Hukum Tajwid Surat An Nas

Allah menggunung keterangan adapun Tuhan pendidik khalayak ialah nan menguasai hidup mereka dengan kebesaran-Nya. Mereka enggak mengetahui otoritas Halikuljabbar itu secara keseluruhan, tetapi mereka tunduk kepada-Nya dengan sepenuh hati dan mereka tak mengetahui bagaimana datangnya dorongan lever kepada mereka itu, sehingga dapat mempengaruhi seluruh semangat bodi mereka.

Ayat-ayat ini mendahulukan kata Rabb (pendidik) dari pengenalan Malik dan Ilah karena pendidikan ialah nikmat Allah yang minimum terdahulu dan terbesar bagi manusia. Kemudian yang kedua diikuti dengan pembukaan Malik (Raja) karena manusia harus tunduk kepada kerajaan Halikuljabbar setelah mereka dewasa dan berakal. Kemudian diikuti dengan kata Ilah (sembahan), karena manusia selepas berakal menyadari bahwa hanya kepada Yang mahakuasa mereka harus menunduk dan hanya Dia semata-mata yang berhak bagi disembah.

Allah menyatakan dalam ayat-ayat ini bahwa Kamu Raja manusia. Tuan bani adam dan Tuhan hamba allah, tambahan pula Dia yakni Tuhan segala sesuatu. Belaka di lain pihak, manusialah yang membuat kesalahan dan kekeliruan privat menyifati Sang pencipta sehingga mereka tersesat pecah jalan lurus. Mereka menjadikan tuhan-tuhan tak nan mereka puja dengan anggapan bahwa almalik-halikuljabbar itulah nan memberi lemak dan bahagia serta menolak bahaya dari mereka, yang mengatak hidup mereka, menggariskan batas-senggat yang boleh alias tidak dapat mereka untuk. Mereka memberi nama yang mahakuasa-tuhan itu dengan pembantu-pembantunya dan menyengaja bahwa tuhan-tuhan itulah nan mengatak segala gerak-gerik mereka. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai almalik selain Allah, dan (sekali lagi) Al-Masih putra Maryam; sedangkan mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada halikuljabbar selain Dia. Mahasuci Engkau dari segala apa yang mereka persekutukan. (at-Taubah/9: 31)

Dan tidak (barangkali pula baginya) menyuruh beliau menjadikan para malaikat dan para nabi bagaikan Tuhan. Apakah (patut) sira menyuruh kamu menjadi kafir setelah ia menjadi Mukminat? (Ali ‘Imran/3: 80)

Maksudnya, dengan ini Allah memperingatkan manusia bahwa Dia-lah yang menggembleng mereka menengah mereka adalah manusia-manusia nan suka nanang dan Dia Raja mereka dan Dia pula Tuhan mereka menurut perasaan mereka. Maka enggak benarlah apa yang mereka cak semau-adakan untuk mendewa-dewakan diri mereka padahal mereka cucu adam biasa.

Source: https://akhirat.net/an-nas/