologis asal dari organisme hamba allah seperti kebutuhan akan rimba, sandang dan tiang, kebugaran fisik, kebutuhan sexs dan sebagainya.

b. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, begitu juga terjamin keamannnya, terlindung dari bahaya dan ancaman komplikasi, perang, kemelaratan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagainya.

c. Kebutuhan sosial yang menghampari antara bukan kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan umpama pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia perseroan, dan kerja sama.

d. Kebutuhan akan pujian, termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kursi atau status, janjang dan sebagainya.

e. Kebutuhan akan aktualisasi diri, antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi nan dimiliki, ekspansi diri secara maksimum, kreativitas, dan ekspresi diri.

Tingkat atau hirarki kebutuhan dari Maslow ini tidak dimaksudkan sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat, sekadar lebih adalah kerangka eksemplar yang dapat digunakan sesekali bilamana diperlukan bikin memprakirakan tingkat kebutuhan mana yang dapat dipakai kerjakan menunda seseorang yang akan dicemeti
bertindak melakukan sesuatu.

Di intern nyawa sehari-hari kita bisa mengamati bahwa kebutuhan orang itu berbeda-cedera, faktor-faktor yang mempengaruhi adanya tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, camar duka masa lampau, pandangan atau filsafat semangat, cita-cita dan harapan masa depan mulai sejak tiap-tiap basyar.

Berdasarkan urutan tingkat kebutuhan menurut teori Maslow, umur tiap basyar bisa dijelaskan sebagai berikut : Puas mulanya kebutuhan individu yang minimal menggeser merupakan kebutuhan fisiologis begitu juga pangan, sandang, papan dan kesehatan. Jika kebutuhan-kebutuhan fisiologis ini telah terpenuhi, maka kebutuhan-kebutuhan yang menggusur adalah kebutuhan nan meminggirkan, amak keluih kebutuhan lain yang mendesak merupakan kebutuhan akan penghormatan. Demikian lebih lanjut sebatas kepada tingkat kebutuhan aktualisasi diri, cak hendak menjadi orang terkenal dan ternama. Namun janganlah diartikan bahwa nyawa manusia itu akan mengikuti sa-puan kelima tingkat kebutuhan fisiologis sampai dengan tingkat kebutuhan aktualisasi diri, proses usia manusia itu farik-beda dan tak buruk perut menuruti garis harfiah nan meningkat, adakalanya melompat berusul tingkat kebutuhan tertentu ke tingkat kebutuhan lain dengan melampaui tingkat kebutuhan tertentu yang lain dengan melampaui tingkat kebutuhan yang berbeda diatasnya. Alias pula kemungkinan terjadi lompatan pencong dari tingkat kebutuhan yang lebih tinggi ke tingkat kebutuhan di bawahnya. Dengan demikian pada saat-saat tertentu tingkat kebutuhan seseorang berbeda dengan orang-khalayak lain.


Lecut


merupakan proses yang enggak dapat diamati, tetapi ditafsirkan melampaui tindakan makhluk yang bertingkah laku, sehingga
motivasi
merupakan konstruksi jiwa. Kedudukan
cambuk
seimbang dengan isi jiwa bak cipta (kognisi), karsa (konasi), dan rasa (emosi) yang merupakan tridaya. Apabila cipta, karsa dan rasa nan melekat puas diri seseorang dikombinasikan dengan
motivasi
bisa menjadi catur daya atau empat dorongan yang bisa mengarahkan individu kerjakan mencecah tujuan dan menetapi kebutuhan.

Menurut McDonald (Wasty, 2000:191)
motivasi
adalah merupakan perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang nan ditandai maka dari itu dorongan afektif dan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Di dalam perumusan pendapat Mc Donald tersebut di ini bila dicermati ada tiga unsur yang ganti berkaitan, yaitu:

1.
Tembung
dimulai dari adanya perubahan energi di n domestik pribadi. Perubahan-perubahan privat
motivasi
timbul terbit perbuatan tertentu

2.
Motivasi
ditandai dengan timbulnya manah affective arousal. Mula-mula merupakan ketegangan serebral lalu adalah suasana emosi. Suasana ini menimbulkan kelakuan yang bermotif Perubahanini bisa dan kelihatannya juga tak, kita hanya dapat melihatnya dalam ragam.

3.
Motivasi
ditandai dengan reaksi-reaksi untuk hingga ke tujuan. Pribadi yang bermotivasi
mengadakan respons-respons yang tertuju ke arah satu tujuan. Respons-respons itu berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi kerumahtanggaan dirinya. Setiap respons yakni satu langkah ke sebelah hingga ke tujuan.

Sejalan dengan pendapat McDonald di atas Makmun (2001:37) mengatakan bahwa pada esensinya
motivasi
itu merupakan:

1. Suatu guna (power) atau tenaga (forces) atau daya energi.

2. Suatu peristiwa yang kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan (preparatory set) privat diri individu (organisasi) bagi mengalir ( to move, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari ataupun enggak disadari.



Psikolog Gestalt mengatakan bahwa
lecut
yakni dagangan dari ketidaksesuaian berbunga sebuah pase atma. Dalam pase jiwa itu meliputi harapan-tujuan nan maujud maupun negatif nan ingin diraih atau dihindarkan. Artinya bahwa
motivasi
itu keluih akibat adanya galakan-galakan lain yang cak semau internal organisme. Bigge (2002:73) mengatakan bahwa organism drives such as hunger, thirst and sexual need; and for emotionals such as fear, anger and “love”–produce behaviors that predictable and irresistible.



Lebih lanjut tukang perilaku (behavioriest) berpendapat bahwa
motivasi
adalah dorongan cak bagi mengerjakan sesuatu laksana akibat adanya rangsangan yang mendahuluinya. Seluruh
senawat
timbul secara bersama-sama berusul dorongan-dorongan organisme, emosi-emosi dasar atau dari kecenderungan bagi merespons terhadap dorongan-galakan dan emosi-emosi tersebut. Dorongan organisme sebagaimana lapar, haus dan kebutuhan genital (sexual need) dan dorongan emosi seperti rasa takut, marah keduanya membentuk tingkah kayun (behavior) nan dapat diprediksi.



Berdasarkan pendapat di atas boleh dipahami bahwa tingkah laku yang tertumbuk pandangan pada diri seseorang itu dipengaruhi oleh stimulus-stimulus mulai sejak dalam dan dari luar diri khalayak. Sama dengan rasa lapar, haus, kebutuhan genital, takut, marah, cinta dan lain-tidak. Stimulus-stimulus inilah yakni motif atau dorongan nan mempengaruhi seseorang buat berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.



Provisional itu Murray (dalam Arikunto 2003:67) mengatakan: bahwa
motivasi
yakni konstruk (konsep hipotetik) nan terdiri atas kekuatan-maslahat nan mempengaruhi persepsi dan perilaku seseorang kerumahtanggaan upayanya buat mengubah hal yang tidak memuaskan dirinya.



Bersumber teori Murray di atas menunjukkan bahwa rangsangan dari luar menjabat peranan terdahulu bagi tumbuhnya
motivasi, merkipun
cemeti
yang kulur berusul privat merupakan hal yang lebih terdepan dibandingkan dengan
motivasi
yang ditimbulkan dari luar, namun kukuh peranan master di dalam menimbulkan
tembung
peserta
tetap diperlukan untuk dapat merubah persepsi dan perilakunya di intern proses
belajar.



Menurut Purwanto  (2002: 72), ada dua prinsip yang dapat digunakan untuk meninjau
senawat
ialah:

(1)
Ki dorongan
dipandang perumpamaan suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini akan mendukung kita menguraikan polah yang kita amati dan untuk menjelaskan kelakuan-ragam lain pada seseorang;

(2) Kita menentukan khuluk bermula proses ini dengan mengaram ajaran-petunjuk dari tingkah lakunya. Apakah petunjuk-ajaran itu bisa dipercaya, dapat dilihat dari kegunaannya dalam memperkirakan dan menjelaskan tingkah laku lainnya.




Motivasi


mengandung tiga onderdil pokok, yaitu menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah kayun manusia. Menggerakkan bermanfaat menimbulkan kekuatan lega orang; memimpin seseorang cak bagi dolan dengan kaidah-pendirian tertentu. Misalnya kekuatan dalam ingatan, respons-respons efektif, dan kecenderungan mendapat kegembiraan.
Motivasi
pula menujukan atau mengairi tingkah laku. Dengan demikian ia menyenggangkan suatu adaptasi tujuan. Tingkah kayun individu diarahkan terhadap sesuatu. Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan (reinforcement) ketekunan dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan bani adam.



Onderdil tidak dalam
motivasi, yaitu suku cadang kerumahtanggaan (inner component), dan komponen luar (outer component). Komponen n domestik ialah pergantian dalam diri seseorang, keadaan merasa lain pada, dan ketegangan serebral. Komponen luar ialah segala apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang menjadi sebelah kelakuannya. Jadi suku cadang privat yaitu kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipuaskan, sedangkan komponen luar ialah tujuan yang hendak dicapai.

Kiat meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dan Motivasi Berprestasi
Lecut Belajar Murid
akan Menentukan Prestasi Belajar Peserta

Teori stimulus respons (S-R) atau teori rangsang reaksi dalam llmu jiwa menjelaskan bahwa perilaku seseorang ditimbulkan oleh kejadian-hal yang hinggap berpokok n domestik atau lagi dari luar dirinya, sedangkan arah mulai sejak perilaku tersebut ditentukan oleh koalisi mekanisme dari S-R yang bersangkutan.


Motivasi


siswa
secara alami harus terjadi karena hasratnya kerjakan berpartisipasi internal proses
belajar. Akan tetapi ini juga berdasarkan alasan-alasan maupun cita-cita yang mendasarinya untuk berpartisipasi dalam proses akademik. Karena, biarpun siapa
siswa
dapat dimotivasi
secara sama bagi berbuat suatu perbuatan, akan tetapi sumber-sumber
motivasinya mana tahu akan farik.

McDonald mengatakan bahwa juru psikologi telah mempelajari bagaimana seseorang
belajar
dengan tendensi-kecenderungan
motivasi
yang relatif stabil. Salah satu konsep sumber akar kerjakan menerangkan kecondongan itu adalah adanya kebutuhan. Kebutuhan adalah kecenderungan publik yang termotivasi
dengan cara-kaidah khusus.

Sedangkan teori-teori Gestalt menjurus untuk menghindari pemanfaatan konsep-konsep tingkah laku (behavioristic concepts), seperti dorongan (drive), pengaturan (effect), dan pengukuhan (reinforcement) puas satu sisi dan konsep-konsep mentalistik seperti vitalisme, dan kesadaran pada arah lainnya. Untuk mereka suka-suka beberapa konsep nan berkaitan dengan
motivasi, yakni cita-cita (goal), harapan (expectancy), niat (intention) dan intensi/mangsa (purpose). Dalam kerangka referensi Gestalt tingkah laku adalah fungsi sebuah hal total. Orang berinteraksi privat lapangan (wilayah) dorongan-dorongan psikologis. Lapangan kognitif menghampari tujuan dan cita-cita, interpretasi obyek dan kejadian fisik yang relevan, ki kenangan dan anggaran. Dengan demikian
motivasi
bukan dapat diuraikan hanya dengan sebuah gerakan hati (an impulse) terhadap perbuatan yang digerakkan oleh stimulus. Kian terbit itu ia timbul terbit situasi psikologis yang dinamis yang ditandai dengan hasrat seseorang untuk melakukan sesuatu.

Berdasarkan paparan di atas dapat dipahami bahwa senyatanya
motivasi
merupakan suatu hal yang bukan dapat dilepaskan semenjak diri orang, karena lega hakekatnya atma adalah kebutuhan dan harapan.
Motivasi
yang ada manusia dapat berusul dari diri manusia itu sendiri (intrinsik) atau juga dari luar (ekstrinsik). Puas umumnya
motivasi
intrinsik makin kuat dan kian baik daripada
motivasi
ekstrinsik. Oleh karena itu
motivasi
intrinsik sebaiknya ditimbulkan dan diaktifkan privat diri setiap individu.

Lepper (1988) mengatakan bahwa
motivasi
instrinsik menunda
siswa
lakukan beraktivitas karena adanya kesenangan, tujuan, dan timbulnya perasaan sempurna, sedangkan
motivasi
ekstrinsik mendorong
peserta
beraktivitas bagi mendapatkan hadiah dan meninggalkan azab.

Berdasarkan pendapat Lepper di atas dapat dipahami
motivasi
belajar
itu timbul secara internal dan juga eksternal. Seseorang melakukan satu aktivitas karena aktivitas itu bermakna, adanya kesenangan, harapan, perhatian berprestasi, ataupun apa pun juga yang menjadi pendorong (motif) seseorang bakal melakukan suatu aktivitas.
Ki dorongan
ekstrinsik merupakan
motivasi
yang mendorong seseorang untuk beraktivitas nan timbulnya dari luar seperti adanya hukuman, hadiah dan di luar aktivitas itu seorang adalah adanya tingkatan, ikatan-interelasi atau restu master.

Memahami bagaimana pengalaman-pengalaman sekolah yang berlainan dapat mempengaruhi
pecut
belajar
yakni penting untuk melepaskan berbagai kualitas situasi
belajar
yang dirasakan; menarik, senang, penting secara pribadi maupun relevan versus situasi
belajar
yang dirasakan menjemukan, menumpat, tidak penting, atau tidak relevan dari perspektif individu. Pada kasus pertama,
ki dorongan
belajar
secara alami terbetot oleh tugas-tugas
belajar
yang dirasa mengasyikkan maupun secara pribadi berfaedah. Pada kasus nan kedua,
cambuk
belajar
harus dirangsang dari asing untuk menanggulangi kurangnya
motivasi
intrinsik yang disebabkan oleh kecabuhan
belajar
siswa
bahwa tugas-tugas
sparing
membosankan atau secara pribadi lain berharga.

Dalam banyak kejadian
belajar
yang ditentukan secara eksternal, pilihan-pilihan dibatasi bakal mengontrol dan memanaj pikiran dan perasaan n domestik. Pemilihan perilaku itu invalid. Menurut McCombs. (2002 :1) perbedaan yang penting lainnya, apakah
senawat
adalah respons alami terhadap keingintahuan pembelajar
alias pemsparing
tersebut harus mengerahkan segenap tenaganya cak bagi mengeset perasaan-perasaan yang timbul berpangkal pemikiran negatif tentang kondisi-kondisi eksternal (seperti suhu, kurikulum, dan praktek-praktek pembelajaran)

Selainki dorongan intrinsik dan ekstrinsik di atas ada lagiki dorongan lain yaitu
lecut
faktual dan
cambuk
negatif.
Cambuk
nyata menimbulkan semangat dan kemujaraban privat diri setiap individu. Hal itu terjadi karena pada setiap diri manusia senang pada hal-situasi yang baik dan suka akan pujian. Sementara
ki dorongan
negatif akan memberikan dampak yang invalid baik kerjakan jangka tingkatan akan tetapi akan berhasil plong sukma kerja nan baik untuk jangka ringkas. Keadaan ini terjadi karena
cemeti
negatip sifatnya adalah sapa dan peringatan terhadap kekeliruan nan dilakukan dan lakukan menjadi perhatian kerjakan melakukan kegiatan yang akan menclok.

Dalam prakteknya kedua spesies
motivasi
itu sering digunakan dalam suatu kelompok aktivitas. Yang harus diperhatikan adalah pron bila
motivasi
positif atau negatif dapat merangsang secara efektif kegairahan beraktivitas dalam diri insan.
Senawat
positip buat jangka panjang sementara
motivasi
negatip lakukan jangka pendek.

Oleh karena itu McCombs (2002:2) mengatakan:


“Another key to motivation to learn is helping students see ways they can change negative thinking and make learning fun by relation to the personal interest, working with other in meeting learning goals and being able to make choices—have a voice—in their own learning process

”.


(Salah satu cara memotivasi
siswa
buat
belajar
adalah dengan menolong mereka untuk melihat cara-cara nan dapat merubah pemikiran merusak dan membentuk
belajar
menyenangkan dengan mengkaitkannya kepada kepentingan pribadi, bekerja sama privat mencapai tujuan dan boleh membuat pilihan, n kepunyaan pendapat dalam proses pembelajaran mereka).

Dorongan yang ada pada diri seseorang itu sering berwujud kebutuhan (needs), kemauan (willingness), rangsangan (drive) dan suara hati. Dorongan tersebut disadari atau tidak disadari oleh seseorang memusat lega suatu maksud. Dorongan itu pula pada dasarnya akan mempengaruhi tingkah laku seseorang dan menjadi alasan cak kenapa seseorang itu mengerjakan satu tindakan maupun kegiatan. Dorongan keefektifan yang terdapat intern diri seseorang yang menggagas tingkah laku orang itu bagi dan dalam mencapai tujuan. Dengan demikian dorongan akan menimbulkan kegiatan yang berujud dan akan mempengaruhi tingkah laku seseorang yang memiliki dorongan itu.



McClelland (n domestik Arikunto 2003:67) telah mengadakan penelitian mengenai
motivasi
yang dikenal dengan studi pengukuran “Lengkung langit’ Ach”, merupakan sebuah istilah popular di dalam bidang pendidikan, adalah akronim dari “need for achievement”, suatu gambar kebutuhan (need) yang dimiliki oleh seseorang bagi suatu pencapaian (achievement). Biasanya khalayak yang punya keinginan bagi memperoleh sesuatu di intern dirinya akan terwalak suatu dorongan yang kuat untuk mencapai keinginannya itu. Dorongan kuat itulah nan dinamakan
motivasi.



Dilihat berpokok segi motifnya setiap gerak perilaku manusia itu pelalah mengandung tiga aspek, yang kedudukannya bertahap dan berurut (sequential), yaitu:

(1) Motivating states (timbulnya kekuatan dan terjadinya kesiapsediaan laksana akibat terasanya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal intern diri organisme maupun karena terangsang oleh stimulan tertentu).

(2) Motivated behavior (bergeraknya organisme ke arah maksud tertentu sesuai dengan adat yang hendak dipenuhi dan dipuaskannya).

(3) Satisfied conditions (dengan berhasilnya dicapai tujuan yang boleh menepati kebutuhan yang terasa, maka keseimbangan kerumahtanggaan diri organisme pulih kembali).



Gibson dan kawan-kawan (kerumahtanggaan Gito dan Mulyana 2001:178) melukiskan proses
motivasi
pola awal berasal adanya kebutuhan individu nan belum terpenuhi/enggak terlaksana yang kemudian menyebabkan orang mencari jalan memenuhi berbagai jenis kebutuhannya. Pencarian perkembangan itu akan diwujudkan kepada perilaku yang diarahkan plong intensi hamba allah nan belum terpenuhi/tidak tercurahkan).

Kebutuhan adalah kecenderungan-gaya permanen kerumahtanggaan diri seseorang nan menimbulkan dorongan dan menimbulkan ulah bagi mencapai pamrih. Kebutuhan itu timbul karena adanya perubahan (internal change) n domestik organisme atau disebabkan oleh perangsang kejadian-hal di mileu organisme. Begitu terjadi pertukaran tadi, maka keluih energi nan mendasari polah ke sisi intensi. Jadi, timbulnya kebutuhan inilah yang menimbulkan
motivasi
sreg kelakuan seseorang.

Kebutuhan dapat mendorong, menguatkan, dan mengarahkah perilaku seseorang baik kerjakan melakukan kegiatan dalam menepati kebutuhan tersebut maupun cak bagi memcapai suatu maksud. Jenjang kebutuhan menurut Maslow menurut Sudjana (2000:167).dimulai pecah kebutuhan yang minimum rendah dan menuju kebutuhan nan paling tingkatan. Kebutuhan pada tingkat yang lebih kurang menjadi syarat cak bagi memenuhi setiap kebutuhan yang lebih tahapan. Maslow mengemukakan lima macam kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa kerukunan, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk diakui dan dihargai, dan kebutuhan ekspansi diri/ aktualisasi diri.

Bila dijelaskan berusul kelima kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan primer yang menyangkut keefektifan biologis dari organisme individu ibarat anak adam, seperti mana kebutuhan sandang, papan, pangan, kesehatan dan sebagainya.

2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan adalah kebutuhan individu untuk merasa terjamin dari apa bahaya dan hal-hal nan akan merusaknya.

3) Kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang menghampari keinginan buat diperhitungkan dan diakui dalam kelompok, seperti kebutuhan untuk dicintai, kerjasama dan lain-lain.

4) Kebutuhan diakui dan dihargai adalah kebutuhan karena kinerja, kemampuan, kursi maupun status cucu adam dalam kerumunan.

5) Kebutuhan akan aktualisasi diri yakni kebutuhan buat mempertinggi potensi-potensi nan dimiliki sosok untuk mengembangkan diri secara maksimal, berkreativitas dan merumuskan diri.

Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disintesiskan bahwacemetimembiasakan
siswa yakni keseluruhan daya biang kerok atau tenaga dorong nan mempengaruhi keonaran dan perilaku
petatar
dalam
belajar
dan menimbulkan adanya keinginan untuk melakukan kegiatan atau aktivitas kerumahtanggaan
sparing
seumpama sendiri
siswa
nan dilakukan secara bersistem, kontinyu dan progresif mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

Peran Suhu dalam Meningkatkan
Motivasi
Belajar
Murid

Intern upaya meningkatkanmotivasi
belajar
siswa, guru mempunyai peran bermanfaat dalam keberhasilan
belajar
siswa, beberapa peran itu antara tidak :

1. Mengenal setiap
siswa
yang diajarkan secara pribadi. Dengan mengenal setiap
petatar
secara pribadi, maka guru akan berlambak memperlakukan setiap
siswa
secara tepat. Dengan demikian upaya kerjakan meningkatkan
cemeti
belajar
siswa
dilakukan secara tepat pula sungguhpun suhu itu berhadapan dengan kelompok
siswa
dalam inferior. Apabila suhu mengenal
pelajarnya secara pribadi dia akan subur pula memperlakuk,an setiap
petatar
internal kerumunan secara berbeda sesuai dengan peristiwa dan kemampuan serta kesulitan dan kekuatan yang dimiliki setiap
siswa
itu.

2. Mampu memperlihatkan interaksi yang menyenangkan, interaksi nan menyenangkan ini akan menimbulkan suasana kerukunan intern kelas. Para
pelajar
netral berpangkal ketakutan akan melakukan polah yang tidak berkenan bagi gurunya. Interaksi yang menyejukkan ini dapat membentuk suasana sehat dalam kelas, suasana nan menyenangkan dan afiat itu menimbulkan suasana yang kontributif bikin terjadinya
membiasakan. Dengan demikian
motivasi
sparing
murid
menjadi lebih baik.

3. Menguasai berbagai metode dan teknik mengajar dan menggunakan secara tepat. Penguasaan berbagai metode dan teknik mengajar serta penerapannya secara tepat mewujudkan guru mampou mengingkari-tukar cara mengajarnya sesuai dengan suasana papan bawah. Sreg para
murid, tes utama di sekolah dasar kerap timbul Susana cepat bosan dengan keadaan yang lain berubah. Guru harus menyimak perlintasan suasana inferior misal akibat semenjak kebosanan
siswa
akan suasana yang tidak berubah itu. Guru dapat mengembalikan gairah
berlatih
siswa
antara lain dengan merubah metode dan teknik mengajar plong waktu Susana bosan itu mulai muncul.

4. Menjaga suasana kelas supaya para
siswa
terhindari konflik dan frustasi. Suasana konflik dan frustasi di kelas menimbulkan gairah
membiasakan
peserta
menurun. Perasaan mereka tidak pun terhadap kegiatan
sparing, melainkan pada upaya menghilangkan konflik dan fustasi itu. Energi mereka adv amat terkuras untuk memecahkan konflik dan frustasi, sehingga mereka tidak dapat
belajar
dengan baik. Apabila guru dapat menjaga suasana kelas dan memungkiri konflik dan kemusykilan itu, maka konsentrasi
siswa
secara penuh akan dapat dikembalikan kepada kegiatan
belajar. konsentrasi penuh terhadap
belajar
itu boleh meningkatkan
pecut
berlatih
anak dan pada gilirannya akan meningkatkan hasil
belajarnya.

5. Memperlakukan
siswa
sesuai dengan kejadian dan kemampuan. Seumpama kelanjutan dari pemahaman
siswa
secara pribadi, guru dapat memperlakukan setiap
siswa
secara tepat sesuai denga hal-peristiwa yang diketahuinya dari tiap
siswa
itu.

Dengan penerapan peranan seperti di atas, maka master akan mampu menempatkan diri dalam lingkungan
pesuluh
secara tepat. Pada gilirannya temperatur akan berlimpah pla mengunakan teknik,
cambuk
secara tepat, baik dalam suasana keramaian atau dalam suasana individual.

Akan halnya upaya enggak untuk meningkatkanpecut
belajar menurut Robert (1990:153) yaitu:

a. Optimalisasi penerapan cara
belajar

Eksistensi
pesuluh
di papan bawah merupakan awal berbunga
motivasi
sparing. Kerjakan meningkatkan
cambuk
belajar
petatar
adalah bimbingan tindak pembelajaran bakal suhu. N domestik upaya pembelajaran, guru harus berhadapan dengan
siswa
dan menguasai seluk beluk bahan yang diajarakan kepada
siswa. Upaya pemberlatihan terkait dengan beberapa prinsip pemmembiasakanan. Bilang prinsip pembelajaran tersebut antara lain sebagai berikut:

1)
Sparing
menjadi berarti seandainya
peserta
memafhumi pamrih
berlatih, oleh karena itu guru harus menjelaskan harapan
belajar
secara hierarkis.

2)
Belajar
menjadi berharga bila
siswa
dihadapkan puas pemecahana masalah yang menantangnya, oleh karena itu peletakan urutan masalah yang menantang harus disusun hawa dengan baik.

3)
Belajar
menjadi bermakna bila guru berlambak memusatkan segala kemampuan mental
siswa
dalam acara kegiatan tertentu oleh karena itu guru sebaiknya membuat pemsparingan dalam pengajaran unit alias proyek.

4) Kebutuhan bahan
belajar
siswa
semakin bertambah, oleh karena itu guru perlu mengatak sasaran dari yang minimum sederhana setakat paling menantang.

5)
Belajar
menjadi menantang bila
siswa
memahami kaidah penilaian dan kebaikan nilai
belajarnya bagi atma dikemudian masa, oleh karena itu guru perlu memberi tahukan kriteria keberhasilan atau kegagalan
berlatih.

b. Optimalisasi anasir dinamis
belajar
dan pemsparingan

Zarah-partikel yang ada di lingkungan maupun dalam diri
murid
ada yang mendorong dan ada yang menghambat kegiatan
belajar. Oleh karena itu master yang makin mengerti keterbatasan waktu bagi
siswa
boleh mengupayakan optimalisasi unsur-partikel dinamis tersebut dengan urut-urutan :

1) Rahmat kesempatan pada
siswa
untuk mengungkap hambatan
belajar
nan dialaminya.

2) Membudidayakan minat, keinginan, dan semangat
belajarnya sehingga terwujud tindak
belajar.

3) Meminta kesempatan plong sosok tua atau pengasuh, hendaknya member kesempatan kepada
pelajar
kerjakan beraktualisasi diri dalam
berlatih.

4) Memanfaatkan zarah-unsur mileu yang mendorong
membiasakan.

5) Menggunakan tahun secara tertib, penguat dan suasana gembira terpusat pada perilaku
membiasakan.

6) Hawa merangsang
murid
dengan penguat memberi rasa berkeyakinan diri.

c. Optimalisasi pemanfaatan pengalaman dan kemampuan
petatar

Guru wajib menggunakan asam garam
sparing
dan kemampuan
siswa
dalam mengelola
peserta
sparing. Upaya optimalisasi pemanfaatan pengalaman
siswa
tersebut boleh dilakukan sebagai berikut :

1)
Pesuluh
ditugasi membaca bahan
belajar
sebelumnya dan menyoal kepada guru segala yang mereka tak mengerti.

2) Guru mempelajari hal-hal yang musykil bagi
pesuluh.

3) Guru memecahkan hal-hal yang elusif.

4) Guru mengajarkan cara mengamankan kesukaran tersebut dan mendidik kesahihan mengatasi kesukaran.

5) Master mengajak
petatar
mengalami dan menguasai kesukaran.

6) Guru memberi kesempatan
siswa
untuk menjadi tutor sebaya.

7) Suhu menjatah penguatan kepada
siswa
nan berhasil menyelesaikan kesukaran
belajarnya seorang.

8) Guru menghargai pengalaman dan kemampuan
siswa
agar
belajar
secara mandiri.

 d. Pengembangan cita-cita dan aspirasi
belajar

Pengembangan cita-cita
belajar
dilakukan sejak
murid
timbrung sekolah dasar. Peluasan cita-cita tersebut ditempuh dengan jalan membuat kegiatan
belajar
sesuatu. Penguat substansial hidayah diberikan pada setiap
pesuluh
yang berhasil. Sebaliknya dorongan kewiraan buat punya cita-cita diberikan kepada
peserta
yang berasal berbunga semua lapisan umum.

Sumur Pustaka:

A. Tabrani R (1994) Pendekatan dalam Proses
Belajar
Mengajar, Bandung: Akil balig Rosda Karya

Abin Syamsudin Makmun (2001), Psikologi Kependidikan, Jakarta: Akil balig Rosda Karya

Depdikbud (1996), Kamus Raksasa Bahasa Indonesia, Jakarta: Balairung Pustaka

Nana Sudjana dan Daeng Arifin. (1988). Cara
Membiasakan
Siswa
Aktif dalam Proses
Sparing
Mengajar. Bandung: Panah Baru

Oemar Hamalik. (2002). Ilmu jiwa
Belajar
dan Mengajar, Bandung: Sinar Bau kencur Algensindo

Sondang P. Siagian. (2004). Teori
Senawat
dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta,

WS. Winkel. (1983) Psikologi Pendidikan dan Evaluasi
Membiasakan. Jakarta: Gramedia, 1983

W.S. Winkel. (1996). Psikologi Pencekokan pendoktrinan, Jakarta: Grasindo.

Source: https://ainamulyana.blogspot.com/2012/02/motivasi-belajar.html