Contoh Soal Mengenai Identitas Orang Percaya Pelajaran Agama Kristen

BAB II

Allah Internal Pembantu Serani

Pendahuluan

Berbunga manakah kita mulaipercakapan kita tentang ain kuliahagama Serani? Pada umumnya bilamana seseorang berbicara akan halnya agama, mau tak mau orang berbicara adapun Allah. Semuaagama mempercayai adanya Allah atau

Sumur:

sejenisnya, dan kepercayaantentang Allah inilah nan mengecualikan agama  dengan fenomena lainnya. Demikianpun dengan agama Serani (kekristenan). Karena itu,adalah terdahulu untuk mempelajari dan mempertimbangkan kembalikepercayaan nan mendasar tentang siapakah Almalik yang kita percayaisebagai orang Kristen. Kognisi dan penghayatan kita akan substansikajian ini akan memengaruhibagaimana khalayak Serani hidup ditengah- tengahdunia ini. Misalnya, kalau kita beriktikad kepada Allah nan sewenang- wenang, hidup kristiani kita adalah aksi lakukan “taatsecara terdesak” kepada kehendak-Nya, kelihatannya dengan caramenyogok-Nya dengan bermacam rupa sesajen.

Meskipun setiap agama mempunyai kepercayaan mengenai Allahatau nan dianggap Allah, sendirisendiri agama mempunyaikonsepnya seorang-sendiri akan halnya siapakah Yang mahakuasa yang dipercayainya.Demikian sekali lagi agama Kristen, sudah lalu karuan mempunyaikonsep tersendiritentang Almalik yang dipercayainya. Konsep tersebut didasarkan padakesaksian Injil yang dipercayai sebagai dasar cak bagi kepercayaandan perilaku kristiani. Harus diakui bahwa Alkitab tentu mempunyaiungkapan-ungkapan yang sangat makmur tentang siapakah Sang pencipta. Meskipun kekristenan beriktikad akan “Satu Allah” akan tetapiAllah yang

dipercayaiitu menyatakan diri dengan heterogen cara yaitu sebagai Bapa, Penciptasegala sesuatu, andai penyelamat n domestik YesusKristus, dan sebagaipembaharu dalam Roh Kudus. Mal penyataan diri  Allah sepertiinilah yang rata-rata oleh Basilika pada zaman silam dikenal denganungkapan Trinitas (Tritunggal). Kata majemuk itu bukanlah istilahAlkitab, hanya mengandung kebenaran alkitabiah.

Sentral-pokok (substansi kajian) ini akan dibahas secara lebih rinci intern sub-subpokok bahasan berikut ini dengan memberi tekanan tunggal kepada implikasi atau konsekuensinya terhadap spirit Kristiani di mayapada ini terutama pengembangan karakter Kristiani.

Melampaui bab tentang siapakah Allah, Kamu diharapkan boleh mencapai beberapa tujuan pengajian pengkajian. Adapun tujuan penataran nan hendak dicapai adalah berlega hati kepada Almalik nan sudah mencipta, menanam,  memelihara dan memodernkan ciptaan-Nya; bersikap cacat hati dan mengelepai kepada Tuhan yang diwujudkan antara tidak dalam ibadah nan teratur; mengembangkan sikap hadiah kepada Tuhan ibarat Pencipta, Penyelamat, Pemelihara dan Pembaru ciptaan-Nya; optimistis akan futur yang kian baik; peduli dan bertanggung jawab memelihara ciptaan Tuhan; menganalis karya Allah perumpamaan Perakit bumi dan isinya bersendikan kesaksian Alkitab; menjelaskan karya Almalik ibarat Penyelamatmanusia berdasarkan kesaksian Alkitab; menganalisisajarantentangkaryaTuhansebagai Pemelihara  dan Pembaharu ciptaan-Nya berdasarkan kesaksian Injil; merumuskan hasil penerimaan bawah-dasar Alkitab yang menunjukkanTuhan sebagai Pembentuk; merumuskan dengan alas kata-kata sendiri hasil penelaahan sumber akar-asal Alkitab yang menunjukkan Almalik sebagai Penyelamat hamba allah;dan menyajikan hasil penelaahan dasar-bawah Alkitab nan memperlihatkan Tuhan misal Pemelihara dan Pembaharu ciptaan-Nya.

A.           Menyusur Kesaksian Alkitab akan halnya Allah yang Dipercayai oleh UmatKristen

Yuk Ia membuka Bibel, khususnya Kitab Hal pasal 1-2 dan Lulusan pasal 1-15. Siapakah Almalik yang dipercayai oleh umat Serani menurut Kitab Kejadian pasal 1-2 dan Keluaran pasal 1-15? Ia juga perlu mendaras resep
Ikhtisar Dogmatikacoretan R. Soedarmo, khususnya topik yang membincangkan tentang Allah. Siapakah Halikuljabbar yang dipercayai oleh umat Kristen menurut R. Soedarmo? Pembahasan tentang agama bagaimanapunselalu berkaitan dengan buku tentang Allah maupun yangdianggap Almalik. Itulah penali mulai sejak penelusuran kita terhadap definisi agama pada bab sebelumnya.Setiap manusia pada dasarnya mempunyaikesadaran religius, yaknikesadaran bahwa ada suatu garis hidup Ilahidiatas realitas dunia inidan dalam berbagaiagama diberi namayang bermacam-macam.

Internal kekristenan, kita percaya bahwa Halikuljabbar menciptakanmanusia sedemikian rupa sehingga cak semau kesadaran religius dalamdirinya yakni satu kesadaran akan adanya kodrat Ilahi di atasmanusia, dengan nama yang bermacam-spesies sesuai dengankepercayaan saban. Kesadaran itulah yang kemudianmendorong manusia kerjakan mewujudkan relasinya dengan kodratIlahi itu yang plong gilirannya memunculkan fenomena agama.Itulah sebabnya fenomena agama tak mana tahu dapat dihapussama sekali walaupun bisa ditekan ke tingkat nan serendah-rendahnyaoleh berbagai faktor intern kehidupan manusia danmasyarakat.

Internal upaya penelusuran kesaksian Injil tentang Halikuljabbar, perlu kita menyinggung pula topik Allah dan penyataan-Nya. Pertanyaan yang sepan penting bagi kita yakni: “Dapatkah manusia mengenal Allah dan hakikat-Nya?” Terhadap pertanyaan itu, terserah dua kemungkinan jawaban. Yang pertama, manusia lain mungkin dapat mengenal Allah dan hakikat-Nya, karena anak adam adalah kurang dan kesannya enggak mungkin mengenal Allah yang tak terbatas. Kemungkinan kedua,
mengatakan bahwa manusia boleh jadi mengenal Allah dan hakikat-Nya hanya apabila Dia menyatakan diri-Nya. Di atas telah dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga cak semau kesadaran religius

privat dirinya. Kesadaran religius (kesadaran akan adanya kodrat Ilahi) itu tak sebagai halnya pengenalan akan Tuhan. Kesadaran akan adanya qada dan qadar  Ilahi  melalui Penemuan itulah, yang biasanya disebut penyataan Halikuljabbar yang publik. Penyataan umum merupakan prinsip Allah menyatakan diri-Nya melalui rakitan, sejarah bumi, dan suara hati.
Artinya,
melewati pengamatan manusia akan alam ciptaan yang seperti itu luar absah dan teratur itu, manusia bisa tiba sreg pemahaman akan adanya Produsen ataupun arsitek di balik ciptaan ini. Pandangan ini terutama didasarkan pada pengenalan-kata Rasul Paulus antara bukan yang mengatakan bahwa:
“…barang apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak daripada- Nya, adalah kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, boleh nampak kepada manah berpokok karya-Nya sejak marcapada diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih”
(lih. Rm. 1:19-20). Pemazmur juga berulang barangkali menyaksikan bahwa “segala langit menceritakan kemuliaan Tuhan” (lih. Mzm. 19). Pertanyaannya, apakah mungkin manusia mencapai pembukaan yang moralistis akan Allah hanya melalui penyataan umum?
Bukan majuh!
Artinya kognisi religius saja tak layak. Itulah sebabnya menurut kepercayaan Masehi, insan membutuhkan penyataan yang khusus.

Sumber: http://chrispypaul.blogspot.com/2013/09/religion-and-me-photo-
essay.html

Penyataan khusus yakni prinsip Allah menyatakan diri dan karsa-Nya melangkaui firman-Nya dan hingga ke puncaknya dalam diri Almalik Yesus Kristus.

Walaupun demikian, menerobos penyataan Allah yang eksklusif pun belum boleh mewujudkan manusia mengenal Sang pencipta secara tuntas, makanya karena Tuhan lebih dari apa yang Allah nyatakan, apakah melalui firman-Nya maupunYesus Kristus. Akhirnya, Yang mahakuasa masih konstan yaitu misteri yang tidakpernah terlampau  diselidiki dan dipahami. Hal itu membuat kita mempunyai sikap kagum dan heran akan kebesaran-Nya. Ayo Kamu menuduh perbedaan antara penyataan masyarakat dan khusus!

Marilah waktu ini kita menyipi tentang Halikuljabbar dalam kepercayaan Kristen begitu juga disaksikan oleh Kitab Suci Alkitab. Kerumahtanggaan asisten Masehi Allah dikenal berpunca tindakannya: Almalik sebagai Produsen, Juru selamat  dalam Yesus Kristus, dan pembaharu n domestik Roh kudus.

  1. Allah Si pelaksana

Darimanakah pembicaraan mengenai Allah dimulai? Terserah berjenis-jenis pendekatan privat musyawarah tentang Allah.
Mula-mula,
ada yang memulai dengan menggosipkan qada dan qadar dan kebiasaan-sifat-Nya, lalu dilanjutkan dengan karya- karya-Nya.
Kedua,
cak semau yang mulai dengan membicarakan karya-karya-Nya lalu dilanjutkan dengan kodrat dan sifat-sifat-Nya. Pendekatan kedua mungkin lebih berjasa. Artinya melalui pembahasan akan halnya karya-karya (apa nan dilakukan Allah), kita akan sampai kepada takdir dan sifat-sifat-Nya. Suka-suka pendapat yang mengatakan bahwa “Yang mahakuasa adalah apa yang Allah untuk, tetapi apa yang Allah lakukan belum seluruhnya menjelaskan tentang siapa Tuhan sesungguhnya.”Apakah yang dilakukan Almalik nan menunjuk kepada hakikat dan sifat-Nya? Injil memulai kesaksiannya adapun Allah umpama Pencipta langit dan dunia dan seluruh isinya termasuk orang (lih. Kej. 1 dan 2). Demikianpun Pengakuan Iman Rasuli dimulai dengan pengakuan bahwa Allah, Bapa adalah Khalik/Pembuat langit dan bumi. Karena itu, bagi orang Kristen Allah pertama- tama dikenal sebagai Penyusun sejagat beserta isinya termasuk hamba allah. Silakan Dia mencamkan Pengakuan Iman Rasuli secara saksama.

Hal ini terbiasa beruntung tekanan makanya karena kita bertatap dengan bermacam-jenis pandangan adapun asal usul manjapada ini, termasuk teori evolusi Darwin. Kita tahu sekurang-kurangnya cak semau dua teori samudra mengenai asal usul

segala sesuatu yang ada. Teori purwa, adalah nan dikenal dengan teori evolusi sebagaimana diperkenalkan oleh Darwin dan pengikut-pengikutnya. Teori ini pada dasarnya menyorong adanya “Penggarap alias arsitek” di mengot kehebatan dunia ini, dan menyatakan bahwa segala sesuatu berkembang secara evolusi dalam kurun waktu jutaan tahun. Sedangkan teori asal usul kedua adalah yang biasanya dikenal dengan “teori Kreasi” (Creation theory),
yang mengakui adanya pelaksana di erot semua ciptaan yang menakjubkan ini. Agama-agama menerima teori asal usul rakitan ini tercantum agama Kristen.

Kekristenan percaya akan adanya pencipta di pesong keberadaan mayapada nan begitu menakjubkan ini (lih. Kej. 1 dan 2; Mzm. 33:6). Penciptaan yang dilakukan maka itu Allah jelas berbeda dengan ciptaan maupun karya anak adam, karena Allah mencipta dari nan tidak ada menjadi suka-suka dengan firman-Nya (lih. Rm. 4:17 dan Ibr. 11:13). Menerima bahwa ada penyelenggara di balik kehadiran langit dan bumi serta isinya, lain berarti menolak setolok sekali bahwa terserah evolusi bermula ciptaan- ciptaan itu.

Allah Pereka cipta, yaitu Sang Pribadi yang Mahakuasa. Dengan membahas karya Allah sebagai Perakit maka kita juga dapat tiba plong hakikat dan sifat Allah. Salah satu simpulan yang dapat dibuat merupakan bahwa Sang pencipta merupakan Si Pribadi yang Jabar. Allah dalam kebijaksanaan-Nya membentuk keputusan bakal menciptakan standard semesta dan isinya termuat cucu adam menunjukkan bahwa Engkau adalah pribadi yang nanang dan mewujudkan keputusan. Anda pun membangun korespondensi/afiliasi dengan  ciptaan-Nya, khususnya dengan manusia. Kapasitas seperti yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa Yang mahakuasa adalah suatu pribadi privat faedah berpikir, membuat keputusan dan membangun relasi dengan pihak lain. Silakan Ia mengamati keputusan yang diambil Allah intern Kitab Peristiwa pasal 1-2 dan Kitab Keluaran pasal 1-15.

Memang lewat terik membayangkan budi Allah, cuma kita akan abnormal tertolong pada saat kita membayangkan kepribadian orang, karena manusia diciptakan menurut gambar Halikuljabbar. Ini tidakberarti bahwa kepribadian cucu adam menjadi patokan cak bagi kepribadian Halikuljabbar, karena fiil insan hanyalah refleksi dari kepribadian Yang mahakuasa. Namun demikian, kepribadian manusia mengandung perlambang nan sebagaimana kepribadian Allah.

Sumber:
https://www.behance.serok/Gallery/Christian-Artwork-Part-
1/111811

Lebih jauh, Allah tak sekadar pribadi, hanya pribadi yang Mahakuasa. Kemahakuasaan Tuhan jelas dari karya ciptaan-Nya lain saja dari yang tiada menjadi terserah melainkan juga kerumahtanggaan keteraturan dan kebesaran ciptaan. Kemahakuasaan-Nya menunjukkan bahwa Sang pencipta lain tekor oleh ira dan waktu, dan akibatnya Sira kekal adanya. Dari sini dapatlah ditambahkan beberapa atribut/sifat Tuhan yang lengkap dan tak terbatas misalnya: Kemahahadiran Allah, Mahatahu, dan Mahaadil, Mahabesar, dan enggak-lain. Semua atribut ini sekadar ingin memfokuskan perbedaan yang hakiki antara Pencipta (Almalik) dan ciptaan (bani adam dan ciptaan lain). Silakan Ia amati perbedaan yang  lain antara Pencipta (Almalik) dan ciptaan (orang dan ciptaan lain).

  1. Halikuljabbar Penolong

Ayo Dia mendaras Injil Yohanes 3:16. Siapakah Allah yang dipercayai umat Kristen menurut Injil Yohanes 3:16? Ide akan halnya keselamatan mempunyai ajang intern setiap agama. Start bermula agama primitif yang percaya roh-arwah, ataupun agama politeisme yang percaya banyak ilah/betara/i, hingga ke agama monoteisme, ramalan mengenai keselamatan dan Allah ibarat penolong selalu hadir. Memang maknanya farik berbunga suatu agama ke agama lain. Bahkan

maknanya internal satu agama pun memadai beraneka macam dan luas. Keselamatan dalam agama tertentu bisa melulu, merupakan asam garam
waktu kini dan di sini,
boleh juga melulu
pengalaman nanti,
di masa yang akan hinggap sehabis roh ini,
tetapi dapat juga kedua-duanya.

Ajaran maupun ide tentang keselamatan mana tahu merupakan salah suatu faktor yang mendorong hamba allah buat beragama. Seumpama contoh, kita dapat menunjuk kepada berbagai upacara keagamaan privat berbagai agama. Banyak upacara intern agama-agama suku misalnya, dilakukan dalam rajah ataupun sebagai upaya buat memeroleh keselamatan, apa sekali lagi maknanya. Misalnya sebelum seseorang melanglang jauh, maka seremoni selamatan dilakukan agar memeroleh keselamatan di jalan atau di arena pekerjaan. Orang-orang mengadakan serangkaian upacara menjelang waktu menanam agar selamat, dalam arti terhindar berpunca kegagalan apakah karena iklim maupun taun hama. Dalam kasus-kasus diatas, keselamatan hanya mempunyai dimensi kontemporer dan di sini.

Sebaliknya,banyak pun upacara keagamaan nan dilakukan internal rangka memeroleh keselamatan di akhirat merupakan sehabis mortalitas, misalnya cak bagi  turut surga maupun hidup nan kekal, barang apa pun kebaikan yang diberikan kepada surga dan kehidupan kekal tersebut. Dengan demikian, ada hubungan dekat antara keselamatan, agama, dan Allah. Keadaan ini tak berarti bahwa mereka nan tidak beragama atau tidak percaya kepada Sang pencipta tak punya konsep keselamatan. Setidak-tidaknya bagi mereka, keselamatan yakni situasi terlepas atau terhindar mulai sejak bermacam-jenis bahaya, intimidasi, penyakit, dan lain-lain. Memang cukup diakui bahwa semakin maju dan berkembangnya ilmu dan teknologi, banyak persoalan turunan boleh diatasi. Tetapi, ketika manusia menyadari baik keterbatasan khalayak atau ilmu dan teknologi, basyar berorientasi kembali kepada kepercayaan akan Sang pencipta atau nan dianggap Almalik.

Internal wangsit Kristen, ajaran akan halnya keselamatan dan Allah andai penyelamat khususnya dalam Yesus Kristus mempunyai tempat yang sangat terdepan malar-malar sentral. Sedemikian sentralnya sehingga kerumahtanggaan Pengakuan Iman Rasuli, fakta Kristus, start dari praeksistensi-Nya, kelahiran, pekerjaan, penderitaan, kematian, kenaikan ke suraloka, dan kerelaan-Nya kembali,

mencekit tempat yang sangat banyak. Silakan Ia mengamati Pengakuan Iman Rasuli secara saksama. Sesungguhnya agama Kristen lahir karena asisten akan Almalik sebagai Penyelamat di intern Yesus Kristus. Sebutan Kristen justru dikenakan kepada orang-khalayak yang menjadi pengikut Kristus.

Kepercayaan kepada Yang mahakuasa sebagai Penyelamat tak berarti bahwa orang Kristen menyembah lebih dari satu Allah, karena Allah Pencipta adalah juga  Allah yang menanam. Silakan Engkau mengamati Alkitab yang memperlihatkan bahwa Yang mahakuasa yang menyelamatkan umat individu. Daftarkanlah tanda kitab yang memperlihatkan dengan jelas bahwa Tuhan yang menyelamatkan umat manusia.

Wajib dicatat bahwa konsep tentang Almalik sebagai Penyelamat bukan monopoli Perjanjian Baru, sahaja mutakadim suka-suka privat Perjanjian Lama. Umat Perjanjian Lama mempunyai syahadat (pengakuan percaya) bahwa Tuhan itu menyelamatkan. Silakan Kamu membaca dan mengkritik Kel. 14:13 dan Mzm. 3:8; 62:2-3.

Ada beraneka macam istilah yang dipakai oleh PL nan menunjuk kepada konsep keselamatan. Konsep ini dihubungkan dengan Tuhan sebagai yang melakukan tindakan penyelamatan terhadap umat-Nya. Ada berbagai tindakan penyelamatan Tuhan terhadap umat-Nya. Kitab Tamatan 15 merupakan pasal pertama yang menyibakkan tindakan penyelamatan Tuhan dalam album umat Israel. Musa kerumahtanggaan lagunya untuk memestakan peristiwa pembebasan umat Tuhan berpunca perhambaan di Mesir, antara lain merenjeng lidah: “Halikuljabbar telah menjadi keselamatannya” (Kel. 15:2). Tindakan penyelamatan Allah dalam peristiwa keluar berpunca Mesir melewati Laut Teberau ini, sudah lalu memberi kesan yang silam tekun privat sanubari dan ingatan bangsa Israel. Makanya karena itu, peringatan akan kejadian tersebut dirayakan setiap tahun dalam perayaan Paskah (lih. Ul. 16:1). Pembebasan dari Mesir lebih-lebih merupakan bukti minimum utama dan langgeng tentang karunia setia Tuhan, karena hal itu merupakan tera yang sentral dari PL mengenai rahmat penyelamatan bagi umat yang baru jemah. Mari Beliau mengamati proses keluarnya umat Israel berpokok Mesir dalam Kitab Keluaran 1-15.

Itu juga sebabnya n domestik pembukaan Dekalog (Deka- Perintah), keadaan maaf dari Mesir juga disebutkan lagi dan menjadi dasar dari respons moral kepada Tuhan. Dengan pengenalan enggak, hukum-hukum Tuhan nan yaitu refleksi niat Tuhan mengenai bagaimana umat Allah moga menjalani hidupnya, didasarkan sreg hal penyelamatan Sang pencipta melangkahi pembebasan dari Mesir.

Pertanyaan selanjutnya yaitu apakah makna berpunca konsep keselamatan dalam PL tatkala Yang mahakuasa perumpamaan Penyelamat? Harus diakui bahwa dalam PL, makna maupun arti konsep keselamatan itu mengalami jalan. Seandainya kita menanya “dari apakah Allah menyelamatkan umat-Nya?” Maka jawaban nan publik, khususnya sreg sejarah awal berpokok umat Allah dalam PL, adalah “keselamatan bersumber segala gambar ketidakberuntungan,perbudakan,sakit masalah, kehabisan dan kelaparan,musuh-padanan, dan seterusnya.” Secara mahajana dalam PL, tekanannya ambruk kepada segala apa yang dapat kita sebut seumpama aspek destruktif berpunca keselamatan, tinimbang aspek positifnya. Keselamatan dianggap ibarat kelepasan dari kuasa jahat dan bahaya ketimbang perebutan atas mendapat habuan-mendapat habuan idiosinkratis. Lamun begitu, adalah salah juga kalau yang terakhir itu dianggap bukan ada kadang kala khususnya dalam kitab-kitab Mazmur. Yuk Anda mendaras dan mengkritik Mzm. 28:9, 31:16, 5l:2!

Pada babak-bagian kemudian mulai sejak PL, jelas ada pergeseran pecah ide keselamatan sebagai tindakan-tindakan libur dalam area atau latar materiil, fisik satu-satunya-mata, menuju kepada aspek moral dan spiritual (lih. Yes.59:7, 62:10). Yang paling menonjol pecah antara aspek spiritual dan moral ini ialah loyalitas kepada kehendak Allah. Mereka yang benar dan bebas nan memiliki penungguan akan pertolongan keselamatan berpangkal Allah. Sebaliknya, bilamana umat menyimpang dari jalan Tuhan dan memasrahkan diri kepada kuasa jahat, keselamatan hanya dimungkinkan dengan jalan peralihan hati, melalui pertobatan. Dengan demikian, jelaslah bahwa tekanan terdahulu ialah otonomi berpunca totaliterisme (kuasa) dosa.

Nabi-nabi besar melansir kesiapan Allah buat menyelamatkan dari perspektif baru. Asian-mendapat habuan eksternal masih juga diharapkan, namun

tekanannya kini lebih kepada kebutuhan akan satu perubahan hati, pengampunan, kebenaran, dan pembaharuan kawin dengan Allah. Keselamatan masih memiliki implikasi sosial, namun tekanannya lebih kepada perjanjian dengan individu daripada dengan bangsa. Itu berguna bahwa keselamatan terutama menjadi asam garam berpokok setiap anak adam. Dengan demikian, kita dapat mengaji pengakuan Yesaya misalnya bahwa:
“Allah ialah keselamatanku”
(Yes. 12:2), sebab Allah menyatakan diri-Nya sebagai Yang mahakuasa yang ter-hormat dan  Juruselamat; tidak ada Allah tak selain Sira (Yes. 45:21, 43:11). Karena itu, dalam Kitab Yesaya, istilah Halikuljabbar sama dengan Juruselamat.

Dengan menggunakan kata pengharapan, keselamatan bermula Allah dipikirkan sebagai sesuatu nan akan terjadi kelak. Bahwa “Allah akan mendatangkan keselamatan di Sion” (Yes. 46:13) menunjuk ke masa nan akan menclok. Keselamatan yang demikian bukan lagi hanya buat Israel sendiri, melainkan dengan datangnya “HambaAllah,” maka keselamatan akan  menjangkau sampai ujung bumi. Artinya, bagi semua bangsa (Yes. 49:6). Dengan demikian, maka seluruh bumi akan meluluk keselamatan berasal Allah kita (Yes. 52:10). Dengandemikian, taki Allah tentang keselamatan menjadi semakin lautan dan khusyuk.

Sebagai simpulan, ketika kita memerhatikan PL, ide tentang keselamatan dalam ki kenangan awal umatAllah (lsrael) adalah bahwa Halikuljabbar menyelamatkan bani adam nan baik dari berbagai kesukaran. Akan tetapi, dengan pemahaman yang berkembang tentang pergaulan antara keselamatan dan dosa, dalam konteks kebutuhan akan pertobatan, topik ini memeroleh konotasi yang lebih rohani dan moral. Situasi ini menuntun kita kepada doktrin adapun keselamatan yang tunggal dalam Perjanjian Baru, yakni bahwa Allah menyelamatkan orang biadab dari dosa- dosanya dan membenarkan mereka.

Ura-ura mengenai Allah sebagai juru selamat dalam agama Masehi  tidak bisa dilepaskan dari pribadi Yesus Kristus. Yesus terlebih di dalam Perjanjian Baru dikenal dengan sebutan Juruselamat. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa Allah di n domestik Yesus Kristus adalah Tuhan Penolong. Keselamatan menjadi tujuan terdahulu berpangkal kehadiran dan pelayanan Yesus Kristus. Yesus

alias para penulis PB menggunakan istilah “menyelamatkan” bagaikan satu yang mondial bakal menyantirkan misi-Nya. Engkau disambut kerumahtanggaan arena sejarah manjapada dengan pernyataan para malaikat bahwa “Ia akan dinamai Yesus, yang berarti yang mengebumikan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat. 1:21).

Apabila intern Perjanjian Lama Allah juga menyatakan diri umpama Juru selamat, dalam Perjanjian Baru secara jelas Allah menyatakan diri sebagai Penyelamat di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Karena itulah, Gereja mula-mula ketika memformulasikan persaksian imannya memberi tempat nan sangat sentral kepada fakta Yesus Kristus mulai dengan syahadat bahwa Beliau Anak Istimewa Sang pencipta dan Sang pencipta (prainkarnasi), kelahiran-Nya (inkarnasi), pekerjaan-Nya khususnya penderitaan, penyaliban, dan kematian-Nya, kebangkitan-Nya, pertambahan-Nya ke surga dan kehadiran-Nya kembali lakukan menjadi Hakim. Kenyataan ini menunjukkan bahwa seluruh fakta Kristus merupakan perwujudan darikarya penyelamatan Allah bagi khalayak yang sudah lalu jatuh ke dalam dosa dan karena itu terputus atau tembelang hubungannya dengan Sang pencipta.

Memang mustahil buat kita untuk membahas seluruh aspek dari pribadi Yesus Kristus. Namun, bersumber fakta Kristus yang kita sebutkan di atas, jelas bahwa  di dalam diri Yesus tergabung rasam keilahian dan kemanusiaan sekaligus. Keadaan ini jelas sangat idiosinkratis dan berat dipahami. Apabila pengakuan Iman Rasuli mulai  dengan persaksian bahwa Yesus Kristus adalah Anak Individual Allah dan Tuhan, ini menunjuk kepada keilahian-Nya ialah sebagai Allah dan sehakikat dengan Allah. Kemudian dilanjutkan dengan pengakuan bahwa Ia telah dikandung oleh Jibril, lahir dari momongan dara Maria, menunjukkan penjelmaan-Nya menjadi manusia. Memang wahi tentang penjelmaan sudah merupakan permasalahan sejak Gerejamula-mula. Dalam satu pertemuan Gerejawi di Khalcedon sreg waktu 451, para pemimpin gereja merumuskan masalah yang sulit ini perumpamaan berikut: “Almalik kita Yesus Kristus adalah Allah sejati dan sosok sejati, sehakikat dengan Bapa dalam apa sesuatu yang menyangkut ilahiah-Nya, namun dalam kemanusiaan-Nya proporsional seperti kita, kecuali tanpa dosa. Jadi, Yesus  dikenal  dalam dua tabiat: ilahi dan manusiawi. Kedua tabiat itu berlainan suatu dengan yang

lainnya. Perbedaan ini tidak dilenyapkan maka itu penyatuan keduanya, tetapi ciri-ciri khusus masing-masing tabiat teguh dipelihara.”

Rumusan di atas adalah suatu contoh dari usaha para ketua Gereja kerjakan memahami pribadi Yesus yang unik itu seperti mana dinyatakan internal Bibel Perjanjian Mentah. Akan sekadar, rumusan itu tak dengan sendirinya menghilangkan sendi penitisan ini. Karena itu, kita dapat mengamini kekaguman Paulus, misalnya, intern kata-kata berikut ini:“Dan sesungguhnya agunglah muslihat ibadah kita: “Kamu, nan mutakadim menyatakan diri-Nya internal rupa orang .…” (1 Skuat.3:16).

Jadi, apabila kita berbicara tentang kodrat ilahi danmanusiawi Kristus, hal ini menunjuk kepada hal atau kenyataan-Nya. Seandainya kita bercakap bahwa Yesus punya bilangan ilahi, nan kita maksudkan ialah bahwa semua sifat atau ciri istimewa yang bisa digunakan buat menggambarkan Allah juga berlaku bagi Dia. Dengan demikian, Kamu ialah Tuhan dan tidak hanya menyerupai Tuhan, melainkan Yang mahakuasa murni.

Apabila kita, mengatakan bahwa Yesus mempunyai kadar manusiawi, nan kita maksudkan adalah bahwa Ia bukanlah Allah yang berpura-pura menjadi manusia, melainkan Ia adalah Allah nan asli. Engkau bukan doang Allah atau hanya manusia, melainkan Kamu adalah Allah “nan menjadi turunan dan diam diantara kita” (Yoh. 1:14). Dia bukan mengganti keilahian-Nya dengan kemanusiaan. Sira malah mencuil situasi khalayak. Artinya Ia membusut tabiat manusia pada tabiat Ilahi-Nya. Jadi, dengan penitisan ini, Ia yakni Allah asli dan manusia bersih.

Walaupun Yesus memiliki semua sifat atau ciri yang dimiliki cucu adam termasuk ciri-ciri awak atau raga, tetapi kita tak dapat mengatakan bahwa sreg hakikat-Nya yang terdalam, Ia ialah anak adam. Ia yaitu pribadi Ilahi dengan garis hidup manusia. Kepribadian Ilahi itulah hakikat-Nya yang terdalam, karena itu kita dapat menyembah Dia andai Sang pencipta yang sepan disembah. Jadi, dalam diri Yesus sebagai penjelmaan Allah, Ia menyatakan ilahiah yang sejati dan kemanusiaan tahir dalam satu pribadi. N domestik Kamu terletak keterpaduan sifat-sifat, sehingga barang apa pula yang kita katakan tentang Dia sesuai dengan barang apa nan dapat dikatakan tentang Allah danmanusia.

Pertanyaan nan segera muncul ialah “Mengapa Allah bertransformasi  menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus?” Di atas kita sudah menyinggung bahwa pamrih kesediaan dan pelayanan Yesus adalah untuk menguburkan makhluk berdosa. Belaka, pertanyaan lebih jauh yaitu “Kok untuk menyelamatkan manusia berdosa, Sang pencipta harus menjelma menjadi manusia?” Terhadap pertanyaan sebagai halnya ini, harus diakui bahwa kita tak kali menjawabnya dengan tuntas dan memuaskan. Sebagaimana Allah lain mungkin kita pahami secara sempurna, begitu pula harapan-maksud-Nya tak terkira. Penjelasan berikut ini, mungkin dapat menolong kita cak bagi membuka sebagian dari selubung misteri Halikuljabbar dan bentuk-Nya.

Bagi boleh menjadi penyelamat maupun Juruselamat turunan berdosa berpangkal hukuman dosanya, Ia harus dapat menanggung kesengsaraan dan hukuman itu. Bikin tugas serupa itu, Juruselamatnya haruslah juga manusia sejati. Dibutuhkan Juruselamat yang menjadi incaran yang tidak bercacat. Maka itu karena semua manusia telah berdosa dan bercacat, Tuhan sendirilah yang tidak bercacat itu bermetamorfosis menjadi sosok agar dapat dolan sebagai Juruselamat. Dosa rajin mengirimkan hukuman, ini adalah keadilan Allah. Namun, cak kenapa Ia sendiri yang mau bersedia dan menerima hukuman itu? Di sinilah hakikat Allah yang terdalam, yakni bahwa Allah yaitu kasih. Anda enggak sekadar memiliki kasih, tetapi yakni pemberian itu koteng. Jadi, plong satu sisi, Tuhan menjadi manusia untuk menjadi Juruselamat karena keseimbangan-Nya, belaka plong sebelah yang lain karena kasih-Nya. “Karena demikianlah Sang pencipta mengasihi isi dunia sehingga diberikan-Nya anak-Nya yang tunggal itu….” (lih. Yoh. 3:16).

Di samping itu, penjelmaan Allah di privat Yesus Kristus juga hendak menyatakan Yang mahakuasa dalam apa keunggulan dan ketampanan-Nya yang tak ada bandingnya. Silakan Anda mendaras dan mengamatiYoh.14:7-11. Itulah sebabnya kita percaya bahwa kerumahtanggaan Yesus Kristus penyataan Allah mengaras klimaks maupun puncaknya. Tak ada wujud penyataan diri Allah nan paling jelas dan langsung melebihi penyataan-Nya n domestik diri Yesus Kristus, Allah penyelamat itu. Penyataan diri yang paling jelas dari hakikat-Nya nan adalah kasih dan juga adil. Silakan Anda mengkritik Yoh. 15:13.

Di dalam penjelmaan, Yang mahakuasa Yesus menjadi teladan nan minimum eksemplar mengenai hidup yang dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, sebagai makhluk pencari makna, kita dapat belajar berbunga hidup Kristus bagaimana kita menjalani hidup kita secara penting sesuai dengan kehendak Allah. Kehidupan Kristen, yakni kehidupan mengikut Kristus nan menjadi teladan nan teladan.

Sebelum kita mengakhiri pembahasan tentang Allah Sang Penyelamat, maka ada baiknya kita mengkaji kesaksian Perjanjian Yunior tentang makna alias arti keselamatan nan dikerjakan Allah intern Yesus Kristus. Konsep keselamatan dalam Perjanjian Baru adalah khas Kristen dan asian bekas yang sangat terdepan, kendatipun PB penuh dengan wangsit-ajaran moral dan jiwa Kristen. Harus diakui bahwa berbagai kitab alias sertifikat dalam PB menjelaskan keselamatan itu dengan istilah-istilah yang beragam, akan sekadar ada kesejajaran makna ataupun pengertian. Keselamatan diungkapkan dengan istilah yang berbagai rupa, misalnya hidup kekal, ikut atau mewarisi Kerajaan Almalik ataupun Kerajaan Taman firdaus, dan sebagainya. Apakah makna alias arti keselamatan ini? Sayangnya Perjanjian Yunior tak merupakan uraian yang sistematis bermula konsep keselamatan itu. Karena itu, jabaran berikut ini hanyalah cuma menangkap secara singkat makna nan mendasar dari konsep itu, sebagaimana dimaksudkan baik oleh Yesus dalam Bibel-bibel maupun dalam arsip-salinan para nabi.

Keseleo satu perkembangan makna keselamatan dibandingkan dengan ilham Perjanjian Lama merupakan bahwa baik Yesus atau para utusan tuhan menjatah arti yang kian rohani dan mondial kepada konsep keselamatan itu.
Artinya,
meskipun keselamatan mengandung sekali lagi aspek badan, tetapi lebih-bertambah aspek rohani mendapat tekanan nan berarti. Dengan demikian, keselamatan menempatkan perhatian terhadap orang selengkapnya. Keselamatan bukan hanya untuk satu nasion saja tetapi bagi seluruh umat manusia melampaui batas bangsa. Berkali- siapa kita katakan di atas bahwa Allah di privat Yesus Kristus nomplok bakal mengetanahkan individu mulai sejak dosa-dosanya atau tepatnya dari hukuman dosa. Apakah siksa dosa yang paling maujud? Bagaimana turunan diselamatkan? Hukuman dosa ialah maut, kata Paulus (Rm. 6:23). Maut maupun kematian disini bertambah bersifat rohani, adalah keterasingan berusul Sang pencipta, potol atau rusaknya gayutan

maupun persekutuan manusia dengan Sang pencipta. N domestik pengertian serupa itu, kita bisa memahami pengalaman Yesus yang paling kecil hebat dan mengerikan detik kerumahtanggaan karya penyelamatan-Nya Ia mengalami ditinggalkan oleh Yang mahakuasa, Bapa-Nya. Di atas kayu salib Ia berseru “Allahku, Allahku, mengapa Engkau menjauhi Aku?”
Dengan demikian, keselamatan yang tergarap Sang pencipta lega dasarnya adalah reformasi (renovasi, pembaruan) hubungan dengan Almalik, suatu pengalaman sangkutan atau persemakmuran yang benar dengan Almalik.

Sumur: http://evangelistic.blog.com/files/2011/09/SalibKristus.gif

Maka itu karena itu, di dalam Yesus Kristus kita yang percaya bisa menyebut Almalik itu Bapa, dalam arti kita memiliki hak untuk menjadi anak-anak Yang mahakuasa,  suatu kualitas hubungan yang intim dengan Tuhan. Kerumahtanggaan rangkaian itu, kita dapat memahami mengapa Yesus mengajarkan pesuluh-murid-Nya lakukan berdoa dan menegur Yang mahakuasa itu: Bapa kami. Hayat kekal bukan saja suatu keabadian, melainkan suatu kualitas hidup nan baru, yakni pengalaman hubungan yang benar dan damping dengan Allah melampaui Yesus Kristus. Paulus kadang menamakan hidup yang demikian perumpamaan hidup dalam Kristus, semangat internal damai sejahtera dengan Allah.

Dalam pengait dengan penjelasan di atas, dapatlah kita pahami bahwa keselamatan menurut PB khususnya intern surat-surat para rasul yakni pengalaman nan sudah kita alami puas masa kini, tak namun puas masa yang akan menclok sesudah kematian. Merupakan asam garam masa kini, karena memang keselamatan atau usia kekal merupakan satu kualitas nasib baru,

yakni hidup kerumahtanggaan hubungan dan persekutuan nan benar dengan Yang mahakuasa. Akan tetapi, keselamatan juga mengandung aspek masa depan, yakni bahwa penyempurnaan-Nya masih akan terjadi di periode yang akan datang, ketika Yesus nomplok juga untuk menggenapkan dan menunaikan janji segala sesuatu. Itulah sebabnya keselamatan mengandung aspek pengharapan juga, meskipun ia telah yaitu pengalaman masa masa ini. Silakan Dia mengamati dan menafsirkanEf.2:4-9. Pekerjaan Yesus menunjukkan lebih dari segi rohani saja, karena Yesus membagi bersantap sosok lapar, memulihkan insan sakit, membebaskan manusia yang dibelenggu oleh kuasa jahat, tetapi juga membebaskanmereka yang tertindas dan sebagainya. Keadaan ini signifikan bahwa keselamatan dalam kekristenan adalah satu yang komprehensif atau mendunia, sederajat halnya Injil atau kabar baik adalah berita gembira yang menyeluruh. Kita harus menolak pembatasan keselamatan belaka sebagai yang spiritual saja. Ini yang kita sebut despiritualisasi keselamatan. Bukan berarti bahwa keselamatan tidak mempunyai format spiritual, melainkan menolak pembatasannya hanya plong dimensi nan spiritual (Baum 1975, 202)

  1. Sang pencipta Pembaharu Ciptaan-Nya

Muslihat asisten mendasar ketiga adapun Allah adalah Sang pencipta perumpamaan pembaharu ciptaan-Nya nan menyatakan diri internal Umur Masif.Banyak orang menyangka bahwa Tuhan baru hadir dan bekerja dalam Arwah Kudus puas  Perjanjian Bau kencur merupakan ketika Jiwa Sejati dicurahkan pada hari Pentakosta di Yerusalem. Hal ini enggak bersusila. Kedatangan maupun tindakan Almalik intern Hidup Zakiah telah berlangsung jauh sebelumnya bahkan sejak mulanya, karena sreg hakikatnya Allah adalah Roh. Sreg musim Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Sang pencipta dalam Roh nan berkarya kerumahtanggaan penciptaan tersebut. Mari Engkau mengamati dan menyangkal Kej.l:7-2:25.

Rohulkudus intern PL tidak saja dikaitkan dengan penemuan, tetapi pula dengan nubuat. Sudah jelas bahwa Hidup Allah adalah berlainan dengan jiwa cucu adam, sebab Roh Yang mahakuasa yaitu Allah itu sendiri. Dalam PL pula ditekankan bahwa Jiwa Allah itu mengilhamkan nubuatan. Ini adalah riuk satu tema penting  Injil. Allah yang melampaui kita namun turut dalam dunia manusia, bukanlah dengan

intensi untuk menakuti, tetapi malah kerjakan berkomunikasi. Kehidupan Allah merupakan suatu kekuatan, namun kurnia nan dirancang bikin mengomunikasikan kehendak Allah dan membawa ciptaan kepada hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah sebabnya n domestik Alkitab sering terserah aliansi nan dempet antara Semangat Allah dan firman Allah. Hayat Allah dan firman Yang mahakuasa bukan dapat dipisahkan. Ayo Anda memperhatikan dan menafsirkan Mzm.33:6 dan 2 Sam. 23:2. Hipotetis konkret terbit perkariban ini adalah pengalaman Kanjeng sultan Saul. Saat

Saul menolak firman Tuhan, konsekuensinya “Roh Allah meninggalkannya.Yuk Beliau mengamati dan menafsirkan 1 Sam. 15:26 dan 16:14. Kekeluargaan ini sangat bermakna, dan Gereja camar membuat perbedaan tajam dan karena itu, kehilangan suatu perspektif alkitabiah yang memadai signifikan. Memang pertalian ini sangat langgeng di intern Perjanjian Lama. Kapan Roh  Allah hinggap kepada seseorang, Ia mengomunikasikan pamrih berita dari Yang mahakuasa. Berita ini dapat doang menjumut rajah-bentuk yang misterius. Ia boleh nomplok melalui damba sebagai halnya dalam peristiwa Yusuf yang dimampukan cak bagi menafsirkan khasiat mimpi Firaun melalui Roh Allah yang ada intern dirinya. Mari Dia mengamati dan meniadakan Kej. 41:38. Ia bisa juga datang melalui rukyat. Khalayak-manusia seperti Abraham, Yakub, Yehezkiel, dan Daniel menangkap pamrih Yang mahakuasa melampaui suatu rukyat. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Kej. 15:1, Kej. 46:2, Yeh. 1:1, Dan. 1:17; 4:5; 7:7.

Akan tetapi, harus disadari bahwa tidak pengalaman misterius yang menentukan seseorang dapat bernubuat alias tidak, tetapi Sang pencipta datang dengan Roh-Nya yang membuat manusia dimampukan untuk mengomunikasikan maksud dan firman Allah kepada sesamanya. Keadaan ini berupa, misalnya, n domestik nabi-nabi nan lebih kemudian seperti Amos, Mikha, Zakaria, dan lain-bukan. Silakan Anda mencela dan memungkirkan Am. 3:8, Bihun.3:5 danZa.7:12. Singkatnya bilamana seseorang bernubuat, itu karena Roh Allah menclok ke atasnya dan mengomunikasikan maksud alias berita dari Yang mahakuasa melaluinya.

Kejadian bukan nan lagi cukup terdepan kita catat sepanjang itu berkaitan dengan Roh Allah didalam PLadalah tentang kepribadian Roh Allah. Di privat PL, Nasib itu tidak tampak sebagai kesediaan yang Ilahi. Ia bertambah dilihat sebagai kerelaan

dan intervensi (pelibatan diri) pribadi Allah. Silakan Kamu mengkritik dan mengubah Yes. 31:3. Di intern kata-alas kata ini, Yesaya bukan memperlawankan daging dan semangat ibarat eksterior dan dalam dari seseorang yang setara. Yang ia bagi adalah mengategorikan “daging dan manusia kontan, dengan Nyawa dan Allah spontan.” Roh merupakan realitas (deklarasi) pada pihak Allah yang berbeda dengan pihak khalayak. Apabila Roh Halikuljabbar hadir di dalam basyar, itu penting intrusi Sang pencipta koteng yang Mahakasih dan pribadi. Dalam Yesaya 63, Semangat merupakan ekspresi pribadi dan Allah sendiri. Beliau adalah suci, enggak saja merupakan kuasa Ilahi semata-mata adat moral dari Halikuljabbar. Sira adalah Allah yang bekerja untuk kepentingan umat-Nya. Perlu dicatat bagaimana Roh itu disamakan dengan “lengan” Allah dan nan hendak dikatakan yaitu bahwa Hidup itu merupakan aktivitas penyelamatan-Nya. Umur itu adalah kuasa yang personaldan aktif dari Allah Yang mahakuasa.

Walaupun dalam PL kita pergok fakta Usia Allah yang berintervensi intern kehidupan turunan, baru kerumahtanggaan Perjanjian Barulah dinyatakan fakta adapun Roh Nirmala secara makin luas oleh para penulisnya. Walaupun intern Injil- injil sekalipun lewat sedikit diungkapkan akan halnya Roh kudus,jikalau diperhatikan baik, Roh kudus apalagi berpusat dalam diri Yang mahakuasa Yesus Si Mesias dan kemudian juga dicurahkan kepada khalayak-orang beriman, terutama pada keadaan Pentakosta. Mungkin terserah baiknya kita menanya mengapa Yesus pada suatu saat mengatakan kepada para murid-Nya:
“Adalah bertambah berguna buat dia jika Aku pergi.”Silakan Anda mengamati dan menafsirkanYoh. 16:7. Kata-kata ini diucapkan intern konteks ikrar pemberian Penolong atau Penghibur merupakan Rohulkudus. Kita luang bahwa sungguhpun Yesus merupakan Allah kalis, belaka Ia juga yakni manusia sejati. Sebagai manusia, Anda terbatas dalam peristiwa kehadiran-Nya pada satu tempat di satu ketika. Dengan eksistensi atau kedatangan Roh Kudus, Anda tidak dapat dibatasi oleh urat kayu dan musim dan pun intern karier-Nya.

Rohulkudus yaitu sesungguhnya Vitalitas Almalik dan pula Roh Yesus Kristus dan dengan demikian Ia ialah Allah itu sendiri. Karena memang Allah yakni Umur adanya. Marilah Anda mengaibkan dan menafsirkan Yoh. 4:24. Usia Zakiah mempunyai semua ciri keilahian sama seperti yang dimiliki maka dari itu Allah, yakni

Mahahadir, Mahatahu, dan Mahakuasa. Mari Anda menuduh dan  menafsirkan l Kor. 2:10-16; Luk. 1:35; Kis. 1:8.Karena itu, kalau kita menyembah Sang pencipta, selayaknya kita menyembah Tuhan yang menyatakan diri sebagai Bapa Pencipta, Yesus Penyelamat, dan Roh kudus Pembaharu dan Penolong.

Walaupun Roh Safi tidakdapat kita batasi pekerjaan-Nya n domestik dunia ini, n domestik kesempatan ini kita akan membatasi pembahasan kita mengenai pegangan-Nya di n domestik  spirit bani adam beriktikad dan persekutuan sosok- orang berketentuan yang kita sebut Gereja. Memang membatasi peranan Roh Kudus sebagai Pembaharu dan Penolong juga tidak tepat, karena Ia berkujut

Yesus Kristus intern karya Penyelamatan. Akan hanya, dua peranan itu sangatlah menonjol kerumahtanggaan Perjanjian Plonco. Yuk kita mengawasi peranan tersebut secara lebih mendalam.

Bagaimanakah karya Sang pencipta di internal Rohulkudus yang memperbaharui? Pertama-tama kita harus akui bahwa kita menjadi khalayak percaya karena karya pembaharuan-Nya. Sebagai individu berdosa, kita telah mati secara rohani. Cuma oleh tiang penghidupan Usia Steril, kita mengalami kelahiran pun atau kelahiran yunior secara rohani. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Yoh. 3:5-7. Hal ini memungkinkan kita menjadi orang beriman kepada Allah di privat Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat makhluk. Bandingkan lagi dengan peristiwa Pentakosta sesudah syarah Petrus, ada ribuan individu menjadi percaya dan dibaptis (Kis. 2).

Peremajaan itu tidakhanya menyangkut ajudan kita, saja menyangkut pun sifat dan tabiat kita. Di dalam Kristus kita menjadi ciptaan mentah. Silakan Beliau mengamati dan meniadakan 2 Kor.5:17. Bak ciptaan mentah, yang

lama sudah menguap dan yang baru sudah terbit, termasuk sifat alias watak kita. Itulah sebabnya Paulus menekankan bahwakalau kita hidup maka dari itu Hidup, kita bukan akan menuruti keinginan daging. Silakan Anda mengamati dan menafsirkan Gal. 5:16. Laksana ganti kelakuan daging (Gal. 5:19-21), kita akan menghasilkan buah Roh yaitu “kasih, sukacita,damai sejahtera, ketabahan, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal. 5:22-23). Silakan Anda mengamati diri Ia sendiri buah Semangat apa saja yang telah cak semau dalam diri Dia! Resan atau ciri-ciri ini adalah biji pelir alias karya Roh Suci dalam kehidupan orang beriman. Walaupun demikian, kita harus mengatakan bahwa karya Roh kudus ini adalah satu proses nan enggak sekali jadi, karena kita masih juga berperang menjajari kemanusiaan kita yang lama nan dikuasai oleh kemauan daging.

Karya pembaharuan Allah bukan belaka bagi cucu adam percaya secara individu, melainkan juga bikin persekutuan cucu adam-bani adam percaya yang kita namakan Basilika. Oleh kuasa dan karya Jibril, terbentuklah suatu persekutuan khalayak-orang percaya yang benar-benar dalam persekutuan, bersaksi dan melayani privat kasih persaudaraan. Karya pembaharuan Rohulkudus memungkinkan adanya satu persekutuan yang baru, yang setia dan tekun melaksanakan tugas panggilannya bakal bersaksi dan melayani. Marilah Engkau mengamati dan menafsirkanKis.2:41-

47. Kaprikornus, keseriusan mereka internal persekutuan mencengap lagi dimensi usia rohaniah, merupakan cak bagi berdoa dan melaksanakan sakramen resepsi, lagi intern memperdalam pengetahuan dan kesadaran mereka akan indoktrinasi para utusan tuhan. Mereka juga berperang internal peladenan belas kasih kepada sesamanya nan membutuhkan.

Selanjutnya, dalam seluruh Kisah Para Rasul kita membaca bagaimana maka itu bimbingan Roh Kudus, tak cuma para rasul sahaja pula persemakmuran insan beriktikad bertekun intern kesaksian mereka, baik melintasi kata-alas kata maupun perbuatan nyata, sehingga kuantitas sosok beriktikad terus bertambah. Dengan memvisualkan peranan Roh Asli nan membaharui, baik sosok percaya secara basyar maupun secara serempak bagaikan gereja, kita sesungguhnya telah menunjukkan bagaimana Nasib Kalis adalah penyelamat yang dijanjikan oleh Yesus Kristus. Roh kudus menolong kita bikin membuntang rohani kita

sehingga kita bisa beriman kepada mirakel kasih Halikuljabbar dalam Yesus Kristus nan menguburkan, menolong kita bagi mengubah sifat-sifat kita sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi pula menolong Katedral untuk setia dan mampu melaksanakan tugas panggilannya untuk berkawan, bersaksi, dan melayani.

Akan tetapi, kita juga dapat berbicara mengenai pertolongan-Nya n domestik bentuk-bagan yang enggak. Misalnya: menyabarkan di rekata gobar, menjatah kekuatan di rasi menghadapi penganiayaan, menyatakan validitas Allah, menolong kita untuk berdoa dengan ter-hormat, dan sebagainya. Yuk Anda mengaibkan dan mendaftar pertolongan-Nya yang bukan dalam kehidupan Ia! Jadi, ketika kita beribadat kepada Almalik bikin memohon pertolongan-Nya, sebenarnya kita memimpikan sambung tangan Allah melalui Rohulkudus.

Pada kesannya, kita harus menjuluki satu hal lagi akan halnya peranan Roh Kudus nan membaharui. Setelah peningkatan Yesus ke surga dan kemudian turunlah Jibril, sesungguhnya ki kenangan dunia telah memasuki suatu era baru ialah era Roh Kudus nan mencapai puncaknya ketikaYesus datang untuk kedua kalinya. Kapan itulah karya Almalik disempurnakan, Ia akan membaharui barang apa sesuatu (lih. Why. 21:5-6). Kerumahtanggaan ayat ini, Tuhan mengatakan:
“Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!”Kemudian dilanjutkan dengan mengatakan
“Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.”
Tuhan yang dipercayai oleh umat Serani, adalah Allah nan sejak tadinya menjadi Pencipta segala sesuatu dan memeliharanya tidak namun dengan hukum alam tetapi dengan campur tangan langsung,dan yaitu Tuhan yang selaras yang menyelamatkan intern Yesus Kristus. Allah ini yaitu sekali lagi nan membaharui kehidupan manusia, baik secara individu atau bersama-sekufu sebagai orang berkepastian, dan pada akhirnya membaharui segala sesuatu sreg penutup album. Ia akan menghadirkan langit dan manjapada yang yunior. Sira akan menyempurnakan pemerintahan-Nya ibarat Raja yang menghadirkan hadiah, damai sejahtera, keadilan, kebebasan, keutuhan, kesamaderajatan, dan lain-bukan.

B.       Implikasi Pengapit kepada Allah bak Pencipta, Juru selamat,dan Pembaharu Ciptaan-Nya

Suka-suka teolog yang mengatakan bahwa “now more than ever it is vital that we know what we believe, because what we believe determines how we live” (Donald English 1982). Sekiranya benar seperti pernyataan ini, bahwa apa yang kita percayai menentukan bagaimana kita menjalani atma kita, pertanyaan yang terdahulu untuk kita bukan belaka apa pandangan Alkitab mengenai Allah, melainkan bagaimana kepercayaan kita kepada Yang mahakuasa menentukan bagaimana kita menjalani vitalitas kita secara praktis. Karena itu, pada bagian ini kita akan menanya alias menyoal secara kritis, apa implikasi pembantu kepada Allah sebagai Produsen, Mukhalis dan Pembaharu untuk atma praktis sehari-masa. Silakan Anda bertanya secara responsif dan sebebas-bebasnya yang berkenaan dengan implikasi kepercayaan kepada Allah perumpamaan Pencipta, Penyelamat dan Pembaharu ciptaan- Nya.

  1. Implikasi Kepercayaan kepada Tuhan sebagai Pencipta

Dalam rangka bertanya secara perseptif segala apa implikasi asisten kepada Tuhan sebagai Pencipta, suka-suka baiknya kita menggelandang beberapa implikasi dari tangan kanan terhadap Tuhan seumpama Pencipta kerumahtanggaan kaitannya dengan nyawa kita sebagai orang percaya.

Pertama,
bahwa sebagai Penggubah, Tuhan adalah sumber arwah dan keberadaan kita. Karena itu, nasib kita sepenuhnya bergantung kepada Almalik, dan kita adalah milik Allah Tuhan. Ini berarti pula bahwa Halikuljabbar berdaulat atas spirit dan intensi hidup kita. Doang Allah yang berwajib menentukan kerjakan barang apa kita hayat di marcapada, dan kita tak akan menemukan kedamaian sampai kita menemukan Allah sendang dan tujuan arwah kita. Umpama milik Halikuljabbar, adalah bagasi kita lakukan memuliakan Allah dengan hidup kita. Silakan Kamu mengamati dan memungkiri 1 Kor. 6:20.

Coba baca baik-baik episode Alkitab ini dan diskusikan apa wasilah kepemilikan Sang pencipta atas hidup kita dengan bagaimana kita menjalani sukma kita. Ajukanlah pertanyaan tanggap Dia yang bisa timbul setelah mengaji 1 Kor. 6:20!

Jelaskanlah apa alasan tuntutan seperti mana itu? Apakah tuntutan sedemikian itu wajar? Bagaimana pendapat Dia?

Yang mahakuasa tidak sahaja berdaulat atas usia kita hanya atas intensi hidup kita. Bani adam adalah individu yang berburu tujuan dan makna semangat, dan kita saja bisa menemukan pamrih kehidupan kita dalamTuhan yang menciptakan kita. Tujuan hidup kita tak tidak yaitu untuk memuliakan Allah (lih. Rm. 11:36). Di atas sudah dibahas bahwa agama berfungsi bagaikan pemberi identitas, dan identitas yakni sumber makna. Jadi, jika kita hendak menemukan segala apa makna hidup kita, di dalam Tuhan, kreator yang berdaulat menentukan tujuan hidup kita itulah, kita memeroleh makna dan tujuan spirit kita. Peristiwa ini penting saat kita membahas penyakit karakter belakang hari. Untuk apa kita hidup berwatak?

Kedua,
pengakuan dan kepercayaan akan kemahakuasaan dan kebesaran Allah menjorokkan kita untuk mengagumi kebesaran penciptaan Tuhan. Hal ini menolak kita kepada sikap berlega hati dan beribadah kepada Allah. Manah kagum, heran dan syukur menolak kita bukan saja cak bagi memuji Tuhan tetapi juga untuk rajin berdoa dan memohon bantuan-Nya. Semua ini menjadi dasar terbit semangat ibadah kita sebagai manusia beriman.

Anda bisa mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kritis, kok agama harus punya ritus alias ibadah.Kekristenan lagi tidak sepi dari ibadah sebagaimana lagi agama-agama yang lain. Apa sumber akar dan tujuan mulai sejak ibadah kristiani?

Ketiga,
karena Allah Pencipta yakni kembali pribadi, manusia terpanggil untuk menjawab penyataan diri Allah dengan memasuki hubungan nan bertabiat pribadi dengan-Nya. Jadi, pengetahuan saja bukan patut, melainkan dibutuhkan pertalian pribadi. Hubungan ini dipelihara dan dikembangkan melalui ibadah dan loyalitas kepada-Nya. Kita terpanggil bukan saja buat memafhumi siapa Dia, melainkan untuk mengenal-Nya dan mengenal intern arti alkitabiah berarti ikut dalam persaudaraan pribadi dengan-Nya (Groome 1980, 141).

Injil Yohanes dan surat-suratnya secara eksplisit menegaskan bahwa “for John to know the Lord is to love, obey and believe” (lih. 1 Yohanes 4:8). Coba baca baik-baik bagian Alkitab ini dan tariklah kesimpulan Anda sendiriapa

kontak mengenal Almalik dan mengasihi Allah!Bandingkan juga 1 Yohanes 2:3, dan jelaskan perhubungan antara mengenal dan mentaati perintah-perintah-Nya. Mari Beliau menanya secara kritis berkaitan dengan mengenal Allah berharga mengasihi, mentaati dan percaya kepada Allah!

Bertambah baik juga Anda juga mencoba menambahkan sendiri implikasi dari ajudan kepada Yang mahakuasa sebagai pereka cipta bagi umur maujud Ia sehari- hari.

  1. Implikasi Pembantu kepada Yang mahakuasa sebagai Penyelamat bagi Kehidupan Praktis

Segala apa implikasinya bila kita beriman kepada Allah misal Sang Juru selamat internal Yesus Kristus? Hal ini perlu kita renungkan oleh karena kepercayaan Kristen senyatanya bertumpu puas pendamping akan Halikuljabbar Yesus dan mengikutiteladan-Nya.

Sumber: http://www.google.com/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fgodsbreath.
files.wordpress.com%2F2010%2F05%2Fimage_of_god_love.

Pertama,
kepercayaan Kristen kepada Tuhan tidak minus kepada Allah halikuljabbar, Agung, dan Hebat yang teristiadat kita puja tetapi pun kepada Allah bagaikan Penyelamat menunjuk kepada hakikat Allah nan merupakan kasih.Tuhan tidak hanya mengasihi semata-mata Ia yaitu kasih itu sendiri (lih. 1 Yohanes 4:8b). Bacalah dengan teliti bagian Alkitab 1 Yoh. 4: 7-8 dan

bertanyalah kepada diri seorang segala implikasinya bilaseseorang percaya kepada Sang pencipta yang adalah kasih. Percaya yaitu suatu respons manusia, dan percaya kepada Allah yang adalah rahmat berfaedah merespons kasih Allah dengan jalan mengasihi Tuhan melewati karunia kita terhadap sesama manusia. Silakan Anda menanya secara kritis dan sebebas-bebasnya tentang Allah yaitu pemberian!

Kedua, kita percaya kepada Tuhan yang mengasihi manusia, nan berinisiatif mencari dan mendatangi manusia. Oleh karena hidayah-Nya, yang persuasif (menerimakan galakan, enggak memaksa), kepercayaan kita merupakan jawaban terhadap Allah yang mengasihi kita. Jawaban terhadap rahmat Allah bukan boleh lain yakni anugerah kepada Allah melalui rahmat kepada sesama dan pataka ciptaan-Nya. Kita tidak hanya percaya akan Halikuljabbar yang jauh di sana, belaka Almalik yang hadir dan dekat dengan basyar, dan sosok boleh memasuki ikatan nan intim dengan-Nyadalam Kristus yang diberi jenama Imanuel nan berguna Allah beserta kita. Pengalaman inilah yang memungkinkan para murid dapat berseregang sungguhpun menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Kita perlu menjaga keseimbangan antara gambaran tentang Almalik nan transenden dan Yang mahakuasa yang berada di antara kita dan bersama kita privat arti imanensi-Nya. Bilakita hanya menekankan dimensi transendental, kita dapat teralienasi. Bila kita namun menekankan imanensi-Nya, kadang bisa berakibat bahwa Allah sama dengan ciptaan-ciptaan lain.

Ketiga, bilakita mengatakan beriktikad kepada Tuhan bagaikan Sang Penyelamat dalam Yesus Kristus, kepercayaan ini harus dipahami bahwa keselamatan adalah karya Sang pencipta, anugerah Halikuljabbar dan bukan hasil karya insan yang dicapai karena prestasinya. Kita boleh mengatakan bahwa dasar keselamatan adalah anugerah Almalik padahal saluran keselamatan adalah iman nan menyelamatkan. Iman bukan belaka pengakuan akal busuk kita bahwa Allah ada dan menyelamatkan, melainkan bahwa kita menyepakati-Nya sebagai perombak kita dalam menanggung siksa dosa kita. Realisasi (wujud riil) keselamatan itu yaitu satu hubungan nan diubahkan dan hidup yang diperbaharui. Artinya,  kita memasuki suatu kualitas semangat mentah, hidup intern hubungan dan persekutuan yang benar dengan Allah, nan mendapat ekspresi privat kedekatan hubungan

kita dengan sesama, dan kewajiban jawab memiara alam semesta. Silakan Sira menanya secara kritis dan sebebas-bebasnya mengenai Sang pencipta Si Penyelamat dalam Yesus Kristus!

Kekristenan menunda separasi antara ibadah kepada Yang mahakuasa melampaui ritus- ritus keagamaan dengan sikap terhadap sesama dalam arti dolan adil (lih. Mihun. 6: 6-8, Yak. 1:26-27). Bacalah kedua perikop tersebut dengan teliti dan diskusikan maknanya khususnya hubungan ibadah dengan perbuatan baik: berperan adil dan memerhatikan para janda dan yatim piatu! Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan paham yang timbul setelah membaca Mihun. 6:6-8 dan Yak. 1:26-27!

Ekspresi keselamatan ialah satu pengalaman penebusan semenjak hukuman dosa, penebusan bersumber hidup tanpa makna ke dalam kehidupan yang bermanfaat. Meskipun Yesus adalah basyar sejati, Kamu juga Allah ceria. Karena itu, intern ibadah, baik melalui doa,puji-pujian, kita dapat mengarahkannya kepada Allah Sang Bapa Pencipta, tetapi juga kepada Yesus Sang Anak Penyelamat. Puas dasarnya, sasaran kita yaitu kepada Halikuljabbar nan satu, yang menyatakan Diri baik sebagai Bapa Kreator alias sebagai Anak Sang Penyelamat.

  1. Implikasi Kepercayaan bahwa Allah yaitu Pembaharu dalam Roh Putih Apakah implikasinya bila kita percaya kepada Tuhan yang menyatakan diri

kerumahtanggaan Roh Kudus begitu juga digambarkan di atas? Ajukanlah pertanyaan- pertanyaan kritis Kamu berpangkal implikasi kepercayaan bahwa Allah merupakan  Pembaharu dalam Atma Suci! Berikut ini kita cuma akan mengemukakan beberapa implikasi nan cukup penting.

Pertama,
ajun kepada Allah yang menyatakan diri dalam Roh kudus berjasa bahwa manusia percaya kepada kuasa Allah yang tidakdibatasi oleh ruang dan tahun, dan dapat bekerja dalam diri manusia untuk melakukan renovasi-pembaharuan. Pembaharuan itu dapat mencangam iman atau kepercayaan seseorang, misalnya, terbit tidak percaya menjadi percaya akan Allah nan Mahakasih dalam Yesus Kristus. Suatu peralihan dan pembaharuan akan pembiasaan hidup, prioritas kehidupan dan sebagainya.

Kedua,
kuasa Halikuljabbar melangkahi Jibril pula boleh memperbaharui orientasi nilai dan sikap hidup sopan seseorang. Perumpamaan contoh, dari kecenderungan spirit yang menuruti keinginan daging menentang kepada kecenderungan hidup yang menuruti Arwah Nirmala, sehingga menghasilkan buah Hayat sebagai halnya kasih, rukun sejahtera, sukacita, kesabaran, dan sebagainya (lih. Gal. 5:22-23). Bacalah dengan teliti ayat tersebut serta bertanyalah lega diri sendiri secara kritis apa implikasi bila individu berkepastian bahwa Almalik membaharui sukma individu menerobos Semangat Sejati- Nya!

Ketiga,
kuasa Allah yang berkarya melangkaui Roh Salih boleh membawa peremajaan di dalam sukma persekutuan orang-orang berkeyakinan sehingga mereka dituntun kepada kebenaran, dan dimungkinkan buat tekun dan setia mengemban tugas panggilannya didunia ini kerjakan berkawan, bersaksi, dan menghidangkan. Ayo Anda mengamati dan menafsirkan Yoh. 16:1 dst.

Keempat,
pembantu akan karyaAllah di kerumahtanggaan Spirit Putih yang akan memperbaharui segala sesuatu kemudian hari, menjatah radiks kepada usia yang berpengharapan buat orang-orang percaya. Penyambutan akan penyempurnaan pemerintahan Allah bak Sinuhun, di mana ada nilai-kredit Kekaisaran Yang mahakuasa. Pengharapan ini tidak membentuk manusia menjadi pasifmenunggu pembaruan dan penyempurnaan melainkan berperang untuk mewujudkan pengharapannya sekarang dan di sini yang mencakup juga reformasi tatanan sosial kebijakan, ekonomi, menjadi kian adil sama dengan yang diharapkan, yakni perlagaan menghadirkan musim depan yang diharapkan dalam usia saat ini dan di sini. Inilah yang disebut makanya pandai- ahli sosiologi seumpama utopia yang berwujud, nan tidak hanya dulu diam mengharapkan apa diharapkan terjadi begitu tetapi. Inilah nan disebut utopia yang mujarad maka itu Ernst Bloch (Baum 1975).

Kepercayaan kepada Almalik sebagai halnya digambarkan di atas, menantang orang berkepastian cak bagi menjalani hidupnya sebagai respons kepada Kerajaan Allah, yakni respons kepada Allah yang memerintah ibarat Pangeran. Hal ini akan menuntun kita kepada dasar-pangkal kepercayaan berikutnya, adalah tentang siapakah manusia?

Source: https://elearning.binadarma.ac.id/course/info.php?id=2916&lang=id