Resensi Novel Negeri Diujung Tanduk

Assalamu’alaikum

Jujur ini yaitu riuk dua novel yang membuka pandanganku tentang perpolitikan di Indonesia. Tak hanya itu, novel ini juga menceritakan tentang perekonomian menyeluruh, rekayasan finansial, kerajaan bisnis, mafia hukum, kolusi, dan apa hal “berpenunggu” lainnya. Sebagai halnya fiktif, tapi riil. Seperti nyata, tapi fiktif.

Aku rasa Tere Liye adalah orang yang cerdas secara bahasa (ya iyalah namanya juga dabir, hihi). Anda tampaknya tekun melakukan studi, observasi, mengumpulkan banyak data dan fakta di tanah lapang, kemudian mengolahnya menjadi sebuah sajian, hiburan, bacaan, perenungan, dan proyeksi yang menarik ke hadapan kita.

Novel dwilogi ini terdiri dari 2 judul, yaitu:

Judul 1:
Distrik Para Bedebah
Terbit:
Juli 2022, Cetakan ke empat Mei 2022
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Penting
Deras:
433 halaman
Harga:
Rp 60.000,- (di toko kiat Gramedia, atau berdiskon di toko sosi lain)




Adalah Thomas atau Tommi yang menjadi pencetus pokok dari keseluruhan cerita. Masa kecilnya kelam. Orangtuanya meninggal dibakar makanya masyarakat sekitarnya, yang protes karena sebuah “Arisan Berurutan” yang didirikan omnya, Liem Soerja, dan papanya, Edward. Adalah Liem yang berambisi membangun bisnis anak bini yang besar, yang risikonya harus kandas di paruh jalan. Edward lebih kalem, walaupun tetap mengimak ide Liem. Apakah benar masyarakat selingkung yang tidak puas dengan memikul Arisan Berantai tersebut yang membakar rumah Opa (orangtua Edward dan Liem, bibit buwit Thomas)? Hey, apakah kalian berpikir sesederhana itu? 😉

Thomas yang yatim piatu akhirnya dikirim maka itu para tetangganya ke sebuah sekolah berasrama terpencil di rapat persaudaraan pantai. Sekolah yang mengubah hidupnya secara besaran. Thomas yang sedih dan sakit hati berubah menjadi Thomas yang berisi, gagah, tampan, dan berdampak menguasai sekolah masternya di luar negeri. Master dalam satah ekonomi bisnis, sekaligus master kerumahtanggaan bidang politik. Boleh kalian bayangkan bagaimana kamu bolak-balik di dua jurusan berlainan, merakus semua buku les dengan ganas, membiasakan “bercakap” di depan banyak cucu adam secara persuasif, melatih gestur dan sapuan rukyah ke seluruh hadirin untuk mengasihkan bilyet menghipnosis.

Thomas yang berusia 33 waktu kini punya sebuah kantor konsultan keuangan yang lalu naik daun. Tidak nikah riuk memberikan nasihat moneter kepada semua perusahaan kliennya. Ia amat berpengaruh. Tegas, cerdas, akurat, penuh rekaan, dan… JOMBLO! Wohooooo.
No time for any woman, Tommi? 😉

Kalian tak akan percaya bahwa
setting
waktu dalam novel pertama ini hanyalah dua musim. Iya, HANYA DUA HARI. Bagaimana bisa sebuah novel setebal 433 halaman mengisahkan seluruh kekeluargaan cerita yang begitu musykil selama Sekadar DUA HARI?

Kuncinya ada di alur ceritanya yang sangat berapit, padat, dan cepat. Dua hari adalah waktu yang sepan ringkas kerjakan Thomas bagi menguburkan Bank Semesta, bank milik Om Liem. Bank bersoal yang harusnya sejak 6 perian lalu ditutup itu memiliki banyak kasus hukum. Lebih lagi Mamanda Liem, memiliki catatan bawah tangan hukum nan tak terbilang banyaknya.

Saat membaca novel ini, aku beberapa mana tahu turut tegang, ikut menerka-nerka siapa dalang di balik kejadian tersebut, segala apa yang akan dilakukan Thomas seterusnya, akankah “uang jasa” yang (lagi-lagi) bicara dan mampu menyelesaikan komplikasi? Thomas histeris mulai sejak dan ke Jakarta, Hong Kong, Bali, dan bervariasi tempat lain dalam hitungan jam, bukan periode. Terlalu banyak “urusan terdahulu” nan harus diselesaikannya untuk bersungguh-sungguh memakamkan Bank Semesta.

Apakah suka-suka yang nanang kasus dalam novel ini mirip dengan kasus Bank Century yang sampai saat ini terus tetapi diselidiki tanpa terserah ujungnya? Jika suka-suka yang menjawab iya, maka kalian mirip denganku. Aku juga berhalusinasi demikian. Mirip, walau enggak serupa. Aku duga kecewa awalnya mengapa Tere Liye enggak membuat sebuah cerita yang “baru”, yang orisinil miliknya? Cak kenapa harus mengadaptasi berasal peristiwa ikhlas di negeri ini, negeri pada bedebah, Indonesia? Namun, protesku tergenang semacam itu sahaja seiring aku terus mendaras kisahnya yang mengalir hingga tuntas. Bagaimana sepak terjang Thomas menemui ibu menteri moneter, melobi petinggi partai, menyumpal mulut para bedebah di kepolisian, dan beberapa mungkin berdiri dari penjara, demi menyelamatkan Bank Semesta? Apakah Bank Semesta kesannya ditutup atau apalagi diselamatkan pemerintah? Baca donk ah :)))

Oke, masa ini masuk ke sekuel keduanya.



Judul 2: Negeri di Ujung Tanduk
Berusul: April 2022, Gemblengan ke tiga Mei 2022
Penerbit: PT.Gramedia Teks Utama
Tebal:359 halaman
Harga:Rp 55.000,- (diskon 20% di Apartemen Rahasia Surabaya, hasilnya Rp 44.000,-)

Adalah Empunya Shinpei yang menjadi “mangsa tembak” Thomas lebih jauh. Sejak adv amat sepatutnya ada intuisinya telah mengarah bahwa atasan besar di balik semua kejadian ini yaitu Shinpei, nan lagi kolega bisnis Opa sejak dua puluh tahun lalu.

Novel kedua menceritakan tentang kantor konsultan Thomas yang setahun terakhir membuka lini baru, yaitu konsultan politik. Dua calon gubernur berhasil dimenangkan pihaknya pada pilgub sebelumnya. Ini cukup membuktikan bahwa Thomas memiliki lebih mulai sejak sekedar kemampuan lakukan masuk internal ranah politik, selain keuangan.

Kali ini Thomas memiliki klien seorang kandidat calon kepala negara Republik Indonesia, berinisial JD (oh, is it so familiar for you? No?). Thomas mau memenangkannya dalam konvensi partai yang berlangsung di Denpasar, Bali.
What?
Konvensi partai?
Familiar (again)?
Aku kembali-lagi minus pengecut kenapa Tere Liye mengangkat kisah-kisahan spesies setengah fiksi secabik maujud begini. Tapi baiklah, karena otakku masih rumit menebak siapa JD dan konvensi partai segala yang dimaksud (karena sepertinya ini cerita nan mengawinkan sejumlah fakta politik di negeri ini), kesannya aku mengalah untuk terus menikmati sahaja ceritanya 😀

Lagi-sekali lagi kisah ini saja bersetting waktu selama 48 jam maupun 2 perian 2 lilin batik. 48 jam lah waktu yang dimiliki Thomas cak bagi memenangkan JD n domestik konvensi partai tersebut. Bagaimana dalam masa 2 hari Thomas boleh berada di konferensi kebijakan di Hong Kong, bertarung genggaman di Makau, ditangkap di perairan China dengan sangkaan memiliki 100 kilogram heroin dan sekarung senjata laras tangga, dijebloskan ke penjara, kabur berpunca penjara di Jakarta, mendengar takrif bahwa kliennya (JD) ditangkap polisi dengan pengaduan korupsi mega bestelan Gedung Sport, bertolak menuju Denpasar kerjakan kredibel peserta konvensi untuk teguh memasrahkan suara miring melingkar bikin JD agar kukuh maju menjadi pilpres, kemudian kembali ke Jakarta mengeset persuaan dengan para peliput senior, pengamat garis haluan, dan komentator bikin membentuk opini mahajana akan halnya JD, habis menunaikan janji undangan polisi bintang tiga lakukan “menyelesaikan permasalahan” di Hong Kong.

Oh my God!
Sebanyak itu yang harus ia kerjakan (dibantu para stafnya yang berbuat riset besar-besaran atas jutaan mualamat di internet) selama 2 hari. Apakah ia sempat mandi dan makan? Ah, lupakan adapun itu 😀

—–

Ending
berbunga ceritanya karuan semata-mata boleh kalian baca sendiri nanti :p

Sepanjang cerita aku hanya bisa merenung. Oh, sebagaimana itukah roman strategi di Indonesia sebenarnya? Sebuah daerah di ujung tanduk, nan selintas lagi akan hancur cerai-berai jika tidak ada penegakan hukum di dalamnya? Boleh bintang sartan bayanganku sama sekali salah, atau lebih-lebih benar seluruhnya.

Semua manusia boleh berkomentar mengenai garis haluan di negeri ini. Tapi menurutku pribadi, lain suka-suka yang benar-benar tahu bagaimana kejadian politik “di dalam lingkaran”, jika orang tersebut tak pernah ki angkat serta merta di dunia strategi. Berbeda, betapa berlainan maskapai.

Kendatipun ini fiksi, sungguh aku tak korespondensi mengira (atau hanya kekeluargaan cacat menduga) bahwa cak semau kejadian demikian ini:

  • Nan membakar kondominium Opa Thomas bukanlah masyarakat nan kecewa atas bisnis Arisan Berantai. Siapa? Orang per orang. Yang hanya menjalankan perintah berasal “atasannya”. Siapa?
  • Yang membuat Bank Sepenuh bisa diambil alih Om Liem Soerja, kendatipun seyogiannya bank bermasalah itu sudah ditutup sejak 6 tahun yang lalu, lagi karena seseorang. Mungkin?
  • Pembentukan opini masyarakat melalui sarana massa tidaklah gratis. Thomas melakukan konferensi pers dengan para jurnalis senior, mengatakan apapun yang ia butuhkan buat memuluskan rencananya, dengan “membayar” sejumlah materi. Engkau memberikan tiket VVIP konser band Korea kepada momongan-anak Sambas, seorang juru berita kritis. Dia mengangkut undangan menjadi penceramah di acara konferensi internasional di Hong Kong kepada Faisal, sendiri pengamat politik peka dan berkarisma. Tentu saja dengan akomodasi hotel berbintang dan transportasi kelas bawah eksekutif. Ia menerimakan plakat samudra
    boyband
    beserta keunggulan tangan steril seluruh personilnya kepada koresponden lain. Dan sebagainya.
    Voila! Esoknya, seluruh
    headline
    berita (baik koran, televisi,
    talkshow) menampilkan pustaka nan disampaikan Thomas. Dampaknya persis begitu juga yang diinginkannya. Mandu yang “elegan”, katanya.
  • Bagaimana Thomas kabur dari tangsi beberapa siapa? Menyuap sipir penjara dengan uang jasa 2 milyar.
  • Apakah peristiwa ekonomi cuma dipengaruhi oleh bisnis dan para pegiat bisnis? Bukan. Partai ketatanegaraan berpengaruh besar di dalamnya.
  • Apakah pernyataan penjaga keamanan dalam kasus penangkapan JD murni karena memang JD bersalah dan polisi telah melakukannya demi kemustajaban negara, memberantas manipulasi? Tak. Petinggi penjaga keamanan, jaksa, hakim, telah disuap dengan sebegitu mengerikannya untuk bisa memotori pasukan singularis dan berkisah bukti, rentetan informasi, dan menghadirkan saksi-saksi liar.
  • Daaaaan sebagainya dan sebagainya…..

Maka itu hasilnya, aku mengatakan bahwa
“semua bani adam dapat berkomentar atas seluruh kejadian di televisi, media cetak, radio, dll adapun situasi politik dan perekonomian di negara ini, tapi akan lampau musykil mempercayai kelihatannya yang bermoral sebenar-benarnya dan siapa nan riuk”.

Peniliaian awam tergantung barang apa yang dibaca, dilihat, dan diwacanakan cucu adam. Apabila semua stasiun tv dan media komposit lain sudah dikuasi masing-masing ahli politik untuk kepentingannya sendiri, ya sudah. Persepsi tetaplah sensasi. Setiap orang berhak memiliki pandangannya seorang. Sama dengan yang pernah aku baca di twitter:


Camar suka-suka 3 versi dalam sebuah hal: versiku, versimu, dan FAKTA.

Nah, seolah fakta terpisah berpunca dua persepsi ini. Fakta adalah fakta. Persepsi bisa bintang sartan mengandung sedikit, separuh, maupun sebagian besar fakta. Boleh jadi sama sekali tidak.

Oke, saya mau berbuat hal lain dulu. Hahaha…
Selamat berburu bukunya. Nan jelas, novel ini layak cak bagi mungkin saja (akil balig-tua) yang pengen tau bertambah banyak tentang garis haluan, ekonomi, perbankan, keuangan, syariat, privat bingkai yang imajinatif dan menggugah rasa keingintahuan. Halah.

Boleh sekali lagi sanggam ke aku bukunya. Hubungi aku aja ya 😉

Wassalamu’alaikum

Source: http://petypuri.blogspot.com/2013/09/resensi-novel-negeri-para-bedebah-dan.html