Hadits Tentang Mencintai Sesama Muslim

Diantara Dia kali pernah menanya-tanya, suka-suka gak sih hadits tentang mengidolakan artis? Jawabannya merupakan, jika secara lafadz tentu tidak ada. Hal ini karena dulu di zaman nabi memang enggak ditemukan adanya artis-artis layaknya waktu sekarang.

Belaka saja takdirnya diteliti kian jauh, ternyata terserah lho sejumlah hadits yang secara maknanya dapat dimasukkan ke dalam bahasan mengidolakan artis. Berikut ini hadits-haditsnya

1. Dikumpulkan Bersama yang Diidolakan Plong Hari Kiamat

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

Artinya:
“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan sira akan dikumpulkan bersama mereka pada hari hari akhir nanti.”
(HR Thabrani)

Mencintai alias mengidolakan seseorang merupakan perkara manusiawi. Seorang manusia, pada dasarnya telah Sang pencipta karuniakan bilang insting yang mana naluri tersebut menuntut untuk dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka manusia tersebut akan merasakan kecemasan atau kebingungan.

Dalam hal ini, Rasulullah sudah menjelaskan bahwa sreg hari yaumudin nanti seorang muslim akan bersama dengan siapa yang cintai dan idolai. Karena itu, takdirnya Dia mengidolakan seorang seniman korea, maka Ia akan bersamanya di akhirat belakang hari. Dan kita tau, di akhirat itu saja ada 2 tempat kembali, ialah surga atau neraka.

Pertanyaannya, tarolah bila Dia mengidolakan artis korea, apakah dia timbrung surga ataupun neraka? Perkara masuk surga alias neraka karuan tetapi Sang pencipta nan mengetahuinya. Akan tetapi, tentu kita sekali lagi sudah mengarifi enggak dari dalil-dalil lain tentang kali sajakah cucu adam yang akan masuk kedewaan?

Karena itu, tentu lebih baik bagi kita lakukan mengidolakan atau mencintai tokoh-tokoh ataupun siapa saja nan dijamin turut surga. Dalam peristiwa ini karuan yakni tuanku Muhammad Saw. dan para sahabatnya.

2. Akan Sambil Dengan yang Diidolakan

Berpokok Anas bin Malik R.A,

 أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: ومَاذَا أعْدَدْتَ لَهَا. قَالَ: لا شيءَ، إلَّا أنِّي أُحِبُّ اللَّهَ ورَسوله صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقَالَ: أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ. قَالَ أنَسٌ: فَما فَرِحْنَا بشيءٍ، فَرَحَنَا بقَوْلِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ قَالَ أنَسٌ: فأنَا أُحِبُّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأَبَا بَكْرٍ، وعُمَرَ، وأَرْجُو أنْ أكُونَ معهُمْ بحُبِّي إيَّاهُمْ، وإنْ لَمْ أعْمَلْ بمِثْلِ أعْمَالِهِمْ

Artinya: Bahwa seseorang menyoal pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Ia shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Apa yang mutakadim engkau persiapkan bagi menghadapinya?”
Individu tersebut menjawab,
“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Cuma yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Sira shallallahu ‘alaihi wa sallam mengomong,
“(Jika begitu) engkau akan bersama dengan anak adam yang sira cintai.”
(HR Orang islam)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan bani adam nan dia cintai).”

Anas pun mengatakan,
“Takdirnya begitu aku menyayangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Makna yang diberikan hadits kedua ini lain jauh berbeda dengan hadits yang purwa. Adalah Dia akan bersama dengan boleh jadi cuma yang dicintai. Bahkan kerumahtanggaan hadits di atas, Anas kedelai Malik selaku perawinya langsung berkata memanjakan Nabi Saw, Abu Bakar, dan Umar sesudah memahami bahwa ”beliau akan bersama dengan nan kamu cintai.”

3. Teragendakan Golongan Mereka

من تشبه بقوم فهو منهم

Artinya:
“Dagangan siapa nan meniru suatu keramaian, maka ia termaktub bagian kerumunan itu secara tidak langsung.”
(HR Abi Daud)

Dalam mengidolakan seseorang, terkadang banyak turunan-orang yang berlebihan dalam kelakuannya.

Bagaikan kamil, ada seorang akil balig muslim yang mengidolakan tokoh semenjak kalangan non orang islam baik itu artis maupun bukan. Cukuplah tidak tetapi mengidolakan, ia pula sampai dalam tahap ki belajar semua perilakunya, baik itu pakaian, budaya, dan yang lainnya.

Ketika sampai pada tahap tersebut, maka dia secara bukan langsung mutakadim tertera putaran berpangkal kerubungan tersebut. Yang mana itu bisa saja berefek kepada kekafiran.
Wallaahu A’lam

Baca lagi:

Hadits Tentang Hutang yang Bukan Dibayar

Hadits Akan halnya Jujur Membawa Faedah

Source: https://www.kaifa.id/hadits/kumpulan-3-hadits-tentang-mengidolakan-artis/