Konseling Lintas Agama Dan Budaya

KONSEP-KONSEP KONSELING
LINTAS AGAMA DAN BUDAYA

Pukul rata
Manusia andai sosok sosial (Zoon Politicon) dalam roh sehari-masa tidak amnesti dari unsur agama dan budaya karena Sifat hakiki manusia adalah cucu adam beragama (homo religious), selain itu makhluk sekali lagi lahir sebagai turunan nan berbudaya namun n domestik proses berjalannya akan muncul persoalan yang ketimbul internal beragama serta maju, untuk itulah dibutuhkan proses konseling lintas agama dan budaya.
Konseling lintas agama dan budaya terdiri dari tiga zarah utama, ialah konseling, agama dan budaya, sehingga dalam penjelasannya tentang konsep konseling lintas agama dan budaya akan diawali dengan penjelasan tentang konseling, agama dan budaya. Berbunga penjelasan setiap poin tersebut maka akan boleh diambil kesimpulan tentang pengertian Konseling lintas agama yakni suatu proses konseling dimana terserah dua keyakinan atau bertambah, yang berbeda dari latar belakang wangsit, aturan-aturan, maupun pengapit. Padahal denotasi Konseling lintas budaya yaitu suatu sangkutan konseling dimana ada dua peserta alias lebih, berbeda kerumahtanggaan rataan belakang budaya, nilai-skor, dan mode jiwa.
Aspek-aspek yang harus terserah dan diperhatikan n domestik konseling lintas agama dan budaya : 1. Latar bokong agama dan budaya nan dimiliki oleh konselor, 2. Rataan belakang agama dan budaya yang dimiliki oleh klien, 3. Asumsi-asumsi terhadap ki kesulitan yang dihadapi selama konseling, 4. Nilai-angka nan mempengaruhi hubungan n domestik konseling. Berdasarkan aspek-aspek ini akan lahir konsep sehingga konsep konseling lintas agama terdiri bersumber lima hal, yaitu : 1. Konselor lintas agama dan budaya harus sadar akan biji dan norma, 2. Konselor mudah-mudahan sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, 3. Konselor harus mengerti supremsi kesukuan, religiositas dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap mileu serta agamanya, 4. Konselor bukan boleh mendorong klien untuk dapat memahami agama dan budaya nan dianutnya, 5. Konselor lintas agama dan budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan ekletik
Bab I
PENDAHULUAN
Resan hakiki khalayak adalah insan beragama (homo religious), yaitu makhluk nan mempunyai fitrah cak bagi memahami dan menerima nilai-poin kebenaran yang bersumber dari agama, serta sekaligus menjadikan kebenaran agama itu andai referensi sikap dan perilakunya. Di sisi lain manusia juga lahir sebagai manusia nan berbudaya. Dalam spirit sehari-hari, tiap khalayak akan berusaha menunjukkan mungkin dirinya yang sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan pendapat dan perilaku tertentu, bagaimana beraksi dan kali menunjukkan beberapa “keganjilan” tertentu. Akulturasi diri ini dapat bintang sartan berbeda dengan apa yang sepanjang ini dianut oleh masyarakat sekitarnya, belaka seringkali pula seorang cucu adam menampakkan perilaku sesuai dengan apa yang sayang dimunculkan maka itu masyarakat di mana sira berada. Agama dan budaya punya independensi masing-masing, supaya keduanya ganti terkait. Kelahiran agama tinggal tersapu dengan konstruksi budaya
Cuma dalam memahami realita kehidupan, terserah kalanya terjadi kesenjangan antara agama dan budaya. Basyar sering dihadapkan oleh realitas nan mereka anggap sebagai satu persoalan yang lain mampu diolah dengan sendirinya. Sehingga konselor ialah mangsa yang “empuk” untuk manusia untuk dijadikan referensi dalam mendukung memecahkan permasalahannya.
Persoalan-permasalahan basyar akan dapat terjamah manakala ada suatu konsep yang jelas dalam suatu proses konseling. Tanya selanjutnya, bagaimanakah konsep konseling lintas agama dan budaya? Makalah ini akan menyedang menguraikannya lebih lanjut.

Gapura II
PEMBAHASAN
A. Konotasi Konseling Lintas Agama dan Budaya
Dalam mendefinisikan tentang konseling lintas agama dan budaya, malah lewat kita harus memaklumi akan halnya pengertian konseling, agama dan budaya.
1. Konseling
Definisi konseling sangat dipengaruhi maka itu perkembangan ilmu konseling, perbedaan rukyah pandai, serta teori nan dianutnya. Sehingga lalu susah untuk dapat mendefinisikan konseling secara komprehensif. Cuma keadaan itu bukan penting bahwa konseling tidak dapat didefinisikan. Bilang definisi konseling antara lain:
a. Robinson (M.Surya dan Rochman Lengkung langit., 1986:25) mengartikan konseling yaitu “semua tulangtulangan hubungan antara dua basyar, dimana nan sendiri merupakan klien dibantu kerjakan lebih kaya menyetarafkan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya”.
b. ASCA (American Scholl Counselor Association), menyodorkan bahwa “konseling adalah korespondensi bertatap yang bersifat resep, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan berpangkal konselor kepada klien, konselor mempergunakan permakluman dan keterampilannya lakukan kontributif kliennya menuntaskan kelainan-masalah”.
c. Rogers (1942) konseling adalah suatu hubungan yang independen dan bersistem yang membiarkan klien memperoleh konotasi sendiri dalam membimbingnya untuk menentukan awalan-langkah maujud kearah adaptasi baru.
d. Smith (1955) : Suatu proses nan terjadi dalam hubungan pribadi antara seseorang nan mengalami kesulitan dengan sendiri yang professional, latihan dan pengalamannya mungkin boleh dipergunakan lakukan kontributif insan lain agar berlimpah memecahkan persoalan pribadinya.
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa konseling n kepunyaan elemen-elemen antara lain:
1. Adanya pergaulan
2. Adanya dua cucu adam ataupun makin
3. Adanya proses
4. Kontributif individu dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.
2. Agama
Agama laksana bentuk keyakinan, memang selit belit diukur secara tepat dan rinci. Hal ini pula boleh jadi nan menyulitkan para ahli untuk memberikan definisi yang tepat adapun agama. Harun Nasution merunut denotasi agama bersendikan asal perkenalan awal, adalah al-Din, religi (relegere). Al-Din (Semit) signifikan undang-undang atau syariat. Kemudian privat bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, taat, utang, balasan, kebiasaan. Padahal dari kata religi (Latin) atau religera berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengaduh. Mengenai pengenalan agama terdiri berpokok a = bukan, gam = pergi mengandung kemustajaban tidak meninggalkan, tetap ditempat atau diwarisi turun temurun. Belaka setidaknya ada komponen alias unsur-unsur yang menjadi parameter untuk mengerti agama seperti yang dielaborasi maka dari itu Joachim Wach (1963) yaitu: (a)Thought merupakan pemikiran yang mengandung makna semua yang dapat dipikirkan bakal diyakini, (b)Ritual adalah ajaran adapun tata kaidah pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk peribadatan, dan (c) Fellowship ialah pengikut, penganut atau pemeluk.
Secara terminologi agama merupakan sebuah system keyakinan yang melibatkan emosi-emosi, rasa dan pemikiran-pemikiran atau perbandingan yang sifatnya pribadi dan diwujudkan dalam tindakan-tindakan keagamaan nan sifatnya khas, kelompok, serta sosial. Didalamnya melibatkan sebagian atau seluruh masyarakat. Agama ialah bagian dari hidup manusia yang sangat signifikan. Karena anak adam adalah makhluk yang beragama (homo religious), tunggul semesta menjadi sasaran pemikiran manusia (antropologi, teologi, dan kosmologi). Agama telah menimbulkan khayalannya yang paling kecil luas dan juga digunakan lakukan membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama bisa menggarangkan kebahagiaan batin yang paling kecil sempuna dan juga perasaan meleleh dan ngeri.
3. Budaya
Signifikansi budaya ialah keseluruhan system, gagasan, tindakan, dan hasil kerja manusia intern rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan peruntungan manusia dengan cara membiasakan. budaya diperoleh melalui proses belajar. Tindakan-tindakan nan dipelajari diantaranya, prinsip makan, meneguk, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berelasi internal masyarakat adalah budaya. Definisi-definisi psikologis, memfokuskan aneka pencirian psikologis, temasuk konotasi-pengertian seperti mana penyesuaian (adjustment), penceraian masalah, belajar dan kebiasaan.
Ratner (2000), salah sendiri pandai ilmu jiwa budaya menyusun bagaimana seharusnya sebuah konsep budaya. Ia memproposisikan empat buah prasyarat untuk sebuah konsep budaya yang baik, yaitu:
• Mendefinisikan sebab musabab terbit fenomena budaya.
• Mengidentifikasi subkategori berpangkal fenomena-fenomena budaya
• Mengidentifikasi bagaimana fenomena-fenomena itu saling berhubungan
• Menerangkan hubungan budaya dengan fenomena lain, sebagaimana ilmu hayat dan ilmu lingkungan.
Dalam denotasi budaya terdapat tiga zarah terdahulu adalah :
1. Yakni produk budidaya hamba allah
2. Menentukan ciri seseorang
3. Individu tidak akan dapat dipisahkan dari budaya
Mulai sejak uraian di atas dapat di tarik kesimpulan laksana berikut:
1. Konseling lintas agama adalah suatu proses konseling dimana suka-suka dua keyakinan atau lebih, yang farik pecah permukaan birit ajaran, aturan-adat, atau kepercayaan.
2. Konseling lintas budaya merupakan suatu hubungan konseling dimana ada dua peserta atau lebih, berlainan intern latar belakang budaya, nilai-nilai, dan kecondongan hidup (Sue et al internal Suzette et all 1991; Atkinson, dalam Herr; 1939).
B. Konsep Konseling Lintas Agama dan Budaya
Berdasarkan pengertian akan halnya konseling lintas agama dan budaya di atas, aspek-aspek yang harus ada dan diperhatikan dalam konseling lintas agama dan budaya adalah sebagai berikut:
1. Latar bokong agama dan budaya yang dimiliki oleh konselor
2. Latar belakang agama dan budaya yang dimiliki oleh klien
3. Asumsi-asumsi terhadap masalah yang dihadapi selama konseling
4. Nilai-kredit yang mempengaruhi pertalian kerumahtanggaan konseling
Dalam melaksanakan satu proses konseling, hendaklah seorang konselor memperhatikan konsep-konsep konseling misal berikut:
1. Konselor lintas agama dan budaya harus siuman akan nilai dan norma
Di dalam proses konseling, konselor harus ingat bahwa sira memiliki nilai dan norma yang harus dijunjung panjang. Konselor harus sadar bahwa nilai dan norma nan dimilikinya itu akan terus dijunjung dan dipertahankannya. Di sisi tak, konselor harus menyadari bahwa klien yang akan dihadapinya adalah mereka yang mempunyai nilai-nilai dan norma yang berbeda dengan dirinya.
2. Konselor sadar terhadap karakteristik konseling secara awam.
Konselor di n domestik melaksanakan konseling sebaiknya ingat terhadap pengertian dan kaidah dalam melaksanakan konseling. Peristiwa ini sangat terlazim karena pengertian terhdap pendirian konseling akan membantu konselor intern memecahkan ki kesulitan yang dihadapi makanya klien.
3. Konselor harus mengetahui pengaruh etnis, keyakinan dan mereka harus mempunyai pikiran terhadap mileu serta agamanya.
Konselor privat melaksanakan tugasnya harus tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi cak bagi menghambat proses konseling. Terutama yang berkaitan dengan nilai, norma dan keyakinan yang dimiliki makanya suku agama tertentu. Terelebih apabila konselor mengamalkan praktik konseling di Indonesia yang mempunyai bertambah dari 357 kesukuan dan 5 agama besar serta penganut persebaran asisten.
Bakal mencegah timbulnya hambatan tersebut, maka konselor harus kepingin berlatih dan memperhatikan lingkungan di mana sira mengerjakan praktik, baik agama maupun budayanya. Dengan mengadakan perhatian atau observasi, diharapkan konselor bisa mencegah terjadinya rintangan sejauh proses konseling.
4. Konselor tidak boleh menolak klien untuk dapat memahami agama dan budaya yang dianutnya.
Bagi hal ini cak semau kebiasaan main yang harus ditaati oleh setiap konselor. Konselor memiliki kode akhlak konseling, yang secara tegas menyatakan bahwa konselor tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada klien. Hal ini mengimplikasikan bahwa sekecil apapun kemauan konselor tidak dapat dipaksakan kepada klien. Klien tidak dapat diintervensi oleh konselor sonder persetujuan klien.
5. Konselor lintas agama dan budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan ekletik.
Pendekatan ekletik adalah satu pendekatan dalam konseling yang mencoba cak bagi menggabungkan beberapa pendekatan privat konseling cak bagi membantu memecahkan keburukan klien. Penggabungan ini dilakukan untuk mendukung klien yang n kepunyaan perbedaan mode dan sikap hidup.

Gerbang III
PENUTUP

Insan misal makhluk sosial (Zoon Politicon) dalam hidup sehari-waktu tidak belas kasihan dari unsur agama dan budaya, namun dalam proses berjalannya akan unjuk persoalan yang keluih dalam beragama serta modern, bagi itulah dibutuhkan proses konseling lintas agama dan budaya.
Konseling lintas agama dan budaya terdiri dari tiga elemen penting, ialah konseling, agama dan budaya, sehingga dalam penjelasannya tentang konsep konseling lintas agama dan budaya akan diawali dengan penjelasan mengenai konseling, agama dan budaya seperti nan mutakadim terdaftar pada bab pembahasan.
Konsep konseling lintas agama terdiri dari lima hal, ialah : 1. Konselor lintas agama dan budaya harus sadar akan nilai dan norma, 2. Konselor sebaiknya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, 3. Konselor harus memaklumi dominasi kesukuan, keyakinan dan mereka harus mempunyai ingatan terhadap lingkungan serta agamanya, 4. Konselor tidak boleh mendorong klien cak bagi boleh mengetahui agama dan budaya nan dianutnya, 5. Konselor lintas agama dan budaya intern melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan ekletik.
Pemakalah menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah terletak banyak kesalahan dan kekhilafan, katib sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk pencatat, khasiat mengingatkan dan menyunting setiap kesalahan yang ada dalam proses pembuatan dan penguraian makalah, terakhir panitera tidak lupa pula mengucapkan rasa syukur kehadirat Almalik SWT serta perkataan syukur kepada pihak-pihak yang kondusif dalam proses pembuatan kertas kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Syamsu Yusuf, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Rosdakarya, 2005
Singgih Gunarsa, Konseling dan Psikoterapi, Jakarta: Gunung Indah, 2007
Jalaluddin, Ilmu jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996
Bahri Ghozali, Agama Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2005
Lebba Pongsibane, Islam dan budaya Lokal, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2008
Boy Soedarmadji, Konseling lintas Budaya, http://www.boy_soedarmadji.wordPress.com, diakses 12 Februari 2009

Source: https://fuadhasyim.wordpress.com/2009/05/29/konseling-lintas-agam-dan-budaya/