Contoh Soal Hubungan Minat Brlajar Dan Prestasi Belajar Matematika

KAJIAN Teks

A.
Minat Belajar

1.
Signifikansi Minat Sparing

Seorang siswa dikatakan minat apabila anda menumbuhkembangkan keinginannya terhadap satu pandangan yang dianggap menghela dirinya, kemudian siswa menindaklanjuti dengan adanya perbuatan untuk melaksanakan niatnya itu dengan perbuatan-perbuatan. Lengkap intern proses belajar di kelas, apabila petatar mempunyai minat ataupun ketertarikan yang tingkatan terhadap pelajaran matematika, maka pesuluh itu akan memperhatikan dengan sungguh-bukan main detik master memberikan contoh soal. Saat melakukan soal-tanya les, siswa akan bekerja gigih dengan mengulang-ulang dan mengotak-atik pertanyaan itu sehingga menemukan jawaban yang tepat. Dari kegiatan mengerjakan soal itu maka siswa memaksimalkan minatnya dengan perwujudan kegiatan yang kasatmata yaitu dengan berusaha dengan maksimal buat menuntaskan suatu persoalan yang dihadapinya dengan tekun.

Minat memberikan pengaruh yang besar terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat seseorang akan tumbuh rasa suka atau tertarik bikin melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya minus minat seseorang jika disuruh pun akan sepiak hati saat melaksanakannya artinya tidak berkarya dengan kudrati dan optimal.

Minat sendiri diartikan bermacam-spesies menurut oleh sejumlah ahli nan menelaah tentang minat. Menurut Marimba (1980:79), minat adalah kecondongan atma kepada sesuatu, karena kita merasa terserah keefektifan dengan sesuatu itu, pada biasanya disertai dengan pikiran gemar akan sesuatu itu. Pasaribu dan Simanjuntak (1983:52) mengartikan minat bak suatu motif yang menyebabkan basyar berhubungan secara aktif dengan sesuatu yang menariknya. Mulai sejak kedua pandai tersebut jika dihubungkan dengan kegiatan siswa di atas, tumbuhnya ketertarikan karena peserta itu menyenangi akan suatu hal sehingga motif momongan akan berkembang dengan aktif dan kreatif, disebut kreatif karena anak berusaha dengan beraneka rupa macam cara untuk memecahkan persoalan nan dihadapinya sebagaimana hipotetis kegiatan pelajar di atas.

Menurut Alisuf (1996:84) minat adalah kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus, minat ini erat kaitannya dengan perhatian senang, karena itu dapat dikatakan minat itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu, orang yang berminat kepada sesuatu berarti sikapnya senang kepada sesuatu. Muhibbin Pangeran (2001:136) berpendapat bahwa minat adalah gaya dan kegairahan yang pangkat ataupun keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Shalahuddin (1990:95) minat adalah pikiran yang mengandung unsur-unsur perhatian. Menurut Crow (Rachman, 1993:112) bahwa minat atau
interest dapat berhubungan dengan daya gerak nan

memurukkan kita untuk cendrung alias merasa terikut pada orang, benda,

kegiatan, ataupun dapat positif camar duka yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

Winkel (1987:105) mengemukakan minat yakni gaya subyek bersemayam, untuk merasa terpaut plong bidang penyelidikan atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Menurut Walgito (1981:30) minat adalah suatu keadaan perhatian seseorang terhadap obyek yang disertai rasa ingin sempat, ingin mempelajari dan kemudian ingin membuktikan lebih lanjut mengenai kejadian nan diketahui. Pada momen pelajaran berlangsung, misalnya Bahasa Indonesia, mengenai mendengarkan kisah-kisah fiktif, peserta akan antusias dan hening saat guru mulai membualkan kisah-kisah yang belum anak dengar sebelumnya dan ceritanya menyeret. Hal ini disebabkan karena adanya keinginan nan besar dan rasa penasaran sehingga sikap tenang dan memperhatikan akan tercipta dengan sendirinya. Mulai sejak kisah-kisah yang menarik itulah keluih perhatian suka, gembira sewaktu-waktu disertai tawa-gelak kecil, karena terbawa kejadian mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi ataupun obyek tertentu yang menyabarkan dan membagi kepuasan kepadanya (Dewa, 1988).

Mulai sejak sejumlah denotasi menurut ahli yang telah diuraikan di atas boleh disimpulkan bahwa minat yakni suatu tendensi pada diri seseorang yang menetap buat merasa tertarik pada suatu rataan tertentu dan merasa senang mempelajari bidang tersebut.

2.
Aspek-aspek Minat

Minat terhadap ain pelajaran yang dimiliki seseorang bukan oleh-oleh sejak lahir, doang dipelajari melangkahi proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap. Hurlock (1995: 177) mengklarifikasi bahwa minat mempunyai dua aspek ialah:

a. Aspek kognitif.

Aspek kognitif didasarkan atas konsep yang dikembangkan mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Misalnya, aspek kognitif dari minat anak terhadap sekolah. Mereka menganggap sekolah sebagai gelanggang mereka dapat membiasakan tentang peristiwa-hal yang sudah lalu menimbulkan rasa kepingin sempat sehingga mereka bernasib baik kesempatan cak bagi beramah-tamah dengan teman sebaya nan tidak didapat pada masa prasekolah. Minat mereka terhadap sekolah sangat berbeda dibandingkan bila minat itu didasarkan atas konsep sekolah yang menekankan qanun sekolah dan kerja keras cak bagi mengingat pelajaran.

b. Aspek afektif

Aspek afektif nan membangun aspek kognitif minat dinyatakan privat sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Seperti halnya aspek kognitif, aspek afektif berkembang dari pengalaman pribadi, bermula sikap insan yang berarti yaitu ibu bapak, temperatur, dan dagi sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut, dan terbit

sikap yang dinyatakan maupun tersirat n domestik berbagai bagan media massa terhadap kegiatan itu.

3.
Fungsi Minat dalam Belajar

Menurut Abdul Wahid (1998:109), fungsi minat bagi nyawa anak ibarat berikut:

a. Minat mempengaruhi bentuk keseriusan cita-cita

Ibarat pola anak asuh yang berminat sreg latar biologi maka cita-citanya adalah menjadi dokter hewan , sementara itu anak yang berperhatian plong kelistrikan maka cita-citanya menjadi pandai mantra publikasi dan teknologi.

b. Minat umpama tenaga pendorong yang kuat

Minat ialah dasar pondasi anak privat mengesir satu hal, semakin tinggi minat lega hal-hal tertentu, maka akan tumbuh rasa demen atau kerap. Sebagai paradigma anak asuh yang memiliki kecintaan terhadap seni catat, saat pelajaran mengarang biasanya akan bersemangat dan antusias kerjakan membuat karya nan lebih baik dari temannya.

c. Kinerja sayang dipengaruhi maka dari itu jenis dan keseriusan

Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang setinggi dan diberi pelajaran nan sama, tetapi antara satu anak dan yang lain mendapatkan jumlah permakluman yang berbeda. Hal ini terjadi karena

berbedanya anak kunci serap mereka dan sendi serap ini dipengaruhi maka dari itu intensitas minat mereka

4.
Penanda Minat Berlatih

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1991:329), indikator yaitu perabot pemantau (sesuatu) nan dapat menyerahkan petunjuk/keterangan. Kaitannya dengan minat siswa, maka indikator adalah misal alat pemantau nan bisa memberikan petunjuk akan halnya minat. Ali Imran (1996:88) mengedepankan suka-suka sejumlah parameter siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi, peristiwa ini dapat dikenali melangkaui proses belajar di kelas ataupun di rumah antara bukan perumpamaan berikut:

a. Perasaan Senang

Seorang siswa yang memiliki manah senang alias suka terhadap pelajaran maka ia akan terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan pelajaran, sama sekali enggak terserah perasaan terdesak untuk mempelajari bidang tersebut.

b. Perhatian privat Belajar

Adanya perhatian juga menjadi pelecok suatu indikator minat. Perhatian merupakan sentralisasi atau aktivitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang bukan terbit lega itu. Seseorang yang memiliki minat pada incaran tertentu maka dengan sendirinya sira akan kecam objek tersebut. Misalnya,

seorang siswa menaruh minat terhadap cak bimbingan IPA, maka ia berusaha cak bagi mengaibkan penjelasan bermula gurunya.

c. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru nan Menarik

Tidak semua siswa menyukai pelajaran yang proporsional, karena karakteristik analisis petatar terhadap tutorial berbeda-selisih, namun apabila objek pelajaran disajikan n domestik bentuk yang menyentak dan memberikan antusias pada peserta maka peserta kembali akan terlarut kerumahtanggaan kondisi yang menyejukkan dan terpancing bikin berkembang. Hal ini akan ditambah menyenangkan apabila guru internal menyampaikan kursus didasari dengan sikap-sikap yang baik.

d. Kemujaraban dan Kurnia Mata Kursus

Adanya kemustajaban dan fungsi pelajaran juga merupakan salah satu indikator minat. Setiap pelajaran memiliki manfaat dan fungsinya. Misalnya, tuntunan IPA banyak mengasihkan manfaat kepada peserta dalam berkreasi memanfaatkan dagangan-produk bekas menjadi sebuah media belajar.

5.
Faktor-faktor nan Mempengaruhi Minat Belajar

Pelecok suatu pendorong dalam keberhasilan sparing adalah minat, terutama minat yang tinggi. Minat itu enggak unjuk dengan sendirinya akan namun banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya minat. Menurut Crow and Crow (1982), ada sejumlah faktor yang boleh mempengaruhi minat membiasakan siswa antara tidak:

a. Faktor galakan dari dalam yaitu rasa cak hendak tahu atau galakan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda. Galakan ini dapat membuat seseorang berminat untuk mempelajari pengetahuan-pengetahuan.

b. Faktor motif sosial yaitu minat n domestik upaya mengembangkan diri dan dalam mantra takrif, nan barangkali diilhami oleh hasrat untuk mendapatkan kemampuan intern bekerja, maupun adanya kedahagaan untuk memperoleh penghargaan dari orang lain.

c. Faktor romantis yaitu minat yang berkaitan dengan perasaan dan emosi. Misalnya keberhasilan setelah berpikir dan memperjuangkan sesuatu akan memberikan nilai yang sangat berharga, namun apabila setelah diperjuangkan kegagalan yang dialami maka kondisi pengecut tidak akan terhindar apabila tidak kuat menghadapinya.

B.
Kinerja Belajar

1.
Konotasi Belajar

Belajar yakni proses yang panjang dan dialami maka dari itu setiap individu. Sebenarnya selama orang itu hidup, sira melakukan ulah membiasakan secara faali dalam dirinya yang memberikan pemahaman, pengetahuan, serta pengalaman yang mengarah lega tindakan atau perilaku seseorang laksana hasil bersumber proses membiasakan. Slameto (1988:2) menyatakan bahwa belajar yaitu proses aktivitas insan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Winkel (1996:53) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitas mental maupun psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-pertukaran privat proklamasi, pemahaman, kecekatan dan poin sikap.

Perubahan tingkah larap nan dimaksudkan di sini bukanlah perubahan tingkah larap tertentu saja pertukaran tingkah laris secara keseluruhan yang telah dimiliki maka dari itu seseorang. Semenjak penjelasan akan halnya belajar, Slameto (1988:3) memberikan ciri-ciri transisi tingkah laris akibat adanya satu aktivitas belajar. Perubahan tersebut sebagai berikut: 1. Perubahan dalam sparing terjadi secara pulang ingatan. Manusia nan berlatih

akan menyadari terjadinya perubahan itu atau setidaknya individu merasakan sudah lalu terjadi perubahan pada dirinya.

2. Perubahan dalam belajar berkesinambungan dan fungsional. Hasil belajar yakni perubahan yang terjadi dalam diri individu terus menerus maupun tidak statis. Suatu perlintasan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan signifikan bagi spirit ataupun dalam proses belajar berikutnya.

3. Perubahan yang terjadi enggak bersifat sementara. Perubahan yang terjadi karena proses membiasakan berdiam atau permanen. Ini penting tingkah laku nan terjadi pasca- belajar akan berperangai bermukim.

4. Pertukaran dalam belajar bertujuan maupun terarah. Perubahan tingkah laku itu terjadi karena adanya tujuan yang hendak dicapai. Perbuatan berlatih terarah pada perubahan tingkah laku yang khusyuk disadari.

5. Perubahan dalam belajar mencangam aspek tingkah laris. Pergantian yang diperoleh individu setelah menerobos proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Apabila anak adam belajar sesuatu, umpama jadinya dia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh kerumahtanggaan sikap ketrampilan maupun pengetahuannya.

Dari jabaran di atas dapat disimpulkan bahwa membiasakan yaitu satu aktivitas psikis baik dibidang kognitif, afektif, dan psikomotor yang dilakukan secara sadar oleh anak adam privat berinteraksi dengan lingkungan lakukan mendapatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, skor, serta sikap. Hasil belajar merupakan berupa perubahan tingkah kayun yang bersifat positif dan relatif permanen.

2.
Konotasi Kinerja Berlatih

Dalam proses belajar mengajar riuk satu bukti yang menunjukkan kesuksesan belajar pelajar di sekolah adalah performa yang diperoleh siswa. Pengejawantahan adalah operasi untuk mengetahui berapa banyak hal nan telah dimiliki makanya siswa selepas mempelajari keseluruhan materi yang telah disampaikan padanya (Hamalik, 2000: 203).

Ngalim Purwanto (1986:28) menerimakan pengertian performa belajar sebagai hasil yang dicapai makanya seseorang dalam usaha berlatih

sebagaimana yang dinyatakan dalam rapor. Menurut (Winkel, 1989:102), prestasi belajar yakni hasil suatu penilaian dibidang pemberitaan, keterampilan, dan sikap sebagai hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai. Menurut Sumadi Suryabratara (2002:25) prestasi adalah hasil yang dicapai menurut kemampuan peserta dalam mengerjakan sesuatu, sedangkan penampakan belajar adalah hasil penghabisan yang dicapai sebaik-baiknya kerumahtanggaan jangka waktu tertentu di sekolah. Perwujudan berasal prestasi sparing adalah penilaian yang dikembangkan oleh netra tutorial, lazimnya ditunjukkan dengan kredit testimoni atau nilai yang diberikan dan dibuat maka dari itu guru. Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah (1994:19) manifestasi yaitu hasil dari suatu kegiatan yang telah tergarap, diciptakan, baik secara individual maupun gerombolan. Kinerja belajar tidak akan koalisi tercapai apabila seseorang bukan pernah melakukan suatu kegiatan. Dalam mencapai prestasi membiasakan membutuhkan perjuangan dan berbagai tantangan lakukan mencapainya.

Suharsimi Arikunto (1990:141) menguraikan penampilan berlatih bagaikan hasil yang dicapai maka dari itu pelajar setelah berinteraksi dengan mileu sehingga menghasilkan tingkah laris baru yang relatif permanen. Menurut Suratinah Tirtonegoro (1984:42), prestasi belajar adalah pencapaian hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat nan dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap momongan dalam periode tertentu.

Berdasarkan uraian pendapat para tukang dapat disimpulkan bahwa penampakan membiasakan adalah hasil yang dicapai oleh siswa berpunca suatu kegiatan belajar nan dapat dikukur dengan alat maupun verifikasi yang dibuat maka dari itu hawa yang diwujudkan dengan nilai-angka

3.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Sparing

Ada dua faktor yang mempengaruhi penampilan membiasakan, merupakan faktor intern dan eksternal. Faktor privat menghampari: perhatian, berpikir, intelegensi, ingatan-sikap-minat dan motivasi sedangkan faktor eksternal membentangi: guru, keluarga dan publik (Masidjo, 2006:11).

a.
Faktor n domestik

1) Ingatan

Perhatian adalah suatu aktivitas kognitif di mana sosok menyadari bahwa kesan-kesan/informasi-informasi/kenyataan yang persaudaraan diketahuinya berbunga semenjak periode adv amat. Dengan perasaan memungkinkan pesuluh untuk menyimpan berbagai informasi dengan baik dan siap disadarkan pun sewaktu diperlukan.

2) Berpikir

Berpikir yaitu suatu aktivitas serebral individu yang kasatmata proses simbolis yang menghasilkan satu pengertian alias konsep. Di mana konsep maupun pengertian akan mengambil alih sejumlah peristiwa, benda, ide. Semakin berkembang cara berpikir dalam-dalam siswa

akan memasrahkan dampak positif terhadap membiasakan siswa sehingga memungkinkan pelajar mencapai hasil berlatih yang maksimal. 3) Intelegensi/kepintaran berpikir

Merupakan suatu aktivitas psikologis individu di mana nanang berperan utama yang tampak pada tingkah lakunya yang terarah pada penyesuaian diri terhadap segala situasi plonco nan mengandung komplikasi. Keadaan tersebut dapat riil keburukan berpokok sosial akademik, dengan intelegensi yang dimiliki maka siswa diharapkan dapat mengasihkan suatu ide sebagai jalan keluarnya. 4) Perasaan-minat-sikap

Persaan akan mempengaruhi atma pelajar cak bagi belajar. Melangkahi perasaan pesuluh dapat memberikan penilaian positif maupun negatif, apabila yang ketimbul penilaian/pikiran aktual akan tercetus perhatian suka yang menimbulkan minat dan bersemangat untuk belajar, sebaliknya jikalau yang timbul penilaian/perhatian negatif akan mncul perasaan tidak senang, cuek sehingga akan membendung kegiatan belajarnya.

5) Motivasi

Motivasi adalah kebutuhan yang menjorokkan, menggerakkan atau mengusahakan tingkah larap belajar peserta ke arah pencapaian maksud belajar sehingga menjamin kepuasan atas perturutan kegiatan belajar siswa. Kesadaran tembung yang dimiliki siswa

akan menimbulkan dampak riil dan tidak mudah takluk/teriris taksir menghadapi suatu tantangan.

b.
Faktor eksternal

1) Kemampuan guru mengajar

Suhu merupakan paradigma bagi siswa-siswanya. Guru yang baik harus menguasai kemampuan dasar keguruan, yang meliputi kemampuan mencampuri program berlatih mengajar, kemampuan mengajar, kemampuan memimpin siswa. Sendiri guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menentramkan, memotivasi siswa serta mengatur kegiatan belajarnya bepergian dengan lampias. Jika pendampingan guru terhadap siswanya kurang menyeluruh dan kurang baik maka berpengaruh terhadap pengejawantahan belajar peserta. 2) Anak bini

Turunan tua bangka merupakan guru pertama momongan. Pengalaman membiasakan pertama diperoleh berpokok orang tua dimulai dari masih bayi sebatas dewasa. Pikiran dan kasih sayang orang tua terhadap perkembangan belajar anaknya akan berkarisma pada perolehan prestasi belajarnya. Makhluk tua harus memotivasi agar momongan memiliki pecut diri yang langgeng serta memberi pengarahan bagaimana cara membiasakan yang baik. Namun, apabila khalayak tua minus kecam perkembangan anak akan berhasil turunnya prestasi belajar anak.

3) Masyarakat

Mileu umum ialah medan di mana siswa habis dan menjalani relasi terhadap orang-orang di sekitarnya. Mileu nan kesatuan hati akan bahaya, nyaman/tidak ramai boleh meningkatkan motivasi belajar yang maksimal sehingga memungkinkan pencapaian prestasi belajar yang baik. Jika kondisi awam adv minim aman, enggak nyaman, serta manusia-turunan di sekeliling banyak nan rusak dan tidak mendukung kronologi siswa untuk belajar akan mempengaruhi perolehan penampakan belajarnya.

C.
Hubungan antara Minat Belajar dengan Prestasi Belajar

Hal ataupun kursus baru yang dipelajari anak akan menimbulkan sikap demen dan bukan tak senang. Perhatian senang atau bukan senang terhadap hal yang engkau pelajari bergantung puas apa nan engkau pelajari, apakah nan ia pelajari menyentak atau tidak. Jika anak merasa doyan terhadap keadaan nan ia pelajari maka ia akan mempelajarinya scara berkelanjutan dan terus-menerus. Perasaaan doyan nan membenang ini besar perut disebut dengan minat. Anak nan berminat terhadap sesuatu berguna anak tersebut akan mempelajarinya secara kontinu dengan perhatian suka. Siswa yang berminat pada salah satu pelajaran, berarti murid tersebut mempunyai nyawa atau gairah belajar yang jenjang terhadap kursus tersebut. Atma membiasakan yang tinggi itu muncul karena adanya ketertarikan nan menetap. Kecenderungan yang

bersemayam puas diri seorang siswa menunjukkan bahwa adanya ketertarikan terhadap parasan atau pengalaman nan madya dipelajari. Momongan nan mempunyai minat berlatih yang hierarki, maka anak tersebut diduga akan mendapatkan prestasi belajar nan tinngi pula. Dan sebaliknya, takdirnya anak tersebut mempunyai minat belajar yang kurang, maka momongan tersebut diduga mendapatkan penampilan sparing yang rendah pun.

D.
Hasil Penelitian yang Relevan

Cicilia Era Kumala (2009) meneliti tentang pertalian minat belajar siswa dan mileu belajar siswa dengan prestasi belajar peserta. Penelitian dilaksanakan di SMA Daerah 2 Klaten. Populasi penelitian ini adalah seluruh pelajar SMA Negeri 2 Klaten yang berjumlah 876 murid, sedangkan sampel penelitian adalah siswa kelas bawah XII SMA Negeri 2 Klaten. Teknik pengumpulan data nan digunakan adalah kuesioner, dokumentasi, wawancara, dan observasi. Teknik amatan data menggunakan korelasi
product moment
dan korelasi linier ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) suka-suka hubungan berwujud dan signifikan antara minat berlatih siswa dengan performa belajar pesuluh (thitung
= 2,229 > ttabel
= 1,650); (2) ada pernah substansial dan bermakna antara lingkungan belajar siswa di keluarga dengan prestasi belajar siswa (falakhitung
= 1,714 > ttabel
= 1,650); (3) ada kontak berwujud dan signifikan antara lingkungan sparing di sekolah dengan prestasi belajar pelajar (nhitung
= 1,845 > tepi langitdiagram
=1,650); (4) cak semau pertautan kasatmata dan berfaedah antara lingkungan belajardi masyarakat dengan manifestasi sparing peserta (thitung
= 4,123 > ufuktabel

=1,650); (5) ada hubungan faktual dan signifikan antara minat belajar siswa, lingkungan sparing di keluarga, lingkungan membiasakan di sekolah, mileu belajar di masyarakat secara spontan dengan manifestasi belajar petatar (Fhitung
= 7,330 > Ftabel
= 2,410).

E.
Hipotesis

Dugaan kerumahtanggaan pendalaman ini adalah “Ada hubungan yang positif dan penting antara minat belajar dengan kinerja belajar siswa kelas V SD Kewedanan Soroyudan semester 2 tahun pelajaran 2022/2012”.

23

Source: https://123dok.com/article/kajian-pustaka-hubungan-belajar-dengan-prestasi-belajar-soroyud.zxnor4vq