Khotbah Lukas 2 1 7

Keselamatan n domestik Kekristenan, σωτηρία, adalah penyelamatan jiwa berasal dosa dan kematian.[1]
Keselamatan dapat juga disebut “pembebasan” ataupun “keamanan” terbit kodrat berdosa, dan merupakan janji akan sukma kekal melalui arwah. Keselamatan adalah kebebasan terbit hasrat profan dan bisikan yang menodongkan manusia keluar berpunca penerangan dan persekutan mumbung dengan Allah.

Ulah penglihatan tentang keselamatan merupakan salah satu garis patahan penting nan menjatah-bagi berbagai denominasi Kristen, menjadi satu titik ketidaksepakatan di antara kalangan Ortodoks Timur, Katolik Roma, dan Protestan, serta di dalam galengan Protestan sendiri, terutama privat perdebatan Calvinis–Arminian. Garis pemisah ini mencangam definisi-definisi yang saling antagonistis tentang kebinasaan moral, predestinasi, penenangan, dan—nan paling tegas—tes atau justifikasi.

Ringkasan

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut keyakinan Kristen, keselamatan dari dosa secara umum dan dari dosa asal secara spesial dimungkinkan melalui kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus, yang dalam konteks keselamatan disebut ibarat “penenangan”.[2]
Soteriologi Kristen berkisar bermula konsep keselamatan eksklusif[3]

:p.123

hingga pengharmonisan universal.[4]
Kendati beberapa perbedaan tersebar luas sebagaimana Kekristenan itu sendiri, hampir semua kalangan sepakat bahwa keselamatan Kristen dimungkinkan melalui karya Yesus Kristus, Putra Allah, nan wafat di gawang salib.

Inti iman Serani merupakan realitas dan harapan akan keselamatan dalam Yesus Kristus. Iman Masehi adalah iman privat Tuhan keselamatan yang diwahyukan dalam Yesus dari Nazaret. Tali peranti Serani pelalah menyamakan keselamatan ini dengan penggenapan eskatologis dan transenden dari kesediaan turunan dalam suatu kehidupan yang nonblok berasal dosa, keterbatasan, dan mortalitas, serta dipersatukan dengan Allah Tritunggal. Hal ini mungkin adalah granula iman Kristen
yang
tidak dapat dinegosiasikan. Segala apa yang menjadi sasaran perdebatan adalah relasi antara keselamatan dengan aktivitas kita di dunia ini.

Anselm Kyongsuk Min[5]

:p.79

Model keselamatan

[sunting
|
sunting perigi]

Mengenai bagaimana keselamatan Kristen dapat dipahami telah dikemukakan intern sejumlah teori pendamaian yang farik-beda. Selama berkurun-kurun, limbung Masehi telah memiliki beragam gagasan berlainan mengenai bagaimana Yesus menyelamatkan orang, dan sampai sekarang masih cak semau rukyah-pandangan berbeda di antara berbagai denominasi Kristen. Paradigma utama keselamatan yang telah dikemukakan yaitu:[6]

Transfigurasi budi pekerti

[sunting
|
sunting sendang]

Pandangan transformasi akhlak merupakan pemahaman adapun keselamatan yang minimum dominan di antara dok Kristen selama tiga abad purwa Masehi,[7]
[8]
[9]
[10]
[11]
dan tetap dipegang setakat saat ini makanya beberapa denominasi, sama dengan misalnya Ortodoks Timur. Dalam pandangan ini, Yesus memakamkan bani adam bermula keberdosaan melalui ajaran-ajaran dan vitalitas-Nya, sehingga mengubah karakternya menjadi “benar” (righteous). Keselamatan ini dipandang tidak pantas, karena Allah dengan karim mengutus Yesus bikin menyelamatkan manusia ketika mereka bukan benar dan karenanya manusia sama sekali lain pantas mendapat bantuan sedemikian itu. N domestik sempurna transfigurasi moral, seseorang diselamatkan berpunca keberdosaan dengan kaidah ki ajek mengajuk semua ajaran Yesus dan acuan yang Kamu tetapkan adapun bagaimana menjalani hidup. Konsekuensinya anak adam tersebut menjadi benar di pangkuan Allah, dan dapat mencitacitakan penghakiman akhir yang berwujud dari Allah. Kesempurnaan tidak diperlukan, dan kesalahan diampuni setelah pertobatan. Menurut rukyat ini, penyaliban Yesus utamanya dipahami sebagai satu kemartiran.[12]

Penglihatan transformasi moral telah dikritik dan ditolak maka dari itu banyak dok Kristen Protestan karena heterogen alasan. Para kritikus memercayai bahwa pandangan transformasi moral bertentangan dengan berbagai ayat kerumahtanggaan Alkitab (terutama ayat-ayat berpangkal Rasul Paulus mengenai ‘iman’ dan ‘polah’), meremehkan kadar keseriusan dosa, dan mengubah nilai peleraian dari wafatnya Yesus.
[butuh rujukan]


Christus Victor


[sunting
|
sunting perigi]

Dalam rukyah
Christus Victor
(Kristus Pemenang), manusia membutuhkan keselamatan dari kuasa kejahatan. Yesus membawa keselamatan kerjakan manusia dengan cara mengalahkan kuasa kejahatan, khususnya Setan. Pandangan ini terbantah dalam tulisan-tulisan para Bapa Gereja hingga abad ke-4 M, meski ki ajek populer selama beberapa abad selanjutnya. Beberapa perspektif adapun gagasan ini masih ada, yang secara kasar bisa dibagi menjadi penaklukan Setan dan penyelamatan berasal kuasa Setan. Dalam versi penaklukan Setan, para perekam seperti Eusebius berpangkal Kaisarea menggambarkan seandainya Yesus mengalahkan Setan dalam suatu pertempuran rohani nan asing lumrah nan terjadi antara wafat dan kebangkitan-Nya.[13]
Dengan memenangkan pertempuran tersebut, Yesus mengalahkan Setan dan mengebumikan manusia bersumber kekuasaannya. Rukyat
Christus Victor
tidak banyak dianut di Barat.
[titit rujukan]

Tebusan dari Setan

[sunting
|
sunting sumber]

Teori tebusan adapun pendamaian mengandung gagasan bahwa Setan memiliki kuasa atas jiwa-roh nan berdosa di n domestik vitalitas selepas mortalitas, tetapi Kristus menyelamatkan mereka semenjak kuasanya. Wafat Kristus kerap memainkan peranan penting internal penyelamatan tersebut. Pandangan ini tampaknya timbul selama abad ke-3,[14]
dalam goresan-tulisan Origenes dan teolog-teolog lainnya. Dalam pelecok satu versi mulai sejak gagasan ini, Setan berupaya untuk mengapalkan sukma Yesus setelah Beliau wafat, namun perbuatan itu di luar kewenangannya, karena Yesus tidak pernah berdosa. Laksana konsekuensinya, Setan sepenuhnya kehilangan kewenangannya, dan semua umat manusia memperoleh independensi. Dalam versi lainnya, Allah mengadakan kesepakatan dengan Setan, menawarkan lakukan mengerjakan pergantian antara nyawa Yesus dengan hidup-usia semua cucu adam, sahaja sesudah pergantian itu Sang pencipta menggelorakan Yesus dari antara orang sunyi dan meninggalkan Setan dengan tangan hampa. Varian lainnya menyatakan bahwa keilahian Yesus diselubungi oleh rupa kemanusiaannya, maka Setan berupaya bakal mengambil arwah Yesus tanpa mencatat bahwa keilahian-Nya akan menyakatkan perahu kuasanya. Gagasan lainnya lagi mengatakan bahwa Yesus cak bertengger untuk mengajarkan bagaimana lakukan enggak berbuat dosa dan Setan, yang marah karenanya, berupaya untuk mencuil spirit-Nya. Teori tebusan enggak banyak dianut di Barat.


[sunting
|
sunting sumur]

Pada abad ke-11, Anselmus dari Canterbury menolak rukyah tebusan, dan mengajukan teori pelepasan mengenai pendamaian. Dia menggambarkan Allah andai seorang empunya feodal, nan kehormatannya mutakadim dihinakan dan dilanggar oleh dosa-dosa umat manusia. Dalam penglihatan ini, hamba allah membutuhkan penyelamatan berpunca azab ilahi akibat pelanggaran-pelanggaran itu, karena tidak terserah satu hal lagi nan dapat makhluk kerjakan buat membayar hutang kehormatan tersebut. Anselmus berpendapat bahwa Kristus sudah mengagungkan Allah secara tak terhingga melalui semangat dan wafat-Nya serta Kristus mampu membayar juga hutang umat manusia kepada Allah, sehingga memenuhi atau menghilangkan pengingkaran terhadap kehormatan Allah dan meniadakan perlunya penghukuman. Ketika Anselmus mengajukan pandangan pemenuhan ini, Petrus Abelardus seketika mengkritiknya.

Perombak hukuman dan iman

[sunting
|
sunting sumber]

Pada abad ke-16, para Reformis Protestan memungkiri kembali teori pemenuhan Anselmus di n domestik suatu acuan syariat. Kerumahtanggaan sistem syariat, pelanggaran menuntut aniaya, dan tak ada pemenuhan yang dapat diberikan buat menghindari kebutuhan ini. Mereka mengajukan suatu teori nan dikenal umpama penukar hukuman, yang melaluinya Kristus mencekit ikab atas dosa umat anak adam sebagai pengganti mereka, dengan demikian mengetanahkan umat makhluk dari murka Allah terhadap dosa. Substitusi atau perombak siksa karenanya menghadirkan Yesus nan menyelamatkan umat bani adam dari hukuman ilahi atas kesalahan masa lalu mereka. Namun, keselamatan ini tidak tersaji secara kodrati dan seseorang wajib n kepunyaan iman untuk dapat menerima anugerah keselamatan yang prodeo ini. Dalam penglihatan pengubah hukuman, keselamatan tidak tergantung pada ulah ataupun upaya manusia.

Hipotetis pemindah hukuman dianut secara luas di antara kalangan Protestan, yang sayang menganggapnya hal kunci dalam Kekristenan. Bagaimanapun, teori ini juga banyak dikritik lebih lagi di dalam kalangan Protestan seorang.[15]
[16]
[17]
[18]
Para simpatisan Perspektif Bau kencur adapun Paulus juga berpendapat bahwa banyak kitab Perjanjian Bau kencur yang ditulis oleh Rasul Paulus, yang digunakan untuk kondusif teori pengganti siksa, yang kiranya ditafsirkan secara farik.

Pandangan Katolik

[sunting
|
sunting sumber]

Perbedaan terdepan antara pemahaman Katolik dengan Calvinis tentang keselamatan ialah bahwa, tidak seperti Calvinisme, Katolisisme meyakini bahwa, sesudah keadaan Degenerasi, umat basyar tidak kemungkus sepenuhnya (berdasarkan penglihatan “kerusakan total”, yang menghalangi manusia dari berbuat apa bentuk kebaikan cak bagi memperoleh keselamatan), saja sahaja “termakan oleh dosa”, dan “membutuhkan keselamatan dari Almalik”. Doang demikian, “predestinasi basyar sedemikian jebluk, terlucuti berbunga hadiah yang menyelubunginya, terlukai dalam daya alaminya koteng dan tunduk lega kuasa mortalitas, yang ditransmisikan kepada semua individu…”[19]

Pertolongan ilahi datang di kerumahtanggaan Kristus melewati hukum nan membimbing dan karunia yang menopang, yang melaluinya spirit-umur mengamalkan “keselamatan [mereka sendiri] dengan takut dan gentar”.[20]
Pertolongan ilahi, rahmat tersebut, yakni satu kemurahan lever, satu anugerah yang cuma-cuma dan bukan sepatutnya dari Yang mahakuasa yang kondusif manusia dalam menanggapi undangan-Nya bikin memasuki suatu relasi nan dikehendaki Allah.[21]

Umat Katolik mengakukan religiositas bahwa Kristus yakni satu-satunya Juruselamat umat makhluk. Kristus adalah Allah nan berubah bentuk, membawa penebusan dari dosa, karena “…seluruh keselamatan menclok berpokok Kristus”.[22]

“…[Gereja] mewartakan, dan harus pelalah mewartakan Kristus perumpamaan ‘jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yohanes 14:6), nan di dalam-Nya makhluk dapat menemukan kepenuhan berusul kehidupan religius, yang di internal-Nya Tuhan mendamaikan segala apa sesuatu dengan diri-Nya sendiri.”[23]

Privat Gereja Katolik, pembenaran diberikan maka dari itu Sang pencipta purwa-tama melangkahi tindakan (ex opere operato) dari pembaptisan,[24]
dengan mana orang tersebut secara baku dibenarkan dan dikuduskan oleh kekudusan dan keadilan pribadinya koteng (causa formalis),[25]
alih-alih diadaptasi oleh iman nan hidup amung seperti mana menurut
sola fide, dan secara normal melalui Sakramen Sinkronisasi apabila suatu dosa berat diperbuat. Kristus dapat bekerja di luar sakramen baptisan, sebagaimana hasrat bagi dibaptis adalah rahmat nan pas buat memperoleh keselamatan, karena karya Allah tidak terbatas pada sakramen-sakramen cuma.[26]
Doang demikian, Kristus melembagakan Sakramen Serik untuk semua anggota Basilika yang berdosa: terutama lakukan mereka yang, sehabis Baptisan, telah jatuh ke kerumahtanggaan dosa berat, dan karenanya kekeringan kasih pembaptisan mereka dan melukai persekutuan gerejani. Kepada mereka Sakramen Tobat menawarkan kemungkinan baru lakukan melakukan perubahan dan mengobati rahmat konfirmasi. Para Bapa Dom menghidangkan sakramen ini laksana “papan kedua [terbit keselamatan] setelah kapal karam nan merupakan hilangnya rahmat”. Sakramen ini bukan amung cara agar dosa dapat memperoleh pengampunan, karena, dalam kasus-kasus tertentu dan adanya penyesalan, dosa bisa diampuni dengan mengakukannya secara langsung kepada Allah. Hal ini adalah riuk suatu sebab cak kenapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa umat Kristen di asing Katedral dimungkinkan untuk memperoleh keselamatan, karena privat banyak kasus denominasi Kristen lainnya bukan memiliki imamat nan dilembagakan dari Yesus Kristus dan karena itu tidak punya akses kepada kuasa “menggerutu dan melepaskan” nan dipraktikkan para imam dari Perjanjian Baru melewati sakramen ini.[27]
Dosa susah menjadikan pembuktian hilang sekalipun iman (persetujuan intelektual) masih suka-suka.

Dalam kanon 9 dari Konsili Trente sesi VI, Gereja Katolik menyatakan bahwa, “Apabila ada hamba allah berkata bahwa orang berdosa dibenarkan oleh iman saja, yang berharga bahwa tidak diperlukan hal lain buat bekerja setolok n domestik rencana memperoleh belas kasih pembenaran, dan bahwa ekuivalen sekali kamu tidak perlu mempersiapkan diri dan berkewajiban atas tindakan berusul kehendaknya sendiri, biarlah ia menjadi anatema.”[28]
Pula dikatakan dalam sesi VII menerobos kanon IV, “Apabila ada orang berbicara, bahwa sakramen-sakramen dari Syariat Hijau tidak diperlukan bagi keselamatan, dan bahwa tanpa sakramen-sakramen tersebut, maupun minus menginginkannya, manusia memperoleh kasih validasi dari Sang pencipta melalui iman tetapi; kendati memang tidak semua (sakramen) diperlukan setiap anak adam; biarlah engkau menjadi anatema (terekskomunikasi).[29]

Keselamatan umat non-Katolik

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut
Katekismus Dom Katolik, Kristus menyediakan Gereja dengan
‘kepenuhan semenjak media keselamatan’ yang Ia kehendaki: syahadat iman Masehi nan benar dan utuh, usia sakramental sepenuhnya, dan tugas pelayanan yang tertahbis n domestik suksesi apostolik.”[30]
Meskipun Gereja Katolik memiliki ajaran
extra Ecclesiam nulla salus
(di asing Gereja tidak ada keselamatan), hal ini lain berarti bahwa semua manusia terpilih fertil dalam persekutuan yang tertumbuk pandangan dalam Gereja Katolik selama hidup mereka, karena “Yesus, Putra Halikuljabbar, mutakadim menderita kematian bagi kita secara sukarela dalam loyalitas munjung dan bebas kepada niat Almalik, Bapa-Nya. Melintasi mortalitas-Nya Ia telah cundang maut, dan dengan demikian membuka kemungkinan akan keselamatan lakukan semua cucu adam.”[31]

Tentang umat Protestan lega khususnya, dalam Konsili Vatikan II dan pengajaran selanjutnya dinyatakan:

“Gereja mengakui bahwa dalam banyak situasi dia terkait dengan mereka, yang dibaptis, yang dihormati dengan logo Kristen, walaupun mereka lain mengakukan iman dalam kepenuhannya maupun pun tidak menernakkan wahdah persekutuan dengan penukar Petrus. (bdk. Gal. 4:6; Rom. 8:15-16 dan 26) Karena terserah banyak orang yang menghormati Kitab Suci, menerimanya sebagai norma keimanan dan teoretis hidup, dan yang memperlihatkan atma yang ceria. Mereka dengan mumbung cinta beriktikad kepada Almalik Bapa Halikuljabbar dan kepada Kristus, Putra Sang pencipta dan Juruselamat. (bdk. Yoh. 16:13) Mereka dikuduskan dengan baptisan, yang di dalamnya mereka dipersatukan dengan Kristus. Mereka juga mengakui dan mengakui sakramen-sakramen lain di privat Basilika mereka sendiri ataupun komunitas-komunitas gerejani [Protestan]… Mereka kembali berbagi dengan kita dalam doa dan manfaat rohani lainnya. Demikian juga kita dapat mengatakan bahwa dengan beberapa kaidah nyata mereka berintegrasi dengan kita dalam Roh Kudus, karena kepada mereka juga Sira memberikan kasih dan karunia-Nya dengan mana Engkau berkreasi di antara mereka dengan kuasa pengudusan-Nya. Bahkan beberapa turunan telah Dia kuatkan hingga menumpahkan talenta mereka…”[32]

“…manusia-orang yang percaya kepada Kristus dan telah khusyuk dibaptis berlimpah internal persekutuan dengan Gereja Katolik sungguhpun persekutuan ini tidak acuan. …tetaplah benar bahwa semua orang yang mutakadim dibenarkan oleh iman privat Baptisan ialah anggota-anggota terbit awak Kristus, dan memiliki hak bikin disebut Masehi, sehingga khusyuk dituruti seumpama saudara-saudari oleh putra-upik dari Dom Katolik… Karena Roh Kristus tidak menahan diri untuk menggunakan mereka sebagai sarana keselamatan yang memperoleh taktik gunanya dari kepenuhan hadiah dan kebenaran yang dipercayakan kepada Basilika…” “Merupakan ter-hormat dan signifikan mengidentifikasi kekayaan Kristus dan karya kebajikan dalam kehidupan orang-orang lain yang menjadi saksi Kristus, adakalanya sampai-sampai sampai sreg penumpahan darah mereka. Karena Tuhan selalu luhur dalam karya-karya-Nya dan patut menerima apa pujian.”[33]

Gereja Katolik mengajarkan bahwa jemaat Protestan adalah adegan pecah Kekristenan, satu-satunya “iman” yang bermoral (Gereja Katolik melihat agama non-Kristen sebagai “keyakinan” karena tidak berdasar pada wahyu Tuhan internal sejarah).[34]
Meskipun demikian, individu-individu Protestan yang menyadari kenyataan bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik, tetapi lain mau bergabung intern keanggotaannya, “tidak bisa diselamatkan” karena mereka hidup dalam rasa tidak khidmat secara termengung terhadap kesahihan yang disingkapkan Halikuljabbar.[32]

Sehubungan dengan umat Yahudi dan Mukminat, Konstitusi Normatif adapun Gereja,
Lumen gentium, menyatakan:

“Pertama-tama kita harus mengingat orang-orang [Yahudi] kepada siapa wasiat dan janji-janji itu diberikan dan dari siapa Kristus dilahirkan menurut daging. Karena para bapa mereka turunan-hamba allah ini konstan sangat dikasihi Sang pencipta, sebab Allah tidak menyesal atas anugerah nan Ia berikan alias sekali lagi atas panggilan yang Ia sampaikan. Tetapi rencana keselamatan kembali mencakup sosok-orang yang mengakui Sang Perakit. Puas ajang permulaan di antara mereka ini terdapat umat Muslim, yang, dengan mengaku memegang iman Abraham, bersama-sama dengan kita menyembah Yang mahakuasa nan satu dan penuh belas kasih, yang pada hari terakhir akan menghakimi umat manusia.”[32]

Paragraf 16 dari
Lumen gentium
menyatakan lebih lanjut:

“Allah juga bukan jauh mulai sejak mereka yang dalam bayang-bayang dan angan-angan mengejar Sang pencipta nan tidak dikenal, karena Dialah yang memberi semua sosok nyawa dan nafas serta segala sesuatu, dan seperti yang Juruselamat kehendaki agar semua hamba allah diselamatkan. Mereka lagi dapat memperoleh keselamatan, yang enggak karena kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Injil Kristus ataupun Gereja-Nya, saja secara sungguh-alangkah mencari Allah dan digerakkan oleh kasih berjuang dengan perbuatan mereka untuk melakukan karsa-Nya sebagaimana mereka ketahui melangkaui perintah-perintah hati naluri. Penyelenggaraan Ilahi kembali tidak mengingkari uluran tangan-bantuan yang diperlukan kerjakan keselamatan kerjakan mereka yang, tanpa kesalahan di pihak mereka, belum setakat pada pengetahuan eksplisit akan halnya Allah dan dengan rahmat-Nya berusaha untuk menjalani vitalitas yang baik. Barang apa pun kebaikan atau kebenaran nan ditemukan kerumahtanggaan mereka dipandang oleh Basilika misal persiapan untuk Kabar Baik.”[32]

Bagaimanapun, Yudaisme dan Islam lain dapat dilihat makanya Dom sebagai kepenuhan dalam diri mereka sendirisendiri. Umat Katolik diharapkan memanggil semua orang berkiblat iman Serani, karena pada akhirnya Kristus koteng nan harus menyelamatkan mereka. Sebagai halnya diuraikan sebelumnya, kesahihan apa pun yang ditemukan kerumahtanggaan Yudaisme dan Selam digunakan sebagai “persiapan bikin kabar baik”. Iman Kristen bukan dapat sekadar dilihat pada “hikmat sosok, satu ilmu-semu kedamaian”, sebab “semua orang dipanggil bakal itu dan ditetapkan buat itu” karena mengandung validitas sepenuhnya.[35]
Lumen gentium
menyatakan:

Secara eksplisit, Engkau sendiri [Yesus Kristus] menegaskan perlunya iman serta baptisan dan dengan demikian menegaskan sekali lagi perlunya Gereja, karena melangkahi baptisan, sama begitu juga melampaui sebuah pintu, manusia memasuki Gereja. Oleh risikonya, kali belaka, yang menyadari bahwa Gereja Katolik disyaratkan oleh Kristus, tak mau masuk atau tinggal di dalamnya, tidak dapat diselamatkan.[32]

Dom Katolik berpegang plong peluang akan keselamatan umat non-Kristen dari neraka. Seperti yang dinyatakan Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik
Redemptoris Missio,

“Universalitas keselamatan berfaedah bahwa hal itu diberikan enggak cuma kepada mereka yang secara eksplisit percaya kepada Kristus dan mutakadim memasuki Gereja. Karena ditawarkan kepada semua orang, tersedia secara konkret kerjakan semua khalayak. Cuma jelas bahwa kini, sebagaimana pada masa lampau, banyak orang tidak mempunyai kesempatan bikin mengenal alias menerima petunjuk Injil atau juga memasuki Gereja. Kondisi-kondisi sosial dan budaya tempat mereka terlampau tidak memungkinkan hal ini, dan sering kali mereka dibesarkan dalam tradisi keagamaan lainnya. Bagi orang-sosok seperti demikian keselamatan di internal Kristus dapat diakses karena rahmat nan, biar memiliki suatu afiliasi yang misterius dengan Gereja, tidak membuat mereka secara sahih menjadi bagian mulai sejak Gereja, sahaja menerangi mereka dengan suatu cara yang disediakan sesuai situasi rohani dan jasmani mereka. Hadiah ini dari dari Kristus, adalah hasil pecah Pengurbanan-Nya dan disampaikan oleh Roh Tahir. Ini memungkinkan setiap basyar bakal memperoleh keselamatan melintasi kerja samanya secara bebas.”[36]

Jumlah umat non-Serani nan diselamatkan sahaja diketahui maka dari itu Yang mahakuasa namun dan harus melalui pendamaian Kristus atas dosa-dosa dunia ini—satu pendamaian yang secara partikular disebut “misterius” (penjelasan di atas,
Dominus Iesus
hlm. 21).[34]
Namun demikian, umat Katolik yang telah memperoleh wejangan dalam banyak ensiklik kepausan belakangan ini semoga bukan mengancaikan misi
ad gentes
(kepada umat non-Kristen), karena evangelisasi marcapada non-Masehi tetap merupakan sentra misi Gereja karena dorongan abadi pecah Yesus: “Kali nan percaya dan dibaptis akan diselamatkan, sekadar siapa yang tidak percaya akan dihukum.”(Markus 16:16,
Dominus Iesus
hlm. 21-22[34]). Mereka yang mewartakan selain eksklusivitas Kekristenan andai kepenuhan wahyu Allah dan satu-satunya pendirian bakal diselamatkan, mengajarkan sesuatu yang menentang petunjuk Kristus dan Gereja (Dominus Iesus
hlm. 5-9).[34]

Santo Anselmus

[sunting
|
sunting mata air]

Lain lama sehabis tahun 1100, Anselmus diangkat sebagai paus agung Canterbury dan menulis sebuah risalah klasik tentang penenangan. Di dalamnya ia mengajukan “teori pemenuhan” tentang pendamaian internal keselamatan. Pelanggaran manusia dalam rupa perbangkangan terhadap Sang pencipta merupakan tindakan yang menuntut pembayaran/pelunasan atau pelampiasan. Khalayak yang jatuh tidak gemuk melakukan pemenuhan yang memadai. Doang, kasih Allah sedemikian besar sehingga Allah tidak akan membiarkan manusia menghadapi konsekuensi-konsekuensi pecah dosa-dosanya. Anselmus batik, “Utang ini begitu besar sehingga, meski tiada yang bukan selain turunan yang harus menyelesaikan utang tersebut, tiada nan lain selain Allah yang sanggup melakukannya; maka yang melakukannya harus Yang mahakuasa bersama-sama manusia.” Siksaan Kristus, Allah-manusia yang yaitu putra tunggal Almalik, melunasi utang umat manusia terhadap virginitas Yang mahakuasa, dan akibatnya umat turunan diperdamaikan dengan Allah. Yang mahakuasa menyanggupi kadar manusia pada diri-Nya sendiri sehingga seorang manusia pola dapat berbuat pelepasan sempurna dan dengan demikian memulihkan umat bani adam. Dasar pemikiran Anselmus kelak ditemukan intern Calvinisme dan Arminianisme.[37]

Rukyah Serani Timur

[sunting
|
sunting sendang]

Kekristenan Timur kurang begitu dipengaruhi oleh coretan-tulisan teologis Agustinus bermula Hippo. Mereka mengajukan cak bertanya-pertanyaan farik, dan biasanya adv minim begitu memandang keselamatan kerumahtanggaan istilah-istilah yuridis (seperti grasi dari hukuman), hanya kian privat rupa istilah-istilah terapeutik (penyembuhan berasal penyakit, luka, dll.). Mereka lebih banyak memandang keselamatan dalam konteks pengilahian ataupun
theosis, satu upaya lakukan menjadi zakiah atau mendekat kepada Allah melampaui persatuan dengan Dia dalam kehendak dan ragam bagaikan perpanjangan tangan Halikuljabbar di dunia ini, suatu konsep tradisional yang diajarkan kerumahtanggaan Katedral Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Oriental, dan Katedral Katolik Timur. Ditekankan sekali lagi nubuat tentang grasi.

Katekismus Hierarki berasal Gereja Timur, Katolik, Ortodoks, nan juga dikenal sebagai
Katekismus St. Filaret,[38]
memuat ulah soal dan jawaban sama dengan berikut:

155. Untuk menanam sosok dari apa (Putra Tuhan) datang ke bumi? Dari dosa, kutukan, dan kematian.

208. Bagaimana kematian Yesus Kristus di kayu kayu palang memperlainkan kita dari dosa, kutukan, dan mortalitas? Sebaiknya kita dapat bertambah mudah memercayai mirakel ini, Firman Allah mengajarkan kita tentang peristiwa itu sehingga kita bisa menerima, dengan skala antara Yesus Kristus dengan Adam. Adam berdasarkan qada dan qadar merupakan kepala semua umat makhluk, nan yaitu suatu dengan dia bersendikan keturunan kodrat dari beliau. Yesus Kristus, dalam boleh jadi Ketuhanan disatukan dengan kemanusiaan, secara anggun menjadikan diri-Nya koteng Kepala plonco manusia nan mahakuasa, yang Kamu persatukan dengan diri-Nya sendiri menerobos iman. Oleh sebab itu, karena dalam Lanang kita telah jatuh di sumber akar dosa, kutukan, dan kematian, maka kita dibebaskan bermula dosa, kutukan, dan kematian kerumahtanggaan Yesus Kristus. Penderitaan dan mortalitas-Nya secara sukarela di kayu salib bikin kita, dengan nilai dan jasa yang sonder batas karena kematian satu bani adam yang minus dosa, adalah Sang pencipta dan insan n domestik suatu pribadi, merupakan pemenuhan sempurna bagi kesamarataan Allah, yang telah menghamuni kita karena dosa kepada mortalitas, sekaligus kumulasi jasa sonder batas yang membuat-Nya beroleh kepunyaan, sonder mengurangi keadilan-Nya, bakal memberikan kita orang-orang berdosa grasi atas dosa-dosa kita, dan rahmat cak bagi meraih kemenangan atas dosa dan kematian.

Teologi Masehi Ortodoks Timur mengajarkan rahmat yang mendahului, yang berharga bahwa Allah bermain terlebih dahulu n domestik diri manusia, dan bahwa keselamatan tidak barangkali diperoleh dari niat manusia semata. Cucu adam dikaruniai dengan kehendak independen, dan seseorang bisa menerima ataupun menolak pemberian Almalik. Dengan demikian seorang manusia harus berkarya seperti rahmat Yang mahakuasa agar dapat diselamatkan, dan engkau tidak dapat mengklaim biji apapun atas hal itu, karena setiap kemajuan yang sira untuk hanya dimungkinkan karena rahmat Allah.

Gereja Ortodoks Timur selanjutnya mengajarkan bahwa seorang individu mesti lampau di n domestik Kristus dan memastikan keselamatannya tidak hanya melangkahi karya-karya hadiah, tetapi juga dengan lunak menjalani penderitaan karena bermacam ragam patos, ki kesulitan, kemalangan maupun kegagalan. (Lukas 16:19-31, Markus 8:31-38, Roma 6:3-11, Yahudi 12:1-3, Galatia 6:14).[39]

Pandangan Protestan

[sunting
|
sunting sumber]

Perspektif Kristen Protestan tentang keselamatan adalah bahwa tidak seorang pun dapat memperoleh rahmat Halikuljabbar tersebut dengan melakukan ritual, perbuatan baik, asketisme maupun meditasi, karena hidayah ataupun kasih karunia adalah hasil berpunca inisiatif Allah tanpa mencerca apapun dalam diri makhluk yang memulai jalan hidup. Secara garis besar, umat Protestan berpegang pada panca sola yang dihasilkan dalam Reformasi Protestan, nan menyatakan bahwa keselamatan diraih dengan
rahmat hanya
privat
Kristus saja
menerobos
iman saja
lakukan
Jalal Allah saja
seperti mana disampaikan dalam
Alkitab saja.

Bilang landasan Protestan, sama dengan Lutheran dan Reformed, memahami keadaan ini dalam kepentingan bahwa Almalik mengebumikan namun karena anugerah (rahmat), dan perbuatan yang menyertainya merupakan konsekuensi penting dari anugerah keselamatan. Guri lainnya, seperti Metodis (dan Arminian yang lain), beriktikad bahwa keselamatan yaitu karena iman saja, tetapi keselamatan itu boleh hilang apabila enggak disertai dengan iman nan terus berlanjut dan polah yang secara alami menyertainya. Sebagian besar lingkaran Protestan berkepastian bahwa keselamatan diraih melintasi anugerah Allah namun, dan begitu keselamatan dipastikan dalam diri seseorang, maka perbuatan baik akan dihasilkan darinya, memungkinkan masyhur bagi berkali-kali berfungsi laksana penanda untuk keselamatan. Sebagian boncel Protestan berkeyakinan bahwa keselamatan diraih dengan iman sahaja tanpa merujuk pada perbuatan apapun, termaktub kelakuan nan mungkin lampir keselamatan (lihat teologi Hadiah Bebas).

Keselamatan universal

[sunting
|
sunting sumber]

Kata Mondial dapat diartikan misal mondial, semesta, publik menutupi seluruh dunia. Keselamatan menyeluruh dapat dikatakan keselamatan ke seluruh dunia, atau dengan kata enggak, perluasan keselamatan keluar dari had-batas Israel. Wesley Ariarajah dalam bukunya Injil dan Insan-orang berkepercayaan lain, menyatakan konsep keselamatan nan universal melalui tafsirannya mulai sejak kitab Yunus mengenai kisah Niniwe.[40]
Anda memaparkan bagaimana keselamatan Allah itu dapat dihadirkan kembali kepada orang di asing Israel dan pula orang yang di luar penganut agama Yahudi.[40]
Kitab Yunus mengilustrasikan kemerdekaan Allah yang mutlak atas seluruh ciptaan. N domestik kisah Niniwe, Almalik digambarkan sebagai Allah nan rahami dan mengasihi lebih gemar mengampuni daripada mendamparkan.[41]
Hal yang cak hendak ditekankan internal kitab ini yakni karunia Allah enggak terbatas kepada bangsa atau manusia-insan tertentu. Kota dan bani adam-cucu adam asing ini sepadan-proporsional dipedulikan Allah seperti Israel dan Yerusalem. Doa dan petobatan mereka setimpal-sama didengar seperti doa dan pertobatan cucu adam lain. Almalik memberlakukan Niniwe dengan kasih belas kasih yang intern.

Dalam Perjanjian Lama

[sunting
|
sunting sumber]

Keselamatan kerumahtanggaan Perjanjian Lama ada berdasarkan pemenuhan Hukum Taurat.Selain itu, ada pula berdasarkan iman dan rahmat Halikuljabbar.[42]
Sejarah umat Israel bisa dikatakan ibarat sejarah anugerah di mana Allah mengidas Israel serta setia menjaga perjanjian-Nya meskipun Israel comar mana tahu main-main bejat di penghadapan Almalik.[41]
Tema mengenai grasi (Maz 130: 3-4) dan iman laksana respon ketika manusia menyepakati anugerah Halikuljabbar pula terdapat di dalam PL (Hab 2: 4).Intern bahasa Ibrani kata berkeyakinan adalah‘mn. Kata ini dapat juga diartikan sebagai percaya dengan mantap dan boleh diandalkan. Selain itu terdapat lagi kata yang cukup penting yaitu tsedaqa yang berarti validitas. Kata tersebut memiliki gagasan dasar yaitu kesesuaian antara barang apa nan dilakukan cucu adam menurut penilaian Allah. Hal tersebut berkaitan dengan pendirian kehidupan, main-main dan beraksi benar di hadapan Allah.

Dalam Perjanjian Baru

[sunting
|
sunting sumber]

Kerumahtanggaan Perjanjian Baru tema keselamatan merupakan keseleo suatu yang menonjol terutama dalam tulisan-tulisan Paulus. Yesus intern pengajarannya mengecam bahwa seseorang bisa membenarkan dirinya seorang.[43]
Misalnya sekadar n domestik Lukas 18:9-14 tentang orang farisi dan pemungut cukai dan Lukas 16:15 mengenai manusia farisi yang merasa diri moralistis akibat perbuatannya.[43]
Yesus sangat mengasakan agar sosok boleh mencari kebenaran saja tidak dengan usaha sendiri.[43]
Pembenaran itu dicapai melalui pertobatan di intern kerendahan hati.[44]
Paulus pula habis merentang pemahaman bahwa seseorang diselamatkan karena perbuatannya.[44]
Paulus menolak kognisi bahwa seseorang boleh diselamatkan melangkaui Hukum Taurat dan tradisi-tradisinya (potong kulup, kurban, dan sebagainya.Dalam bahasa Ibrani kata keabsahan adalah sedaqa, dapat pula berarti kelepasan.Terjemahan kebenaran dalam konsep Yahudi ke kerumahtanggaan PB yaitu dikaiosune. Dari sisi manusia dikaiousune yaitu tindakan basyar yang sesuai dengan kehendak Yang mahakuasa sedangkan berasal sisi Almalik merupakan tindakan Yang mahakuasa nan membenarkan insan. Menurut Paulus kebenaran Allah yaitu prinsip Sang pencipta lakukan membiji manusia. Legalitas itu hendaknya adalah “status pribadi”. Nasion-nasion non Yahudi memperoleh kesahihan walaupun mereka tidak mengejarnya sedangkan bangsa Israel bukan. Kejadian ini terjadi karena bangsa Israel berburu kebenaran itu melalui perbuatan bukan melintasi iman.

Perbandingan

[sunting
|
sunting mata air]

Teologi keselamatan privat Arminianisme (dari Jacobus Arminius) dikenal dengan etiket doktrin Arminian. Kelima muslihat ajaran Calvinisme yang naik daun dengan singkatannya dalam bahasa Inggris “T U L I P” yaitu tanggapan atas doktrin Arminian.

Tabel berikut ini merangkum pandangan klasik dari tiga keyakinan Protestan mengenai keselamatan.[45]

Topik Lutheranisme Calvinisme Arminianisme
Karsa manusia/
Niat bebas
Kebinasaan besaran minus punya kehendak bebas Kerusakan total dan dalam natur manusia mempunyai karsa bebas[46] Manusia memiliki kehendak bebas bagi memilih yang baik dan yang jahat
Doktrin pemilahan/
Bilangan
Pemilihan tanpa syarat doang cak bagi keselamatan Pemilihan sonder syarat baik bagi keselamatan maupun bikin penghukuman Pemilahan dengan syarat didasarkan puas iman dan widita manusia yang sudah diketahui Allah sebelumnya.
Pembenaran/Penebusan Penebusan cak bagi semua manusia mutakadim selesai detik Kristus mati. Penebusan minus hanya pada umat pilihan Almalik, sudah selesai ketika Kristus mati. Pembenaran dimungkinkan buat semua makhluk (penebusan universal), tetapi hanya terjadi ketika seseorang memanfaatkannya/menentukan pilihan yang didasarkan oleh imannya. Semua umat manusia mempunyai kebolehjadian untuk boleh ditebus sebagai akibat dari karier Kristus di kayu kayu silang.
Jalan hidup Roh Ceria/
Anugerah keselamatan
Menerobos cara-pendirian menerima kasih Allah, keselamatan dapat ditolak Tanpa melangkahi prinsip apa lagi, keselamatan tidak dapat ditolak Mencantol kasih niat netral dan oleh karena itu boleh ditolak; pekerjaan Kehidupan Kudus cacat, sebab Dia memanggil cucu adam bagi netral memilih bertobat dan manusia bisa menolaknya.
Perlindungan Insan percaya boleh jatuh, tetapi Tuhan memberi jaminan preservasi Keseriusan orang-orang kudus, sekali diselamatkan, akan tetap selamat Individu percaya dilindungi imannya maka itu Allah sahaja n kepunyaan prospek kehilangan anugerah Almalik tersebut.

Lihat sekali lagi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Dosa (Kristen)
  • Dosa pangkal
  • Eklesiologi
  • Extra Ecclesiam nulla salus
  • Pandai Selamat
  • Arwah kekal (Kekristenan)
  • Kristologi
  • Pembenaran (dogma)
  • Pembayar (Kekristenan)

Wacana

[sunting
|
sunting sendang]


  1. ^


    (Inggris)
    “The saving of the soul; the deliverance from sin and its consequences”
    Oxford English Dictionary
    2nd ed. 1989.

  2. ^


    (Inggris)
    “Christian Doctrines of Salvation.” Religion facts. June 20, 2009. http://www.religionfacts.com/christianity/beliefs/salvation.htm Diarsipkan 2022-04-01 di Wayback Machine.

  3. ^


    (Inggris)
    Newman, Jay.
    Foundations of religious tolerance.
    University of Toronto Press, 1982. ISBN 0-8020-5591-5

  4. ^


    (Inggris)
    Parry, Robin A.
    Mondial salvation? The Current Debate.
    Wm. B. Eerdmans Publishing, 2004. ISBN 0-8028-2764-0

  5. ^


    (Inggris)
    Min, Anselm Kyongsuk.
    Dialectic of Salvation: Issues in Theology of Liberation.
    Albany, Kaki langit.Y.: State University of New York Press, 1989. ISBN 978-0-88706-908-6

  6. ^


    (Inggris)
    A. J. Wallace and R. D. Rusk,
    Moral Transformation: The Original Christian Paradigm of Salvation
    (New Zealand: Bridgehead, 2022), pp. 249-295.

  7. ^


    (Inggris)
    A. J. Wallace, R. D. Rusk,
    Moral Transformation: The Original Christian Paradigm of Salvation
    (New Zealand: Bridgehead, 2022), pp 249-271.

  8. ^


    (Inggris)
    Hastings Rashdall,
    The Idea of Atonement in Christian Theology
    (London: Macmillian, 1919), pp 190-292.

  9. ^


    (Inggris)
    Robert S. Franks,
    A history of the doctrine of the work of Christ in its ecclesiastical development
    vol. 1 (London: Hodder and Stoughton), p. 14: ‘The above point of view of the Apostolic Fathers may be generally described as a Christian moralism.’.

  10. ^


    (Inggris)
    Michael Green,
    The Empty Cross of Jesus
    (Eastbourne: Kingsway, 2004; first published 1984), pp. 64-5: ‘The simplest and most obvious understanding of the cross is to see it as the supreme example. … This is a favourite theme in the early Fathers, as H.E.W. Turner showed in
    The Patristic Doctrine of Redemption. … It can scarcely be denied that much of the second century understanding of the cross was frankly exemplarist.’

  11. ^


    (Inggris)
    J. F. Bethune-Baker,
    An introduction to the early history of Christian doctrine to the time of the Council of Chalcedon
    (London: Methuen & Co, 1903), pp. 351-2: ‘From this review of the teaching of the Church it will be seen that… in the earliest centuries… the main thought is that man is reconciled to God by the Atonement, not God to man. The change, that is, which it effects is a change in man rather than a change in God. It is God’s unchangeable love for mankind that prompts the Atonement itself, is the cause of it, and ultimately determines the method by which it is effected.’

  12. ^


    (Inggris)
    For a recent defence of the tata susila transformation view, see A. J. Wallace, R. D. Rusk,
    Moral Transformation: The Original Christian Paradigm of Salvation
    (New Zealand: Bridgehead, 2022).

  13. ^


    (Inggris)
    Eusebius,
    Proof of the Gospel, 9.7.

  14. ^


    (Inggris)
    H. E. W. Turner, The Patristic Doctrine of Redemption: A Study of the Development of Doctrine During the First Five Centuries (Eugene, OR: Wipf & Stock Publish-ers, 2004), p. 54.

  15. ^


    (Inggris)
    A. J. Wallace, R. D. Rusk
    Moral Transformation: The Original Christian Paradigm of Salvation, (New Zealand: Bridgehead, 2022) ISBN 978-1-4563-8980-2

  16. ^


    (Inggris)
    David. A. Brondos,
    Paul on the Cross: Reconstructing the Apostle’s Story of Redemption
    (Minneapolis, MN: Fortress Press, 2006) ISBN 978-0-8006-3788-0

  17. ^


    (Inggris)
    Stephen Finlan,
    Problems With Atonement: The Origins Of, And Controversy About, The Atonement Doctrine
    (Liturgical Press, 2005) ISBN 978-0-8146-5220-6

  18. ^


    (Inggris)
    Joel B. Green, Mark D. Baker,
    Recovering the Scandal of the Cross: Atonement in New Testament & Contemporary Contexts
    (IVP Academic, 2000) ISBN 978-0-8308-1571-5

  19. ^


    (Inggris)
    “Solemni Hac Liturgia (Credo of the People of God) (June 30, 1968) – Paul VI”.




  20. ^


    (Inggris)
    “Catechism of the Catholic Church – God’s salvation: law and grace”.




  21. ^


    (Inggris)
    “Catechism of the Catholic Church – Grace and justification”.




  22. ^


    (Inggris)
    Pope John Paul II. General Audience 31 May 1995

  23. ^


    (Inggris)
    “Nostra aetate”.




  24. ^


    (Inggris)
    “Paragraph 1992”,
    Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2022,
    Justification is conferred in Baptism, the sacrament of faith.





  25. ^


    (Inggris)
    Pohle, Joseph. “The Catholic Encyclopedia”.
    Sanctifying Grace. New Advent. Diakses copot
    21 April
    2022
    .





  26. ^


    (Inggris)
    “Catechism of the Catholic Church”.




  27. ^


    (Inggris)
    “Unitatis redintegratio”.




  28. ^


    (Inggris)
    Church, Catholic. “The Council of Trent”.




  29. ^


    (Inggris)
    “The Council of Trent Session 7”.




  30. ^


    (Inggris)
    “CCC – PART 1 SECTION 2 CHAPTER 3 ARTICLE 9 PARAGRAPH 3”.




  31. ^


    (Inggris)
    “Paragraph 1019”,
    Catechism of the Catholic Church, Second Edition, Libreria Editrice Vaticana, 2022




  32. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    (Inggris)
    “Lumen gentium”.




  33. ^


    (Inggris)
    “Unitatis Redintegratio”.
    Second Vatican Council. Vatican. Diakses copot
    21 April
    2022
    .




  34. ^


    a




    b




    c




    d




    (Inggris)
    “Dominus Iesus”. hlm. 7.




  35. ^


    (Inggris)
    “Redemptoris Missio (7 December 1990) – John Paul II”.




  36. ^


    (Inggris)
    Redemptoris mission paragraph 10

  37. ^

    Kesalahan pemungutan: Tag
    <ref>
    tidak protokoler; tidak ditemukan wacana bikin ref bernama
    Placher

  38. ^


    (Inggris)
    “The Longer Catechism of the Orthodox, Catholic, Eastern Church”. Diakses tanggal
    14 Feb
    2009
    .





  39. ^


    (Inggris)
    “struggler.org”.



  40. ^


    a




    b




    (Indonesia)
    Ariarajah Wesley.

    Injil orang-orang yang berkepercayaan lain
    . 2009 . . Jakarta: BPK Gunung Mulia..
  41. ^


    a




    b




    (Inggris)EA Martins.

    Plot and purpose in the old testament
    . 1981. . USA: Varsity press.

  42. ^


    (Indonesia)Yonky Karman.

    Bunga rampai teologi perjanjian lama
    . 2009. Jakarta: BPK Gunung Indah
  43. ^


    a




    b




    c




    (Indonesia)Bambang Subandrijo.
    Menyingkap pesan-pesan perjanjian baru 1. 2010.. Bandung: Bina Alat angkut Laporan.
  44. ^


    a




    b




    (Indonesia)Donald Guthrie.

    Teologi perjanjian baru 2: Keselamatan dan roh baru
    . 1992. Jakarta: BPK Ardi Mulia

  45. ^

    Table drawn from, though not copied, from Lange, Lyle W.
    God So Loved the Word: A Study of Christian Doctrine. Milwaukee: Northwestern Publishing House, 2006. p. 448.

  46. ^


    Williamson, Gerald Irvin (G. I.) (2012).
    Pengakuan iman Westminster. Surabaya: Momentum Christian Literature. hlm. 130–133. ISBN 978-979-8131-23-3.




Teks lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Inggris)
    Atkin, James.
    The Salvation Controversy. San Diego, Calif.: Catholic Answers, 2001. ISBN 1-888992-18-2
  • (Inggris)
    Jackson, Gregory Lee.
    Justification by Faith: Luther versus the U.O.J. [i.e. “Universal Objective Justification” Lutheran] Pietists. [Glendale, Ariz.]: Martin Chemnitz Press, 2022. ISBN 978-0-557-66008-7
  • (Inggris)
    Lutheran World Federation and Roman Catholic Church.
    Joint Declaration on the Doctrine of Justification. English language ed. Grand Rapids, Mich.: W. B. Eerdmans Publishing Co., 2000. ISBN 978-0-8028-4774-4

Pranala luar

[sunting
|
sunting sendang]

  • (Inggris)
    Salvation- Catholic encyclopaedia
  • (Inggris)
    Wikisource-logo.svgPohle, Joseph (1913). “Controversies on Grace”. Intern Herbermann, Charles.
    Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company.



Templat:Dogma Masehi



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Keselamatan_%28Kristen%29