Kun Aliman Wala Takun Jahilan

USTAD ABIDIN , S.Ag.

Janganlah jadi turunan yang ke lima. Rasulullah Saw bersabda ;

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)

Qoolan Nabiyu Shalallaahu ‘alaihi wasallam. Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khoomisan, fatahlik.

“Utusan tuhan SAW bersabda ;

  1. Jadilah sira orang berilmu, atau
  2. Insan yang memaui mantra, atau
  3. Hamba allah nan cak hendak mendengarkan ilmu, atau
  4. Orang yang menyukai ilmu. dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).

Utusan tuhan SAW mewajibkan umatnya menjadi ‘Alim (basyar weduk, hawa, penyuluh, ustad, kyai). Jika belum sanggup, jadilah Muta’allimaan (anak adam yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri) alias menjadi pendengar yang baik (Mustami’an), paling kecil lain menjadi Muhibban pecinta ilmu, simpatisan pengajian, donatur yayasan, lembaga dakwah dan pendidikan dengan harta, tenaga, atau pikiran, ataupun mendukung majelis-majelis ilmu

Rasul SAW menggarisbawahi, jangan kaprikornus turunan nan kelima (Khoomisan), yaitu tak kaprikornus hawa, murid, mustami, juga tidak menjadi pecinta aji-aji. Celakalah golongan kelima ini. “Fatahlik!” tegas beliau SAW.

Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan, hidayah, dan petunjukNya pada kita semua. Aamiin

Source: https://smkn2banyumas.sch.id/janganlah-jadi-orang-yang-ke-lima/