Contoh Soal Model Pembelajaran Jigsaw

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw: Pengertian, Langkah-langkah,  Kelebihan dan Kekurangannya

Pengertian Eksemplar Penelaahan Kooperatif Varietas Jigsaw

Kamil Pengajian pengkajian kooperatif Jigsaw yaitu salah satu varietas pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan salin membantu dalam menguasai pelajaran untuk sampai ke prestasi nan maksimal” (Isjoni, 2022: 77). Model ini dikembangkan maka dari itu Elliot Aronson, dkk dari Univesitas Texas yang kemudian di adaptasi maka itu Slavin dan dinamakan model Jigsaw (Tijan dan Hasan, 2010: 34). Model pembelajaran jigsaw ini termasuk intern paradigma pembelajaran kooperatif. Di samping Jigsaw, terdapat beberapa model pembelajaran kooperatif lain seperti mana STAD, Riset Kerubungan, TPS, TGT, dan Number Head Together.

Model pengajian pengkajian Jigsaw ini dilandasi oleh teori belajar humanistik, karena teori humanistik mengklarifikasi bahwa sreg hakikatnya setiap manusiaadalah unik, n kepunyaan potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang danmenentukan perilakunya (Hamdayama, 2022: 87). “Eksemplar penerimaan kooperatif Jigsaw merupakan teoretis pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kerumunan kecil yang terdiri dari 4-5 hamba allah dengan memperhatikan keheterogenan, berkolaborasi positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota keramaian nan lain” (Hamdayama, 2022: 87)

Dalam model penelaahan kooperatif Jigsaw, terwalak kelompok ahli dan keramaian asal. Gerombolan sumber akar ialah kelompok semula siswa terdiri atasberapa anggota kelompok juru yang dibentuk dengan memperhatikan keberbagaian dan latar belakang. Sedangkan kerumunan tukang merupakan kelompok murid yang terdiri atas anggota kelompok lain (gerombolan asal) yang ditugaskan kerjakan mendalami topik tertentu bakal kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok bawah (Hamdayama, 2022: 88). Peran guru dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw ini yaitu memfasilitasi atau memotivasi para anggota kelompok juru hendaknya mudah cak bagi memahami materi nan diberikan.



Arketipe penerimaan kooperatif Jigsaw berbeda dengan penataran tradisional. N domestik model penelaahan resmi ataupun tradisonal temperatur menjadi pusat semua kegiatan kelas. Sebaliknya, di intern pola belajar Jigsaw, kendatipun guru tetap membereskan aturan, ia enggak pun menjadi daya kegiatan papan bawah, hanya siswalah yang menjadi pusat kegiatan kelas bawah (Isjoni, 2022: 82). Kejadian ini sepikiran dengan pendapat Adams (2013: 68) menyatakan bahwa:

Compared with traditional teaching methods, the jigsaw has several benefits or advantages or importance. First and foremost, most teachers find jigsaw easy to learn because teacher is not the sole provider of knowledge which makes most teachers enjoys working with it because it can be used with other teaching strategies. It works even if only used for an hour masing-masing day. Again, it is an efficient way to learn. It enables students take ownership in the work and achievement. Students are held accountable among their peers, also learning revolves round interaction with peers and therefore students are active participants in the learning process and this helps build interpersonal and interactive skills.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dibandingkan dengan metode pengajaran tradisional, Jigsaw memiliki beberapa manfaat atau keuntungan. Pertama dan terpenting, biasanya guru menemukan Jigsaw mudah untuk dipelajari karena guru bukan satu-satunya fasilitator pengetahuan yang membentuk biasanya guru menikmati bekerja dengannya karena boleh digunakan dengan strategi indoktrinasi lainnya. Guru berkreasi bahkan jika hanya digunakan untu ksatu jam tiap-tiap hari. Sekali juga, itu adalah prinsip yang efisien cak bagi belajar. Kejadian ini memungkinkan siswa mencekit kepemilikan n domestik pekerjaan dan kinerja.

Petatar bertanggung jawab di antara teman-teman mereka, juga belajar berputar interaksi dengan teman seusia dan oleh karena itu peserta aktif internal proses pengajian pengkajian dan ini kondusif membangun kecekatan interpersonal dan interaktif.

Menurut Huda (2014: 204), dalam Jigsaw guru harus memafhumi kemampuan dan pengalaman siswa dan membantu pesuluh mengaktifkan skema ini kiranya materi les menjadi bertambah berharga. Guru juga memberi banyak kesempatan kepada petatar bakal mendidik pesiaran dan meningkatkan kegesitan berkomunikasi.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa model penerimaan kooperatif Jigsaw pada dasarnya merupakan suatu model dimana guru di sini bermain umpama fasilitator dan memotivasi murid. Privat model ini, pelajar nan menjadi ki akal kegiatan inferior. Selain itu, model ini dapat melatih siswa cak bagi n kepunyaan sikap bertanggungjawab dan melatih siswa bakal berinteraksi dengan padanan satu dengan teman lainnya.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw

Hamdayama (2014: 88-9) menyebutkan langkah-langkah contoh pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:

(1) Takhlik gerombolan bineka yang beranggotakan 4-6 orang.

(2) Tiap insan n domestik gerombolan diberi subtopik nan berbeda.

(3) Setiap kerubungan mendaras dan mendiskusikan subtopik saban dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam keramaian ahli.

(4) Anggota ahli dari saban kerumunan berkumpul dan mengintegrasikan semua subtopik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok.

(5) Kelompok ahli berbantahan cak bagi membincangkan topik yang diberikan dan tukar membantu buat tanggulang topik tersebut.

(6) Sehabis mengerti materi, kelompok ahli hambur dan sekali lagi ke kelompok tiap-tiap, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya.

(7) Tiap kerubungan mempresentasikan hasil diskusi.



(8) Hawa memberikan pemeriksaan ulang individual pada penghabisan pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan.

(9) Pelajar mengerjakan tes solo atau kelompok yang mencengam semua topik.

Sementara Aqib (2013: 21) mengistilahkan langkah-langkah privat model pembelajaran Jigsaw yaitu sebagai berikut:

(1) Peserta dikelompokkan ke intern 4 anggota tim.

(2) Tiap orang dalam tim diberi adegan materi nan berlainan.

(3) Tiap orang dalam tim diberi adegan materi nan ditugaskan.

(4) Anggota dari tim nan berbeda yang telah mempelajari bagian/sub gerbang yang setimpal bertumbuk dalam kelompok baru (kelompok ahli) buat mempersoalkan sub gerbang mereka.

(5) Setelah radu urun pendapat sebagai tim ahli tiap anggota lagi ke kelompok radiks dan cak keramik mengajar dagi satu tim mereka tentang anak bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

(6) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.

(7) Guru memberi evaluasi.

(8) Pengunci.

Keefektifan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw

Model pembelajaran Jigsaw mempunyai beberapa keistimewaan (Hamdayama, 2022: 89), merupakan sebagai berikut:

(1) Mempermudah karier hawa dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.

(2) Pemerataan perebutan materi boleh dicapai dalam musim yang kian singkat.

(3) Dapat melatih siswa lakukan lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.

Beberapa peristiwa yang dapat menjadi kekurangan aplikasi transendental pembelajaran Jigsaw, menurut Roy Killen (1996) n domestik Hamdayama (2014: 89-90) yaitu sebagai berikut:

(1) Prinsip utama penelaahan ini yakni „peer teaching pembelajaran oleh teman sendiri, ini akan menjadi obstruksi karena perbedaan persepsi n domestik memafhumi konsep yang akan didiskusikan bersama siswa lain.

(2) Apabila peserta tak n kepunyaan rasa percaya diri internal berdiskusi mencadangkan materi pada teman.

(3) Record pesuluh adapun nilai, kepribadian, perasaan siswa harus sudah dimiliki maka itu guru dan biasanya butuh hari yang terlampau lama bagi mengenali variasi-diversifikasi siswa privat kelas tersebut.

(4) Butuh masa yang cukup dan awalan nan matang sebelum ideal pembelajaran ini boleh melanglang dengan baik.

(5) Apabila siswa makin dari 40 maka petisi model ini lalu runyam.

Demikian gubahan akan halnya
arketipe pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Salam sukses comar!

Perigi: Sangga Ary Winachyu, 2022. PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
Kebiasaan-Kebiasaan BANGUN Melelapkan Siswa KELAS V SDN 2 KALIORI BANYUMAS Menerobos Transendental JIGSAW BERBANTUAN Sarana PAPAN BERPAKU. Online Library Unnes. Semarang.

Source: https://www.informasiguru.com/2017/03/modeljigsaw.html