Soal Teori Belajar Dan Pembelajaran

Contoh Soal Teori Belajar dan Pembelajaran

Mata Syarah: Teori Belajar dan Pengajian pengkajian

Kerjakan Tanya Esay Berikut dengan Bersusila!

Ajaran berbuat cak bertanya :
1. Setiap soal di  jawab dengan mengajukan paling  2 pendapat/perigi, dianalisis dan disimpulkan menurut pendapat anda sendiri.
2. Jawaban cak bertanya dikumpul privat buram print out dan softcopy diberi nama dan npm.
3. Dikumpul melalui atasan kelas bawah masing-masing paling lambat tanggal ……

Pertanyaan :
1. Segala dan bagaimana Teori membiasakan menurut teori Behavioristik ?
2. Apa dan bagaimana Teori berlatih menurut teori Humanistik ?
3. Segala apa dan bagaimana Teori belajar menurut teori Kognetif ?
4. Barang apa dan bagaimana Teori belajar menurut teori Konstruktif ?
5. Pilih pelecok satu berbunga 4 teori Belajar,  bagaimana penerapannya pembelajaran  geografi privat kurikulum 2022 ( di SMP/SMA ) ?

JAWAB
:

1. Teori membiasakan Behavioristik

A.
Denotasi Belajar Menurut Penglihatan Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar yakni perubahan tingkah laku andai akibat bersumber adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perlintasan yang dialami siswa internal hal kemampuannya buat berkelakuan dengan cara nan plonco sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu takdirnya beliau dapat menunjukkan peralihan tingkah lakunya. Sebagai komplet, anak belum dapat berhitung perbanyakan. Walaupun engkau sudah berusaha giat, dan gurunyapun sudah mengajarkannya dengan tekun, saja jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan anggaran multiplikasi, maka ia belum dianggap sparing. Karena dia belum dapat menunjukkan perubahan perilaku bagaikan hasil belajar.

Menurut teori ini yang terpenting adalah akuisisi maupun input yang berupa stimulus dan jebolan atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus yaitu segala apa cuma nan diberikan guru kepada pesuluh misalnya daftar multiplikasi, peranti peraga, pedoman kerja, atau kaidah-cara tertentu, untuk kontributif belajar siswa, sedangkan respons yaitu reaksi maupun tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan maka itu hawa tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap lain penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang bisa diamati hanyalah stimulus dan respons. Maka dari itu sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (rspons), semuanya harus bisa diamati dan dapat diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu peristiwa yang penting untuk mengaram terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor tak nan pun dianggap bermakna makanya persebaran behaviotistik adalah faktor penstabilan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin awet. Sebagaimana bila pemantapan dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka beliau akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif (positive reinforcement) intern belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan ini tambahan pula meningkatkan aktivitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan merusak (negative reinforcement) dalam belajar. Jadi penstabilan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respons.

Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skiner. Plong dasarnya para penganut perputaran behavioristik setuju dengan pengertian berlatih di atas, namun ada beberapa perbedaan pendapat di antara mereka. Secara singkat, berturut-timbrung akan dibahas karya-karya para inisiator aliran behavioristik misal berikut :

B. Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, berlatih adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus merupakan apa sekadar yang dapat merangsang terjadinya kegiatan berlatih seperti pikiran, pikiran, atau peristiwa-hal lain nan dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan petatar asuh detik belajar, yang juga dapat berupa pikiran, manah, alias gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat terbit kegiatan belajar itu dapat bertujuan kongkrit yaitu nan dapat diamati, maupun bukan kongkrit adalah yang tidak boleh diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun dia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah larap yang tak bisa diamati. Sahaja demikian, teorinya sudah lalu banyak mengasihkan pemikiran dan inspirasi kepada dedengkot-tokoh bukan nan datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai distribusi Koneksionisme (Connectionism).

C. Teori Belajar Menurut Watson
Watson adalah seorang induk bala aliran behavioristik nan datang pasca- Thorndike. Menurutnya, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, sahaja stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah kayun yang dapat diamati (observabel) dan bisa diukur. Dengan introduksi enggak, kendatipun ia memufakati adanya pergantian-perubahan mental intern diri seseorang sepanjang proses berlatih, namun dia menganggap peristiwa-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia setia mengakui bahwa peralihan-perubahan mental privat lemak tulang siswa itu utama, semata-mata semua itu lain dapat menjelaskan apakah seseorang telah berlatih atau belum karena tak dapat diamati.
Watson yaitu sendiri behavioris jati, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu bukan sama dengan fisika atau ilmu hayat yang sangat berorientasi puas pengalaman empirik semata, yaitu sejauh bisa diamati dan boleh diukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan prinsip demikianlah maka akan boleh diramalkan perubahan-persilihan apa yang kerjakan terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar. Para pentolan aliran behavioristik cunderung untuk tidak mencerca hal-hal nan tidak dapat diukur dan tidak boleh diamati, sebagai halnya pertukaran-pergantian mental yang terjadi ketika belajar, meskipun demikian mereka tetap mengakui hal itu signifikan.

D. Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon bagi menguraikan pengrtian tentang sparing. Cuma dia silam terpengaruh makanya teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga perturutan kehidupan individu. Maka itu sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah bermakna dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan sosok, sehingga stimulus internal belajarpun hampir camar dikaitkan dengan kebutuhan biologis, lamun respon yang akan muncul barangkali dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian bukan banyak digunakan privat kehidupan praktis, terutama pasca- Skinner memasyarakatkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan privat beragam eksperimen di laboratorium.

E. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia sekali lagi menunggangi variabel sangkut-paut stimulus dan respon bikin menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun kamu mengemukakan bahwa stimulus tidak harus bersambung dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan maka dari itu Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa persaudaraan antara stimulus dan respon cenderung sahaja berperilaku sementara, oleh sebab itu n domestik kegiatan berlatih peserta asuh perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar ikatan antara stimulus dan respon berkarakter lebih teguh. Ia pun mengemukakan, seyogiannya respon yang muncul sifatnya lebih awet dan bahkan berkampung, maka diperlukan bermacam rupa macam stimulus yang gandeng dengan respon tersebut. Guthrie pula percaya bahwa hukuman (punishment) menjawat peranan berguna dalam proses membiasakan. Siksa yang diberikan kapan yang tepat akan mampu merubah resan dan perilaku seseorang. Doang selepas Skinner menganjurkan dan mempopulerkan akan pentingnya penguatan (reinforcemant) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi dipentingkan intern membiasakan.

F. Teori Membiasakan Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu meng-ungguli konsep-konsep lain nan dikemukakan makanya para tokoh sebelumnya. Kamu mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melampaui interaksi intern lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perlintasan tingkah laku, tidaklah sesederhana nan digambarkan oleh para gembong sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi rencana respon yang akan diberikan. Demikian juga dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, bikin memahami tingkah laku seseorang secara etis, perlu tambahan pula dahulu memafhumi rangkaian antara stimulus suatu dengan lainnya, serta memaklumi respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan kulur sebagai akibat berpunca respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku cuma akan menaik rumitnya masalah. Sebab, setiap perkakas yang digunakan perlu penjelasan kembali, demikian dan seterusnya.

G. Implikasi Teori Sparing Behaviorisme
Implikasi dari teori behaviorisme ini terhadap pendidikan adalah sebagai berikut:
• Individualisasi: perlakuan individual didasarkan puas tugas, bilangan dan disiplin.
• Motivasi: motivasi belajar berperangai ekstrinsik melalui pembiasaan secara terus-menerus.
• Metodologi: metode belajar dijabarkan secara rinci bikin mengembangkan kesigapan dan pengetahuan tertentu dan memperalat teknologi.
• Tujuan kurikuler : berfokus pada pengetahuan dan kegesitan akademis serta tingkah laku sosial.
• Buram manajemen kelas: pengelolaan kelas berfokus pada guru, perkariban-hubungan sosial sahaja yakni cara untuk menjejak tujuan dan bukan pamrih yang hendak dicapai.
• Aksi mendayagunakan mengajar: dengan cara mengekspresikan program secara rinci dan berjenjang serta mengutamakan penyerobotan keterampilan.
• Partisispasi: peserta didik kali pasif.
• Kegiatan belajar peserta didik: pemahiran kesigapan melalui aklimatisasi setahap demi selangkah secara rinci.
• Tujuan umum pembelajatran: kemampuan mengerjakan sesuatu.

Menurut pendapat saya : Belajar menurut teori behavioristik ialah interaksi antara stimulus dan respon yang mengakibatkan adanya proses perubahan perilaku peserta didik yang condong ke hal yang lebih maujud yang berkepribadian tetap .Pergantian tingkah laku tersebut  yang bersifat konkret adanya dan cak semau juga yang bersifat non konkrit. Seorang dikatakan membiasakan apabila sudah mengalami perubahan, jika seseorang belum mengalami perubahan maka belum bisa dikatakan khalayak tersebut belajar lamun sebenarnya orang tersebut mutakadim belajar.

2. Teori Membiasakan Menurut Teori Humanistik

Teori sparing ini berusaha memahami perilaku berlatih berpunca ki perspektif pandang pelakunya, enggak mulai sejak sudut pandang pengamatnya. Harapan utama para pendidik adalah membantu pelajar didik untuk mengembangkan dirinya, yakni membantu masing-masing individu cak bagi mengenal diri mereka seorang seumpama manusia yang unik dan mendukung dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada kerumahtanggaan diri mereka.

Dalam teori berlatih humanistik proses berlatih harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Kendatipun teori ini sangat menggarisbawahi pentingya isi dari proses belajar, intern kenyataan teori ini lebih banyak bertutur tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya nan minimum teoretis. Dengan introduksi lain, teori ini bertambah tercabut pada ide belajar dalam bentuknya yang minimum model dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun boleh dimanfaatkan asal harapan bakal “memanusiakan basyar” (hingga ke aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.

A. Tokoh Teori Humanistik
1. Carl Rogers
Carl R. Rogers berpendapat bahwa belajar yang sememangnya tidak dapat berlangsung bila tidak cak semau keterlibatan cendekiawan atau sentimental murid asuh. Oleh karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motifasi belajar harus bersumber pada diri peserta didik.
Roger membedakan dua ciri belajar, ialah: (1) belajar yang bermanfaat dan (2) belajar nan bukan bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika privat proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan manah peserta jaga, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika privat proses penataran melibatkan aspek perhatian akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan murid jaga.

    2. Arthur Combs
Combs berpendapat bahwa banyak guru mewujudkan kesalahan dengan berasumsi bahwa peserta bimbing mau membiasakan apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal kemustajaban tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga nan penting ialah bagaimana membawa si peserta tuntun untuk memperoleh kemujaraban bagi pribadinya bersumber materi kursus tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan kegaduhan diri dalam marcapada seseorang begitu juga dua kalangan (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu.. Halangan mungil (1) adalah paparan bersumber skandal diri dan lingkungan lautan (2) yakni cerapan manjapada. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu berbunga persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, situasi-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, bertambah mudah kejadian itu terlupakan.

B. Implikasi Teori Belajar Humanistik
Penerapan teori humanistik makin menunjuk sreg semangat selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran hawa dalam penelaahan humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para petatar asuh sedangkan suhu memberikan motivasi, kesadaran akan halnya makna berlatih dalam kehidupan peserta didik. Hawa memfasilitasi pengalaman berlatih kepada pelajar ajar dan mendampingi peserta didik untuk memperoleh tujuan penelaahan.

Murid didik berperan laksana pelaku terdahulu (stundent center) yang memaknai proses camar duka belajarnya koteng. Diharapkan peserta didik mencerna potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara berupa dan meminimalkan potensi diri yang berperangai negatif. Psikologi humanistik memberi pikiran atas guru sebagai fasilitator.

Menurut pendapat saya : Belajar menurut Teori Humanistik adalah proses memanusiakan manusia. Belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila bukan ada keterlibatan jauhari ataupun romantis peserta didik. Di dalam teori humanistik, belajar dibedakan menjadi dua, yakni belajar penting dan sparing tidak bermakna. Sparing dikatakan bermanfaat jika melibatkan pikiran dan perhatian, sedangkan belajar dikatakan tidak bermanfaat jikalau doang melibatkan pikiran namun tak menyertakan perasaan.

3. Teori Belajar Menurut Teori Kognitif

A. Penggagas-pelopor Teori Belajar Kognitif
1. Teori Perkembangan Piaget.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yaitu  suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system syaraf. Dengan kian bertembahnya nasib seseorang maka semakin komplekslah susunan sarafnya dan meningkat pula kemampuannya. Piaget enggak melihat perkembangan kognitif umpama suatu yang dapat didefinisikan secara kualitatif. Ia menyimpulkan bahwa anak kunci pikir ataupun kekuatan mental anak yang berlainan usia akan berbeda pula secara kualitatif.
2. Teori Belajar Menurut Bruner
Dalam memandang proses belajar, bruner menekankan adanya pengaturan kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Dengan teorinya nan disebut free discovery learning, anda mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan mampu jika guru emberikan kesmpatan kepada peserta buat menemukan suatu konseo, teori,  aturan atau pemahaman melampaui teoretis-contoh nan dia jumpai dalam kehidupannya.
3. Teori Sparing bermakna Ausubel.
Menurut Ausubel, sparing sebaiknya merupakan asimilasi yang signifikan untuk pesuluh. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengtahuan nan mutakadim dimiliki siswa dalam tulang beragangan strukur serebral. Teori ini banyak memusatkan perhatiannya plong konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan plonco merupakan fungsi berpokok struktur kognitif nan sudah dimiliki siswa.
Hakikat berlatih menurut teori kognitif yakni suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan kenyataan, reorganisasi perceptual, dan proses n domestik. Atau dengan kata tidak, belajar merupakan persepsi dan kesadaran, yang lain selalu berbentuk tingkah laku nan bisa diamati atau diukur. Dengan premis bahwa setiap orang telah mempunyai pengetahuan dan pengalaman nan telah tertata dalam tulang beragangan struktur psikologis yang dimilkinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau kabar hijau beradaptasi dengan struktur psikologis gegep telah dimiliki seseorang.
B. Aplikasi Teori Kogmitif intern kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pebelajaran yang berpijak pada teor sparing kognitif ini telah banyak digunakan. Dalam merumuskan tuuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan maksud penerimaan, bukan lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatann siswa secara aktif  dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih berfaedah bagi pesuluh. Padahal kegiatan pembelajarannya mengikuti pendirian-prinsip misal berikut :
1. Siswa bukan sebagai orang dewasa nan mudah dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melintasi tahap-tahap tertentu.
2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan boleh berlatih dengan baik terutama jika mendengarkan benda-benda kongrit.
3. Keterlibatan petatar secara aktif intern belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses respirasi dan fasilitas pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
4. Lakukan menarik minat dan meningkatkan retensi teristiadat mengkaitkan camar duka atau informasi mentah dengan struktur kognitif yang telah memiliki si belajar.
5. Kesadaran dan retensi akan meningkat jika materi cak bimbingan disusun dengan menggunakan teladan ataupun ilmu mantik tertentu, berpangkal sederhana ke obsesi.
6. Belajar memahami akan lebih bermakna daripada berlatih mneghafal.
7. Adanya perbedaan distingtif pada diri siswa pelu diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi kemenangan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada cemeti, persepsi, kemampuan berpikir, proklamasi mulanya dan sebagainya.
Menurut pendapat saya : teori belajar menurut teori serebral merupakan proses intern yang mencengam : ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan tak, dimana satu aktivitas berlatih tersebut berkaitan dengan penataan pengetahuan, reorganisasi perceptual, dan proses internal.

4. Teori Berlatih Menurut Teori Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang berwatak generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna berpokok segala apa yang dipelajari. Konstruktivisme senyatanya bukan ialah gagasan yang plonco, apa yang dilalui kerumahtanggaan kehidupan kita sejauh ini merupakan himpunan dan pembinaan asam garam demi camar duka. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
A. Teori Membiasakan Konstruktivisme Jean Piaget
Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis purwa (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa riset teori kontruktivisme pada proses bagi menemukan teori atau pengetahuan nan dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam penataran menurut teori kontruktivisme merupakan sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak mulai sejak gudi konstruktivistik yang kian mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata nan dimilikinya.
B. Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky
Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide utama. Pertama, perkembangan sarjana dapat dipahami hanya bila ditinjau terbit konteks kuno dan budaya pengalaman anak. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada tanda baca-simbol nan diciptakan maka itu budaya bikin membantu cucu adam berfikir, berkomunikasi dan memecahkan keburukan, dengan demikian  perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem  komunikasi budaya dan belajar menggunakan sistem-sistem ini  cak bagi menyamakan proses-proses berfikir diri sendiri.
C. Implikasi Konstruktivisme dalam Penerimaan
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme n domestik pendidikan momongan (Poedjiadi, 1999: 63) merupakan sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme ialah menghasilkan individu atau momongan yang memiliki kemampuan berfikir untuk memintasi setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi keadaan yang memungkinkan pengetahuan dan kecekatan boleh dikonstruksi maka itu petatar asuh. Selain itu, latihan memcahkan penyakit seringkali dilakukan melangkaui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta bimbing diharapkan pelalah aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Hawa hanyalah berfungsi umpama mediator, fasilitor, dan n antipoda yang takhlik situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Menurut pendapat saya : belajar menurut teori konstruktivisme yaitu proses kerjakan menemukan teori atau wara-wara yang dibangun dari realitas lapangan. Pembelajaran pada teori konstruktivisme berperilaku generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

5. Penerapan teori belajar Humanistik dalam mata Pelajaran Geografi SMA kurikulum 2022

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit sejauh proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator cak bagi para siswa sedangkan temperatur menyerahkan cemeti, kesadaran adapun makna belajar dalam semangat siswa. Master memfasilitasi pengalaman membiasakan kepada petatar dan mendampingi petatar untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

Guru dapat menggunakan peta dan urun rembuk adapun materi sistem maklumat geografi, interaksi gejala fisik dan sosial, struktur internal suatu temat, interaksi keruangan dan kecabuhan mileu dan kewilayahan. Guru dapat memberikan tugas dengan mempelajari materi lain bikin memperdalam materi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2014. Pembelajaran Menurut Teori Belajar.http://www.duniapembelajaran.com/2014/12/pembelajaran-menurut-teori-belajar.html. Diakses terlepas 6 januari 2022.
Inkognito. 2022. Teori Belajar Behavioristik. http://soddis.blogspot.co.id/2015/05/teori-belajar-behavioristik-dan.html. Diakses tanggal 6 januari 2022.
Hafidz,fajrul. 2022. Teori Belajar Konstruktivisme. http://fajrulhafidz.blogspot.co.id/2015/05/teori-belajar-konstruktivistik-dan.html. Diakses copot 6 januari 2022.
Anonim. 2022. Teori-Teori Belajar dan Penerapannya. http://direlaverite.blogspot.co.id/2012/03/teori-teori-belajar-dan-penerapannya.html. Diakses terlepas 6 januari 2022.

Source: https://www.buwoh.com/2019/06/contoh-soal-teori-belajar-dan.html