Mazmur 146 Ayat 1 10

KOTBAH Pekan XXIII SETELAH TRINITATIS Ahad, 07 Nopember 2022



MENGASIHI Mayapada DAN Barang apa ISINYA”

Kotbah: Mazmur 146:1-10

Pustaka: 2 Petrus 3:1-7


Minggu ini kita akan memasuki Minggu Keduapuluh tiga Setelah Trinitatis. Dalam Ahad ini kita akan meributkan tema


“Mengasihi Bumi dan Barang apa Isinya”.

Mayapada dan barang apa isinya adalah ciptaan Almalik. Wajarlah kita mengasihinya. Jika kita mengasihi bumi dan segala apa isinya, tentu kita akan mengalami kesenangan. Pemazmur mengingat-ingat betapa pentingnya kita mengasihi mayapada dan segala apa isinya. Hal itu tertumbuk pandangan semenjak untaian sajak yang ditulisnya dalam mazmur.

Mulai bermula Mazmur 146 sampai Mazmur 150, makanya para ahli kitab suci, disebut Mazmur
Hallel.

Itu disebabkan karena kelima Mazmur tersebut selalu diawali dan diakhiri dengan seruanHalleluya(Pujilah Yang mahakuasa). Seandainya dilihat dengan mandu seperti mana ini, maka boleh dikatakan bahwa seluruh koleksi 150 Mazmur ini akhirnya dipuncaki dengan seruan
Hallel
tersebut. Seluruh perjalanan ziarah dalam pacak-tonggak mazmur itu bermuara pada tempik Hallel. Dan keadaan itu sangat luar konvensional karena hasilnya puncak seluruh ziarah kita dalam mendalami Mazmur-mazmur ini bermuara pada seruan
“Pujilah Halikuljabbar”

(Laudate Dominum)

itu sendiri.


Mengomong cak bertanya mengasihi bumi dan segala isinya, maka kita akan nanang bersumber sendiri penolong dan mukhalis atas marcapada ini. Takdirnya kita cermati saat ini,  ada banyak pentolan penolong dalam hidup cucu adam. Justru dalam marcapada perfilman berbudaya (Holywood) dewasa ini, terserah banyak tokoh penyelamat nan hebat-hebat:superman, spiderman, batman, avenger dll.
Dengan caranya sendiri gembong-pelopor penolong ini memberi pertolongan bagi manusia yang sedang mengalami masalah ataupun kesulitan hidup. Mazmur ini juga menawarkan sosok penolong yang enggak dari marcapada iman dan ajun.
Sang penyelamat itu enggak lain ialah Tuhan Almalik sendiri.
Pemazmur optimistis bahwa sekadar Dia-lah satu-satunya sang penolong nan handal. Hal itulah yang dikemukakan dengan sangat jelas dalam judul Mazmur ini: “Cuma Almalik satu-satunya penolong.”

Cak bertanya kita sekarang ialah bagaimanakah cara kita mengasihi bumi dan segala isinya? Belajar dari perikope kotbah Minggu ini, kita mendapatkan bilang cara mengasihi mayapada dan segala isinya, yakni:


Pertama, kita harus terus berupaya memuji dan memuliakan TUHAN (ay. 1-2).

Kitab Suci mengungkapkan bahwa n domestik gubahan lirik mazmur pujiannya ini, pemazmur rindu kerjakan memuji dan memuliakan Yang mahakuasa. Memuji dan mengagungkan TUHAN hanya dapat kita lakukan selagi kita terserah. Itu berarti sepanjang kita punya kesempatan adv amat di dunia ini, kita harus memuji dan meluhurkan TUHAN baik internal ibadah, doa, persemakmuran, kesaksian, dan diakonia kita.


Kedua, kita harus menghindari berketentuan kepada para bangsawan, kepada anak asuh basyar yang tidak dapat memberikan keselamatan (ay. 3-4).

Mempercayakan diri kepada kepada para bangsawan akan membuat bumi dan segala isinya hancur. Mengapa? Karena jika nyawanya menyimpang (baca: mati), maka mereka akan kembali ke persil, dan plong periode itu juga lenyaplah harapan-maksudnya. Mayapada dan apa isinya (termuat Basilika) ini bukanlah dikuasai oleh para bangsawan sekadar dikuasi oleh TUHAN. Jika Gereja mutakadim dikuasai oleh hati manusia yang bejat dan jahat, yang haus akan kekuasaan, maka ingat Gereja pun akan hancur kacau-balau.

Pemazmur pula mengingatkan kita semua, sepatutnya mudah-mudahan kita jangan beriman kepada para bangsawan yang hendak mengatak dunia ini. Para bangsawan itu pasti akan mengekspolari bumi dan segala isinya buat menetapi Hasrat dan kebutuhan perut mereka sahaja. Mereka akan mengabaikan kedamaian di manjapada ini. Pemazmur lagi mengingatkan kita bahwa para bangsawan itu tidak boleh menyerahkan keselamatan. Mereka sendiri lagi akan antap dan kalam diselamakatkan.

Yang paling gentur menegor kita ialah Yeremia, Yeremia bercakap dengan gentur, “Terkutuklah orang nan mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya merenggang dari pada Tuhan!” (Yer. 17:5).Disebut terkutuk orang nan mengandalkan manusia maupun kekuatannya sendiri daripada Halikuljabbar ialah tanda-tanda bahwa sosok tersebut meremehkan Tuhan dan menganggap Tuhan enggak sanggup menolong.

Ketahuilah bahwa para bangswan itu memiliki keterbatasan khasiat, kemampuan, kesanggupan, kepandaian, kasih dan ketulusannya. Karena itu“Jangan berharap pada makhluk, sebab engkau lain lebih dari pada embusan nafas, dan misal apakah beliau dapat dianggap?”
(Yes. 2:22). Itulah sebabnya pemazmur kembali mengomong “Lebih baik berlabuh pada TUHAN bersumber pada percaya kepada manusia. Lebih baik berteduh sreg TUHAN bermula lega beriman kepada para bangsawan.” (Mzm. 118:8-9).


Ketiga, kita harus menjadikan Tuhan Yakub bagaikan penolong kita (ay. 5).
Allah Yakub adalah Allah penolong bagi semua orang. Privat Kitab Mazmur 54:4 disebutkan,  “Sesungguhnya, Allah merupakan penolongku; Tuhanlah yang menopang aku.” Di sini, secara dan tersurat, pemazmur menyatakan bahwa sepantasnya, Halikuljabbar adalah penolong kita. Bahwa Tuhanlah nan menopang kita. Juga dalam Surat Ibrani 13:6, “Sebab itu dengan optimistis kita dapat berkata: “Tuhan yaitu Penolongku. Aku bukan akan merembah. Apakah yang dapat dilakukan khalayak terhadap aku?” Maka itu sebab itu dengan optimistis kita boleh mengatakan bahwa Tuhan adalah Penolong kita. Karenanya, kita tidak akan takut. Kita tak akan gamang. Penolong kita satu-satunya adalah Yang mahakuasa bukan para bangsawan di dunia ini.


Keempat, kita harus mampu membebaskan khalayak yang terkurung (ay. 7).

Peristiwa ini telah menjadi tugas kita buat mengasihi bumi ini. Allah menjadi arketipe kerjakan kita sebab TUAHN sendiri sudah lalu membebaskan orang-orang nan terkurung dan menyalang anak adam-orang buta. Tuhan setia intern menegakkan keadilan kerjakan semua insan nan diperas. Beliau yakni Yang mahakuasa yang memberi roti kepada orang-individu nan lapar. Bak turunan beriktikad kita pun punya cara untuk menolong mereka yang terkurung dalam kedunguan, kemiskinan, siksaan, ketidakadilan, pemerasan dll. Disinilah perlunya kecerdasan, dan kebijaksanaan. Semua situasi tadi tidak bisa hanya dikerjakan dengan “kekejian hati”, “senyum dan takluk”. Untuk tanggulang itu kita harus punya pengetahuan, kepandaian moga kita ki berjebah menyingkirkan khalayak-cucu adam bodoh, miskin, melarat, tertindas dari semua pergumulan mereka agar mereka mendapatkan kedaulatan dan kebahagiaan.


Kelima, kita harus menjaga orang-insan luar, momongan yatim dan janda (ay. 9).

Kita akan menjaga dan menegakkan orang-insan asing, anak yatim dan janda dengan penuh belas kasihan. Hindarilah merampas nasib baik-eigendom orang asing dan janda. Sebaliknya, kita harus mengasihkan perhatian khusus bagi mereka. Kita harus mendampingi, mengadvokasi, dan malar-malar menjadi sabahat lakukan mereka. Dengan menjadikan mereka sahabat, maka mereka tidak merasa dipinggirkan, dikusilkan dan seorang pula. Mereka yakni episode dari kita dalam memuji dan mengagungkan Allah.


RENUNGAN


Mula-mula, bakal mengasihi bumi dan segala apa isinya ini adalah adalah tangung jawab kita bersama.

Tidak mungkin hal ini tercapai jika dikerjakan maka itu pribadi-pribadi kita. Kita n kepunyaan keterbatasan bakal mewujudnyatakan hal ini. Saja ketika kita bergandengan tangan, menjalin Kerjasama dengan berbagai pihak terkait, maka kita yakin dan berketentuan bahwa tugas mengasihi bumi dan barang apa isinya ini akan dapat kita gapai dan capai.


Kedua, cak bagi mengasihi bumi dan segala apa isinya kita harus terus mengandalkan TUHAN bukan para bangsawan. Tentu tertentang jauh berbeda.
TUHAN yaitu pencipta segalanya, para bangsawan adalah ciptaan. Konyollah kehidupan kita kalau menggantungkan hidup kita kepada ciptaan. Pencipta tak akan lulus karena Dia kekal sampai sejauh-lamanya, tetapi ciptaan akan mati dan ditelan bumi. Pencipta adalah Sang penyelamat, temporer ciptaan penis diselamatkan. Karena itu, hindarilah menggantungkan tujuan dan iman kepada para bangsawan hanya teruslah berharap kepada Halikuljabbar agar bumi dan segala isinya bisa terpelihara dengan baik. (rsnh)

Selamat beribadah dan menikmati lawatan TUHAN

By : RSNHARAHAP, 2022-11-07

Source: http://gkpa.or.id/?reff=bacaartikel&a=afe72590f7621bd7b38c5a116faadc5c