Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi bak berikut:

1. Faktor Genetik (Darah)

Menurut teori nativisme, momongan sejak lahir telah mengangkut sifat-rasam dan sumber akar-dasar tertentu. Sifat-sifat dan dasar-dasar yang dibawa sejak lahir itu dinamakan sifat-sifat pembawaan. Adat pembawaan ini mempunyai peranan nan sangat penting buat kronologi hamba allah tersurat urut-urutan intelegensinya. Menurut teori ini pendidikan dan lingkungan hampir tidak ada pengarunya terhadap perkembangan itelegensi anak asuh. Kesannya para ahli pengikut revolusi nativisme memiliki penglihatan yang pesimistis terhadap pengaturan pendidikan (Rohmalina, 2008).

Genetik (pembawaan lahir) lampau mempengaruhi perkembangan intelegensi seseorang. Arthur Jensen (1969) berpendapat bahwa kepintaran pada umumnya diwariskan dan lingkungan cuma berperan minimal dalam mempengaruhi kecerdikan. Jensen melinjo riset tentang kecerdasan, yang rata-rata menyertakan perbandingan-proporsi angka konfirmasi IQ pada anak kembar identik dan kembar tak identik. Pada anak kembar identik, korelasi rata-rata skor tes kecerdasan sebesar 0,82, kejadian ini menunjukkan asosiasi positif yang habis tinggi. Sedangkan untuk momongan kembar nan enggak identik, korelasi rata-rata skor konfirmasi kecerdasannya sebesar 0,50 yang menunjukkan korelasi riil yang cukup tinggi. Jadi, berdasarkan hasil penajaman yang dilakukan maka dari itu Arthur Jensen tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan diturunkan secara genetik (Santrock, 2007).

Untuk memahami seberapa awet pengaruh genetik terhadap perkembangan intelegensi anak, bisa kita lihat sreg konsep heritabilitas. Heritabilitas ialah bagian dari variansi dalam satu populasi nan dikaitkan dengan faktor genetik. Penunjuk heritabilitas di hitung memperalat teknik korelasional. Jadi, tingkat minimum tinggi berasal heritabilitas yakni 1,00, korelasi 0,70 keatas mengindikasikan adanya pengaruh genetik yang kuat. Sebuah komite, yang terdiri pecah penyelidik-peneliti terhormat nan dihimpun American Psychological Association, menyimpulkan bahwa sreg tahap cukup umur akhir, indikator heritabilitas intelek kira-kira 0,75, hal ini mengindikasikan adanya pengaturan genetik yang kuat terhadap perkembangan intelegensi (Santrock,2007).

Indikator heritabilitas mengasumsikan bahwa kita dapat memperlakukan pengaruh-otoritas lingkungan dan genetika bagaikan faktor-faktor yang terpisah, di mana per bagian memberi kontribusi berupa beberapa dominasi yang unik. Faktor genetik dan faktor lingkungan sayang bekerja bersama-sama, gen bosor makan ada dalam satu mileu dan lingkungan mempertajam aktivitas gen.

2. Faktor Lingkungan

Menurut teori empirisme manusia lain memiliki pembawaan hidupnya sejak lahir sampai dewasa cuma ditentukan oleh faktor lingkungan hidup dan pendidikan. Menurut teori ini segala sesuatu yang terdapat pada jiwa anak adam dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap dan tingkah laku manusia dianggapnya bisa dipengaruhi seluas-luasnya oleh pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak minus (Rohmalina, 2008).

Mileu sangat mempengaruhi perkembangan intelegensi seseorang. Keadaan ini berdasarkan hasil studi nan dilakukan para peneliti dengan melakukan anjangsana dan observasi kerumah-rumah, seberapa ekstensifnya para orang tua (dari tanggungan profesional yang kaya-raya setakat anak bini profesional yang berpendapatan menengah) merenjeng lidah dan berkomunikasi dengan anak-anak asuh mereka nan masih belia. Akhirnya menunjukkan bahwa orang tua yang berpendapatan menengah kian banyak berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang masih belia dibandingkan dengan ibu bapak dari kalangan berbenda-raya. Berdasarkan hail penggalian tersebut menunjukkan bahwa semakin sering orang tua berkomunikasi dengan anak-anak mereka, poin IQ anak asuh-anak tersebut semakin janjang (Santrock, 2007).

Selain itu, lingkungan sekolah pun mempengaruhi urut-urutan intelegensi seseorang. Anak asuh-anak yang bukan mendapatkan pendidikan normal privat jangka perian yang lama akan mengalami penerjunan IQ. Hal ini berlandaskan hasil studi terhadap anak asuh-anak di Afrika Selatan yang mengalami penundaan bersekolah selama empat hari menemukan adanya penurunan IQ sebesar lima poin pada setiap tahun penundaan (Santrock, 2007).

Seorang peneliti dari Jamiah Colombia Prof. Irving Lorge (1945) menelanjangi bahwa IQ seseorang gandeng dengan tingkat pendidikannya. Semakin tangga tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi juga skor IQ-nya (Wasty, 2006).

Pengaruh lain dari pendidikan dapat dilihat lega pertambahan pesat nilai pembenaran IQ di seluruh dunia. Skor IQ meningkat sangat cepat sehingga orang-khalayak nan dianggap memiliki kecerdasan umumnya pada abad sebelumnya akan menjadi insan-orang yang dianggap memiliki kecerdasan di bawah biasanya di abad ini. Karena kenaikan tersebut terjadi dalam waktu relatif pendek, hal itu tidak mungkin diakibatkan oleh faktor keturunan. Peningkatan ini di mungkinkan karena meningkatnya tingkat pendidikan yang diperoleh sebagian osean populasi didunia, atau karena faktor-faktor lingkungan yang tidak seperti mana ledakan kenyataan nan dapat diakses insan-orang di seluruh dunia (Santrock, 2007).

Banyak orang tua dengan pendapatan nan rendah memiliki kesulitan menyediakan lingkungan yang secara ilmuwan menstimulasi anak-anak mereka. Program-program yang mendidik ibu bapak untuk menjadi pengasuh yang lebih sensitif dan guru yang lebih baik, serta adanya layanan dukungan seperti acara-programa pengasuhan anak berkualitas, dapat membentuk perbedaan dalam urut-urutan intelektual momongan.

Privat buku Psikologi Pendidikan oleh
H. Jaali
( 2007), faktor yang mempengaruhi intelegensi antara tak sebagai berikut:

  1. Faktor Oleh-oleh. Dimana faktor ini ditentukan oleh resan yang dibawa sejak lahir. Batas eksistensi maupun kecakapan seseorang dalam memecahkan ki kesulitan, antara tak ditentukan oleh faktor buah tangan. Maka itu karena itu, di n domestik satu papan bawah bisa dijumpai momongan yang bodoh, sangka pintar. Dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang setara.
  2. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas. Dimana minat mengacungkan perbuatan kepada suatu maksud dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. N domestik diri manusia terdapat dorongan atau motif yang menyorong individu cak bagi berinteraksi dengan dunia asing,sehingga apa yang diminati maka itu manusia dapat memberikan dorongan kerjakan berbuat lebih giat dan makin baik.
  3. Faktor Pembentukan. Dimana pembentukan ialah segala keadaan di asing diri seseorang yang mempengaruhi kronologi intelegensi. Di sini boleh dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah maupun pembentukan yang lain direncanakan, misalnya supremsi alam sekitarnya.
  4. Faktor Kematangan. Dimana tiap organ dalam tubuh khalayak mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap perlengkapan individu baik badan mauapun psikis, dapat dikatakan mutakadim matang, jika kamu telah tumbuh maupun berkembang hingga mencapai eksistensi menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, enggak diherankan bila anak anak asuh belum berbenda mengamalkan atau tanggulang tanya cak bertanya matematika di inferior empat sekolah dasar, karena pertanyaan pertanyaan itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang lakukan menguasai cak bertanya tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur.
  5. Faktor Kebebasan. Hal ini berarti individu dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan problem yang dihadapi. Di samping kebebasan melembarkan metode, juga bebas kerumahtanggaan memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kelima faktor diatas saling mempengaruhi dan saling tercalit satu dengan nan lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada pelecok satu faktor saja.

Source: http://arnimabruria.blogspot.com/2012/08/faktor-yang-mempengaruhi-inteligensi.html