Sejarah Gunung Rinjani Dan Danau Segara Anak

Pengantar

Kisahan rakyat merupakan pertinggal kebudayaan nan dapat memberikan paparan ataupun merefleksikan resan-istiadat dan tata usia publik. Sebuah kisahan rakyat dapat mengandung plural macam ponten yang dapat menjadi panduan usia mahajana dalam berkepribadian, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang akan cenderung pada pendidikan budi pekerti, sikap spirit, dan tata perilaku yang susila sehingga mampu membangun watak manusia yang luhur dan sani (Santosa, 2010:141–142).

Setiap tempat di Indonesia mempunyai kultur koteng dan umumnya pun punya cerita rakyatnya seorang. Peristiwa itu disebut saga setempat, yaitu cerita yang berhubungan dengan suatu bekas, tera tempat dan bentuk topografi, merupakan bentuk permukaan satu daerah, apakah berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya (Danandjaja, 1984:75).

Mitos setempat punya peran dan kepentingan yang taktis internal rangka membangun karakter masyarakat. Jikalau mengingat  periode waktu ini, hadirnya propaganda globalisasi yang mengetepikan situasi-hal nan bersifat lokal makin memudarkan peran dan kemustajaban kisahan rakyat tersebut. Dengan kondisi seperti itu, tentunya penekanan skor-nilai kearifan lokal nan terwalak kerumahtanggaan berbagai cerita rakyat tersebut, khususnya nan disebut dengan mite setempat menjadi peristiwa yang penting bakal dilakukan.

Tulisan ”Asal Usul Terjadinya Gunung Rinjani: Legenda Setempat dan Kearifan Lokal”  dilakukan bagi memperkenalkan dan memahfuzkan kembali mite Asal-Usul Label Giri Rinjani kepada masyarakat dan mengali kearifan lokal yang suka-suka di dalamnya. Cerita ini berasal dari masyarakat Lombok.

    Gunung Rinjani

Gunung Rinjani merupakan bukit berapi termulia kedua di Indonesia dan sekali lagi yakni hubungan “Limbung Api”. Secara adminstratif jabal ini kreatif di radiks empat kabupaten yakni Lombok Timur, Embalau Paruh, Lombok Barat, dan Merica Lor. Bukit ini memiliki ketinggian 3.726 m di atas satah laut.  Kerjakan umum Pulau Lada, khususnya tungkai Gedek dan tungkai Bali, Gunung Rinjani dianggap sebagai kancah suci dan merupakan kastil para dewa. Di Argo Rinjani ini terletak Taman nasional Gunung Rinjani yang terletak di kawasan peralihan biogeografis (garis Wallace), tempat flora dan satwa Asia Tenggara bertemu dengan flora dan dabat wilayah Australia (pamflet cerita rinjani).

Giri Rinjani (lingkaran. Pribadi)

Di kewedanan Gunung Rinjani terdapat Tasik Segara Anak, Gunung Barujari, Gunung Sangkareang, Giri Waja, dan bilang terowongan yakni Goa Susu, Goa Payung, dan Goa Manik. Telaga Segara Anak merupakan sumber sumur bagi seluruh masyarakat Lombok. Air yang berasal dari danau ini bersirkulasi karib ke sebagian ki akbar wilayah Lombok. Pertanian di selingkung Cili terjemur kepada air danau ini. Situ nan memiliki luas 11.000 m persegi dengan kedalaman 230 m dan subur di ketinggian 2000 mdpl dikatakan maka dari itu sejumlah tetua sifat di wilayah Bayan berfungsi sebagai pendingin gunung-gunung berapi yang ada di seputarnya. Telaga ini diperkirakan terdidik akibat letupan Gunung Samalas lega tahun 1257. Pendapat lain mengatakan bahwa Telaga Segara Momongan muncul akibat letusan Argo Rinjani Purba.

    Radiks-Usul Pengusulan Dolok Rinjani berusul Segi Bahasa

Kata /rinjani/menurut Saroni[1] artinya tinggi dan tegak. Makna perkenalan awal itu tampaknya sesuai dengan kondisi geografis Gunung Rinjani,ardi tersebut yakni gunung yang minimum tinggi nomor dua di Indonesia. Selanjutnya, nama Ancala Rinjani lewat mungkin berpangkal dari introduksi Rara Anjani yang berubah menjadi Renjani dan selanjutnya menjadi Rinjani seperti nan kita kenal sekarang ini. Sehubungan dengan alas kata Rara Anjani, di area Lombok Timur dapat ditemui Desa yang bernama Desa Anjani. Demikian pula gedung pertemuan di Mataram yang diberi etiket Gedung Dewi Anjani. Keadaan itu tentunya menunjukkan bagaimana masyarakat terlampau mengagungkan dan menghargai nama tersebut meskipun sudah lalu tidak seutuhnya mempercayai legenda tersebut (Herman dkk, 1990/1991:48). Namun, pemerintah Kabupaten Lombok Utara justru menjadikan Gunung Rinjani laksana lambang kabupaten tersebut.

Pada lambang tersebut secara individual yang berhubungan dengan Gunung Rinjani disebutkan sebagai berikut. Rinjani disebutkan sebagai gerendel kosmos yang merupakan orientasi kosmologis masyarakat sasak lega lazimnya dengan menyebutnya sebagai “buku”. Gerendel kosmos dan konsep masyarakat Tepas merupakan buku kekuatan besi berani marcapada dan kekuataan spritualitas sehingga seluruh sebelah (dalam konteks peradaban) diorientasikan ke arahnya, misalnya dalam orientasi penataan ruang. Rinjani sebagai simbol ekologis disebut sebagai pasak gumi yang menjamin harmoni usia n domestik kekekalan dan keseimbangan lingkungan. Rinjani laksana kebangaan masyarakat Cili utara sebagai pelecok suatu gunung berapi aktif yang tersurat intern kategori tertinggi di Indonesia (Tim Pembentuk Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat. 2022:74).

Nama Bukit Rinjani  dari beberapa data disampaikan berasal dari keunggulan Dewi Rinjani nan merupakan anak Datu Taun dan Dewi Mas (Saroni.tt:28). Namun, data lainnya menyatakan bahwa segel Gunung Rinjani sangat mungkin berusul bermula introduksi Rara Anjani yang berubah menjadi Renjani dan selanjutnya menjadi Rinjani sama dengan yang dikenal kini ini (Herman dkk, 1990/1991:23). Di sisi lain, ternyata terserah nama gelar bakal sunan di kerajaan Lombok yakni Emir Rinjani, nan ialah anak dari Gaoz Abdul Razak yang bernama asli Zulkarnaen[2] .  Pada kisahan nan tak lagi, Sultan Rinjani itu merupakan momongan pecah Pengendeng Segara Katon Rambitan (Djelenga. 1987:42). Yang menjadi persoalan yakni label gunung itu diambil berpokok tera Bidadari Anjani ataukah diambil berasal nama Sultan Rinjani. Ki kesulitan ini tidak  boleh dijelaskan secara pasti karena sumber-sumur yang didapatkan umumnya berbentuk cerita rakyat dan babad yang kesahihannya masih perlu diuji dan diteliti lebih mendalam.

    Asal-Usul Penamaan Gunung Rinjani Berdasakan Cerita Rakyat

Di samping persoalan kemujaraban kata, etiket Rinjani juga berhubungan dengan kisah-kisahan yang dipercayai makanya umum setempat. Dolok Rinjani diyakini oleh penduduk selingkung dihuni makanya kekerabatan bangsa jin nan sebagian besar mereka beragama Islam. Bangsa jin itu dipimpin oleh syah jin yang bernama Peri Anjani. Sira berkampung di puncak Gunung Rinjani. Dari puncak ke arah tenggara terdapat sebuah lautan debu (kaldera) yang dinamakan Raksasa Muncar. Konon, pron bila-detik tertentu dengan kasat netra dapat terlihat istana baginda jin. Pengikutnya merupakan golongan jin yang baik-baik.

Kisah mengenai Dewi Anjani juga terletak dalam sertifikat yang berjudul “Doyan Neda”. Pada kopi itu dikisahkan Dewi Anjani yang mempunyai julukan Ratu Mas Prawira memiliki sepasang kalam yang mandraguna, yang berparuh besi melela dan berkuku dari besi melela sekali lagi. Kerumahtanggaan kisah itu disebutkan bahwa sekelamin burung inilah yang mengorek-ngorek gunung sehingga dolok tersebut menjadi datar dan menjadi sebuah pulau. Pulau baru itu dinamai pulau sasak karena rapat makanya pepohonan.

Satu tahun, Dewi Anjani diingatkan oleh Patih Songan akan pesan kakeknya Utusan tuhan Pria biar mengisi pulau baru itu dengan cara mengubah setumpuk jin bangsawan menjadi khalayak. Ini yaitu kisah akan halnya dasar usul terjadinya manusia di pulau Sahang. Bagi mahajana Sasak terutama generasi lama menghayati cerita itu begitu juga cerita tentang nenek moyang mereka yang benar-benar terjadi dan mereka menghormati Dewi Jin nan bernama Dewi Anjani itu.

Puas adegan lain, merupakan di bidang ilmu mistik kuasa lulus sang Peri Anjani cak acap diungkapkan dan menjadi teks sebuah mantra. Demikian pula para pemangku (pemangku tradisional) pada waktu naik Gunung Rinjani masih majuh mengamalkan ritual mohon ijin kepada Dewi Anjani sampai-sampai adv amat sebelum melakukan pemanjatan (Herman dkk, 1990/1991: 47—48) nan disebut dengan upacara menyembe. Hal ini juga diungkapkan oleh Pak Sukrati bagaikan Mangku Adat Gunung di Desa Senaru. Upacara lain yang berkaitan dengan keberadaan Peri Anjani, merupakan seremoni kesuburan nan berkaitan dengan kerja berpadan tanam dan panen lega publik lama sering dikaitkan dengan berkah sang Peri. Pada masa sekarang perlintasan tata nilai pada pendamping dan terlebih teknik persawahan yang disertai upacara semacam itu telah jauh ditinggalkan.Namun demikian, masih boleh dijumpai pada kelompok masyarakat tertentu saja atau sreg teks mantera dan pujian (Herman dkk, 1990/1991: 48).

Kisahan lain adapun Dewi Anjani, yaitu si dewi yaitu seorang sekar kedaton yang lain diperbolehkan menikah dengan kekasih pilihannya, kemudian pada suatu tempat, internal mata air bernama Mandala sang ratu menghilang. Ia berpindah tempat berbunga alam nyata ke kalimantang hirap. Kisah ini terbentang pada sirkuler yang berjudul “Cerita Rinjani”.

Selanjutnya, cerita tentang Haur Anjani dikisahkan maka dari itu Saroni[3] (master SD) yang menyatakan bahwa kisah Dewi Anjani gandeng dengan penyebaran agama Islam di pulau Lombok. Seputar abad ke-16 penyebaran agama Selam dilakukan melalui pantai utara Bayan dan dari arah barat sekitar Tanjung. Pembawanya adalah seorang syeikh berpokok Arab Saudi bernama Nurul Rasyid dengan gelar sufinya Gaoz Abdul Razak. Dia menetap di Lombok bagian utara, di daerah Bayan. Gaoz Abdul Razak mengawini Denda Bulan, melahirkan seorang anak bernama Zulkarnaen yang merupakan tunas kelapa bakal pangeran-paduka Selaparang. Lebih lanjut, Gaoz Abdul Razak menikah dengan Denda Islamiyah dan babaran Denda Qomariah yang populer dengan sebutan Bidadari Anjani (Saroni. 2022:16).

Hampir mirip dengan kisah sebelumnya, Saroni[4] menyatakan bahwa Dewi Anjani anak dari Gaoz Abdul Razak, kembali menyampaikan bahwa Dewi Anjani adalah anak dari Denda Islamiyah yang adalah istri pertama Gaoz Abdul Razak, sebelumnya Denda Islamiyah disebut Saroni sebagai istri kedua. Nan berbeda lagi ialah Bidadari Anjani plong versi ini memiliki dua orang ari-ari lanang yakni Sayyid Umar dan Sayyid Amir. Pada versi sebelumnya disampaikan Saroni saudara Dewi Anjani hanya satu khalayak merupakan Zulkarnaen.

Plong versi lain Saroni[5] sekali lagi menyampaikan, bahwa nama lain Dewi Anjani yaitu Bidadari Rinjani. Dia ialah anak asuh Raja Datu Empunya dan Dewi Mas, aji di Lombok. Sreg awalnya sang raja dan permaisuri hidup aman dan tenteram, tetapi mereka sering bersedih karena belum dikarunia anak. Sang pangeran kemudian memohon pemaafan permaisuri untuk menikah lagi. Emir Datu Tuan kemudian menikah dengan Sunggar Tutul, gadis dari Patih Awi. Dengan kekuasaan Tuhan, Dewi Mas yang berangkat tersingkirkan, seketika hamil. Sunggar Noktah iri melihat kehamilan Dewi Mas. Dia memfitnah Bidadari Mas sehingga si permaisuri diusir berusul keraton.

Dewi Mas tinggal di Gili dan ditemukan maka dari itu koteng nakhoda, kemudian pemimpin kapal itu membawa Dewi Mas ke Bali. Selepas sampai pada waktunya Haur Mas melahirkan momongan kembar yang laki-laki bernama Raden Nuna Putra Janjak dan yang pemudi bernama Peri Rinjani.

Saat mereka mulai bertaruk dewasa, mereka bertanya kepada ibunya siapakah ayah mereka. Dewi Mas menyampaikan bahwa ayah mereka adalah Datu Hawar seorang sinuhun di Lombok.Raden Nuna Putra Janjak pun berangkat ke Lombok bikin menjumpai ayahnya. Sreg awalnya mereka kutat, tetapi dengan terdengarnya bisikan gaib dari angkasa, sang pangeran mengetahui bahwa yang diajaknya bergumul adalah anaknya sendiri.

Mereka akhirnya rukun dan raja Datu Pandemi menjemput Peri Mas ke Bali. Raden Nuna Putra Janjak pula kemudian mengoper ayahnya menjadi raja. Tentatif itu, sang ayah dan putrinya Dewi Rinjani menyepi di puncak ardi, bertapa. Di sinilah kemudian Dewi Rinjani diangkat maka dari itu para mahluk halus menjadi sultan. Sejak saat itulah bukit itu disebut umpama Gunung Rinjani.

Internal cerita Ramayana, Bidadari Anjani adalah kakak momongan Tanda terima Gautama dengan Dewi Indradi bidadari dari kahyangan dan mempunyai saudara yang bernama Subali.Kedua bersaudara itu melakukan tapa.Haur Anjani bertapa “uda” (tanpa rok), sedangkan Subali bertapa “kalong” (kepala menungging ke bawah) di kerumahtanggaan dahan kayu. Dewi Anjani nan sedang bertapa itu dilihat maka itu Batara Mentari yang medium berjalan buana. Batara Matahari pula birahi sampai mengecualikan air jiwa yang menciprati daun asam (kamae) dan daun itu kemudian dilemparkannya kepada sang pertapa, Peri Anjani. Sang dewi gado patera itu, kesudahannya ia mengandung dan nanti lahirlah Hanoman.

Memperhatikan cap Dewi Anjani dalam kisahan itu, kemungkinan nama Ardi Rinjani (Rara Anjani) berasal berpunca merek tersebut dan diketahui di Embalau sudah sejak lama berkembang kisahan Ramayana (Herman. dkk, 1990/1991: 8—9).

Varian lain kisahan Dewi Anjani dalam cerita Ramayana yaitu sebagai berikut. Dewi Anjani adalah anak Resi Gotama dengan Dewi Indradi bermula kayangan, seorang bidadari. Dewi Indradi sebelum menikah dengan Resi Gotama sudah memiliki sendiri kekasih bernama Dewa Surya. Di pihak lain,  karenaResi Gotama sudah berjasa memadamkan kekalutan di kayangan, dia dianugerahi seorang bidadari, yakni Bidadari Indradi. Percintaan Dewi Indradi dengan Dewa Rawi pun abtar. Sebagai kenang-kenangan atas hubungan mereka, Dewa Surya memasrahkan kadam manik astagina kepada Dewi Indradi.

Suatu waktu, Haur Indradi asyik membuka cepu manik itu, Haur Anjani melihatnya dan ingin memilikinya. Bidadari Indradi terdesak memberikannya dengan pesan tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sekadar, Anjani enggak mematuhi pesan ibunya.Saat Anjani membuka cupu manik itu, Subali dan Sugriwa melihatnya.Adik-adiknya sekali lagi menginginkan cupu manik tersebut dan mengadukannya kepada Tanda terima Gotama.

Si surat bahari pun terkejut dan menyoal kepada Dewi Indradi tentang asal-usul cupu manik itu.Sang dewi tidak boleh menjawab sekadar berdiam seperti mana patung.Resi Gotama dengan kesal mengucapkan, cak kenapa istrinya diam sama dengan patung.Sang peri juga berubah menjadi patung.Resi Gotama membuang tempat sirih manik dan barang itu runtuh ke sumur.Cupunya jatuh ke sumur Nirmolo, maniknya jatuh ke sendang Sumala.

Subali dan Sugriwa nan mengaram benda-benda tersebut serta merta meloncat ke sendang.Ketika mereka keluar dari sendang, mereka sekali lagi berubah menjadi kera.Anjani yang mengejar manik ke sendang Sumala berusaha meraih dengan tangannya dan wajahnya juga ketularan air. Makanya sebab itu, Anjani pun wajahnya berubah menjadi kera (Praztscorpio, 2022). Beralaskan temu duga dengan penduduk setempat (pendaki gunung Rinjani) terserah yang pernah menyibuk seorang nona yang wajahnya mirip kera [6]. Hal itu merupakan pertanda bahwa kisah mengenai Dewi Anjani dalam versi narasi Ramayana hidup dan berkembang di Lombok. Di internal cerita Ramayana Haur Anjani lagi ke Suralaya sehabis selesai waktu hukumannya, yang menjadi pertanyaan mengapa kemudian nama Rinjani yang ditengarai bersumber berpunca nama Dewi Anjani menjadi nama sebuah gunung yang ada di pulau Lombok.

Dari bermacam ragam kisah tersebut ternyata nama Rinjani berasal berbunga cerita rakyat yang berkembang di umum, juga terwalak dalam sahifah yang berbentuk babad, yakni Babad Cili, Babad Sakra, dokumen Doyan Neda, dan Narasi Ramayana. Berbagai kisah tersebut membuktikan, bahwa nama Rinjani memang berhubungan erat dengan bervariasi cerita tentang aji jin yang bernama Dewi Anjani ataupun logo lainnya yaitu Dewi Rinjani. Doang, tidak terserah satu pun semenjak kisahan-kisah tersebut yang menambat antara nama Dolok Rinjani dengan keunggulan prabu mula-mula kerajaan Selaparang, ialah Sultan Rinjani nan dalam beberapa kisah merupakan saudara lain ibu dengan Peri Anjani.

    Kearifan Lokal

            Kearifan domestik yang dimaksudkan mengacu sreg pendapat Ife (Sudikan, 2022:46-48) yang mengatakan bahwa kearifan domestik memiliki heksa- dimensi; 1) dimensi permakluman lokal, 2) ukuran biji tempatan, 3) dimensi keterampilan lokal, 4) dimensi sumber daya domestik, 5) dimensi mekanisme pengutipan keputusan, dan 6) dimensi solidaritas kerubungan lokal.

Dalam cerita legenda Dewi Anjani terwalak kearifan lokal yang tergolong pada dimensi kedua (dimensi kredit lokal). Pada matra kedua, Ife  menamakan bahwa

…untuk mengatur atma bersama antara  antarwarga masyarakat, maka setiap awam memiliki aturan atau poin-nilai lokal yang ditaati dan disepakati bersama makanya seluruh anggotanya. Biji-nilai itu biasanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, bani adam denganan manusia, dan antara individu dengan liwa.Nilai-ponten itu n kepunyaan dimensi waktu faktual nilai masa lampau, waktu kini, dan masa cak bertengger. Nilai-nilai tersebut akan mengalami perubahan dengan kesuksesan masyarakatnya (Sudikan 2022:46-48).

Nilai-nilai kearifan local yang terdapat dalam legenda Asal Usul Nama Argo Rinjani adalah misal berikut.

Patuh pada orang tua

Kisah mengenai Bidadari Anjani, yang dipertuan jin penguasa Gunung Rinjani sebagaimana sudah disampaikan sebelumnya terdapat dalam berbagai versi. Haur Anjani merupakan seorang tokoh perempuan pintar yang semula adalah seorang cucu adam, tetapi kemudian berubah menjadi ratu jin. Anak adam Dewi Anjani dikisahkan sangat sangat patuh kepada khalayak tuanya. Pada sejumlah kisah digambarkan bahwa sang dewi tidak diperbolehkan menikah dengan lanang pilihannya. Dia tidak melawan karsa turunan tuanya, sang dewi kemudian bersepisepi dan inilah merupakan noktah awal berubahnya hamba allah Anjani menjadi bangsa jin.

Pemberian sayang

Pada beberapa kisah disebutkan,bahwa  Haur Anjani diangkat menjadi aji jin karena publik bangsa jin menghormati dan mencintainya. Hal itu menunjukkan bahwa otak Dewi Anjani adalah sosok dara nan memiliki watak welas asih dan penuh kasih sayang. Hal itu pun ditunjukkan oleh kisah yang terdapat privat manuskrip Doyan Neda. Haur Anjani menolong Doyan Neda dari ketidakadilan ayahnya koteng. Dengan karunia sayangnya, sang dewi sudah lalu dapat menghidupkan kembali Doyan Neda dengan cara memercikkan air suci.

Tradisi Menyembe dan Wetu Telu

Mahajana di Cili utara sampai momen ini masih mempercayai bahwa kesaktian si dewi sekali lagi ditunjukkan dengan mandu bagaimana si dewi boleh menidakkan bangsawan jin menjadi manusia. Dalam hal ini tampaknya kisah Haur Anjani berorientasi kepada kisah-kisah adapun mulanya kehadiran manusia di Lombok.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat mempercayai adanya hubungan antara Haur Anjani dengan mahluk-mahluk gaib yang ada di Argo Rinjani. Di sisi nan bukan, oleh masyarakat setempat juga dipercayai bahwa masyarakat jin yang mendiami Giri Rinjani adalah jin yang baik-baik. Kejadian ini menunjukkan bahwa Haur Anjani yaitu jin baik-baik. Nan menarik juga,  jin yang ada di Ardi Rinjani disebutkan bak jin Islam. Keadaan ini berhubungan dengan alur Dewi Anjani sebagai anak asuh penyebar agama Islam di Lada, ialah Gaoz Abdul Razak.Hal itu berkaitan dengan sejumlah kisah lisan yang disampaikan maka dari itu masyarakat setempat, (para pendaki gunung) menangkap tangan mata air zam zam dan kabah di Gunung Rinjani.

Di samping itu, masyarakat setempat setakat ketika ini masih melakukan ritual rasam ‘menyembe’ yakni menerimakan tanda di dahi lakukan orang-orang nan akan mendaki Bukit Rinjani. Ritual adat itu dilakukan sebagai tanda kendati tidak tertukar dengan mahluk penyap yang terserah di kancah tersebut[7].

Di sisi yang lain, di desa Bayan yang sebatas masa ini masih diakui seumpama desa tradisional yang masih melaksanakan upacara-ritual adat. Keseleo satu hal yang masih tegar menjadi falsafah mahajana khususnya yang suntuk di desa Bayan merupakan falsafah “wetu telu”.  Wetu telu adalah filosofi masyarakat adat Bayan nan cinta berpijak teguh pada tiga unsur maupun keyakinan yaitu hubungan Almalik dengan manusia yang melibatkan para kiai, pertalian manusia dengan manusia nan menyertakan pranata-pranata dan sesepuh sifat, dan yang keladak merupakan pertalian manusia dengan lingkungan yang diperankan oleh para Toaq Lokaq  (para orang tua). Ketiga unsur itu harus diseimbangkan karena bagaimanapun sekali lagi kalau riuk satunya enggak seimbang, tidak mana tahu bisa berjalan dengan baik (Cak regu Penyusun Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat. 2022:18).

Falsafah “wetu telu” awalnya yakni sinkretisme antara agama Islam yang masuk kemudian di Cabai dan agama Siwa-Budha yang sebelumnya sudah menjadi agama masyarakat Merica lega masa itu.Hal itu terjadi karena pensyiar agama Selam di Lombok lega masa itu bertindak lever-lever kerumahtanggaan camur agama Islam (Tim Penghasil Monografi Provinsi Nusa Tenggara Barat. 2022:102–103).

Di samping itu, masyarakat Hindu di Lombok dan suku Sasak, khususnya, pada lilin batik bulan purnama melaksanakan seremoni “pakelem”.Upacara ini dimaksudkan untuk meminta hujan.Tampaknya tradisi ini gandeng dengan kisah Dewi Anjani nan diyakini lahir berpangkal Baginda Selaparang yang menikah dengan mahluk renik penghuni Dolok Rinjani. Akad nikah itu terjadi setelah mahluk halus penghuni Argo Rinjani mengabulkan permohonan sang pangeran buat mengedrop hujan abu di wilayah kerajaan Selaparang yang sedang dilanda kekeringan (Hendarto, 2022:42).

    Penutup

Berdasarkan jabaran yang sudah disampaikan asal-usul nama Gunung Rinjani berkaitan dengan cerita-kisah Haur Anjani. Selain itu, berkaitan juga dengan asal-usul manusia Lombok serta asal-usul maupun tunas kelapa bakal imperium Selaparang. Hal ini menandai bahwa penamaan Gunung Rinjani gandeng dengan hal-hal yang berguna bagi umum Cabai.

Mulai sejak berbagai kisahan tentang Peri Anjani juga dapat disampaikan bahwa kearifan domestik nan bisa dipetik bersumber kisah-kisah Dewi Anjani gandeng dengan identifikasi  bahwa di masyarakat Merica, khususnya masyarakat Lombok Lor, ada percampuran dua kebudayaan atau makin yang saling berlawan dan tukar mempengaruhi. Dewi Anjani sebagaimana dikisahkan merupakan seorang tokoh nan cak semau dalam narasi Ramayana, tetapi kemudian di Lombok Bidadari Anjani dihubungkan dengan proses penyebaran agama Islam. Di sisi tidak, kisah Dewi Anjani juga dihubungkan dengan sejumlah tradisi ataupun upacara yang berhubungan dengan agama Hindu. Oleh sebab itu, kisah Peri Anjani merupakan gambaran percampuran berbagai peradaban sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya.

Daftar Bacaan

Danandjaja, James. 1984. Foklor Indonesia ilmu gosip, takhayul, dan lain-lain. Jakarta: Grafitipers.

Djelenga, Lalu. 1987. “Babad Sakra”.Nusa Tenggara Barat: Yayasan Kerta Raharja Sakra.

Hendarto, Heru R. 2022. “Rinjani: Merengkuhi Muka Dewi Anjani”  Lionmag November 2022, hlm.38—44. Jakarta:Buka Ki alat Nusantara.

Mu’jizah. 2022. “Prasaran penelitian Pangkal-Usul Keunggulan Geografi Melalui Sastra”. Jakarta: Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Peradaban.

Ruchiat, Rachmat. 2022. Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta: Masup.

Santosa, Puji. 2010. “Wedhatama, Wirawiyata, dan Tripama: Ekspresi Ilmu Keutamaan Seorang Raja Jawa” n domestik  Abdul Hadi (Penyunting). Kakawin dan Hikayat: Refleksi Sastra Nusantara.Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saroni. 2022. “Gumi Sasak n domestik Album”. Tempaan Stensilan. Lombok.

…………. 2022. “Kumpulan Cerita dari Suku Gedek Embalau.” Cetakan Stensilan. Embalau.

Sudikan, Setya Yuwana. 2007. Antropologi Sastra. Surabaya:Unesa University Press.

Tim Penyusun Monografi. 2022.Monografi Negeri Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB.

V.J. Herman dkk (Cak regu).1990/1991.Anakan Rampai Kutipan Naskah Lama dan Aspek Pengetahuannya. Nusa Tenggara Barat: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum Provinsi NTB.

Prazscorpio. 2022. “Tempat sirih Manik Astagina” http praztscorpio.wordpreaa.com/wayang/Ramayana-2 diunduh pada tanggal 18 November 2022.

[1]Wawancara pada rontok 9 November 2022

[2] Dengar pendapat dengan Saroni 9 Desember 2022

[3] Wawancara dengan Saroni rontok 8 November 2022

[4] Interviu dengan Saroni tanggal 8 November 2022

[5] Soal jawab dengan Saroni tanggal 8 November 2022

[6] Wawanrembuk di Desa Senaru, 7 November 2022

[7] Wawancara dengan Sukrati copot 6 November 2022, di Kampung Tradisional Senaru

Source: https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/836/legenda-asal-usul-terjadinya-gunung-rinjani-dan-kearifan-lokal-yang-terdapat-di-dalamnya