Pertanyaan Tentang 8 Fungsi Keluarga

ilustrasi: inspirably.com

Ada 5 pertanyaan yang akan dibahas dalam kulwap ke 17 kali ini.

Yuk, sparing bersama!

Pertanyaan-1

Saya mutakadim ber-rumah jenjang sejauh 20 tahun. Saya bekerja di luar rumah padahal suami kerja dengan sistem kerja
shift. Otomatis kami berdua terik ketemu. Sekarang saya berada pada titik jenuh kepingin berhenti sepatutnya dapat berkumpul bersama batih. Adakah solusi yang tepat?

Jawaban Bu Elia Daryati

Tanya ini behubungan dengan masalah pekerjaan yang terkait fungsi batih, khususnya fungsi ekonomi internal batih.  Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan fungsi keluarga ?Faedah keluarga adalah suatu tiang penghidupan-tiang penghidupan alias tugas-tugas yang harus dilaksanakan di privat maupun oleh anak bini tersebut.
Ada 8 fungsi keluarga,

Kebaikan Keimanan,  Fungsi Sosial Budaya,  Kurnia Cinta Rahmat,  Fungsi Perlindungan, Fungsi Reproduksi,  Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, Khasiat Ekonomi,  Kebaikan Perawatan Lingkungan.

Jika ke 8 fungsi ini berjalan baik dengan sepadan, maka akan didapatkan sebuah keluarga menjadi sejahtera. Khususnya untuk fungsi ekonomi anak bini, umumnya fungsi ekonomi ini sebagian besar dijalankan oleh atasan batih. Ayah sebagai ketua anak bini bekerja mengejar nafkah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tataran.

Sahaja, di jaman sekarang tidak sedikit wanita yang turut membantu menepati kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai wanita karir.

Tentunya tidak salah seorang istri ikut membantu kerumahtanggaan perekonomian keluarga. Cuma jika terjadi ketidakseimbangan dalam menjalankan kebaikan keluarga yang utuh, semoga didiskusikan. Seberapa besar seandainya pada akibatnya angka kemaslahatan dengan berhenti bekerja.
Percayalah rizki itu tak pernah tertukar.
Ketika satu pintu tertutup selalu suka-suka gerbang enggak yang terbuka.
Memang ada kredit yang bukan dapat ditukar yaitu kebersamaan privat berfamili. Tetapi sekali lagi pikirkan matang-menguning sebelum berkeputusan. Apapun kisahnya, lega hasilnya usia yaitu saringan.

Jawaban Anna Farida

Rumuskan kembali apa tujuan bekerja (di dalam ataupun di asing rumah).


Pasti akan cak semau pergeseran tujuan antara niat lima masa yang silam, sepuluh tahun nan lalu, apalagi ini sudah 20 tahun yang lalu. Mungkin di tadinya pernikahan, bekerja adalah upaya memenuhi kas dapur keluarga dengan tingkat urgensi yang berlainan dengan ketika ini.

Misalnya, saat itu ongkos hidup keluarga masih harus dikumpulkan, tabungan disiapkan. Kebutuhan biaya momen ini boleh jadi lebih banyak bisa jadi bertambah kurang, kan?

Karena itu, saya tidak berani sotoy mengatakan
“Mengetem bekerja saja, Bu, biar banyak musim dengan keluarga,”  alias “Jangan berhenti, deh, Bu. Lanjutkan dulu hingga ada pekerjaan baru yang lebih laur,” bahkan berbicara “Sudah lalu, memangkal saja. Pokoknya berhenti.” – Emang siapa elllu, Anna?
🙈

Nan bisa menentukan apakah berkarya di luar rumah masih perlu dilanjutkan ataupun bisa dialihkan ke dalam flat yaitu Ibu koteng.
Kembali ke tanya semula, barang apa tujuan bekerja ketika ini? Masih harus cari makanan atau start bergeser menjadi kebutuhan pribadi untuk tegar memiliki aktivitas?

Jikalau sudah ada rasa jenuh tambahan pula kegelisahan untuk lebih banyak berkumpul dengan keluarga, besar kemungkinan posisi bekerja di luar rumah mutakadim bukan juga prioritas utama.
Bagaimanapun juga, bekerja dengan bahagia merupakan modal utama.

Coba bahas dengan suami, Bu. Rumuskan lagi  tujuan masing-masing bikin bekerja (di luar rumah).

Cak bertanya-2

Adakah peristiwa yang bisa membuat hati tenang dengan pilihan menjadi IRT (Ibu Rumah Hierarki) dengan segala apa rukyah pencong serta penilaian rendah berusul orang-orang di sekeliling?

Jawaban Bu Elia Daryati

Menjadi ibu kondominium tangga merupakan martabat bagi koteng wanita. Menjadi IRT itu satu pekerjaan mulia. Tidak semua wanita memiliki kemewahan menjadi seorang IRT, beberapa diantaranya harus memiliki peran ganda dan ini seringkali memiliki ekses yang tidak selamanya berupa, jika abnormal mewah menjalankannya.

IRT adalah suatu profesi, jika kita memprogramnya dengan benar.
Menjadi IRT lain karier sambilan karena semenjana menyiapkan sebuah generasi ke depan.
Bahkan dibeberapa negara maju, memberi IRT sebuah kompensasi khusus dengan gaji bulanan, agar dapat fokus menjalankan tugasnya demi mencetak generasi yang baik di kala nanti. Hanya saja menjadi IRT memang harus dilakukan dengan benar-benar walau alhasil plonco akan kita lihat, pada beberapa hari, beberapa belas tahun, bahkan beberapa puluh periode kemudian. Hasil itu akan kita tuai melewati kebaikan momongan-anak kita.

Jadi kesimpulannya
menjadi IRT yakni hadiah yang terindah berpunca Allah.
Perkara masalah omongan miring, itu tak urusan kita, bisa jadi mereka belum faham. Sesungguhnya tugas utama koteng wanita yakni menjadi istri dan ibu yang baik,  bikin menjadi taman firdaus di rumahnya kerjakan mencetak surga di masyarakat melangkaui hasil didikannya besok.

Jawaban Anna Farida

Sudah sekolah tahapan-strata kok cuma kaprikornus ibu rumah  tangga, sih? Pertanyaan seperti mana itu masih cangap muncul, gitu? Magfirah saya kuper. Mungkin karena lingkaran persahabatan saya adalah para ibu nan bangga dengan profesinya sebagai IRT—that’s why memilih teman itu penting.

Rukyah benyot? Pandangan siapa? Bisa jadi yang bengot? Hehe

Seringkali orang memandang apa yang dipertontonkan, lho. Jika kita sudah lalu menetapkan hati untuk makara IRT, darah kita pasti pede.

Btw, ketika ditanya sosok kerja di mana, saya bertambah comar jawab “ibu kondominium tangga” tinimbang “penulis”, suwer.

Perhatikan, saya jawabnya langsung angkat dagu sedikit, dengan suara mantap, rukyat lurus ke mata yang nanya—ini cak hendak nantang berantem, ya? 😀

Artinya, pandangan tekor individu lain tentang profesi ini lebih banyak terbit dari sikap IRT itu seorang karena merasa minus.
You are what you think.

Untuk memperbaiki pandangan diri nan rendah pada tugas IRT,
perkaya terus kemampuan dengan meng-upgrade diri. Ikuti berbagai kursus, baca banyak buku, berjejaringlah dengan komunitas para ibu nan produktif dari rumah, teruslah sparing berbagai hal yunior, sebarkan di antara teman.

Truss …  jangan kebanyakan mantengin grup WA maupun FB yang isinya … errr … err … ahahah tar kaprikornus gosip
🙊

Artinya, informasi yang timbrung kerumahtanggaan kepala kita sedikit banyak akan membentuk rukyah kehidupan kita dan itu terlihat n domestik sikap kita. Nah, sikap inilah yang menjadi wacana orang lain berpendapat tentang diri kita. Naasnya, pendapat orang tidak itu kemudian itu jadi rujukan kita menilai diri sendiri #superhalah – hayyooo lingkaran apa namanya?

Tanya-3

Bagi saya semua ibu itu hebat. Cuma kenyataannya masyarakat menilai ibu hebat adalah yang sukses di bisnis/menghasilkan uang alias punya karier. Sementara itu menurut saya ketakjuban kudus momen berlimpah membawa buah hati menjadi generasi yang berakhlak mulia. Bagaimana menurut narasumber?

Jawaban Bu Elia Daryati

Saya sekata dengan jawaban ibu, sama dengan yang telah saya sampaikan dalam jawaban dari pertanyaan kedua. Memang tugas utamanya adalah di buku lokal yakni keluarganya. Akan tetapi,
takdirnya masih n kepunyaan waktu, dan mampu menyumbangkan ilmu dan juga punya kesempatan untuk mengembangkan diri, itu pun lain suatu nan riuk.

Misalkan ketika anak-anak asuh sudah beranjak segara dan sudah tidak terlalu memerlukan uluran tangan secara fisik. Waktu adv pernah yang kita miliki,  bisa digunakan bakal menambah wawasan, berkegiatan sosial, atau pun berbisnis, itu tidak satu yang salah. Tapi fokus utamanya tentu bukan berbunga bisnisnya, namun mulai sejak kebermanfaatan diri. Setelah keluarga menjadi baik, dan masih n kepunyaan energi lebih, tentunya.

Jawaban Anna Farida

Nyaris sama dengan kasus nomor dua. Yang menentukan hebat alias tidaknya seseorang lain angka nan dia hasilkan. Menurut rukyah sotoy saya,
makhluk disebut berbuntut yaitu saat sira bahagia dengan dirinya dan berlimpah menebar kegembiraan pada orang-orang di sekitarnya.
Apakah dia bahagia dengan berkreasi di luar atau berkreasi di kondominium alias mendedikasikan dirinya momong keluarga itu seleksian.

Satu hal yang penting, kemuliaan tidak pernah ditentukan maka dari itu rukyah orang lain.
Nurutin rukyah orang bisa kerjakan migrain kanan kiri 😀

Kombinasi dengar atau baca kisah seorang ayah dan anaknya dan keledainya?

Suatu petang mereka empat mata berjalan menuntun orang bodoh.

Orang-anak adam berkomentar,
“Punya keledai tidak ditunggangi. Sayang, ih!”

Sang anak sekali lagi menunggangi keledai dan sang ayah menuntunnya. Mereka empat mata baik-baik saja, jalan refleks ngobrol.

Orang-orang berkomentar,
“Anak bukan berbakti. Ayahnya dibiarkan berjalan, beliau enak-enakan mengendarai keledai.

Masa ini gantian. Ayah yang menaiki keledai, anaknya menuntun. Lagi-lagi mereka berdua baik-baik saja, jalan sambil ngobrol.

Orang-orang berkomentar,
“Ayah tak punya rasa sayang. Anaknya dibiarkan bepergian, dia sedap-enakan menunggang keledai.”

Masa ini mereka empat mata naik keledai.

Orang-orang berkomentar,
“Ayah dan anak tak punya belas kasihan sreg binatang.”

Bete dengan komentar orang, akibatnya himar itu mereka pikul empat mata.

Orang-individu berkomentar,
“Tatap, suka-suka ayah dan anak asuh sama-sama gila.”

Tapppe, deeeh!

Apakah ketika menikah dan mempunyai anak, kemudian dalam posisi tidak ada sortiran tak selain stay di apartemen, lalu merasa ini bukan duniaku (ga gue banget!), pertanda tidak menjadi diri koteng?
Rasanya bosan dengan urusan rumah tangga. Enggak suka di dapur, urusan suci-bersih yang bukan suka-suka habisnya. Minta saran terbaik ya, Bu.

Jawaban Bu Elia Daryati

Semua pilihan harus dinikmati. Setiap wanita secara naluri memiliki unsur penjagaan. Hanya saja pendidikan kita secara tidak serempak menciptakan menjadikan peran-peran kehidupan itu menjadi sekufu. Beberapa anak dara dan pun anak asuh laki-suami. Sedemikian itu menikah  diantaranya belum tersadar akan perannya. Peran sesuai dengan identitas dirinya. Menjadi IRT harus n kepunyaan komitmen sebagai bentuk kewajiban jawab atas sebuah keputusan.

Beberapa gadis dan teruna,  sedemikian itu menikah beberapa diantaranya yunior terjaga, atas peran yang harus dijalankannya. Sebetulnya peran sebagai cem-ceman itu programnya banyak, demikian kembali dengan suami.  Adapun  yang namanya peran IRT itu tak sekedar bersih-bersih dan mengerjakan pekerjaan fisik lainnya. Selayaknya, kesadaran akan halnya fungsi diri dan manfaat batih menghendaki banyak aji-aji yang harus dipelajari.

Kecuali kalau kita “gagap” peran. Banyak kegiatan nan bisa dilakukan misal IRT, di luar waktu yang bersih-bersih ga ada habisnya itu. Komplet : seorang IRT itu harus mengerti ki kesulitan kesehatan, gizi, finansial, pendidikan, keyakinan, tata ruang, kesegaran mileu, dst…dst. Sekiranya kita merencanakannya dengan baik, bukan suka-suka kejenuhan di dalamnya. 24 jam tidak patut tahun bikin itu.

Jawaban Anna Farida

Hidup itu seleksian, kadang dipilihkan
(eh, kutipan bagus buat instagram😎)

Momen kita mesti menyepakati hal yang dipilihkan, nan nggak gue banget, wajar kok kecewa. Tapi jangan lama-lama. Esok rugi kanan kiri depan birit.

Mula-mula, pilihannya bukan pilihan kita. Kedua, kita terus menerus kecewa—itu jelas rugi. Ketiga, makhluk lain tidak cak hendak tahu maupun memang tidak tahu—rugi banget memendam me koteng. Keempat, anak yang tidak senggang menahu dengan pilihan nan dipilihkan itu berpotensi bintang sartan sasaran kekecewaan kita.

Siuman. Kita selalu dapat menciptakan pilihan dalam kondisi apa juga. Terserah petuah seorang nan bijak, yang camar menghibur saya intern segala kondisi, “Jika yang beliau sukai enggak terjadi, sukailah yang terjadi.
🍀

Jadilah mampu. Yang gue banget itu barang apa? Kerja?  Berkarir?

Tahukah Kamu bahwa keseleo suatu karir yang paling diinginkan orang zaman bertamadun adalah berkarir dari apartemen? Tetap suka-suka transfer walau pakai daster
😂
#halah  jadiin quote pun?

Oke, detik ini aku bintang sartan IRT, selalu menghadapi bak cuci piring dan keranjang setrikaan yang auto refill, mencampuri rumah yang kerap hidup dengan mainan dan buku bersebaran dari ujung ruang tamu sampai jingkir
😖
😥  —- eeeh kok jadi saya yang curhat #pembebasan, hahah

Memang masa ini bintang sartan IRT tidak gue banget, tapi aku memilih untuk menjadikan apa yang kumiliki detik ini sebagai hal terbaik. Aku memiliki keluarga saat yang lain belum berkesempatan sepadan, aku punya cita-cita untuk berkembang saat orang lain nerimo sekadar, ataupun merajuk setiap periode ke junjungan minta dibelikan hape baru. Aku sih tidak minta hape tapi demo minta karcis gelintar manjapada #mulllaaai.

Menjadi istri dan ibu saja memang bukan pilihanku. Nggak gue banget.
Pilihanku adalah jadi istri dan ibu yang terbaik.
Pilihanku adalah menjalaninya sepenuh hati dan mengisinya dengan performa.

Cak bertanya-5

Puas vitalitas berapa sebaiknya pembiasaan pembagian tugas rumah untuk anggota keluarga dilakukan? Lalu bagaimana agar pencatuan tersebut lebih efektif dan cerbak tegar dilaksanakan oleh setiap anggota keluarga? Jazakumullah.

Jawaban Bu Elia Daryati

Sebetulnya pencatuan tugas itu terbagi 2, tugas untuk menolong diri sendiri dan penjatahan tugas keluarga.
Jika sudah mampu menjalankan tugas menolong diri, maka untuk menjalankan pembagian tugas keluarga menjadi akan jauh lebih mudah.

Kegiatan menolong diri sendiri ini, dapat dimulai sejak kecil.
Misalnya, saat anak usia 4 bulan mulai senang menjangkau sendok ketika di suapin, biarkan dia sparing muncul menggenggamnya. Ini merupakan pengharmonisan mulanya berlatih makan, walau tentunya masih sangat bukan abstrak. Kita ki ajek mendukung dengan mengarahkan. Dengan bertambahnya usia keterampilan dan rasa mau adv pernah anak asuh kian besar,
”activity daily living” momongan semakin bertambah.

Mereka belajar makan, mandi, menyimpan mainannya dan mengatur “pengeluarannya” menerobos toilet training. Semua langkah sediakala kemandirian dan tugas-tugas asal menolong diri seorang mulai diajarkan. Ayah bunda bisa melihat, keterampilan apa yang minimum dikuasai anak pada umur dini, maka dapat dimulai untuk pencatuan tugas keluarga.

Semua tugas pembagian keluarga bisa dilakukan dari usia balita dan disesuaikan dengan kemampuannya. Cuma diatas segalanya diperlukan hipotetis, karena anak asuh yakni peniru dan sang peniru nan paling hebat. Selama ayah bunda juga punya komitemen dan konsisten. Maka anak asuh kembali akan memiliki kedua hal tersebut.
Menjadi orang berida yang kepatuhan, biasanya akan memiliki anak yang disiplin pula. Semua disiplin puas akhirnya akan menjadi embrio berusul pembentukkan kewajiban jawab, baik terhadap diri maupun terhadap lingkungan.

Saya sambil nulis ini berpikir, “siapa bilang kaprikornus IRT itu mudah?
😊

Jawaban Anna Farida

Sejak dini. Saya memulainya dengan mengajak anak mengelola eks ompolnya sendiri.
Tiba dengan tugas sederhana, bisa diawali dengan menulis daftar tugas.
Daftar tugas ini akan membantu anggota keluarga lakukan ngeh dan melek bahwa tugas rumah tangga itu buanyak!

Coba Anda tulis pekerjaan apa saja nan harus diurus. Pasti bersaf-ririt. Anggota keluarga akan tahu dan seyogiannya tidak tega jika semua dibebankan ke Ibu.

Menginjak libatkan anak mencampuri hal-hal rutin, misalnya campakkan sampah, mengurus binatang piaraan, gelantang baju, beresin mainan …

Jadikan keterlibatan ini perumpamaan kegiatan nan mendekatkan diri dengan anak dan suami.
Jawab isi perut mereka dengan bacot terima hadiah – jangan balas ngomel, “Tahu nggaaak, Ibu erak ngurus kondominium terkoteng-koteng. Yunior bantu segitu semata-mata sudah ngeluh!”

Ih, sama-sama keluar energi bakal ngomong kenapa nggak jawab semacam ini, “Makasihh banget sudah bantu, ya, Kak. Jadi capek, ya? Kita untuk es teh, mari.”

Atau, jika es teh pun dirasa elusif, sejumlah saja “Cak dapat hidayah, bantuan Ayunda sungguh signifikan. Ibu beruntung periode ini.”

Gratis, tidak repot, dan membuat hubungan dengan momongan atau tara jadi dekat.

Kita sudah baca asam garam teman-jodoh di kulwap ini tentang pembagian tugas dengan pasangan–which are so cool–rahasia itu bisa sekali lagi diterapkan pada anak-anak.

 Selesai.

Selamat menjalani peran Sira dengan bahagia 🙂

Source: https://uchishofia.wordpress.com/2016/01/07/tanya-jawab-publik-atau-domestik/