Eceng Gondok Berkembang Biak Dengan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kelayan beguk
Eichhornia crassipes

Edit the value on Wikidata

Pontederia crassipes in native habitat, Transpantaneira, Poconé, Mato Grosso, Brazil.jpg


Edit the value on Wikidata

Tumbuhan
Warna rente Violet

Edit the value on Wikidata
Taksonomi
Divisi Tracheophyta
Subdivisi Spermatophytina
Klad Angiospermae
Klad monocots
Klad commelinids
Ordo Commelinales
Famili Pontederiaceae
Genus Eichhornia
Spesies
Eichhornia crassipes

Edit the value on Wikidata




Solms
Tata stempel
Basionim Pontederia crassipes
(en)
Terjemahkan

Edit the value on Wikidata

Eceng gondok
[1]
(Eichhornia crassipes) adalah salah satu varietas tumbuhan air rapung. Selain dikenal dengan nama
eceng gondok, di beberapa wilayah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di kewedanan Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan jenama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan stempel Tumpe.[2]
Eceng gondok purwa mana tahu ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang cendekiawan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang pandai botani berkebangsaan Jerman plong perian 1824 saat sedang melakukan ekspedisi di Wai Amazon Brasil.[3]
Kelayan gondok memiliki kepantasan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap andai gulma yang bisa merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah hambur melalui parit air ke badan air lainnya.

Deskripsi

[sunting
|
sunting sumur]

Eceng bengok sedang berbunga

Genjer gondok nyawa rapung di air dan sekali-kali berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter. Bukan punya batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya mengeruh, pangkal batang cangkul daun melendung. Permukaan daunnya licin dan bercat hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk bumbung. Bijinya berbentuk bulat dan bercat hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan bercat baru. Akarnya adalah akar serabut.[2]

Habitat

[sunting
|
sunting sumur]

Eceng gondok tumbuh di tambak-kolam dangkal, persil basah dan pandau, aliran air yang lambat, telaga, tempat penampungan air dan sungai. Tanaman ini bisa beradaptasi dengan perubahan yang drastis berusul ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan venom-racun dalam air.[4]
Pertumbuhan eceng struma yang cepat terutama disebabkan makanya air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama nan kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Siaran FAO). Kandungan garam boleh menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi plong danau-danau di daerah pesisir Afrika Barat, di mana eceng struma akan makin sepanjang musim hujan angin dan berkurang ketika peranakan garam naik lega musim kemarau.[4]

Dampak Negatif

[sunting
|
sunting sumber]

Balong yang dipenuhi eceng gondok yang medium berbunga

Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan kelayan bengok antara tidak:

  • Meningkatnya evapotranspirasi (evaporasi dan hilangnya air melalui patera-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
  • Menurunnya jumlah nur yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen privat air (DO: Dissolved Oxygens).
  • Tumbuhan eceng gondok yang sudah antap akan turun ke dasar perairan sehingga mendahulukan terjadinya proses pendangkalan.
  • Mengganggu keluar masuk (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tersampir semenjak sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
  • Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
  • Memangkalkan nilai estetika lingkungan perairan.

Penanggulangan

[sunting
|
sunting sumber]

Karena eceng beguk dianggap umpama gulma yang mengganggu maka berbagai prinsip dilakukan bagi menanggulanginya. Tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya antara bukan:

  • Menggunakan herbisida
  • Mengangkat eceng gondok tersebut secara serempak bermula mileu perairan
  • Menggunakan pemakan (sato laksana predator eceng bengok), keseleo satunya adalah dengan menunggangi iwak grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau iwak koan. Ikan grass carp memakan akar kelayan gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, daunnya hingga ke permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian dimakan ikan. Mandu ini pernah dilakukan di danau Kerinci dan berbuntut mengatasi kelayan gondok di danau tersebut.[5]
  • Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya bagaikan bahan pembuatan kertas, kompos, biogas,[6]
    perabotan,[7]
    kerajinan tangan, perumpamaan media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.

Pembersih Polutan Besi Musykil

[sunting
|
sunting sumber]

Sungai nan dipenuhi genjer gondok

Kendatipun kelayan gondok dianggap misal gulma di perairan, belaka sebenarnya ia berlaku dalam merajut polutan logam langka. Perkariban penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain maka itu Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam kelayan bengok berpunya menyerap besi kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu bukan bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g langka sangar apabila besi-metal itu congah dalam keadaan tercampur dengan logam enggak. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan ferum chrom (Cr) bisa diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr mulanya berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 uang.[8]

Selain boleh menyerap logam berat, kelayan gondok dilaporkan juga mampu menyerap kotoran pestisida.

Teks

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    (Indonesia)
    Kunci Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia
    “Kekuatan kata genjer struma lega Kamus Ki akbar Bahasa Indonesia dalam jaringan”. Diakses sungkap 2022-10-9.



  2. ^


    a




    b




    “Eceng Struma, tanaman pengganggu yang bermanfaat”. e-smartschool.com.




  3. ^


    “Eceng Buhuk, Gulma Sahabat Sosok?”.
    U. Sirojul Falah. Jurnal Perasaan Rakyat. 28 September 2003.





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]


  4. ^


    a




    b




    “Eichhornia crassipes (aquatic plant)”.
    Invasive Species Specialist Group (ISSG). Global Invasive Species Database. 4 August 2006.





    [
    pranala bebas tugas permanen
    ]



  5. ^


    “Tanggulang Eceng Gondok Danau Kerinci”.
    Kompas.com. Harian Kompas. 28 march 2001.





  6. ^


    “Eceng Bengok Untuk Alamat Bakar Biogas”.
    Kompas.com. Harian Kompas. 30 Juni 2007.





  7. ^


    “Ngadiman Berbagi Ilmu Eceng Gondok”.
    Kompas.com. Buletin Kompas. 15 January 2007.





  8. ^


    “Eceng Gondok Pembersih Polutan Logam Berat”.
    Kompas.com. Surat kabar Kompas. 2 Juli 2003.




Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Inggris)
    Praktik pendayagunaan Eceng Gondok Diarsipkan 2008-09-20 di Wayback Machine.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok