Sangkut-paut Superior DAN YANG DIPIMPIN

 “Almalik Pemimpin turunan-orang yang berkeyakinan; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya yakni syaitan, yang mengasingkan mereka daripada terang kepada kesamaran (kekafiran). Mereka itu adalah warga neraka; mereka kekal di dalamnya”.

(QS. Al-Baqarah [02]: 257).

Al-Qur’an mutakadim menguraikan bahwa Allah adalah pemimpin individu-makhluk beriman. Hal ini sama dengan firman-Nya diatas.

Azh-zhulumat
(kegelapan) dalam ayat di atas merupakan simbol dari segala bentuk kekufuran, kemusyrikan, kefasikan dan kemaksiatan. Maupun dalam bahasa saat ini
Azh-zhulumat
merupakan bermacam-varietas ideology dan isme-isme yang anti dengan ajaran Islam seperti komunisme, sosialisme, kapitalisme, liberalism, materialism, hedonism, dan tak sebagainya. Sementara itu
an-terang
yakni simbol dari ketauhidan, religiositas, ketaatan, dan segala kemustajaban lainnya.

At-thaghut
adalah segala sesuatu yang disembah (dipertuhan) selain semenjak Allah l dan dia demen diperlakukan bak Tuhan tersebut. Sederhananya
Thaghut
adalah segala sesuatu nan menentang kebenaran dan melanggar batas yang telah digariskan oleh Allah l untuk hamba-Nya. Dia bisa berbentuk pandangan hidup, peradaban dan enggak-lain yang tidak berlandaskan wahyu Allah `.

Secara kepemimpinan Allah l itu dilaksanakan maka dari itu Rasulullah `, dan sepeninggal beliau kepemimpinan itu dilaksankan oleh anak adam-orang nan beriman. Hal itu dinyatakan di dalam Al-Qur’an, Yang mahakuasa l mengomong,
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Yang mahakuasa, Utusan tuhan-Nya, dan orang-basyar yang percaya, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.
(Q.S. al-Mâidah [05]: 55).

Kriteria Pejabat

Pemimpin umat ataupun privat ayat di ayat di istilahkan dengan
waliy
dan dalam ayat yang tidak (Q.S An-Nisa’ [4]: 59) disebut dengan
ulil amri
adalah penerus kepemimpinan Rasulullah ` sehabis dia meninggal bumi. Sebagai Nabi dan Rasul, Rasul Muhammad ` tidak boleh digantikan, tapi sebagai kepala negara, superior,
ulil amri
tugas beliau dapat digantikan.  Orang-orang yang bisa dipilih mengaplus beliau misal majikan paling harus memenuhi empat standar sebagai mana yang dijelaskan dalam dokumen Al-Mâidah ayat 55 di atas.

  1. Beriktikad Kepada Allah l.

Atasan
ulim amri
adalah penerus kepemimpinan Rasulullah `, sementara itu Rasulullah ` koteng adalah pelaksana kepemimpinan Allah `, maka karuan tetapi yang mula-mula sekali harus dimiliki oleh penerus kepemimpinan beliau yakni keimanan (kepada Allah, dan Rasul-Nya bagaimana siapa anda dapat diharapkan menganjuri umat menempuh jalan Allah di atas permukaan bumi takdirnya tidak memiliki iman di hatinya. Maka keimanan menjadi pondasi dasar kepemimpinan dalam Selam.

  1. Mendirikan Shalat.

Shalat adalah ibadah vertikal serta merta kepada Halikuljabbar l. Seorang pemimpin yang mendirikan shalat diharapkan memiliki hubungan vertikal yang baik dengan Almalik l. Diharapkan biji-nilai kebesaran dan fungsi nan terdapat di internal shalat dapat tercermin internal kepemimpinannya. Misalnya nilai kejujuran. Apabila wudhu’ seorang imam yang sedang memelopori shalat batil, sekalipun tidak diketahui orang bukan dia akan mengundurkan diri dan siap digantikan orang lain, karena anda pulang ingatan bahwa anda tidak lagi berkuasa menjadi imam.

  1. Membayarkan zakat.

Zakat ialah ibadah mahdhah yang ialah bunyi bahasa kehormatan dan kepedulian sosial. Seorang majikan yang berzakat diharapkan camar berusaha mensucikan hati dan hartanya. Dia tidak akan berburu dan menikmati harta dengan cara yang tidak halal (misalnya dengan penggelapan, konspirasi, dan nepotisme). Dan lebih dari pada itu dia punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap kaum dhu’afa’ dan mustadh’afin. Dia akan menjadi pembela makhluk-orang nan rengsa.

  1. Comar Takluk Tunak Kepada Almalik l.

Ayat di atas disebutkan pembesar itu haruslah orang-orang yang selalu
ruku’
(wa hum raki’un).
Ruku’
ialah huruf angka kepatuhan secara mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya yang secara konkret dimanifestasikan dengan menjadi seorang orang islam yang kafah (total), baik dalam aspek aqidah, ibadah, akhlaq, alias mu’amalat. Aqidahnya benar (bertauhid secara nirmala dengan apa konsekuensinya, bebas dari segala rajah kemusyrikan), ibadahnya tertib dan sesuai cak bimbingan Nabi, akhlaqnya terpuji (shidiq, amanah, independen, istiqamah, dansifat-adat mulia lainnya). Dan mu’amalatnya (n domestik seluruh aspek kehidupan) enggak berlawanan dengan syari’at Islam.

Loyalitas Kepada Pemimpin

Kepemimpinan Allah l dan Rasul-Nya adalah kepemimpinan yang mutlak diikuti dan dipatuhi. Sedangkan kepemimpinan khalayak-orang yang beriman ialah kepemimpinan yang nisbi (relatif) kepatuhan kepadanya terjemur dengan paling tekor dua faktor: (1) Faktor kualitas dan integritas pemimpin itu koteng; dan (2) Faktor arah dan rona kepemimpinannya. Kemana umat yang dipimpinnya mau dibawa, apakah lakukan menegakkan dinullah atau tidak.

Perbedaan kepatuhan itu mutakadim diisyaratkan oleh Allah l dalam firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Nabi (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.
(QS. An-Nisa’ [04]: 59).

Perintah ki ajek kepada Utusan tuhan disebutkan secara eksplisit begitu juga perintah taat kepada Allah l, semantara perintah setia kepada
ulil amri
saja di
‘atafkan (diikutkan) kepada perintah sebelumnya. Artinya disiplin kepada
ulil amri
terkait dengan ketaatan
ulil amri
itu sendiri kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ulil amri
yang disebut privat ayat ini ditafsirkan oleh Al-Mâidah 55 di atas, yaitu sosok beriman nan mendirikan shalat, membayar zakat, dan selalu tunduk kepada Allah l.

Isyarat bahasa ini dipertegas oleh sabda Rasulullah `, “Seorang muslim teristiadat mendengar dan tetap (kepada ketua –ed-) privat perkara yang dia sukai maupun benci selama lain diperintahkan bagi bermaksiat.

Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada muatan mendengar dan taat.” (H.R. Bukhari)

Untuk hal-hal nan sudah diatur dan ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadits, sikap majikan dan nan dipimpin sudah jelas, harus sekelas-setara tungkul pada hukum Allah. Tetapi internal hal-peristiwa yang berkarakter ijtihadi, ditetapkan secara musyawarah dengan mekanisme yang disepakati bersama. Akan tetapi, apabila terjadi perbedaan pendapat yang tidak bisa disepakati antara pemimpin dan nan dipimpin, maka yang ditaati yaitu pendapat kepala. Yang dipimpin kemudian tidak boleh menolaknya dengan alasan pendapatnya tidak dapat diterima.

Gabungan antara Majikan dan yang Dipimpin

Sekalipun dalam struktur bernegara (dan juga pada level di bawahnya) ada hirarki kepemimpinan yang mengharuskan umat maupun rakyat patuh pada pemimpinnya, tetapi kerumahtanggaan pergaulan sehari-periode perpautan antara komandan dan yang dipimpin tetaplah dilandaskan kepada prinsip-prinsip ukhuwah islamiyah, nukan prinsip ketua dengan kaki tangan, ataupun pejabat dengan buruh, hanya prinsip sahabat dengan sahabat. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah `.

Suku bangsa muslimin yang ki berjebah di seputar beliau masa itu di panggil dengan sebutan sahabat-sahabat, suatu panggilan yang menunjukkan hubungan yang horizontal, sekalipun ada kewajiban bikin patuh secara mutlak keppada dia sebagai sendiri Nabi dan Utusan tuhan. Pergaulan pertalian begitu juga itu privat praktinya tidaklah melemahkan kepemimpinan Rasulullah `, tapi malah semakin kokoh karena tidak hanya di dasari hubungan legal, tapi pun di dasari jalinan lever yang mumbung hidayah saying. (Disadur dari Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc, M.A
Ceramah Akhlaq, 2022, peristiwa 247-251 dengan penambahan)

Cristoffer Veron P

Pesuluh Inferior XI SMK Muhammadiyah 1 Daerah tingkat Yogyakarta

Prodi Teknik Komputer dan Jaringan

Dur Nasehat

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sebenarnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah sungguh-sungguh Maha Abadi lagi Maha Perkasa.” (Q.S. Al Hajj [22] : 40)