Mengapa Jepang Tidak Membubarkan Miai

Di Gedung Bataviasche Kunstkring, Muhammadiyah-NU takhlik federasi Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Maka dari itu:
Alwi Shahab

Konstruksi Bataviasche Kunstkring sudah berumur lebih satu abad. Gedung nan dibangun lega 1913 itu terletak di Jl Teuku Umar No 1, Jakarta Pusat. Detik peresmian, Universitas Kesenian Batavia dan pergelaran opera berbunga Eropa turut meramaikan.

Tamatan bangunan kesenian yang hingga waktu ini masih berdiri dengan seram, ini mempunyai

ciri spesial selama pemilikan Jepang (1942-1945) adalah lengkungan pintu, lubang angin, balkon, arkadia, dan menara. Gedung ini ngeri di atas tanah seluas 0,3 hektare dengan bangunan 731 meter persegi. Merupakan bangunan purwa nan menerapkan teknologi beton berkerangka.

Konstruksi kuno ini kombinasi telantaran kemudian diselamatkan ketika diambil alih Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI. Sira juga merupakan awal pembangunan kawasan Menteng.

Gedung ini pada periode Bung Karno pernah digunakan cak bagi biro Ditjen Imigrasi. Sebelumnya, beberapa saat setelah kemerdekaan, konstruksi ini menjadi kantor Madjlis Islam Alaa Indonesia (MIAI). MIAI adalah badan federasi jamiah Selam yang didirikan puas 21 September 1937 di Surabaya. Federasi ini didirikan atas prakarsa tokoh-tokoh Selam yang bertabiat tradisional, yakni KH Wahab Chasbullah (NU), KH Mas Mansyur dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).

Sejumlah organisasi Islam tempatan pula hadir privat pembentukannya. Tujuannya di dalam negeri adalah mengeratkan hubungan antarumat Islam, sedangkan kiprahnya di luar provinsi kembali cak bagi mengeratkan hubungan umat Islam Indonesia dengan negara luar. Inisiatif ke arah persatuan Islam menghafal rasi itu (lega 1930-an) diperlukan kerja seimbang yang erat untuk mengembari penjajah Belanda.

MIAI bertekad dengan adanya pergesekan-friksi di bidang politik dan perbedaan kritis internal soal khilafiah di dok umat Islam perlu dibenahi di atas dasar ukhuwah Islamiyah. Organisasi-organisasi berasaskan Islam menyambut baik pembentukan MIAI. Dalam perjuangannya, MIAI bergaya nonkooperatif terhadap penjajah, baik Belanda maupun Jepang.

Karena itu, Jepang taajul membubarkan MIAI karena dianggap membahayakan pendudukannya di Indonesia. MIAI kemudian takhlik Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Seperti MIAI, para pendukung terdepan Masyumi berasal dari Muhammadiyah dan NU. Ketika Pemilu 1955 terbentuk, Partai NU terpisah bermula Masyumi. Masyumi koteng kemudian dibubarkan Presiden Soekarno lega mulanya 1960-an.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Source: https://www.republika.co.id/berita/pidaln282/di-gedung-ini-numuhammadiyah-sepakat-bersatu-lawan-belanda