Not Balok Lagu Pahlawan Merdeka

Surabaya, Gatra.com –
Banyak pendapat berbeda terkait kapan dan di mana Wage Rudolf Supratman (lebih lanjut Wage) dilahirkan. Namun, semua orang agaknya mutakadim menyepakati bahwa kamu meninggal di Surabaya lega 17 Agustus 1938. Rumah wafatnya ketika ini menjadi Museum W.R. Supratman nan diresmikan oleh Tri Rismaharini tepat pada peringatan Hari Pahlawan 2022 adv amat.

Museum itu satu rumah kecil yang memiliki dua bilik dan ruangan pelawat yang pas luas. Binar saja, tempat itu dahulunya ialah rumah milik ayunda terkasih Wage nan bernama Roekiyem Soepratijah.

Selepas berkali-kali pindah domisili dan keluar masuk sel, pada 1937 Wage sekali lagi ke Surabaya dan menempati rumah kakaknya itu. Saat ini, kondominium kerdil dengan sengkuap segitiga tinggi itu berada di Jl. Mangga No.21, Kelurahan Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya.

Semenjak Tugu Pahlawan, rumah itu dapat ditempuh namun sekitar sepuluh menit menggunakan kendaraan roda dua. Sayangnya, kronologi ikut menuju Jl. Mangga No. 21 terbilang memadai kecil. Museum itu terletak di tengah-tengah perumahan dengan jalan paving. Doang layak untuk dua motor bersongsong.

Warga sekitar sepakat memberi peringatan mudah-mudahan penumpang wahana lain melaju lebih pecah 5 km/jam. Meskipun tempatnya tak terlalu drastis, aplikasi Google Maps sudah bisa menodongkan secara tepat.

Di depan Museum dibuatkan patung Wage paradigma dengan sudut bulat, rok berjas, songkok, dan biola berwarna hitam. Idiosinkratis dengan citra pahlawan nasional yang juga seorang musisisi band beraliran jazz mashur di Makassar.

Dahulu, ketika bangunan itu belum diresmikan sebagai museum, arca Wage dicat bertambah berwarna. Di bawahnya terletak taman boncel dan bonsai yang seukuran paha patung Wage. Tepat verbatim di tengah apartemen itu merembas tiang pataka. Hanya suka-suka satu pintu timbrung di rumah itu.

Layaknya museum pada galibnya, rumah itu dipenuhi replika benda dan foto-foto bersejarah tercalit tuannya. Di bilik mula-mula terdapat replika biola dalam lemari gelas beserta poto-poto avontur Wage dari tahun ke tahun.

Sementara itu di gedek pinggul ataupun kamar kedua, terdapat kaca osean yang berisikan uang jasa pecahan 50.000 tahun 1999 yang saat itu bergambar Wage. Saat masuk, penjaga museum hanya mempersunting kerjakan memuati daftar tamu dan registrasi terbelakang melalui web.

Terwalak kamar mandi dan banner lautan di kawasan belakang. Di pantat tembok pembatas, ada pohon samudra yang tak terlalu mengayomi halaman pantat museum nan panas di siang tahun.


Baca Pula:
Hari Pahlawan: H.O.S Tjokroaminoto, Si Suhu Bangsa, Syah Jawa Tanpa Mahkota

Peraturan museum sederajat saja, tamu tidak diperbolehkan sampai ke koleksi-antologi yang cak semau di n domestik. Hanya butuh waktu 15 menit lakukan membaca, mengitari, dan menelaah seluruh isi rumah wadah Wage wafat itu.

Selain itu, Jawatan Persuratan dan Kearsipan Surabaya pun menyediakan kode batang yang boleh dipindai menggunakan ponsel pintar untuk mendaras siaran-informasi yang berada di museum. Kode batang (barcode) itu disajikan di sekitar koleksi musem.

Pesarean Wage tidak jauh berbunga apartemen wafatnya. Menurut manifesto dari laman Bappeko Surabaya, awalnya pusara Wage terletak di ajang pemakaman umum Rangkah, di Jl. Kenjeran, Rangkah, Kecamatan Tambaksari, persis di seberang makamnya yang waktu ini.

Atas perimintaan dari keluarga dan pemerintah, makam itu dipindahkan di membelot jalan. Tempatnya seperti sebuah pendopo yang dikelilingi taman bunga. Di menyebelah makamnya terdaftar riwayat hidup sumir dan karya-karyanya. Sama sebagaimana di kondominium wafat, di daerah pesarean Wage kembali terwalak patungnya nan khas dengan jas, songkok, biola, dan ki perspektif bundar itu.

Kelahiran Wage Rudolf Supratman

Hal tersulit ketika menelisik sejarah Wage Rudolf Supratman ialah menemukan fakta yang sepatutnya ada dari kapan dan di mana pahlawan kebangsaan itu dilahirkan. Tidak hanya sampai di haud, kontroversi terkait penggubah lagu Indonesia Raya ini juga melibatkan apakah sira memiliki keturunan alias lain, apalagi apakah dia memiliki istri yang sah alias tidak.

Museum W.R. Supratman di Jl, Mangga 21 Tambaksari Surabaya. (GATRA/Mely)

Wage Rudolf Supratman mungkin tak tipikal pahlawan seperti Bung Tomo yang menggerakkan semangat juang rakyat Indonesia melangkahi kata-katanya yang membara. Wage memilih berjuang menggunakan bakat seni yang diwariskan oleh kakeknya, Mas Ngabehi Notosoedirjo. Menerobos biola, pukulan musik, dan pula not-not balok dan biji, Wage menumbuhkan kognisi pentingnya menjadi empunya di persil sendiri.

Wage dikandung maka dari itu ibu yang bernama Siti Senen, sendiri wanita yang mulai sejak dari Desa Somongari dan yakni istri berpangkal Djoemeno Senen Sastrosoehardjo. Intern
Wage Rudolf Supratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Arwah Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia “Indonesia Raya”,
Anthony C. Hutabarat, menyebutkan bahwa pasangan itu menikah pada 1890 di Purworedjo, Jawa Perdua. Si junjungan merupakan serdadu Laskar Kerjaan Hindia-Belanda maupun Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL).

Sang kakek awalnya tak merestui ayah Wage bikin menjadi serdadu KNIL. Mas Ngabehi semula berhasrat agar Djoemeno meneruskan pendidikan ke hierarki yang lebih tinggi. Hanya, kedahagaan Djoemeno bagi menjadi serdadu dibarengi oleh sifatnya nan keras pengarah, balasannya menang.

Terletak dua varian kapan tepatnya Wage dilahirkan. Mula-mula, dalam kunci nan sama Hutabarat mengistilahkan bahwa dia lahir pada Senin Wage (hari pasaran Jawa) 9 Maret 1903 palu 11:00 siang. Hutabarat menuliskan bahwa Wage lahir di Meester Cornelis, sebuah kota satelit di Batavia sreg zaman kolonialisme Hindia Belanda yang detik ini bernama Jatinegara.

Buku lain dengan judul
Wage Rudolf Supratman
oleh Bambang Sularto memiliki pendapat yang sedikit berbeda. Supaya mengisyaratkan tahun dan tanggal yang sebanding, Sularto menyebutkan bahwa Wage merupakan anak ketujuh yang dilahirkan di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo sreg malam tahun Senin Wage, pekan kedua, bulan ketiga, musim Jawa Wawu.

Pendapat lainnya menclok berpunca Museum Kutuk Bujang. Pasca- mengamalkan pengkajian biografi Wage, Museum Tulah Jejaka dalam laman resminya menyatakan, Wage lahir di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, lega Jumat Wage 19 Maret 1903.

Tiga bulan sesudah lahir, dia dipindahkan ke Jatinegara maka itu hamba allah tuanya. Menurut laman tersebut, cak bagi memudahkan, maka akte kelahiran Wage dibuat di Jatinegara sehingga banyak nan menuliskan bahwa Wage lahir di sana.

Biar demikian, Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, terlanjur menetapkan 9 Maret andai Waktu Irama Nasional, merujuk pada sungkap kelahiran Wage pada masa Senin sesuai pendapat Hutabarat.

Masa Kecil

Ketika bayi, dia hanya bernama Wage Supratman. Nama Wage diambil berpangkal bertepatannya perian kelahirannya, baik Senin ataupun Jumat, dengan pasaran Jawa, Wage. Menurut Sularto, nama Wage diberikan oleh ibunya saat upacara kerikan, seremoni tradisional mencukur atau memotong rambut bayi momen usianya 35 hari. Setelah pula ke Jatinegara beberapa bulan kemudian, Sersan Djomeno menambahi stempel anaknya dengan Supratman.

Ruang pelawat museum W.R. Supratman di Surabaya. (GATRA/Mely)

Berkat jabatan yang diemban bapaknya dan kekayaan yang dimiliki kakeknya, Wage kerdil menjalani hayat nyaman. Sang kakek merupakan suku bangsa priyai, memiliki lahan sawah yang luas, dan merupakan sorang seniman mashur di kapling Jawa. Lantaran kedua kakak junjungan-lakinya meninggal, Wage menjadi anak asuh yang dimanja dan terlampau disayang oleh keluarganya.

Rasa sayang orang tua itu lama-lama terasa mengekang kerjakan Wage. Ia kerap kali merajuk lantaran larangan-larangan posesif nan dibuat maka dari itu ibunya. Hal ini menjadikannya memiliki ikatan erat dengan mbakyu tertuanya, Roekijem. Berbeda dengan ibunya, Nama anak bungsu memberikan Wage kebebasan untuk bermain dan kronologi-urut-urutan sesukanya. Roekijem lebih-lebih dempang tak perikatan memarahi Wage kecil.

Ketika ayahnya pensiun pada 1910 selepas setahun sebelumnya mendapat pertambahan hierarki menjadi sersan, tanggungan Wage mengimbit ke Cimahi. Di sana, anda pula menyinambungkan sekolah di Budi Utomo. Cinta, kedekatan Wage dengan Roekijem pula haruslah bererak di sana. Ayuk sulungnya itu dipersunting W.M. van Eldik dan harus berjarak darinya.

Dua tahun kemudian atau lega 1902, ibu Wage meninggal bumi karena kesehatannya yang terus memburuk. Sreg 1904 ayah Wage memperistri wanita lain yang sudah mempunyai anak. Sularto menyebutkan bahwa sejak ketika itulah perangai Wage yang awalnya paksa berubah menjadi pemurung.

Sehabis banyak berkirim surat, ia akibatnya diboyong ke Makassar maka dari itu kakaknya, Roekijem, bikin melanjutkan hidup di sana. Ia berangkat di Makassar pada Nopember 1914 setelah beristirahat di atas kapal Van der Wijk dari Jazirah Perak. Di atas kapal itulah sira menemukan ketertarikannya pada nada saat mematamatai mbok sulung dan iparnya memainkan biola.

“Mbakyu Yem cak kenapa sudah pintar main biola. Berapa lama Kakak membiasakan main biola? Saya juga ingin bisa bertindak biola seperti Teteh Yem,” tanya Wage pada suatu sore di atas Van der Wijck nan terus luncur ke Makassar.

Kakaknya menjawab bahwa jika Wage bersungguh-sungguh ingin bertindak biola, maka Eldik, kakak iparnya, tidak akan ragu mengajari dan membantunya.

Atas usaha kakak barap dan iparnya, Wage berhasil masuk sekolah Belanda Europese Lagere School (ELS) selepas menambahkan “Rudolf” menjadi jenama tengahnya. Penambahan itu tentu harus dilakukan bikin meningkatkan peluang Wage masin lidah di sekolah yang mengalutkan kaum inlander memaksudkan guna-guna di dalamnya. Tetapi, hanya beberapa bulan saja dihabiskannya di ELS. Ia dikeluarkan lantaran politik diskriminasi Belanda yang pada saat itu mungkin belum dipahaminya.

Anak Band, Temperatur, dan Menjauhi dari Makassar

Selain menimba ilmu, di Makassar, Wage enggak berhenti menekuni musik. Pada 1920, Eldik sang mbok ipar mendirikan sebuah band berideologi jazz bernama Black & White Jazz Band. Band itu beranggotakan enam orang tertulis Wage sebagai pemantik biola andalan. Band ini laku keras dan terbilang mashur. Setiap malam Ahad, band ini demap manggung dan mengiri pesta dansa orang Belanda.

Replika biola W.R. Supratman di Museumnya nan berada di Surabaya (GATRA/Mely)

Semasa mulai dewasa di Makassar dan menjadi anak asuh band, Wage termasuk turunan nan popular. Meski banyak wanita Indo yang dekat dengannya, tak satupun bersumber mereka yang kaya merebut cinta Wage. Menurut Sularto, kisa petualangan “besar perut cigak” dengan para wanita Indo di Makassar itu berpulang tanpa kesan yang membekas.

Selain menjadi sendiri musisi, dia juga bekerja bak master. Satu saat pada 1923, mudahmudahan bisa menafsirkan statusnya berpokok hawa-sokong menjadi hawa-penuh, ia diharuskan mengajar di sebuah kota boncel bernama Singkang. Cerbak, mbok tertua dan iparnya tak sekata akan hal ini. Engkau diminta bagi memerosokkan keputusan itu dengan konsekuensi harus menyingkirkan profesinya sebagai guru.

Setelahnya, Wage dapat dibilang banyak berubahubah jalan hidup. Kejenuhan menjalani roh laksana anak band menghampirinya. Ia menghentikan kehidupan mentereng n domestik keramaian puja-puji wanita dan kemashuran perumpamaan anak band. Sreg 1924, ia mengasihkan pikiran penuh pada dunia politik. Sebentar-sebentar ia menghadiri orasi-ceramah politik nan digelar di Makassar.

Pada tahun ini jugalah Wage membelakangkan untuk kembali ke Jawa dengan maksud sediakala Surabaya. Namun, tak lama silam di Kota Pahlawan, Wage memutuskan bagi merantau ke Batavia dan kemudian ke Bandung. Di Jawa Wage menjajal peruntungan dengan minatnya yang bukan, yaitu marcapada jurnalistik. Dia tahu menjadi reporter cak bagi surat makrifat Kaoem Moeda dan kembali piagam pemberitahuan Sin Po.

Jurnalis Pencipta Lagu Indonesia Raya

Meski lain lagi menjadi penghibur menggunakan biola, Wage lain serta-merta membuang bakat warisan kakeknya itu. Setakat plong suatu sore, ia tergegau oleh sebuah artikel yang berpangkal n domestik Majalah
Timbul. Di sana teragendakan: “Sungguh baiknya kalau ada riuk seorang pecah perjaka Indonesia yang bisa menciptakan lagu kewarganegaraan Indonesia, sebab tidak-lain bangsa semua sudah mempunyai lagu kebangsaannya tiap-tiap.”

Pusara W.R. Supratman nan berada di Surabaya. (GATRA/Mely)

Kalimat itu memantik semangat Wage buat menggubah sebuah lagu kewarganegaraan. Ia mengobrolkan minatnya mencipta lagu kebangsaan sreg kakak iparnya, Oerip Kasansengari, pada pertengahan 1926. “Jikalau bangsa Belanda punya lagu nasional Wilhelmus, mengapa Indonesia belum punya. Sebab itu waktu ini saya sedang memulai merencana agu dan saya beritahukan pula kepada bapak dan saudara-saudaraku bikin berbahagia restunya,” terang Wage.

Menurut Bondan Winarno n domestik
Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
seperti mana dilansir dari laman
Historia.id, Wage yang aktif dalam kegiatan diskusi tercalit kewarganegaraan dengan bineka anggota pergerakan mendapat habuan bantuan Theo Pangeman n domestik proses pembuatan lagu nasional.


Baca Sekali lagi:

Peringatan Perian Pahlawan, Upacara Ziarah Nasional Digelar di Taman Taman bahagia Pahlawan Kalibata

Lagu itu pun selesai digubah dan pertama kali diperdengarkan pada penutupan Dewan perwakilan Pemuda II 28 Oktober 1928 versi instrumental melalui gesekan biola belaka. Lagu itu diperdengarkan komplet dengan liriknya dinyanyikan oleh Theodora Athia pada pembubaran panitia Senat Teruna II, Desember 1928. Itulah mana tahu kedua lagu Indonesia Raya kembali dikumandangkan.

Tentu cuma pihak Belanda bukan menyukainya. Mereka pusing lagu tersebut membangkitkan kehidupan kemerdekaan. Sebatas pada 1930, Belanda melarang mengidungkan lagu
Indonesia
Raya
n domestik kesempatan apapun dengan alasan mengganggu keamanan dan ketertiban.

Laksana penyusun lagu itu, Wage lain luput dari ancaman. Ia pun sempat ditahan selintas maka dari itu Belanda lantaran
Indonesia Raya,
lalu dilepas. Sekadar, setelah lagu
Matahari Mulai sejak, Wage kembali ditahan oleh Belanda. Ia dapat objektif lantaran pertolongan iparnya, Eldik, yang membabaskannya dari tuduhan dari maksud-maksud lirik nan ada privat lagu
Mentari
Pecah.

Area makam W.R. Supratman yang dikelilingi maka dari itu ujana bunga. (GATRA/Mely)

Wage mulai gempa bumi-sakitan sekeluarnya berusul interniran. Tiga hari sebelum meninggal maupun plong 14 Agustus 1938, ia merintih sreg kakaknya bahwa badannya amat langlai. Karuan Roekijem dolan cepat untuk menawarinya dipanggilkan dokter, tetapi Wage menggeleng dan mengatakan bahwa masih ada persiapan obat resep tabib. Sehari kemudian, kondisinya bukan tandang membaik. Ia enggak kuasa kembali bangkit berbunga ranjang.

Suatu sore pada hari itu, Oerip Ksansengari nomplok menjenguk. Ia terkesiap mengawasi kondisi Wage yang begitu cepat membusuk. Saat berbincang-bincang dengan Oerip, Wage menyatakan kalimat terkenalnya itu: “Nasibku sudah begini. Inilah yang disukai oleh Pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal, saya ikhlas. Saya toh mutakadim bersedekah, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin, Indonesia pasti merdeka.”

Keimanan itu ia pegang setakat menghembuskan berasimilasi terakhirnya pada Paru-paru 17 Agustus 1938. Jenazahnya dikebumikan secara islam. Puas 31 Maret 1956, kerangka jenazah Wage dipindahkan ke makam baru. Dalam tahun hayatnya yang terbatas bermula tiga puluh enam waktu, Wage menghambakan diri buat perjuangan nasional mencapai kemerdekaan Tanah Air dan nasion melintasi karya-karyanya.

Source: https://www.gatra.com/news-557596-nasional-serial-hari-pahlawan-wage-rudolf-supratman-anak-band-wartawan-dan-indonesia-raya.html