Khotbah Yeremia 17 7 8

Ibarat pohon yang enggak gabungan layu pada musim tandus, demikianlah umur insan percaya di tengah tantangan dan pergumulan. Tidak saja sekedar tetap hidup, tetap eksis tapi juga terus berhasil. Untuk memiliki kualitas dan nyawa begitu juga itu, Yeremia menyampaikan bagi Israel pula kita agar mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada Tuhan. Berbicara akan halnya harapan, setiap orang karuan mempunyai maksud. Pamrih buat menemukan jodoh, pamrih moga sembuh kala remai, harapan untuk memperoleh pencahanan, pokoknya banyak harapan nan kita inginkan.

Harapanlah yang membuat kita dapat bertahan n domestik situasi yang paling buruk sekalipun. Seseorang nan terkatungkatung dan hanyut dilaut, tanpa makan dia masih bisa bertahan beberapa hari. Minus menenggak dapat bertahan sejumlah jam. Saja tanpa harapan maka semua usaha akan mansukh. Harapan membagi energi konkret bagi hati, perasaan dan semangat. Tanpa maksud kita hanya mengawasi kesulitan, masalah dan permasalahan melulu. Tapi dengan tujuan kita dapat mengintai probabilitas. Tanpa harapan kita sahaja akan meratapi, berang, bersungut terlebih menyambat dengan permasalahan tapi dengan tujuan kita berharta menemukan makna dan pelajaran dibalik persoalan.

Waktu ini kita beribadah, berjumpa dengan Sang pencipta dan bersyukur karena kita punya harapan di dalam Allah. Harapan bahwa besok kita akan berjumpa dengan makhluk nan kita kasihi yang telah pergi mendahului kita. Harapan yang membuat kita bernas bersyukur sehingga peristiwa kematian yang mengakibatkan dukacita dan kesedihan, tak membuat kita kecewa dan pergi Yang mahakuasa tapi justru membuat kita makin setia dan mengasihi Yang mahakuasa. Intensi di n domestik Almalik memampukan kita lakukan cundang segala kekhawatiran
dan kesedihan sepeninggal orang yang kita kasihi.

Saudaraku, ayat bacaan kita yaitu sebuah nubuat harapan bagi Israel. Yeremia menubuatkan sungguh pentingnya mengedrop harapan pada Tuhan dan mengandalkan kuasa Tuhan. Masa itu, Imperium Yehuda (Israel Kidul) sedang menghadapi gaham dari Mesir dan Babel. Di tengah ancaman itu jika Israel mengandalkan orang atau kekuatan sekutu dengan bangsa lain maka mereka akan hancur. Justru sekiranya Israel meninggalkan Sang pencipta dan berpaling dari Allah. Dalam keadaan menghadapi tekanan dan bahaya. Israel memang getas tapi di dalam Tuhan mereka akan awet. Puas karenanya, dalam sejarah Israel ternyata mereka melembarkan bersahabat dengan Asyur. Mereka mencari pertolongan di luar Tuhan. Mereka gagal dalam hal setia dan taat. Nan terjadi adalah mereka ditaklukan makanya Babel.

Belajar dari spirit Israel dan nubuat Yeremia, maka batih besar dan persekutuan sewaktu diingatkan: Mula-mula, Tuhan mengaruniai orang nan mengandalkan Tuhan. Mengandalkan Tuhan berfaedah melibatkan Allah dalam setiap proses nyawa, beriktikad sreg prinsip dan waktu Almalik kerjakan menyatakan pertolonganNya. Makara tidak mengamalkan sesuatu menurut kehendak sendiri. Enggak menempuh cara – kaidah yang bertentangan dengan niat Halikuljabbar

Kedua, Allah memberkati anak adam nan berambisi padaNya. Berharap berharga konstan optimis, bagaimanapun juga situasi jiwa yang terjadi. Ketiga, bakal orang nan mengandalkan Almalik dan berambisi kepada Tuhan maka hidupnya mumbung berkat yang bukan berkesudahan. Tuhan tidak hanya memberi berkat tapi juga menjadikan kita sebagai saluran berbintang terang. Ibarat tanaman yang ditanam di tepi aliran air lain belaka terus berbuah bakal dirinya sendiri tapi buah itu boleh dinikmati oleh turunan bukan.

Marilah bersyukur dengan mengandalkan Halikuljabbar dan memangkalkan pengharapan hanya pada Almalik. Hidup bersyukur yakni hidup berkelimpahan berkat, karena berkat Tuhan tidak hanya kita ukur dari apa yang kita miliki tapi juga berpunca sebongkah rayuan yang merintangi jalan-jalan kita. Bagi orang yang majuh bersyukur, setiap jalan adalah urut-urutan Tuhan. Entah itu terjal berbatu, jurang curam, atau tebing mendaki, bahkan urut-urutan yang lurus sekali pula. Jalanilah hidup dengan iman dan bersyukurlah senantiasa. Amin. Almalik memberkati.

Source: https://www.diana-pesireron.com/2021/02/renungan-penghiburan-40-hari-berharap.html