Klorin Dan Kaporit Apakah Sama

MENGENAL LEBIH DEKAT: DESINFEKTAN KLORIN


MENGENAL Lebih DEKAT: DESINFEKTAN KLORIN

Posted by Widiantoko, R.K

Hasil gambar untuk bahaya residu klorin

Klorin banyak digunakan dalam pengolahan air asli dan air limbah ibarat Oksidator dan desinfektan. Misal oksidator, klorin digunakan bakal mengademkan bau dan rasa sreg pengolahan air zakiah. Bagi mengoksidasi Fe(II) dan Mn(II) nan banyak terkandung internal air lahan menjadi Fe(III) dan Mn(III).

Yang dimaksud dengan klorin tidak hanya Cl2 semata-mata akan tetapi termasuk pula bersut hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl-), juga bilang spesies kloramin seperti monokloramin (NH2Cl) dan dikloramin (NHCl2) termasuk di dalamnya. Klorin dapat diperoleh berpokok gas Cl2 atau dari garam-garam NaOCl dan Ca(OCl)2. Kloramin terbentuk karena adanya reaksi antara amoniak (NH3) baik anorganik maupun organik aminoak di dalam air dengan klorin.

Bentuk desinfektan nan ditambahkan akan mempengaruhi kualitas yang didesinfeksi. Penambahan klorin intern bentuk tabun akan menyebabkan turunnya pH air, karena terjadi pembentukan bersut kuat. Akan tetapi penambahan klorin dalam kerangka natrium hipoklorit akan menaikkan alkalinitas air tersebut sehingga pH akan bertambah raksasa. Sementara itu kalsium hipoklorit akan memanjatkan pH dan kesadahan jumlah air yang didesinfeksi.

Kaporit ialah sintesis kimia ( CaOCl2 ), yg pada kadar jenjang bersifat korosif. Pada prosentase rendah bisa digunakan misal penjernih air, pemutih pakaian, membunuh jentik, disinfektan.


Dampak Merusak Klorin Kerjakan Kesehatan Tubuh


Klorin, khlorin atau
chlorine
merupakan bahan penting yang digunakan intern proses khlorinasi. Sudah umum pula bahwa khlorinasi yakni proses utama internal proses penghilangan kuman keburukan air ledeng, air bersih atau air meneguk yang digunakan oleh masyarakat. Proses khlorinasi terlampau efektif untuk menghilangkan kuman ki kesulitan terutama privat pendayagunaan air ledeng. Doang dibalik kefektifannya klorin juga bisa berbahaya bagi kesehatan. Orang nan meminum air nan mengandung klorin punya kemungkinan lebih besar bikin kejangkitan kanker kandung kemih, dubur atau kolon. Sedangkan bagi wanita hamil dapat menyebabkan melahirkan bayi cacat dengan kebobrokan otak atau urat saraf lemak tulang birit, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur alias sampai-sampai boleh mengalami keguguran tembolok. Selain itu puas hasil studi sekuritas klorin pada binatang ditemukan pula kebolehjadian kerusakan ginjal dan hati.

Tabun klor yang mudah dikenal karena baunya yang khusus itu, berwatak merangsang (iritasi terhadap selaput lender pada mata atau conjunctiva), gendang-gendang lender indra, selaput lender tenggorok, tali suara dan paru-paru. Menghisap gas klor dalam sentralisasi 1000 ppm dapat menyebabkan kematian mendadak di ajang. Turunan nan menarik gas klor akan merasakan guncangan maupun rasa panas dan pedih lega tenggorokan. Hal ini disebabkan kontrol rangsangan atau iritasi terhadap epidermis lender (mucus membrane) yang menimbulkan bintik-noktah kering (kosong) yang terasa pedih, panas, hari menyedot napas terasa linu dan runyam bernapas. Waktu bernapas terdengar kritik desing seperti penderita asma atau broncristis (Adiwisastra, 1989).

Klorin, baik n domestik bentuk gas alias cairan bernas mengakibatkan luka nan permanen, terutama kematian. Sreg umumnya luka permanen terjadi disebakan makanya asap gas klorin. Klorin sangat potensial buat terjadinya kelainan di kerongkongan, alat pencium dan tract respiratory (terusan kerongkongan di hampir paru-paru). Klorin juga dapat membahayakan sistem pemafasan terutama bakal anak-anak asuh dan orang dewasa. Dalam wujud tabun, klor merusak membran mukus dan dalam wujud cair bisa menggagalkan jangat. Tingkat klorida cerbak jungkat-jungkit bersama dengan tingkat natrium. Ini karena natrium klorida, atau garam, ialah episode terdahulu privat bakat. Ada beberapa jalur pemajanan klorin pada tubuh yang bersifat akut, yaitu (U.S. Department Of Health And Human Services, 2007)

  • Pernafasan

Pemajanan klorin lega konsentrasi rendah (1-10 ppm) dapat menyebabkan iritasi ain dan hidung, linu tenggorokan dan batuk. Meruntun gas klorin dalam sentralisasi nan lebih panjang (>15 ppm) dapat dengan cepat membahayakan saluran pernafasan dengan rasa terlalu di dada dan terjadinya penimbunan cairan di alat pernapasan (edema paru-paru).

  • Kardiovaskular

Tachycardia dan lega awalnya hipertensi diikuti dengan hipotensi bisa terjadi. Pasca- pemajanan yang berat, maka jantung akan mengalami penyempitan akibat kekurangan oksigen.

  • Metabolisme

Asidosis terjadi akibat kadar oksigen nan tidak mencukupi dalam jaringan. Kelainan berat akibat menghirup klorin dalam takdir yang besar yaitu mengaibatkan terjadinya kemujaraban ion klorida di dalam talenta, menyebabkan ketidakseimbangan asam. Anak-momongan akan makin mudah diserang makanya zat toksik yang tentunya dapat mengganggu proses metabolisme dalam tubuh.

  • Selerang

Kulit Iritasi klorin pada kulit dapat menyebabkan rasa tutung, peradangan dan melepuh. Pemajanan cairan klorin bisa menyebabkan peradangan akibat master dingin.Cerminan klorin menyebabkan cukup respon, yaitu kulit tertumbuk pandangan kering dan timbul calit coklat, akandosis, edema intraepitel, hiper keraosis dan interniran- penjara epitel atipikal terpandang di epidermis. Nixon et al. (1975) dalam U.S. Department of health and human services melaporkan bahwa noda pemutih yang mengandung natrium hipoklorit 5,25%, dan pH 10,7 puas selerang manusia selama 4 jam itu dapat menyebabkan gangguan.

  • Mata

Konsentrasi rendah di udara dapat menyebabkan rasa terbakar, mata berkedip bukan teratur atau kelopak mata mengerudungi sonder sengaja atau di luar kedahagaan, konjugtivitis. Komea mata hangus dapat ter adi pada konsentrasi yang tangga.

  • Jalur pencernaan

Hancuran klorin nan dihasilkan dalam bentuk cairan sodium hipoklorit boleh menyebabkan jejas yang korosif apabila tertelan. Akibat-akibat akut bagi paser pendek adalah. (MacDougall, 1994).

Sekuritas toksik klorin yang terutama adalah sifat korosifnya. Kemampuan oksidasi klorin sangat kuat, dimana di n domestik air klorin akan melepaskan oksigen dan hidrogen klorida yang menyebabkan kebinasaan jaringan. Andai altematif, klorin dirubah menjadi bersut hipoklorit yang bisa menembus kurungan dan bereaksi dengan protein sitoplasmik nan dapat merusak struktur rumah tahanan (U.S. Department Of Health And Human Services, 2007).

Mandu penanganan seandainya terpapar bahaya klorin :

  • Terhirup

Bila lega dada memasuki area, segera pindahkan bersumber area pemaparan, Bila terbiasa gunakan masker berkatup ataupun fotosintesis penyelamatan. Jaga teguh suam dan tetap mengadem. Segera dukung kerumah lindu

  • Pertalian dengan jangat

Buru-buru tanggalkan gaun, perhiasan dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci dengan sabun maupun detergen ringan dan air. Kerumahtanggaan besaran nan banyak setakat dipastikan tidak ada bahan kimia nan tertinggal (selama 15-20menit). Cak bagi luka bakar, tutp area nan melenggong dengan kejai kassa steril, sangar dan longgar.

  • Kontak dengan mata

Segera cuci ain dengan air yang banyak atau dengan larutan garam normal (NaCl 0,9%), selama 30 menit, atau sekurangnya satu liter untuk setiap indra penglihatan dan dengan kadang kala mendedahkan kelopak alat penglihatan atas dan bawah sampai dipastikan tak ada kembali target kimia nan tertinggal. Tutup dengan perban steril.

  • Tertelan

Sekiranya pasien dapat menggasak, taajul berikan air untuk diminum untuk melarutkan isi lambung. Jangan sewaktu-waktu merangsang muntah atau member minum bagi pasien yang tidak sadar. Bila terjadi muntah, jaga agar kepala kian rendah daripada punggul lakukan mencegah aspirasi. Bila target pingsang miringkan kepala mengarah kesamping.

  • Jika ada kejang

Jika ada kejang serah diazepam dengan dosis :Dewasa : 10-20 mg dengan kecepatan 2,5 mg/30 detik atau 0,5 ml/30 menit. Sekiranya perlu dosis ini bisa diulang setelah 30-60 menit.Anak-anak : 200-300 µg/kg BB


Fungsi Klorin Sebagai Disinfektan


Air dapat merupakan medium pengusung mikrob patogenik yang dapat berbahaya cak bagi kesehatan. Patogen nan cinta ditemukan di privat air terutama adalah basil-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti
Vibrio cholera
penyebab penyakit kolera,
shigella dysentereae
penyebab disentri basiler,
salmonella typhosa
penyebab tifus dan
S. Paratyphy
penyebab paratifus, virus polio dan hepatitis. Buat mencegah penyerantaan penyakit melalui air, maka bibit penyakit patogen di dalam air harus dihilangkan dengan proses disinfeksi.

Kegunaan disinfeksi lega air adalah buat mereduksi konsentrasi basil secara umum dan menyejukkan patogen patogen. Penghilangan kuman patogen tersebut terutama harus bermartabat-ter-hormat dilakukan untuk air yang akan diminum bagi mencegah timbulnya penyakit. Program disinfeksi ini telah digunakan secara luas sejak tadinya tahun 1900 kerjakan menangani air yang akan digunakan secara luas.

Mikroba n domestik kejadian ini bakteri patogen pada lazimnya boleh bertahan selama beberapa hari tersampir juga dari kondisi lingkungannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi ketahanan tersebut antara lain pH, temperatur, gizi yang tersedia, kompetisinya dengan bibit penyakit tak, kemampuan membentuk spora dan ketahanannya terhadap senyawa penghambat. Sedangkan kemampuannya bagi menyebabkan masalah antara lain ditentukan maka itu konsentrasi, virulensi dan resistensi.

Kian dari 50% bakteri patogen didalam air yang akan mati internal periode 2 waktu dan 90% akan senyap plong pengunci 1 minggu. Oleh karena itu, waduk-waduk garis tengah sesungguhnya cukup efektif bagi menyelesaikan bakteri. Meskipun demikian, sejumlah diversifikasi patogen siapa tunak hidup selama 2 tahun bertambah, karena itu dibutuhkan disinfeksi. Klorin teerbukti merupakan disinfektan yang sempurna. Bila dimasukkan kedalam air akan mempunyai pengruh yang buru-buru akn membinasakan biasanya individu mikroskopis.

Pemanfaatan awahama boleh mengatasi basil patogen nan spesifik. Metode desinfeksi sudah dikenal secara luas. Disinfeksi dapat dilakukan antara tak dengan berbagai metode dan bahan kimia seperti dengan klorin, yodium, udara murni, senyawa amonium kuarterner dan lampu ultraungu. Bersendikan perhitungan ekonomi, efisiensi dan kemudahan penggunaanya maka penggunaan klorin ialah metode yang paling umum digunakan.


Klorinasi


Klorinasi merupakan disinfeksi nan minimum awam digunakan. Klorin yang digunakan dapat maujud bubuk, larutan ataupun tablet.
Bubuk klorin biasanya berisi kalsium hipoklorit, sedangkan cair klorin kebal natrium hipoklorit. Disinfeksi yang menggunakan gas klorin disebut perumpamaan klorinasi. Korban klorinasi terhadap air minum adalah pemberantasan bakteri menerobos germisidal terbit klorin terhadap bekteri.

Bermacam-macam zat ilmu pisah seprti ozon (O3), klor (Cl2), klordioksida (ClO2), dan proses tubuh seperti iradiasi sinar ultraviolet, pemanasan dan tak-lain, digunakan sebagai disinfeksi air. Dari bermacam-macam zat kimia diatas , klor adalah zat kimia yang cinta dipakai karena harganya murah dan masih mempunyai daya disinfeksi sebatas beberapa jam setelah pembubuhannya yaitu yang disebut sebagai pungkur klorin (Alaerts, 1984).

Klor berusul berusul gas klor Cl2, NaOCl, Ca(OCl2) (kaporit), atau larutan HOCl (asam hipoklorit).Breakpoint chlorination
(klorinasi noktah retak) adalah jumlah klor nan dibutuhkan sehingga:

 semua zat yang bisa dioksidasi teroksidasi

 amoniak hilang perumpamaan gas N2

 masih cak semau berak klor aktif terlarut yang konsentrasinya dianggap perlu untuk pembasmi kuman-kuman.

Klorin sering digunakan sebagai disinfektan cak bagi menyabarkan mikrob yang tidak dibutuhkan, terutama bagi air nan diperuntukkan bagi kepentingan lokal. Bilang alasan yang menyebabkan klorin sering digunakan sebagai disinfektan adalah umpama berikut:

1. Dapat dikemas dalam bentuk gas, larutan, dan bubuk.

2. Nisbi murah.

3. Memiliki buku larut yang tinggi serta boleh sagu belanda pada kadar yang pangkat (7000mg/l).

4. Geladir klorin dalam bentuk cairan tidak berbahaya bagi orang, kalau terdapat privat kadar nan tak berlebihan.

5. Bersifat sangat toksik cak bagi mikroorganisme, dengan cara menghambat aktivitas metabolisme mikroorganisme tersebut.

Proses penambahan klor dikenal dengan istilah klorinasi. Klorin yang digunakan sebagai disinfektan merupakan gas klor yang berupa partikel klor (Cl2) atau zat kapur hipoklorit [Ca(OCl2)]. Saja, penambahan klor secara kurang tepat akan menimbulkan bau dan rasa pahit.

Lega proses klorinasi, sebelum bertindak sebagai disinfektan, klorin nan ditambahkan akan bertindak sebagai oksidator, sebagai halnya persamaan reaksi :

H2S + 4 Cl2 + 4 H2O → H2SO4 + 8 HCl

Takdirnya kebutuhan klorin lakukan mengoksidasi beberapa senyawa kimia perairan sudah terwujud, klorin yang ditambahkan akan berperan sebagai disinfektan. Asap klor bereaksi dengan air menurut persamaan:

Jika diperairan bukan terdapat amoniak:

Cl2 + H2O → HCl + HOCl

    V    V

H+ + Cl- H+ +ClO-

(sempelah bebas)

Jika di perairan terdapat amonia:

NH4+ + HClO → NH2Cl + H2O + H+

Monokloramin

NH2Cl + HClO→ NHCl2 + H2O

Dikloramin

NHCl2 + HClO→ NCl3 + H2O

Nitrogen triklorida

Reaksi kesetimbangan sangat dipengaruhi oleh pH. Pada pH 2, klor berada intern bentuk klorin (Cl2); pada pH 2-7 , klor kebanyakan terdapat dalam rancangan HOCl; sedangkan pada pH 7,4 klor tidak sahaja terdapat intern bentuk HOCl tetapi juga dalam bentuk ion OCl-. Pada bilangan klor terbatas dari 1.000 mg/l, semua klor berada dalam lembaga ion klorida (Cl-) dan hipoklorit (HOCl) ,maupun terdisosiasi menjadi H+ dan OCl-.

Beberapa daerah tingkat besar menyadari bahwa makin ekonomis dan aman bakal mempergunakan kalsium hipoklorit andai disinfektan. Korban kimia ini bereaksi dengan air untuk mengkhususkan hipoklorit. Kuantitas klorin yang dibutuhkan terampai lega jumlah bahan organik dan anorganik nan berkurang di kerumahtanggaan air. Secara umum kebanyakan air akan mengalami disinfeksi patut baik bila residu klorin bebas sebanyak 0,2mg/l diperoleh setelah klorinasi selama 10 menit. Residu nan bertambah besar dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, sementara itu yang lebih mungil tidak boleh menghilangkan bibit penyakit pada air. Klorin akan sangat efektif bila pH air sedikit, bila persediaan air mengandung fenol, penambahan klorin ke air akan mengakibatkan rasa yang tekor lezat akibat pembentukan senyawa-sintesis klorofenol. Rasa ini dapat dihilangkan dengan menambahkan amoniak ke air sebelum klorinasi. Campuran klorin dan amoniak membentuk kloroamin, yang merupakan disinfektan nan nisbi baik, kendatipun enggak seselektif hipoklorit. Kloramin bukan bereaksi dengan cepat, sekadar bekerja terus cak bagi waktu yang lama. Karene itu, loklok disinfeksinya boleh berlanjut jauh kedalam jaringan rotasi.

Kebutuhan klorin maupun
chlorine demand
buat proses disinfeksi tergantung pada bilang faktor. Klorin adalah adalah oksidator dan akan bereaksi dengan beberapa onderdil termuat komponen organik plong air. Faktor nan mempengaruhi efisiensi disinfeksi atau kebutuhan akan klorin dipengaruhi maka dari itu jumlah dan jenis klorin yang digunakan, waktu asosiasi, guru dan jenis serta konsentrasi kuman.

Kebutuhan klorin untuk air yang relatif jernih dan pada air nan mengandung interupsi padatan yang lain bersisa tinggi biasanya relatif kerdil. Klorin akan bereaksi dengan bineka jenis komponen nan ada lega air dan suku cadang-komponen tersebut akan berkompetisi dalam penggunaan klorin bak bahan lakukan disinfeksi. Sehingga sreg air yang relatif kumuh, sebagian osean akan bereaksi dengan suku cadang nan ada dan hanya sebagian katai saja nan bertindak sebagai penyuci hama.

Residu klorin juga merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan klorin karena kemampuannya sebagai badal penginaktivasi enzim mikroba setelah zat tersebut masuk kedalam hotel prodeo mikroba. Klorin bisa bertindak sebagai awahama baik dalam rajah klorin bebas ataupun klorin terpaut pada suatu larutan boleh dijumpai intern susuk bersut hipoklorit ataupun ion hipoklorit. Klorin dalam lembaga klorin bebas dan asam hipoklorit merupakan bentuk persenyawaan nan baik untuk maksud disinfeksi.


Penentuan Qada dan qadar Klorin


Untuk setiap anasir klor aktif seperti klor tersedia bebas dan klor tersedia tertambat memiliki analisa-analisa khusus. Namun, lakukan analisa di laboratorium biasanya hanya klor aktif (sempelah) yang ditentukan melampaui suatu analisa. Klor aktif dapat dianalisa melalui titrasi iodometri ataupun melangkaui metode kolorimetri dengan menggunakan DPD (Dietil-p-fenilendiamin). Analisa iodometris kian tercecer dan murah tetapi tidak sepeka DPD.

Adapun mandu kerja berbunga analisa dengan menggunakan DPD adalah; Bila Falak,N-dietil-p-fenilendiamin (DPD) bagaikan indikator dibubuhkan pada suatu larutan yang mengandung sisa klor aktif, reaksi terjadi sekonyongkonyong dan warna hancuran menjadi merah. Sebagai pereaksi digunakan iodida (Gerbang) nan akan memisahkan klor tersuguh bebas, monokloramin dan dikloramin, tergantung berbunga konsentrasi iodida yang dibubuhkan. Reaksi ini membebaskan yodium I2 nan mengoksidasi indeks DPD dan menjatah warna yang lebih merah pada cairan bila konsentrasi pereaksi ditambah. Bagi mengetahui total klor bebas dan klor terpesona maka larutan dititrasi dengan larutan FAS (Ferro Amonium Sulfat) hingga warna sirah hilang. pH larutan harus antara 6,2 sampai 6,5.

Pemeriksaan klorin privat air dengan metode DPD dianalisa dengan menunggangi perabot Komparator. Yaitu beralaskan pembandingan warna yang dihasilkan oleh zat dalam jumlah yang tidak diketahui dengan warna nan selevel yang dihasilkan oleh kuantitas nan diketahui berpangkal zat yang akan ditetapkan, dimana kadar klorin akan dibaca bersendikan warna yang dibentuk oleh pereaksi.


Kolorimetri


Kolorimetri merupakan cara yang didasarkan pada pengukuran fraksi cahaya yang diserap analat. Prinsipnya: seberkas sinar dilewatkan pada analat, setelah melangkaui analat intensitas cahaya berkurang sebanding dengan banyaknya molekul analat yang menyerap sinar itu. Ketekunan kilauan sebelum dan sesudah melampaui bahan diukur dan bersumber situ dapat ditentukan jumlah bahan yang bersangkutan.

Kolorimetri berguna pengukuran warna, yang berguna bahwa dalam kolorimeter, sinar yang digunakan adalah sinar daerah tampak
(visible spectrum), sebaliknya, spektrofotometri tidak terbatas plong pengunaan semarak dalam daerah tertumbuk pandangan, tetapi dapat pun cerah UV dan sinar IM. Maka timbul istilah-istilah spektrofotometri UV, spektrofotometri tertumbuk pandangan, dan spektrofotometri IM.

Variasi warna satu sistem berubah dengan berubahnya konsentrasi suatu onderdil, menciptakan menjadikan sumber akar apa yang lazim disebut analisis kolorimetrik oleh pakar kimia. Warna tersebuat lazimnya disebabkan oleh pembentukan suatu campuran berwarna dengan ditambahkannya reagensia yang tepat, atau warna itu dapat melekat dalam penyusun nan diinginkan itu sendiri.

Kolorimetri dikaitkan dengan penetapan konsentrasi suatu zat dengan mengukur absorbsi relatif cahaya sehubungan dengan sentralisasi tertentu zat tersebut.

Dalam kolorimetri visual, panah putih keilmuan ataupun sintetis umumnya digunakan perumpamaan sumber cahaya, dan penetapan biasanya dilakukan dengan suatu organ terlambat yang disebut kolorimeter atau pembanding
(comparator)
dandan. Bila ain digantikan maka itu sel fotolistrik, instrumen itu disebut kolorimetri fotolistrik. Alat kedua ini galibnya digunakan dengan cuaca safi melalui penyaring-filter, yaitu bahan terbuat berpunca lempengan berwana terbuat terbit kaca, gelatin, dan sebagainya , yang melanjutkan cuma area spektral terbatas.


 Komparator Lovibond


Komparator Lovibond adalah jenis
colorimeter
dibuat di Britania maka itu
The Tintometer Ltd. Hal ini ditemukan plong abad ke-19 makanya Joseph Williams Lovibond dan versi
update
masih tersaji.

Sampel yang akan diuji dicampur dalam tabung kaca dengan warna reagen.Tabung beling dimasukkan ke intern komparator dan dibandingkan dengan serangkaian gelas berwarna sebatas pertandingan terdekat mana tahu ditemukan.
konsentrasi
sampel ditunjukkan di sebelah disk yang dipilih. Kesannya hanya merupakan perkiraan hanya komparator ini lampau berguna untuk pekerjaan lapangan karena portabel, berangasan dan mudah digunakan.


Komparator livibond 1000 pula memperalat baris standar kaca permanen. Cakram yang mengandung sembilan standar dandan kaca itu pas pada komparator, yang dilengkapi dengan 4 ruang bikin dipasangi tabung uji katai atau sel persegi. Cakram itu boleh berputar dalam komparator, dimana cairan dalam sel dapat diamati. Dengan berputarnya cakram, nilai tolok warna nan tertentang dalam lubang itu akan tertentang pada tingkap khusus.

Referensi:

Adiwisastra, A. 1989. Sumber, Bahaya serta Penanggulangan Keracunan. Penerbit Angkasa. Bandung.

Alaerts, G dan Sumestri, S. 1984. Metoda Investigasi Air.Usaha Nasional : Surabaya.

Linsley R.K. dan Franzini J. 1991. Teknik Sumber Daya Air. Jakarta: Erlangga.

MacDougall, J.A. 1994. Ekspose Pencemaran di Sumut. Diakses U.S. Department Of Health and Human Services. 2007. Clorine

Source: https://lordbroken.wordpress.com/2014/10/09/mengenal-lebih-dekat-desinfektan-klorin/