Oleh:

H.Abdul Ghoni. M.Ag

LDP Parmusi Pusat

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِى ، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ »

“Haddatsanaa Sa’id bin ‘Ufair ia berkata, haddatsanaa Ibnu Wahhab dari Yunus dari Ibnu Syihaab dia berkata, Humaid kacang Abdur Rokhman berkata, aku mendengar Muawiyah berkhutbah dan berkata : ‘aku mendengar Nabi  bersabda’ : “Barangsiapa yang Almalik  kehendaki kemujaraban, maka akan dipahamkan agamanya. Aku hanyalah pembagi, sedangkan Allah  yang memberi. Senantiasa umat ini tegak diatas perintah Halikuljabbar , tidak akan membahayakan bani adam-orang yang menyelisihi mereka, sampai datang perintah Tuhan

[Hr. Bukhari dan Imam Orang islam]

Les yang terletak kerumahtanggaan hadits:

1.Hamba allah yang difahamkan agamanya, adalah orang yang dikehendaki Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala akan kebaikan. Mafhum mukholafah (pemahaman rival) bersumber hadits ini yaitu bahwa orang yang tidak reaktif agamanya, maka ialah orang-orang yang lain dikehendaki kebaikan.

2- Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan doktrin dan keutamaan yang besar bikin khalayak yang mempelajarinya, sehingga Pendeta an-Nawawi intern kitabnya Riyadhush Shalihin, pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang mula-mula.

Pendeta an-Nawawi berucap: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran cak bagi menuntut mantra.”

3- Salah satu ciri terdahulu orang yang akan mendapatkan taufik dan kemustajaban berbunga Allah Ta’ala  adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam.

4- Insan yang enggak memiliki keinginan kerjakan mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala.

5- Yang dimaksud dengan pemahaman agama n domestik hadits ini adalah ilmu/takrif adapun hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena aji-aji yang tak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah yakni ciri kebaikan.

6- Mencerna petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam  dengan benar ialah penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala.

7- Rasulullah hanya membagikan ilmu yang beliau dapatkan berpunca Rabbnya, sebagaimana para Nabi mewariskan kepada umatnya ilmu.

8- Rasulullah mengabarkan bahwa akan tetap suka-suka keropok kerdil semenjak umatnya yang taat berpegang dengan agama ini hingga intiha zaman.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Pemahaman yang ter-hormat tentang agama Islam hanyalah bermula dari Halikuljabbar amung, maka dari itu karena itu seyogiannya seorang mukmin disamping giat memaksudkan ilmu, cerbak sembahyang dan lamar pertolongan kepada Halikuljabbar Ta’ala mudahmudahan dianugerahkan kesadaran yang bersusila internal agama.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ َ

“Barangsiapa yang Yang mahakuasa menghendaki akan menerimakan kepadanya petunjuk, niscaya Beliau melapangkan dadanya bikin (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Tuhan kesesatannya, niscaya Halikuljabbar menjadikan dadanya plus pula sempit, seolah-olah ia menengah mendaki langit” (QS. Al An’aam (6) : 125).

2-  Turunan yang reseptif agama, sejatinya tak akan bersenjang dengan darmabakti konkret. Mereka ini biasanya disebut jamhur. Ulama seorang menurut al-Qur`an mempunyai khasyah (ngeri plus ta`dzim) jenjang

ۗإِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sepantasnya yang takut kepada Halikuljabbar di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah cerdik pandai. Selayaknya Allah Maha Perkasa pun Maha Pengampun.

[Piagam Fathir 28].