Puisi Tentang Nabi Muhammad Saw

Ilustrasi syair maulid nabi nan mengaras hati. Foto: Pixabay


Bikin umat Muslim,


Rasul


Muhammad SAW merupakan suri tauladan. Setiap perkataan dan perbuatannya disebut sunnah nan harus dijadikan pedoman dalam arwah manusia.


Kisah perjuangan anda intern menegakkan agama Islam membentuk hati siapapun bergetar ketika mendengarnya. Terlebih sampai di akhir hayatnya sekali lagi Rasulullah SAW tidak pernah melupakan umatnya.


Rasa cinta dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW menciptakan menjadikan umat Selam tak pernah lupa untuk memestakan hari lahirnya yang dikenal dengan Maulid Nabi. Tahun ini,


Maulid Nabi


jatuh pada 7 Oktober 2022.


Rasa kangen terhadap Rasulullah dapat Dia utarakan dalam bentuk karya sastra, riuk satunya melalui


puisi

. Perasaan yang tersirat tersebut bisa dicurahkan menjadi hubungan pengenalan demi kata nan sani bakal dibaca.


Puisi Maulid Rasul nan Menyentuh Hati


Berikut kumpulan puisi puisi maulid rasul yang menyentuh hati dihimpun berusul daya


Menyusuri Jalan Cahaya


maka itu Husein Muhammad,


Selalu ada Perkembangan Keluar (Sajak: Antologi Puisi)


karya Ahmad M. Sewang,


Keraton dalam Antologi Puisi


oleh Tata Mutu SMAN 4 Berau, dan sumur lainnya.

Ilustrasi puisi maulid nabi yang menyentuh lever. Foto: Pixabay



Aduhai Utusan tuhan, damailah engkau



Wahai Utusan tuhan, damailah engkau



Aduhai kekasih, damailah kamu



Telah terbit purnama di paruh kita



Maka tenggelam semua purnama



Begitu juga cantikmu tak susunan kupandang



Ia surya, beliau purnama



Engkau cahaya di atas kilap



Engkau berlian tak terkaji



Beliau lampu di setiap hati



Aduhai kekasih, duhai Muhammad



Wahai yang kokoh, yang terpuji

Ilustrasi puisi maulid rasul yang menyentuh hati. Foto: Pixabay



Gelapnya lilin batik yang begitu mencekam



Seakan membuat lentera menjadi padam



Ingin sekali mendapati sebuah siraman



Siraman ruhani… Membuat lever ini menjadi kalis



Yang penuh dengan intan yang zakiah



Perbedaan adalah suatu rahmat



Di balik itu terdapat beribu nikmat



Tanpa memunculkan sikap berlagak taat



Dengan hujaah nan diplomat



Adalah ialah implementasi kemantapan i’tiqad



Atas diberikannya limpahan pemberian



Bukannya mengapa dianggap sesat…

Ilustrasi puisi maulid rasul yang sampai ke hati. Foto: Pixabay



Rindu kami padamu ya Rasul



Rasul Sirih dikau disini



Cinta ikhlasmu pada manusia



Dapatkah kami mengembalikan cintamu

Ilustrasi puisi maulid nabi yang menjejak lever. Foto: Pixabay



Beliau bagai syamsu menyinari semesta alam



Dia bagai purnama di paruh kelipan jutaan bintang



Marwahmu bagai magnet nan mempesona sejak 14 abad lalu



Engkau cahaya di atas terang Membawa terang di lilin batik kelam



Menuntun khalayak ke alam terang



Menjadi teladan dengan akhlak karimah



Menjadi sumber perigi kebaikan



Andai embun penyejuk lever



Miliaran manusia bintang sartan martir



Menyebut namamu sembilan kali sehari-kemarin



Tatkala bani adam dalam kehabisan ruhani



Pengaruhmu meluas di satelit bumi



Engkau selalu terasa hadir dalam hati



Engkau jadi arketipe sepanjang masa dari bangun tidur menyentuh peraduan



Ya Rabbi salli ala Muhammad



ya Rabbi salli alaihi wa sallim



ya Rabbi ballighul wasilah



ya Rabbi khussahu bil fadilah



Maulidmu diperingati sebagai wujud rasa demap



Nasihat dan ajaranmu didengar dan ditaati



Kedatanganmu ditunggu dan dirindukan



Kelahiranmu disambut mumbung suka cita



Kami berkumpul di sini di gelanggang ini



Ibarat tanda rindu tak tertanggung rasa padamu ya Rasul



Andai maksud akan syafaatmu di Padang Mahsyar

Ilustrasi puisi maulid rasul yang hingga ke lever. Foto: Pixabay



PURNAMA, 12 DESEMBER 2022




Sayup adzan Isya berkumandang di keheningan malam



Terlihat jelas di langit rajah mega nan berarak ditiup angin



Semburat seri kekuningan di ki perspektif atap perumahan



Oh ternyata kau adalah bulan purnama yang benderang



Bentukmu sani, jelas lain terkatup awan



Senin 12 Rabiul Awal 1438 Hijriyah,



Semua ummat Selam tengah mengenangmu



Siaran di berjenis-jenis stasiun televisi, di bandarsah, surau-musala,



dan di dalam lever sanubari kami…



Jika kehidupan bagaikan kegelapan malam,



Kau hadir laksana wulan purnama



Menyorotkan sinar syamsu di permukaanmu



Menjadi penerang di keremangan bumi nan malam



Kau tidaklah diibaratkan matahari,



Karena matahari adalah medalion nan membasut kurat…



Semua pengibaratan untukmu, hanyalah pengibaratan dan



Engkau manusia ciptaan Sang Maha Produsen…



Penyampai petunjuk-Nya, tanzil hudup kerjakan seluruh



Matahari, bulan, medali, seluruh makhluk dan pataka sepenuh



Adalah ciptaan-Nya dan tunduk tunak di hadapan-Nya



Pastor mulai membawakan takbir rakaat Isya pertama…



Kuhadirkan hatiku Kutundukkan wajahku di penghadapan-Mu, ya Allah…

Source: https://kumparan.com/berita-hari-ini/5-puisi-maulid-nabi-yang-menyentuh-hati-1yweHIo5clD