Puisi Guru Singkat 3 Bait

Sedulur pasti tahu, hawa berkali-kali dijuluki andai pahlawan tanpa tanda jasa. Selain mengajar, temperatur juga membimbing dan menyerahkan kasih sayang kepada murid-muridnya. Dengan besarnya jasa-jasa guru dan kesabarannya n domestik memberikan ilmu, tidak ada salahnya bila Sedulur membuka rasa syukur, salah satunya dalam bentuk puisi guru.

Puisi guruku pahlawanku boleh disampaikan n domestik ketika segala apa pun. Sedulur bisa takhlik puisi hari guru maupun puisi temperatur 2 bait untuk programa kelulusan. Puisi nan dibuat dapat berupa ucapan rasa syukur, peroleh kasih, dan tahlil-doa bagi temperatur. Meski terdorong sederhana, satu usaha kecil ini boleh mewujudkan para guru tersentuh.

Nah, lakukan Sedulur yang tidak pandai membuat puisi, di bawah ini adalah kumpulan tembang guru penuh makna nan bisa menjadi wacana. Sedulur dapat mempersembahkannya kepada para guru agar mereka tersentuh dan melihat ketulusanmu.

BACA Pun:

Ciri Ciri Puisi, Unsur, Jenis, dan Contohnya

Lengkap puisi guru dari tokoh terkenal

puisi guru
Freepik

Ada banyak otak terkenal nan gayutan menulis puisi tentang suhu. Keseleo suatu yang paling tenar ialah sajak-syair karya Chairil Anwar. Selain itu, ada pun tokoh-gembong tak yang menuliskan puisi guru pendek penuh makna seperti Kahlil Gibran, Mustofa Bisri, W.S. Rendra, dan Joko Pinurbo. Silakan simak karya-karya mereka.

1. Sambut Hidayah, Master – karya Chairil Anwar

Kompas

Terima belas kasih, guru



Lakukan ideal yang telah kau berikan



Aku cerbak mempertimbangkan semua yang kau ajarkan



Dan merefleksikan itu semua lega karakter dan pribadiku

Aku ingin menjadi sepertimu



Pintar, menganjur, dan gemesin,



Aktual, percaya diri, protektif

Aku mau menjadi sepertimu



Berpengetahuan, kognisi yang n domestik



Berpikir dalam-dalam dengan hati dan lagi pembesar



Menyerahkan kami nan terbaik



Dengan sensitif dan penuh perhatian

Aku mau menjadi sepertimu



Memberikan waktumu, energi dan bakat



Bagi teruji perian depan yang cerah



Pada kita semua.



Cak dapat hidayah, guru



Yang telah membimbing kami



Aku kepingin menjadi sepertimu

2. Bimbingan Keras – karya Chairil Anwar

IDN Times

Ketika aku memasuki kelasmu, aku berpikir dalam-dalam



Tantangan apa yang akan kau berikan padaku

Kamu memberiku motivasi untuk melewatinya



Dan menyorong kelemahan yang meragukan diri

Beliau alangkah telah menelanjangi pikiranku



Dengan kebijakan, berkanjang dan ketegasan

Kamu membantuku bakal mengawasi atas



Menemukan tujuan nan harus kucapai

Beliau mengeluarkanku berasal kegelisahan



Cak dapat kasihku atas jerih payahmu

Apa nan kau ajarkan akan menumbuhkanku



Perhatianmu sangat hingga ke hati dan pikiranku

Aku akan buruk perut menghafaz jeweranmu



Aku berharap semua guru sepertimu

3. Bintang – karya Chairil Anwar

Kompas

Aku mencintai kelasmu



Kamu membantuku ‘tuk mengintai



Bahwa untuk hidup bahagia



Membiasakan adalah kuncinya

Kamu memahami muridmu



Kamu ingatan dan ahli



Sira guru terbaik yang pernah suka-suka



Aku tahu itu dari sediakala kita bertemu

Aku mencerca kata-katamu



Kata-prolog dari seorang master sejati



Kamu lebih dari transendental terbaik



Sebagai master, kamu ialah bintang

BACA JUGA:

Biografi & Kumpulan Puisi Chairil Anwar, Tokoh Puisi Indonesia

4. Guru – karya Kahlil Gibran

IDN Times

Sembarang orang ingin menjadi guru



Biarlah dia memulai mengajar dirinya sendiri



Sebelum mengajar orang lain



Dan biarkan lagi anda mengajar dengan komplet



Sebelum mengajar dengan alas kata-kata



Sebab, mereka nan mengajar dirinya sendiri



Dengan menyungguhkan perbuatan-polah koteng



Lebih berwajib atas penghargaan dan keagungan



Daripada mereka yang namun mengajar individu lain



Dan membenarkan perbuatan-polah makhluk lain

5. Guruku – karya Mustofa Bisri

Rekreative

Ketika aku kecil dan menjadi muridnya



Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar



Ketika aku segara dan menjadi pintar



Kulihat dia seperti itu kecil dan ikhlas



Aku menghargainya dulu



Karena tidak senggang harga guru



Ataukah masa ini aku tak tahu



Menghargai temperatur?

6. Akan halnya Hawa – karya W.S. Rendra

Kompas

Peserta-murid mengobel kelentit ibu gurunya



Bagaimana bisa itu mungkin?



Itu mungkin.



Sebab tak ada patokan buat apa saja

Semua bisa.



Semua tak boleh.



Tergantung lega cuaca



Tergantung pada amarah dan girangnya sang tuanku



Tergantung puas kuku-kuku garuda dalam mengatur pengenalan

Ibu guru perlu sepeda motor pecah Jepang



Ibu guru kepingin hiburan lagi binar



Ibu guru ingin sengkuap rumahnya tidak mencirit



Ibu guru ingin pula panjar pil penenang,



Tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan dokter

Maka berkatalah dia kepada murid-muridnya



“Kita bisa mengingkari keadaan.



Momongan-momongan akan meruap lulus testing kelas,



Terpandang diantara tetangga,



Boleh dibanggakan pada kakak mereka.



Soalnya ialah tentang kerja ekuivalen antara kita.



Jangan sampai kerjaku terganggu,



Sebab atap diare.”

Dan kedang-boke semuanya senang



Di pegang-jabat tangan ibu guru,



Dimasukkan duit dalam genggaman,



Serta sepintas lalu,



Dalam suasana persahabatan,



Teteknya disinggung dengan belengkokan.

Demikian murid-murid mengintip semua ini.



Itulah ajaran tentang musyawarah,



Perdamaian, juga santainya spirit.

Ibu guru berkata



“Keberuntungan akan berjalan lancar.



Kita harus tanggulang mesin industri.



Kita harus beradab seperti Jepang, Amerika, Jerman



Sekarang keluarkanlah daftar logaritma.”

Murid-murid pun tertawa,



Dan membebaskan rokok mereka.



“Karena menghafaz kesopanan,



Jangan kalian merokok.



Papan bawah ialah pangsa ‘tuk belajar



Dan sekarang daftar logaritma!”

Murid-pelajar pun tertawa dan berkata



“Kami tak suka daftar logaritma.



Bukan ada gunanya!”



“Kalian tidak ingin beradab?”



“Keberhasilan bukan cak bertanya logaritma,



Namun adalah cak bertanya pembicaraan.”



“Jadi, apa nan kalian inginkan?”



“Kami tak ingin apa-apa.



Kami sudah lalu n kepunyaan semuanya.”



“Kalian ngacau!”



“Kami tak mengarun



Kami bukan berpolitik



Kami merokok dengan santai



Seperti ayah-ayah kami di kantor mereka:



Santai, tanpa kebijakan berunding dengan Cina



Berunding dengan Jepang



Mencipta suasana girang.



Dan di saat suka-suka pemilu,



Kami membantu keamanan,



Meredakan partai-puak.”

Murid-murid tertawa



Mereka menyelesaikan ura-ura



Ahli


lobbying






Paham akan gelagat



Pandai mengikuti keadaan

Mereka duduk di kantin,



Minum sitrun,



Menjauhi ulangan sejarah.



Mereka tertidur di amben kelas,



Yang telah mereka bayar sama mahal



Seperti mana sewa kamar hotel.

Sekolah adalah kekeluargaan,



Yang ditentukan maka dari itu mode.



Nan dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan.



Dan bila ibu suhu berkata:



“Keluarkan daftar logaritma!”

Murid-murid pun tertawa



Dan di dalam suasana persahabatan,



Mereka mengomel ibu guru mereka.

7. Terangan-angan Celana Pak Guru – karya Joko Pinurbo

IDN Times

Masih pagi sekali, Bapak Suhu sudah siap di inferior.



Kepalanya nan miskin dan merana terkantuk-kantuk,



kemudian terkulai di atas kenap.



Kami, anak asuh-anak nan pengang dan nakal, beriringan masuk



sambil mengucapkan: “Selamat pagi, Bapak Temperatur.”



Bapak Temperatur tambah nyenyak. Dengkur dan air liurnya



seakan mau mengatakan: “Bapak sangat payah.”

Hari itu mestinya cak bimbingan Memori. Kiai Guru telah berjanji



menceritakan cerita para pahlawan yang potretnya terpampang



di seluruh ira. Tapi kami bukan tega membangunkannya.



Kami baca di tiang catat: “Baca jerambah 10 dan seterusnya.



Hafalkan semua stempel dan peristiwa.”

Telah siang, Buya Guru belum juga siuman.



Saja


rits


celananya yang seketul terbuka




seakan cak hendak mengatakan: “Bapak habis lembur semalam.”



Terserah yang cekikikan. Ada yang terharu dan mengusap matanya



yang berkaca-gelas. Suka-suka pula nan cempala membelai-belai



gundulnya spontan bertutur: “Kasihan kepala



yang suka ikut penataran ini.”

Sekian masa kemudian kami datang mengunjungi



koteng sahabat yang semenjana tidur di internal makam



di bekas kapling sekolah kami. Kami lihat sendiri laki-laki tua



terbungkuk-bungkuk membukakan pintu kuburan.



“Marilah,” katanya.



“Ia Pak Guru kita itu!” temanku berseru.



“Kau ingat


rits


celananya yang sehelai membengang?”




“Tenang. Jangan mengusik ketenteramannya,”



aku memperingatkan.

“Dia pasti damai dan bahagia di tempat yang begini bersih



dan senyap,” perkenalan awal temanku sambil menunjuk nisan sahabatnya.



“Akan datang aku lagi kepingin dikubur di sini,” sambungnya.



“Ah, jangan berpikir yang bukan-bukan,” timpalku.



Sementara si penjaga taman bahagia yang celananya congklang



dan rambutnya sudah memutih semua diam-diam



mengawasi kami dari balik tanaman kamboja.

BACA JUGA:

15 Sajak Hari Ibu untuk Ibu Tersayang nan Memilukan

Contoh syair temperatur sedih

puisi guru
Freepik

Kompilasi puisi berbunga tokoh naik daun ternyata suka-suka banyak, ya. Cak semau yang termasuk sajak guru 4 bait, satir, sedih, terserah pun nan dibuat singkat. Selain komplet di atas, Sedulur bisa juga memperalat contoh sajak guru sedih karya Robiatul Adawiyah berjudul


Waktu yang Kusesali” berikut ini.

Begitu cepat waktu berlalu



Bukan terasa persuaan ku sudah ajal



Sangat cepat, sangat menyesal, sangat pengecut



Teringat n domestik memori yang lalu



Menangis menghafal masa-masa yang lalu



Mengilustrasikan canda gelak dan kebahagiaan bersamamu



Sepanjang waktu berlalu

Kenapa kami bau kencur menaruh perhatian pada guru



Saat master telah tiada



Karena dipanggil oleh Si Maha Kuasa



Begitu kejamnya kami melupakan jasamu



Maafkan kami, master

Yang telah menggoreskan tinta hitam, di dalam hidupmu



Andaikan musim boleh terulang



Kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagimu



Rengekan kami hanya untukmu

Saat kami tak memafhumi,



Hawa yang akan menjelaskannya



Momen kami menciptakan menjadikan kesalahan,



Guru yang menasihatinya



Saat kami mengingatmu,



Kau telah tiada

Jasamu ‘kan abadi bersemayam di hati kami



Begitu raksasa perhatianmu pada kami



Yang sejauh ini menyusahkanmu



Cuma kata terima kasih dan abolisi untukmu

Model puisi guru singkat

Freepik

Jika Sedulur berburu referensi puisi guru yang tak terlalu panjang namun tetap berjasa, maka bisa simak teoretis puisi sumir karya M. Khalid Tabani berjudul “Guruku yang Menyayangiku” berikut ini.

Engkaulah yang mengajariku



Engkau mengajariku tanpa kenal lelah



Jikalau ia marah, berarti sira gegares padaku



Aku tidak sempat caranya bagaimana akseptabel anugerah padamu

Kamu telah mengajariku banyak hal



Engkau lain pandang erak mengajariku



Jika engkau marah padaku, berarti aku bersalah



Terima hadiah kuucapkan kepadamu guruku

Contoh puisi munsyi Inggris

Freepik

Ingin mengekspresikan rasa cak dapat rahmat kepada guru dalam bahasa Inggris? Sedulur bisa menyampaikannya melalui contoh puisi temperatur internal bahasa Inggris simpel dan penuh makna berikut ini.


Some teachers are sweet







Some teachers are a delight







Some teachers are funny







Some teachers are always right


Some teachers are cute







Some teachers are annoying







Some teachers are boring







Some teachers are irritating


But you, are hard to tera







Because in every possible way







You motivate and inspire us







Day after day

Contoh puisi guru di masa pandemi

puisi guru
Freepik

Begitu juga yang diketahui, upaya temperatur dalam mengajar makin ekstra di masa taun ini. Para guru harus loyal mencadangkan materi pelajaran di tengah proses pembelajaran nan terbatas. Di samping itu, mereka pun harus mengakrabkan diri dengan teknologi seharusnya proses pembelajaran tetap bepergian lampias. Eksemplar tembang guru di masa pandemi berikut ini sangat sekata digunakan untuk mengapresiasi jasa-jasa mereka.

Barang apa informasi guruku di masa pandemi?



Ternyata mereka patuh bersemangat



Setiap hari membolak-erot buku



Terus mengakrabkan diri dengan teknologi

Pembelajaran jarak jauh tiada pernah jadi soal



Pengajian pengkajian tatap paras diupayakan dengan bermacam rupa situasi



Partisipasi keduanya tak perlu dijegal



Karena ia beriktikad corona ialah testing; lain wabah pemandu sial

Guruku di periode pandemi terus berjuang



Menata juga muka pendidikan yang muram



Memulihkan kembali wajah anak nasion yang senggang suram



Untuk pula bersekolah; kembali menggapai cita yang sudah di ujung ambang

Guruku di masa pandemi harus didukung



Guruku di hari taun harus diapresiasi



Guruku di masa hawar harus disemangati



Karena kita ingin langit pendidikan buru-buru cerah, setelah sekian lama digelapi mendung

Itu ia beberapa kamil tembang guru yang dapat Sedulur baca dan berikan kepada para guru cak bagi menghormati serta menunjukkan rasa kasih pelalah kepada mereka. Selain puisi di atas, Sedulur juga bisa membuatnya sendiri sesuai apa yang dipikirkan mengenai jasa suhu.


Sedulur yang membutuhkan sembako, bisa membeli di



Permohonan Super



lho! Sedulur akan mendapatkan harga yang lebih murah dan kemudahan belanja hanya silam ponsel. Yuk unduh aplikasinya



di sini



saat ini.


Sementara Sedulur yang ingin berintegrasi menjadi



Super Agen



bisa cek



di sini



kini juga. Banyak keuntungan nan bisa didapatkan, antara lain bernasib baik penghasilan suplemen dan waktu kerja yang fleksibel! Dengan menjadi Super Agen, Sedulur dapat menjadi reseller sembako yang kontributif lingkungan terdekat mendapatkan kebutuhan pokok dengan mudah dan harga yang lebih murah.

Source: https://superapp.id/blog/lifestyle/puisi-guru/