Makalah Etika Moral Dan Akhlak Dalam Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Halikuljabbar SWT menciptakan manusia bukanlah sonder intensi. Individu
bak makhluk paling sempurna di wajah dunia ini diciptakan-Nya sebagai
khalifah, majikan dan penjaga amanat Sang Khalik. Orang diberikan akal bulus
cak bagi berpikir, hati untuk merasakan hadiah sayang Allah, dan jasad yang
menjadi sarana buat beribadah. Berpunca segala sesuatu nan telah dititipkan
Allah kepada manusia , suka-suka satu hal nan menjadi ukuran derajat sendiri
manusia dimuka bumi, merupakan tata krama. Akhlak nan baik yakni cerminan
baiknya akidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak
merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap akidah dan
syariah. Rasulullah shallallahu‟alaihi wasallam yaitu suri tauladan kerjakan
seluruh ummat. Kepatutan sira adalah Al-Qur‟an. Sama dengan pernyataan
Aisyah ra,”Budi pekerti ia (Rasulullah) ialah Quran.” (HR Abuk Daud dan
Mukmin).

1.2. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah agama ini adalah kerjakan menepati tugas
pembelajaran perkuliahan laksana mahasiswa, selain itu juga sebagai

penambah dogma bagi kita semua. Kertas kerja ini memberikan kita begitu
banyak hobatan tentang Kesopansantunan dan Etika dalam Islam, InsyaAllah. Karena telah
disebutkan dalam hadist Rasulullaah SAW yang artinya: “Kaum orang islam
yang minimal eksemplar imannya adalah yang paling kecil baik akhlaknya diantara
mereka.” (HR. At Tirmidzi).

1

Ki II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Akhlak dan Objek Kajiannya
Akhlak adalah sifat yang tertancap dalam jiwa yang menimbulkan
aneh-aneh kelakuan yang mudah, minus memerlukan pemikiran dan
pertimbangan. Mangsa kajiannya adalah kelakuan cucu adam, dan norma atau
aturan yang dijadikan lakukan mengukur ulah mulai sejak segi baik dan buruk.
Akhlak n domestik Islam memiliki fungsi utama. Al-Qur‟an menjelaskan
konsep baik dengan istilah:
Tayyibah; sesuatu yang menyerahkan kelezatan kepada panca indera dan semangat.
Hasanah; sesuatu nan disukai atau dipandang baik.

Khair; sesuatu nan baik menurut umat bani adam.
Mahmudah; sesuatu yang utama akibat melaksanakan sesuatu yang disukai
Allah.
Karimah; polah terpuji yang ditampakkan internal hidup sehari-hari.
Birr; upaya memperbanyak jasa baik.

2.2. Denotasi Etika
Secara bahasa etika ialah tingkah kayun, manajemen krama, bermoral santun.
Sedangkan menurut istilah etika adalah kelebihan atau kejahatan, dimana umur
manusia diatribusikan(disifatkan) dengannya,serta terjadi lewat pengusahaan
dan resan, sesuai dengan standar-standar kebaikan yang dibuat oleh
manusia bikin dirinya sebagai makhluk yang berakal dan berhak merdeka
Etika merupakan aji-aji mengenai tingkah laku anak adam prinsip-prinsip
yang disistimatisir tentang tindakan moral yang betul. Etika n domestik selam akan
beranak konsep ihsan, yaitu cara pandang dan perilaku insan dalam
hubungan sosial dan hanya bakal menghamba pada Tuhan, bukan suka-suka pamrih di
dalamnya.

2

2.3

Pengertian Moral

a. Secara bahasa kesusilaan yaitu nubuat yang mengajarkan agar mengerti baik dan
buruk. Sedangkan menurut istilah moral yakni ajaran tentang baik buruk
ragam dan ragam, adab, kewajiban.1
b. N domestik moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan terlazim dilakukan,
dan suatu perbuatan yang dinilai enggak baik dan mesti dihindari. Moral
berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang
sopan dan yang pelecok. Dengan demikian, moral yakni cais internal
bertingkah laku.
Kesopansantunan Islam yaitu tingkah laku seseorang nan unjuk secara
kodrati bersendikan loyalitas dan kepasrahan lega wanti-wanti (kadar) Almalik
Swt.

2.4

Variasi Moral
Moral terbagi menjadi dua : Budi pekerti mahmudah dan tata susila

madzmumah. Akhlak mahmudah seperti mana beribadah kepada Almalik, mencintaiNya dan mencintai anak adam-Nya karena Dia, dan berbuat baik serta
menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah dan memulai
mengerjakan sholeh dengan karsa bersih, berbakti kepada kedua orangtua dan lainya.
Sedangkan tata susila madzmumah sebagaimana ujub, bermegah, riya’, dengki, berbuat
kerusakan, bohong, bakhil, malas, dan enggak sebagainya. Etik mahmudah
ialah sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang meridhoilah Yang mahakuasa
dan mencintailah batih dan seluruh anak adam dan diantara kehidupan
mereka kepada seorang muslim. Sebaliknya akhlak madzmumah adalah asal
penderitaan di dunia dan akhirat.

1

H. Sunarto & Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Murid Didik, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2008), h. 169

3

a. Tata krama Mahmudah
Keimanan sering disalah pahami dengan ‘percaya’, keimanan
dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi

alam sehingga ketimbul pecah sana pengetahuan akan adanya Yang Mengatur
alam semesta ini, dari manifesto tersebut kemudian akal bulus akan berusaha
memafhumi pati semenjak wara-wara yang didapatkan. Keimanan dalam
ajaran Islam lain sama dengan dogma (persangkaan) tapi harus menerobos
ilmu dan kognisi. Implementasi dari sebuah keimanan seseorang
adalah ia kreatif berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya
yang punya tata krama terpuji. Akhlak terpuji dalam selam disebut
seumpama akhlak mahmudah. Beberapa eksemplar akhlak terpuji antara lain
merupakan bersikap meyakinkan, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu,
istiqomah dll. Ibarat umat islam kita memiliki suri-tauladan yang
teristiadat untuk dicontoh maupun diikuti yaitu Nabi Muhammad SAW. Kamu adalah
sebaik-baik anak adam yang berakhlak arketipe. Momen Aisyah ditanya
bagaimana akhlak rasul, maka ia menjawab bahwa akhlak utusan tuhan merupakan AlQur‟an. Artinya rasul yaitu khalayak yang menggambarkan akhlak
seperti yang termaktub di dalam Al-Qur‟an.

  
     
  
    
  

Artinya:
‖ Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja.
Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna bagi mencapai
kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
bikin‖.(QS Yunus (10): 36)
Contoh-Arketipe Moral Mahmudah :

4

Ikhlas
Kata asli memiliki beberapa pengertian. Menurut AlQurtubi, steril puas dasarnya berarti memurnikan perbuatan dari
pengaruh-pengaruh

makhluk.

Abu

Al-Qasim

Al-Qusyairi

mengemukakan arti steril dengan menampilkan sebuah riwayat dari
Nabi SAW. “Aku susunan menyoal kepada Jibril akan halnya ikhlas. Dahulu
Jibril bercakap, “Aku mutakadim mempersunting hal itu kepada Allah,” lampau
Sang pencipta berfirman, “(Ikhlas) adalah pelecok satu dari rahasiaku yang Aku
berikan ke intern lever turunan-orang yang kucintai dari kalangan hambahamba-Ku.” Pengertian yang demikian dapat dijumpai di dalam AlQur‟an surat Al-Insan ayat 9 berikut :







    
  
Artinya:
‖Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanya untuk
menginginkan keridhaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan

mulai sejak engkau dan tidak pula ucapan terima rahmat.‖ (QS Al-Orang:9).
Ikhlas ialah inti dari setiap ibadah dan perbuatan koteng
muslim. Allah Ta‟ala berfirman dalam Al-Qur‟an surat Al-Bayyinah
ayat 5.

  
 
  
 
 
  
  
Artinya:
‖Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan –kedatangan— kepada-Nya dalam
5

(menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan
sholat dan menunaikan zakat; dan nan demikian itulah agama yang
literal.‖ (QS Al-Bayyinah:5)

Amanah.
Secara bahasa amanah bermakna al-wafa‟ (menepati) dan
wadi‟ah (titipan) sedangkan secara definisi amanah penting menetapi
apa yang dititipkankan kepadanya. Keadaan ini didasarkan pada firman
Allah Ta‟ala dalam Al-Qur‟an surat An-Nisa ayat 58.

    
 
  
  
 
   
   
   
 
Artinya:
―Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian bagi menimbangi
kiriman-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi

diantara cucu adam mudah-mudahan menghukumi dengan netral.‖ (QS An-Nisa:58).
Intern ayat lainnya, Sang pencipta kembali bersuara:

  



















6









 
Artinya:
―Sememangnya Kami sudah menawarkan amanah kepada langit, bumi
dan rangkaian gunung, maka mereka semua enggan memikulnya karena
mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanah itu
maka dari itu basyar. Sebenarnya individu itu amat zalim dan bebal.‖ (QS
Al-Hukuman:72).

Amanah yang diberikan Yang mahakuasa kepda manusia menutupi :
1. Amanah Fitrah: Yaitu amanah yang diberikan maka dari itu Si Produsen
Allah Ta‟ala sejak manusia dalam kas dapur ibunya, malah jauh
sejak dimasa pataka azali, yaitu mengakui bahwa Sang pencipta Ta‟ala
sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pembimbing.
2. Amanah Syari‟ah/Din: Ialah bakal tunduk patuh pada rasam Allah
Ta‟ala dan memenuhi perintah-NYA dan menghindari laranganNYA, barangsiapa yang tidak mematuhi amanah ini maka anda
zhalim pada dirinya sendiri, dan pusung terhadap dirinya, maka jika
ia bodoh terhadap dirinya maka beliau akan bego terhadap Rabb-nya.
3. Amanah Hukum/Keadilan: Amanah ini merupakan amanah untuk
menegakkan hukum Halikuljabbar Ta‟ala secara netral baik intern kehidupan
pribadi, mahajana maupun bernegara. Makna adil adalah jauh
dari

sifat

ifrath

(ekstrem/berlebihan)

maupun

tafrith

(longgar/berkurangan).
4. Amanah Ekonomi: Adalah bermu‟amalah dan menegakkan sistem
ekonomi

nan

sesuai

dengan

aturan

syariat

Islam,

dan

mengoper ekonomi nan bertentangan dengan syariat serta
membetulkan invalid sesuai dengan syariat.
5. Amanah Sosial: Merupakan bergaul dengan menegakkan sistem
kemasyarakatan yang Islami, jauh dari adat istiadat nan bertentangan
7

dengan ponten Selam, menegakkan amar ma‟ruf dan nahi munkar,
menepati janji serta saling menasihati dalam kebenaran, ketenangan
dan kasih-cangap.
6. Amanah Baluwarti dan Kemanan: Yaitu membina fisik dan
mental, dan mempersiapkan kebaikan yang dimiliki agar bangsa,
negara dan ummat tidak dijajah oleh imperialisme kapitalis
maupun komunis dan beraneka macam saingan Islam lainnya. Aturan mulia
ini harus diamalkan oleh setiap orang. Dalam suatu perigi
menyebutkan, amanah adalah asas ketahanan umat, kestabilan
negara, dominasi, kehormatan dan umur kepada keadilan.
Singkatnya, amanah berarti sesuatu yang dipercayakan sehingga
kita harus menjaga amanah tersebut. Dalam hal ini, Allah
merenjeng lidah dalam sertifikat Al-Baqarah ayat 283 yang artinya:

  






















   
 

―….maka tunaikanlah oleh turunan yang diamanahkan itu akan
amanahnya dan bertakwalah kepada Allah Tuhannya.‖ (

QS Al-

Baqarah (2): 283).

Adil
Bebas

berfaedah

menempatkan/meletakan

sesuatu

pada

tempatnya. Netral kembali bukan lain ialah kasatmata perbuatan yang tidak berat
sisi. Para Ulama menempatkan adil kepada bilang peringkat,

8

yaitu objektif terhadap diri koteng, bawahan, atasan/ pimpinan dan sesama
plasenta.

Berterima kasih
Syukur menurut kamus “Al-mu‟jamu al-wasith” merupakan
mengamini adanya kenikmatan dan menampakkannya serta memuji
(atas) anugerah mak-nyus tersebut.Padahal makna terima kasih secara
syar‟i adalah : Menggunakan gurih Halikuljabbar Ta‟ala dalam (ruang
cak cakupan)

situasi-hal

yang

dicintainya.

Lawannya

syukur

adalah

kufur.Yaitu dengan cara tak memanfaatkan nikmat tersebut, atau
menggunakannya pada kejadian-hal yang dibenci maka itu Tuhan Ta‟ala .
Definisi ini ditulis maka itu Ibnu Quddamah dalam bukunya
“minhajul qashidin”. Bersyukur pada tataran menjadi pribadi unggul
berlaku pada dua keadaan yaitu sebagai keunggulan kerendahan hati terhadap
segala sedap yang diberikan oleh Halikuljabbar ialah sebanding, baik
sedikit alias banyak dan sebagai abadiah tinimbang Allah, cak agar
darmabakti senantiasa dibalas dengan darmabakti. Tuhan berfirman dalam
Al-Qur‟an surat Ibrahim ayat 7.

   











  
Artinya:
―…. Sesungguhnya kalau dia bersyukur, tentu Kami akan menggunung
(lezat) kepadamu, dan jikalau anda mengingkari –kufur—
(mak-nyus-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku tinggal pedih.” (QS.
Ibrahim: 7). Dan dalam firman Allah yang lainnya:


 
   
Artinya:

9

―Maka ingatlah Aku ( Allah ) niscaya Aku akan mengingatimu dan
syukurilah nikmatku serta jangan sekali-kali sira menjadi kufur‖.
(QS. Al-Baqarah:152).

Sabar
Panjang usus yaitu adat resistan menderita sesuatu (tidak lekas marah;
bukan segera terpotong hati; tidak lepas patah tebak, tenang dsb). Di dalam
menghadapi cobaan hidup, ternyata kesabaran ini silam penting cak bagi
membentuk bani adam/ pribadi unggul. Insan diciptakan dengan
disertai sifat tak sabar dan karenanya beliau banyak melakukan kesalahan.
Akan tetapi, agama meminta setiap orang agar menahan perasaan karena
Sang pencipta. Khalayak berkeyakinan harus mengelus dada menunggu keselamatan yang
besar yang Allah janjikan. Inilah perintah di intern Al-Qur`an.









  




  












   
  
Artinya:
―Dan alangkah akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan cacat
kegentaran, kelaparan, kekeringan harta, sukma dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada anak adam-orang yang panjang usus, (yaitu)
orang-sosok nan apabila ditimpa petaka, mereka mengucapkan,
‗Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.‖ (QS. Al-Baqarah (2): 155156).

Teruji
10

Shiddiq (jujur, benar) ialah lawan pembukaan dari kidzib (bohong atau
bidah). Secara morfologi, akar tunjang perkenalan awal shiddiq berasal pecah kata shadaqa,
yashduqu, shadqun, shidqun. Ungkapan shaddaqahu mengandung arti
qabila qauluhu „pembicarannya diterima‟.
Ayat Almalik yang menerimakan ilustrasi yang jelas akan halnya makna
(shiddiq):













 

Artinya:
―Agar Dia meminang kepada bani adam-orang yang teruji (benar)
tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-manusia
kafir siksa nan pedih.‖ (QS. Al-Ahzab:8)
Padri al-Ghazali membagi sikap benar maupun jujur (shiddiq) ke dalam
heksa- jenis:
1. Teruji dalam oral atau bertutur kata. Setiap bani adam harus dapat
membudidayakan perkataannya. Menetapi ikrar termasuk kategori
keterusterangan spesies ini.
2. Jujur kerumahtanggaan berniat dan berkehendak. Keterusterangan seperti ini
mengacu kepada konsep ikhlas, ialah tiada galakan buat
seseorang kerumahtanggaan segala tindakan dan gerakannya selain dorongan
karena Allah. Jika dicampuri dengan dorongan obsesi dari internal
jiwanya, maka batallah kebenaran niatnya. Orang yang seperti ini
dapat dikatakan pembual. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam
hadist Serdak Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim misal
berikut: “Ketika Rasulullah saw bertanya kepada seorang imani,
„Segala apa yang telah kamu kerjakan dari nan telah kamu ketahui?‟ Ia
menjawab, „Aku telah mengerjakan keadaan ini dan hal itu.‟ Lalu Allah
bercakap, „Engkau telah berbohong karena kamu ingin dikatakan
bahwa sang Fulan orang saleh.”

11

3. Jujur n domestik berobsesi ataupun berharap (azam). Makhluk sesekali
memajukan obsesinya bakal melakukan sesuatu. Misalnya,
“Kalau Allah menganugerahkan banyak harta kepadaku, aku akan
sedekahkan setengahnya.” Janji atau kompleks ini harus diucapkan
secara jujur.
4. Bonafide dalam menepati kegandrungan. Dalam suatu kondisi, hati terkadang
banyak mengumbar obsesi. Baginya mudah saat itu bikin
mengumbar obsesi. Kemudian, saat kondisi realitas sudah
memungkinkannya untuk menepati janji obsesinya itu, ia
memungkirinya.

Nafsu

syahwatnya

sudah lalu

menghantam

keinginannya lakukan merealisasikan janjinya. Hal itu sungguh
inkompatibel dengan keterusterangan (shiddiq).
5. Jujur dalam menyumbang atau bekerja. Jujur dalam maqam-maqam
beragama. Merupakan kejujuran paling strata. Contohnya yakni
keterbukaan dalam khauf (rasa mengirik akan siksaan Allah), raja‟
(mengharapkan pemberian Tuhan), ta‟dzim (memuliakan Allah),
ridha

(rela

terhadap

segala

keputusan

Sang pencipta),

tawwakal

(mempercayakan diri kepada Allah n domestik segala totalitas urusan),
dan menyayangi Yang mahakuasa.

b. Budi pekerti Madzmumah
Selain menjaga akhlak mahmudah, seorang orang islam juga harus
menghindari akhlak madzmumah yang meliputi: grusa-grusu, riya
(melakukan sesuatu dengan intensi mau menunjukkan kepada insan lain),
dengki (hasad), takabbur (membesarkan diri), ujub (kagum dengan diri
sendiri), bakhil, buruk kira, tamak dan pemarah. Adab madzmumah
adalah akhlak yang dikendalikan maka dari itu Syetan dan kita kadang-kadang tidak
bisa memiliki akhlak nan demikian, karena kesusilaan madzmumah adalah
akhlak yang ternoda dan sangat harus kita jauhi. Berbicara Rasulullah
SAW: “Ketahuilah, didalam tubuh manusia cak semau segumpal daging. Apabila
secebir daging itu baik, seluruhnya baik dan apabila daging itu buruk,
buruklah seluruhnya Ketahuilah olehmu bahwa sekepal daging itu

12

ialah kalbu (hati).” (HR. Bukhari). Adanya penyakit hati lega diri
seseorang menandakan ia memiliki akhlak ternoda (madzmumah). Penyakit
hati antara enggak disebabkan karena ada perasaan keki:
a. Pengertian Iri
Iri ialah sikap kurang senang melihat sosok lain mendapat
kekuatan atau kemenangan. Sikap ini kemudian menimbulkan
prilaku yang tidak baik terhadap manusia tak, misalnya sikap bukan
gemar, sikap tidak baik hati terhadap orang nan kepadanya kita keki maupun
menyebarkan isu-isu yang bukan baik. Jika perasaan ini dibiarkan
tumbuh didalam hati, maka akan unjuk perselisihan, dendam,
pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada
kisah Qabil dan Habil. Akibat (berbahayanya) sifat Timburu :
Sifat iri tidak membawa kepada kebaikan, bahkan tentu
membawa akibat buruk. Akibat dari adat sirik tersebut antara tak :
a. Merasa kesal dan sedih tanpa terserah manfaatnya bahkan bisa
dibarengi dosa.
b. Subversif pahala ibadah
c. Masuk Neraka
d. Mengecong makhluk lain
e. Menyebabkan buta lever
f. Menirukan ajakan syetan
g. Meresahkan turunan lain
Tetapi apabila kita memiliki iri terhadap suatu kebaikan ini di
perbolehkan yang mencakup dua hal merupakan :
1. Melihat turunan lain mempunyai maupun melakukan amalan – amalan nan
baik yang sesuai dengan perintah Allah subhanallaahu wa ta’ala, ‘azza wa
jalla dan RasulNya misalnya : menghafal Al Qur‟an.
2. Mengintai orang kaya yang berinfaq di kronologi Sang pencipta subhanallaahu wa ta’ala,
‘azza wa jalla. .

Keburukan hati disebabkan karena perhatian hasad.

Pengertian Dengki

13

Cemburu artinya merasa tidak doyan sekiranya bani adam lain mendapatkan
kenikmatan dan berusaha kiranya kenikmatan tersebut cepat berakhir dan
berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang tidak mendapat
petaka. Kebiasaan hasad ini berkaitan dengan sifat dengki. Cuma saja resan
hasad sudah dalam gambar ulah yang konkret kemarahan,
kejijikan, menjelek-jelekkan, merakut nama baik bani adam lain.
Orang yang dijangkiti sifat ini bersikap serakah, rakus, dan zalim. ia akan
menghalalkan apa cara bagi mencapai keinginannya, lebih lagi tidak
segan-canggung

berbuat

aniaya

(zalim)

terhadap

sesamanya

yang

mendapatkan kenikmatan hendaknya cepat kenikmatan itu berpindah kepada
dirinya. Allah ta’ala befirman dalam surat Al-Falaq ayat 1-5.


  





 

    
 

  

  
   



 
artinya :
“Katakanlah: “Aku bernaung kepada Tuhan Yang Menguasai dini hari, dari
kejahatan makhluk-Nya, dan pecah karas hati malam apabila telah gelap
gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus
pada buhul-buhul, dan berpokok kejahatan penghasad bila ia dengki”. (QS. Alfalaq : 1-5).
Tentang cemburu ( keki & sentimen ) bisa kita hindari dengan :
Banyak istighfar dan bertobat kepada Sang pencipta subhanallaahu wa ta’ala, ‘azza
wa jalla.
Mereka bergembira dengan spirit di dunia, padahal
arwah dunia itu (dibanding dengan) roh akhirat, hanyalah
kepelesiran (yang kurang). Yakin bahwa semua perbuatan insan sudah lalu

14

tercatat di Lauh Hafalan. Ingat sekiranya kita cemburu kepada orang tak tetapi
akan menyempitkan diri ( dada berlebih ).

2.5. Konsep Moral dan Kaitannya dengan Tasawuf
a. Denotasi Akhlak Tasawuf
Suluk Selam: Introduksi “Akhlak” berasal berasal bahasa Arab, jamak
berbunga khuluqun nan artinya khuluk pekerti, tingkah laku, perangai maupun tabiat.
Mempunyai sinonimetika dan etik. Etika dan moral berasal dari bahasa
Latin yang berasal dari kata etos : aturan dan mores artinya
kebiasaannya. Kata akhlaq berpokok berbunga kata kerja khalaqa nan artinya
menciptakan. Khaliq maknanya pencipta atau Tuhan dan makhluq artinya
yang diciptakan, sedangkang khalaq maknanya penciptaan. Kata khalaqa
yang mempunyai kata yang seakar diatas mengandung maksud bahwa
akhlaq merupakan susunan yang mengikat atas karsa Tuhan dan
khalayak. Lega makna tidak kata akhlaq bisa diartikan tata perilaku
seseorang terhadap orang tak. Sekiranya perilaku atupun tindakan tersebut
didasarkan atas kehendak Khaliq (Almalik) maka keadaan itu disebut andai
akhlaq hakiki. Dengan demikian akhlaq bisa dimaknai tata kebiasaan atau
norma prilaku yang mengatur hubungan antara manusia dengan Sang pencipta
serta alam semesta. Denotasi akhlaq secara terminologis menurut :
a) Imam Ghozali :
Akhlaq yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang
melahirkan ragam-perbuatan dengan mudah minus memerlukan
pemikiran ataupun pertimbangan.
b) Ibnu Maskawaih :
Akhlaq adalah gerak vitalitas yang memurukkan kearah mengamalkan
kelakuan dengan tidak membutuhkan perhatian.
c) Menurut Ahmad Amin :
Khuluqun (akhlaq) adalah sparing kehendak.
Berpangkal beraneka ragam definisi diatas, definisi nan disampaikan maka dari itu
Ahmad Amin lebih jelas menampakkan elemen yang memurukkan

15

terjadinya akhlaq yaitu yakni : resan dan iradah : kehendak. Takdirnya
ditampilkan suatu contoh proses akhlaq adalah sebagai berikut :
Internal akhlaq harus cak semau kecenderungan untuk mengerjakan
sesuatu, terwalak pengulangan yang besar perut terjamah sehingga lain
memerlukan perasaan.
Privat

iradah

lahir

keinginan-kerinduan

sehabis

suka-suka

rangsangan (stimulan) melalui indra, muncul kebimbangan, mana nan
harus dipilih diantara kedahagaan-kehausan itu padahal harus memilih
satu

dari

keinginan

tersebut,

mengambil

keputusan

dengan

menentukan keinginan yang diprioritaskan diantara banyak kedahagaan
tersebut. Dan contohnya dalah perumpamaan berikut :
Sreg jam 2 siang sendiri berangkat ke pasar untuk mengejar
bengkel motor bagi membeli kampas rem. Di detik memasuki lorong
gang, momen berpalis ke arah kanan melihat warung makan yang
munjung sesak dan kepulan bau sedap yang ia hirup. Sesaat kemudian
melihat sebelah kiri, terletak es cendol yang kayun dibeli manusia. Padahal
cucu adam tersebut sudah lapar dan haus. Sementara di arah depan
kelihatan mushalla nan nampak jati dan dilihat hilir mudik bani adam
sembahyang. Kemudian hamba allah tersebut menentukan shalat justru
silam karena menimang jam yang sudah limit. Kesimpulan
yang dipilih makanya orang tersebut pasca- banyak menimang
bilang keinginan disebut iradah. Jika iradah tersebut dibiasakan
setiap ada beberapa keinginan dengan tanpa berpikir panjang karena
sudah lalu dirasakan oleh dirinya maka disebut akhlak.

b. Pengertian Kebatinan
Lafal Ilmu batin yaitu mashdar (introduksi jadian) bahasa Arab bersumber
fi‟il (prolog kerja) tashowwafa – tashowwafu menjadi tashowwufan.
Ilmu batin adalah upaya mensucikan diri dengan prinsip menjauhkan pengaruh
nyawa dunia dan memusatkan perhatian belaka kepada Allah SWT.

16

Imam Al-Ghazali menyorongkan pendapat Serbuk Bakar AlKataany yang mengatakan: “Tasawuf adalah mencari hakikat dan
meninggalkansesuatu yang terserah ditangan cucu adam(kesenangan duniawi)‖.
Maqamat n domestik Tasawuf :
Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi bagi
bakir karib dengan Allah. Tingkatan maqamat adalah: taubat, asketisme,
wara‘, faqir, sabar, tawakkal, dan ridho.
Taubat: memohon ampun disertai taki tidak akan mengulangi
pula.
Zuhud: meninggalkan roh dunia dan mengutamakan
kebahagiaan di akhirat.
Wara‘: memencilkan segala yang syubhat (tidak jelas protokoler
haramnya).
Faqir: tak meminta makin berusul segala apa yang sudah lalu diterima.
Sabar: tabah dalam menjalankan perintah Allah dan ranah
menghadapi cobaan.
Tawakkal: berserah diri pada qada dan keputusan Halikuljabbar.
Ridho: tidak berusaha mengarah qada Halikuljabbar.

Konsep dalam Tasawuf
Mahabbah: perasaan cinta yang sungguh-sungguh secara ruhaniah kepada Allah.
Ma‘rifat: mengetahui Sang pencipta dari dekat, sehingga lever sanubari dapat
mematamatai Tuhan.
Wahdatul wujud: Bersatunya khalayak dengan Tuhan. Manusia dan Yang mahakuasa
puas hakikatnya adalah satu kesatuan wujud.
Insan Kamil: manusia yang sanding dan tertegak potensi ruhaniahnya
sehingga dapat berfungsi secara optimal.

17

Tarekat
Tarekat yakni jalan atau wahi dalam melaksanakan suatu
ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Nabi dan sahabatnya.
Tarekat sekali lagi berarti organisasi yang n kepunyaan syaikh, upacara ritual,
dan zikir tertentu. Guru tarekat disebut mursyid atau syaikh, wakilnya
disebut khalifah, dan pengikutnya disebut murid. Tempatnya dikenal
dengan ribath/zawiyah/taqiyah. Tarekat yang ada di Indonesia antara lain:
Tarekat Qadiriyah, didirikan Syekh Abdul Qadir Jailani (10771166). Dituturkan melangkaui manaqib lega acara-acara tertentu. Isi manaqib
yakni memoar dan perjalanan sufi Syekh Abdul Qadir sebanyak 40
putaran. Berkembang di pulau Jawa.
Tarekat Rifaiyah, didirikan Syekh Rifai (1106-1118). Cirinya
menggunakan kerawai rebana dalam wiridnya yang diikuti dengan tarian
dan permainan debus. Berkembang di Aceh, Smatera Barat, Jawa,
Sulawesi.
Tarekat Naqsyabandi, didirikan maka dari itu Muhammad Ibn Bauddin al-Uwaisi.
Berkembang di Sumatera, Jawa, Sulawesi.

18

BAB III
Akhir

3.1.

Penali
Akhlak adalah aturan yang tersemat dalam hayat yang menimbulkan
macam-macam polah nan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan. Tata krama terbagi menjadi dua : Moral mahmudah dan
moral madzmumah.
Moral mahmudah seperti beribadah kepada Allah, mencintai-Nya
dan mencintai orang-Nya karena Dia, dan melakukan baik serta
menjauhkan diri pecah polah-perbuatan yang dibenci Sang pencipta dan
memulai berbuat sholeh dengan kehendak ikhlas, berbakti kepada kedua
orangtua dan lainyya. Sedangkan akhlak madzmumah sebagaimana iri, dengki,
malas dan lain sebagainya.
Tasawuf ialah upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan
kekuasaan kehidupan dunia dan menunggalkan perasaan namun kepada Allah
Swt. Konsep ilmu batin meliputi empat situasi, yaitu : Mahabbah, Ma‘rifat,
Wahdatul wujud, dan Insan Hipotetis.

3.2.

Saran
Kertas kerja nan kami untuk adalah kertas kerja yang berpunca berusul
materi-materi yang ada intern manjapada khayali serta sendisendi agama adapun
Kesusilaan Tasawuf, Makulat, Urut-urutan Peserta Didik. kehilangan,
kesalahan ketik, ataupun kejanggalan materi yakni salah satu peluang
kesalahan kami. Oleh karena itu kritik dan saran dahulu kami perlukan
demi peningkatan kualitas maklah ini.

19

Makalah
Budi pekerti, ETIKA, DAN Tata susila Selam
Referat ini dibuat untuk Menyempurnakan Tugas Mata Khotbah Agama Islam

Disusun makanya :

Eka Juliana

( 18113976 )

Yute Anfiq Malaka

( 12126269 )

Irmansyah

( 12122876 )

Muhamad Noval

( 12123596 )

Rahman Jaya

( 12126023 )

Suryantono

( 12124970 )

Yulistyanto

( 12122792 )

Keramaian : 1 (Satu)

BINA Sarana INFORMATIKA
TANGERANG – BANTEN
Waktu 2022
20

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Beruntung rahmatnya, kami dapat
memecahkan penyusunan makalah ini dengan tepat waktu.
Dan makalah ini kami serah judul “Budi pekerti, ETIKA, DAN MORAL
N domestik ISLAM”. Makalah ini berisi tentang tata cara penerapan etika dan
moral pada rata-rata, dan akhlak pada khususnya. Dengan bahasa nan singkat,
padat, dan mudah lakukan di pahami berdasarkan pada dalil-dalil yang relevan.
Referat ini kami lengkapi dengan pendahuluan misal pembuka yang
menjelaskan latar belakang dan tujuan pembuatan makalah.
Pembahasan nan menjelaskan signifikasi dan penerapan etika, adab dan
etik kerumahtanggaan hayat sehari-tahun. Penutup yang berisi tentang kesimpulan yang
menjelaskan secara singkat isi berpokok referat kami. Makalah ini juga

kami

lengkapi dengan daftar pustaka yang mengklarifikasi sumber dan referensi
target intern penyusunan.
Kami menyadari bahwa referat ini masih belum sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini akan kami
cak dapat dengan senang hati. Akhir kata seharusnya keberadaan referat ini dapat
bermanfaat bakal semua pihak baik nan menyusun alias nan membaca.

Tangerang, Mei 2022

Penyusun

i
21

DAFTAR ISI

Perkenalan awal PENGANTAR ………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………….. ii
BAB I

PENDAHULUAN ……………………………………………………………….1
1.1. Latar Belakang ……………………………………………………………. 1
1.2. Tujuan ……………………………………………………………………….. 1

Bab II

PEMBAHASAN ……………………………………………………………….. 2
2.1. Pengertian Akhlak dan Objek Kajiannya ………………………… 2
2.2. Pengertian Etika ………………………………………………………….. 2
2.3. Denotasi Budi pekerti …………………………………………………………. 3
2.4. Jenis Akhlak ………………………………………………………………. 3
a.

Adab Mahmudah …………………………………………………. 4

b.

Akhlak Madzmumah …………………………………………….. 12

2.5. Konsep Etik dan Kaitannya dengan Tasawuf ……………..14
a.

Signifikansi Akhlak Ilmu sufi …………………………………… 14

b. Signifikasi Tasawuf ………………………………………………..16
Gapura III

PENUTUP ………………………………………………………………………..18
A. Penali ………………………………………………………………..18
B. Saran ………………………………………………………………………….18

DAFTAR Referensi

ii
22

Daftar bacaan

Ariwibowo. 2005. Etik. http://mediasauna.multiply.com/journal/item/8 diakses
pada 4 oktober 2022
www.tasawufislam.blogspot.com
Hamid. Abdul. Dr. Mutawalli. Cara Mudah Berlatih Makulat. Cetakn I, Februari
2022 Cetakan II. Juli 2022
Sunarto H. Prof. Dr. Perkembangan Peserta Didik .Jakarta: Rineka Cipta, 2008
Mustofa .A. H. Drs. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Konsisten, 1997 Nu fisafat
tempaan Ircisod Banguntapan Jogjakarta
http://nasehat-mukmin.blogspot.com/2011/04/tentang-haramnya-sihir-dandengki.html
http://ummushofi.wordpress.com/2009/08/22/larangan-saling-sentimen-1-maknahukum-dan-sebab-sebab-panas hati/
http://mentoring98.wordpress.com/2008/08/05/pentingnya-akhlak-islami/ diakses
2 April 2022
http://www.dakwatuna.com/2007/11/315/membangun-akhlakul-karimah/ di akses
2 April 2022
http://alkhawarizmi.or.id/artikel/hikmah/akhlak-rasulullah-saw/ di akses 2 April
2022

23

Source: https://text-id.123dok.com/document/zl958goz-makalah-etika-moral-dan-akhlak-dalam-islam.html