Lirik Lagu Aryati Ismail Marzuki

Lirik lagu waktu 1950-an berbeda jauh dengan tahun 2010.

Perilaku dan nuansa
budaya cintanya jauh berbeda.

Ismail Marzuki

Aryati Selalu Demap, tajuk ini diambil berpokok dua buah kepala karangan lagu. Aryati, lagu garitan Ismail Marzuki pada sekitar periode 1950-an dan lagu Selalu Pelalah dibawakan oleh Band Kotak, di-rilis dan terkenal start tahun 2010.

Sekiranya lagu dapat dianggap ibarat salah satu catatan budaya. Budaya pada masanya alias cerminan berpunca perilaku masyarakat pada saat lagu diciptakan maka akan kita dapati perilaku yang bertolak belakang, minimal ada perbedaan yang sangat nyata di antara keduanya.

Seandainya dicermati terdapat peristiwa yang unik dan menggelandang dari lirik kedua lagu ini. Unik karena memiliki syair yang khas adapun pikiran hati. Lagu Aryati adalah menggambarkan perasaan laki-laki yang mengagumi seorang dara yang bernama Aryati, sedang Selalu Majuh melukiskan duka perasaan wanita yang dilukai oleh seorang lanang. Menarik karena yang satu menerima nasib walau belum terjadi, masih dalam mimpi, sedang yang satu seakan menyesali dengan semua yang telah terjadi dan menimpanya.

Berikut sekedar perbandingannya:

Lagu I,

Lirik lagu Aryati – Ismail Marzuki – Tahun 1950 an

 Aryati, dikau ros asuhan bulan,

   Aryati, dikau gemilang seni berhala

   Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan,

   Ujung jarimu kucium mesra tadi malam

   Dosakah hamba memuja dikau dalam damba,

   Hanya dalam damba

   Aryati, dikau mawar di taman khayalku,

   Lain mungkin tuan terpetik daku

   Walaupun demikian nasibku,

   Namun aku bahagia sewu satu lilin lebah

Lagu II,

Lirik lagu Majuh Cinta – Kotak – Masa 2010


Kau tanya, aku menjawab, sira minta, aku berikan,

   Ku sayangi kamu

   Ku wicara, kamu yang diam, ku mendekat, kamu menghindar,

   Separah inikah anda dan aku

   Bagaimana dapat aku tak suka-suka di setiapmu melihat, tentatif ku cak semau

   Bagaimana bisa kamu lupakan yang enggak mungkin dilupakan,

   Aku selalu besar perut, selalu kerap

   Dia hilang, aku pupus, semua hilang yang tak kukira

   Jangan cak bertanya kembali, tanya mengapa

   Bagaimana bisa aku tak ada di setiapmu melihat, sementara ku ada

   Bagaimana dapat kamu lupakan nan tak mungkin dilupakan,

   Aku selalu cangap tapi ia bukan

   Tapi kamu tidak, tapi dia tidak

Rayuan

Lagu I,

Menyampaikan introduksi godaan, kalimat fetis koteng lanang terhadap wanita. Setidaknya menunjukkan bahwa sang pria sangat memahami secara psikologis akan halnya perhatian wanita nan menurutnya suka dirayu dan dipuja. Maka di awal lagu terserah kata berhala bakal merayunya.

    Aryati, dikau ros asuhan rembulan,

    Aryati, dikau gemilang seni pujaan

Lagu II,

Memajukan suasana wanita yang merayu lanang dengan cara sangat memanjakan sang adam. Bahkan sampai seperti ki memberaki diri, rela dilecehkan. Tergambar disini cara merayu yang sangat tak benar. Si wanita mengabulkan semua permohonan si pria hendaknya si maskulin setia cinta padanya. Didiamkan dan dihindari oleh si lelaki yang sombong, namun si wanita tetap mengatakan sayang dan memujanya membabi buta. Padahal sang wanita ingat tentang keparahan korespondensi mereka yang tidak harmonis.

    Kau tanya, aku menjawab,

    Beliau minta, aku berikan,

    Ku sayangi anda

    Ku bicara, kamu yang diam,

    Ku mendekat, beliau menghindar,

    Separah inikah kamu dan aku?




Etika Terseret

Lagu I,

Si pria dahulu beretika dan agamis. Si pria hanya bahadur mencium ujung deriji dan memuja si wanita, itu pun hanya n domestik mimpi. Dan diulangi; “Hanya dalam damba!” Hanya memperkirakan dalam impi!

Walau hanya dalam damba sang adam masih ketakutan akan dosa, takut berdosa. Bukan main sang pria beretika dan lampau taat terhadap aturan agama. Jelas bahwa si lelaki mimpi jatuh cinta. Walau doang dalam mimpi, semata-mata pria ini sudah “nyungsang-njempalit”, memperhitungkan agar kejatuh-cintaannya tidak berbuah dosa.

    Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan,

    Ujung jarimu kucium mesra tadi malam

    Dosakah hamba memuja dikau n domestik impi,

    Hanya dalam mimpi

Lagu II,

Jikalau kejadian ini benar-benar terjadi, maka berarti sikap sang pria sangat melecehkan si wanita. Si pria kepo (doyan bertanya), penuntut, tebal bibir, penghindar, kecewa, sombong dan sinuhun tega. Enggak tergambarkan sedikitpun si adam punya etika nan baik. Mulai sejak segi agama yang membicarakan hubungan pria dan wanita, layak dicurigai bahwa di antara keduanya sudah lalu melakukan keadaan nan tidak semestinya.

Berusul tiga kalimat yang tersurat dan tersirat n domestik lirik lagu Selalu Cinta, secara keseluruhan, yaitu: “Kamu harap, aku berikan; – Hal yang tak mungkin dilupakan; dan – Semua hilang yang tak kukira”,
ada indikasi ada kejadian yang tidak semestinya. Bersumber tiga kalimat ini dapat dimaknai bahwa si wanita telah memberikan sesuatu yang sangat berharga sehingga kasih itu tidak mungkin bisa dilupakan.

Sekadar demikian hasilnya dia sadar bahwa percuma doang dia telah memberikan segalanya, beliau sudah lalu kesuntukan hal nan sangat berjasa. Kekurangan nan di luar perkiraannya, semua hilang percuma
. Lirik lagu “Majuh Pelalah” sepintas tersirat melelapkan dan sopan, namun sekiranya dicermati ada kedalaman nan tak terduga, inilah alasan mengapa lagu ini yang terpilih buat mewakili lagu jaman kini.

Jadi penilaian dari segi agama yaitu hampa, karena mengabaikan perhitungan adapun dosa yang dapat menimpa keduanya. Lalu tersirat dan tercantum pula perilaku si pria.

Secara etika sang laki-laki ialah seorang yang:

     Kepo dan penekan = Kau tanya, aku menjawab, kamu minta, aku berikan

     Pendendam = Ku bicara, kamu yang bungkam

     Penghindar dan pengecut = ku mendekat, kamu menghindar

     Congkak, buta mata-hati = Bagaimana bisa, aku lain terserah di setiapmu mematamatai, sementara ku ada

     Ingkar dan pendosa = Bagaimana bisa, kamu lupakan yang tak mungkin dilupakan

     Raja tega = Aku selalu cinta, tapi beliau tak. Tapi sira tidak, tapi dia tak

Kedua lagu ini wicara tentang majuh. Sayang akan menimbulkan kesukaan. Cinta juga membutuhkan kedekatan secara emosi dan kedekatan ragawi. Namun dalam angan dan kenyataan majuh keduanya melanglang bertolak belakang.

Lagu I,

Si lelaki sangat legawa,
nglenggana. Sangat sadar cintanya lain akan kesampaian, dan ia tetap tabah, menerima takdirnya. Namun demikian, walau tergiring hanya dalam dongeng, dia mutakadim merasa bahagia bertahun-tahun. Bahagia sepanjang seribu satu hari atau 2,7 periode. Barangkali mewakili sebagian diversifikasi laki-laki bersejarah di masa 1950-an.
Hal yang menarik adalah pembukaan
“tuan”. Tuan di lagu ini jelas sebagai pengganti kata Aryati. Aryati merupakan mawar asuhan rembulan. Aryati diibaratkan sekuntum bunga. Aryati ialah koteng amoi. Jadi perkenalan awal
“tuan”
di lagu ini digunakan bak pengganti insan kedua putri. Kita mengenal kata
“tuan”
dan
“nyonya”. Kenapa pengenalan
“empunya”
digunakan untuk pengganti orang kedua perempuan, enggak
“nyonya”? Kata“sira” dapat digunakan lakukan pria, dapat kembali bagi wanita. Mungkinkah sesungguhnya, alias minimal di waktu 1950-an, pembukaan
“tuan”
setara dengan prolog
“sira”? Sangat kali! Sebab dua kelihatannya kata
“tuan”
disebutkan di lagu ini:Dosakah hamba impi berkasih dengan
tuan,
danTak mungkintuan terpetik daku.
He, he, semoga situasi ini terserah nan bisa menerangkan dan menerimakan pencerahan.
Sedangkan kalimat yang menunjukkan sifat legawa sang pria merupakan:

    Aryati, dikau mawar di ujana khayalku,

    Tak mungkin pemilik terpetik daku

    Meskipun demikian nasibku,

    Semata-mata aku bahagia seribu suatu malam

Lagu II,

Sang wanita, seperti mana tidak bahagia sesaat lagi. Dalam seluruh kalimat dalam lagu ini tersebar penderitaan batin nan parah. Ada rasa putus asa, hilang tujuan, hilang minat untuk membicarakan cintanya, mengomongkan masalahnya;
“Jangan tanya pun, tanya mengapa!”.

Si wanita sadar bahwa masalahnya sudah buntu,
notog, bebel, dan tak mungkin dapat menjadi baik. Kebahagiaan sudah jauh panggang dari api, tak siapa bahagia. “Engkau hilang, aku bablas, semua hilang yang lain kukira”.Namun demikian engkau masih melolong, masih mengais-ngais kesenangan dengan modal burung laut.
“Aku selalu gelojoh, tapi kamu tidak! Tapi engkau enggak! Tapi dia enggak!”. Mana tahu mewakili sebagian varietas wanita di musim 2010-an.




Sastra dan Majas.

Sastra adalah karya coretan alias lisan yang lembut-hingga ke intern bentuk bahasa nan spesial. Dapat n domestik bentuk dipadatkan, dipanjang-pendekkan, diterbalikkan dan boleh sekali lagi diganjilkan. Hendaknya terbentuk nilai sastra digunakanlah mode bahasa. Dengan memanfaatkan khasanah bahasa dan menggunakan introduksi tertentu dapat diperoleh karya yang singularis, yang menganjur. Majas banyak dipakai dan disajikan secara tunggal dan tunggal internal sastra untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.

Berikut yang dapat penulis sampaikan dari mencermati kedua lagu di atas:

Lagu I,

Diakui atau bukan lirik lagu Aryati digubah dengan bahasa sastra nan protokoler, halus dan menjejak. Ada ajaran dan pelajaran nan jika direnung-cermati dapat merasuk ke kalbu sebagai perilaku yang patut diteladani. Kalimat-kalimat kiasan sangat dimaklumi;
“mawar asuhan rembulan, gemilang seni pujaan, ros di taman khayalku, bahagia seribu satu lilin lebah”, tentu masih dahulu mudah bagi memahami arti kiasan ini. Aryati cenderung memperalat kecondongan bahasa asosiasi maupun misal.
Kalimat
“gemilang seni pujaan”
seakan mengibaratkan bahwa Aryati adalah hasil seni yang mengagumkan. Jika dianggap sebagai hasil seni ukir-tatah adalah ukiran dan pahatan yang indah. Jika dianggap sebagai puisi adalah puisi yang menyentuh hati. Jika dianggap sebagai seni kriya jelas hasil karya yang gemilang. Aryati yaitu hasil seni mulai sejak arsitek nan sangat mumpuni. Keberadaan Aryati n domestik lagu ini seakan secara lahir-batin cerbak menjadi pujaan karena Aryati yaitu hasil karya seni yang gemilang, bagus, indah, mengagumkan dan asing biasa.

Lagu II,

Lagu ini disampaikan dengan menggunakan sejumlah majas, antara tak majas p versus, repetisi, klimaks, dan antiklimaks.

Majas antitesis,

mengedepankan satu pernyataan yang kebalikannya segera disampaikan, contohnya:“Kau soal, aku menjawab”, introduksi tanya berkebalikan dengan jawab,
“Dia minta, aku berikan”pembukaan meminta dan memberi,
“Ku bicara, kamu yang diam”
kata wicara dan diam,
“Ku mendekat, kamu menghindar”
kata mendekat dan menghindar.


Majas repetisi

, menyering-kan kata, yaitu kata kamu dan kata aku, contohnya:
Kau…, aku; Kamu…, aku…; ‘Ku…, kamu…; ‘Ku…, sira….”. Dan pun mengulang kalimat secara paralel.

     Kau tanya, aku menjawab,

     kamu harap, aku berikan, Ku sayangi kamu

     Ku bicara, beliau yang diam,

     ku mendekat, ia menghindar, Separah inikah engkau dan aku

     Kamu hilang, aku ki amblas,

     semua hilang yang tak kukira, jangan soal lagi, tanya mengapa


Majas klimaks,

dalam lagu ini yaitu detik kuak peristiwa yang dirasakan semakin lama semakin parah.
Di awali dengan
Kau tanya,
lalu meningkat menjadi
Engkau mohon.
Di awali dari
“wicara”, meningkat menjadi
“mendekat”.

 –Majas inkonsistensi
,

mengungkapkan hal yang didapat dan dirasakan tidak seperti yang diharapkan. Pesanan lain sesuai dengan pesanan!

     Bagaimana dapat aku tak ada di setiapmu melihat?

     Sementara ku suka-suka

     Bagaimana boleh kamu lupakan?

     Yang tak mungkin dilupakan,

     Aku selalu gegares. Tapi sira tidak!

     Tapi sira tidak!

     Tapi engkau tidak!

Spesial untuk kalimat,
“Bagaimana bisa, aku enggak ada di setiapmu melihat? Sementara ku suka-suka”. Kalimat yang unik dan singularis. Maksudnya mengekspos rasa herannya terhadap sikap si pria privat tulangtulangan cak bertanya.
“Bagaimana dapat? Saban-saban kau berkisah, kau katakan aku tak cak semau dalam peristiwa itu, sementara itu kau mematamatai aku. Sementara aku jelas-jelas terserah disitu dan kau melihatku!”

Unik dan istimewa karena dengan berani meringkas kalimat yang panjang,
“Bagaimana bisa, aku selalu tidak kelihatan olehmu, sementara aku ada disana!”
menjadi ringkas sesuai kebutuhan mentrum lagu. Rasanya, untuk dapat mengetahui maksud kalimat ini sosok harus sedikit berpikir dalam-dalam bertambah lewat.


Bertentangan klimaks

yang parah terjadi di penutup lagu.
“Aku cangap cinta. Tapi anda tidak! Tapi engkau tak! Tapi engkau bukan!”
Berulang-ulang mengatakan,
“Tapi kamu tidak!”
menekankan bahwa cintanya benar-benar ditolak dan si wanita habis tawar hati.

Demikian sebuah komparasi dari dua lagu ditinjau dari bilang sudut. Terlampau lain teruji apa yang tertulis di sini. Saja agar boleh dijadikan renungan bahwa lirik lagu nan diciptakan tahun 1950-an dengan musim 2010-an, sudah jauh berbeda.
Perilaku dan pendirian menyampaikan isi hati sudah jauh berbeda. Nuansa budaya jalinan pria dan wanita juga jauh berbeda.

Demikianlah, Aryati Cangap Cinta.

Salam!

*)


Terimakasih lakukan istriku yang telah setia ikut meributkan lirik-lirik lagu di atas..

Source: http://totoendargosip.blogspot.com/2016/12/aryati-selalu-cinta.html