Surah Al Baqarah Ayat 1 Sampai 10


Surat Al-Baqarah Ayat 1 – 10 dengan Adverbia dan Terjemahannya


Ayat 1

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓمٓ

Alif laam miim.

«الم» الله أعلم بمراده بذلك.

(Alif laam miim) Allah nan bertambah mengetahui akan maksudnya.

Ayat 2

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

«ذلك» أي هذا «الكتاب» الذي يقرؤه محمد «لا ريب» لا شك «فيه» أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم «هدىً» خبر ثان أي هاد «للمتقين» الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي لاتقائهم بذلك النار.

(Kitab ini) yakni yang dibaca maka itu Muhammad saw. (tidak ada kesangsian) atau kebimbangan (padanya) bahwa ia benar-moralistis dari Sang pencipta swt. Kalimat negatif menjadi predikat dari subyek ‘Kitab ini’, sementara itu alas kata-kata isyarat ‘ini’ dipakai sebagai penghormatan. (menjadi petunjuk) sebagai predikat kedua, artinya menjadi penuntun (bagi orang-orang yang bertakwa) maksudnya orang-sosok yang mengusahakan diri mereka kendati menjadi takwa dengan urut-urutan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka.

Ayat 3

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

(yaitu) mereka yang percaya kepada nan ghaib, nan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

«الذين يؤمنون» يصدِّقون «بالغيب» بما غاب عنهم من البعث والجنة والنار «ويقيمون الصلاة» أي يأتون بها بحقوقها «ومما رزقناهم» أعطيناهم «ينفقون» في طاعة الله.

(Basyar-khalayak yang beriman) nan menasdikkan (kepada nan hirap) adalah yang tidak tertentang oleh mereka, sebagaimana kebangkitan, keindraan dan neraka (dan mendirikan salat) artinya melakukannya seperti mana mestinya (dan sebagian mulai sejak nan Kami berikan kepada mereka) yang Kami anugerahkan kepada mereka sebagai rezeki (mereka nafkahkan) mereka belanjakan bagi jalan menaati Almalik.

Ayat 4

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

dan mereka nan beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka berpengharapan akan adanya (nasib) akhirat.

«والذين يؤمنون بما أنزل إليك» أي القراَن «وما أنزل من قبلك» أي التوراة والإنجيل وغيرهما «وبالآخرة هم يوقنون» يعلمون.

(Dan orang-orang yang beriman plong segala apa yang diturunkan kepadamu) maksudnya Quran, (dan apa nan diturunkan sebelummu) merupakan Taurat, Injil dan selainnya (serta mereka berpengharapan akan tahun akhirat), artinya mengarifi secara tentu.

Ayat 5

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah yang setia beruntung petunjuk berpokok Sang pencipta mereka, dan merekalah orang-orang yang berkat.

«أولئك» الموصوفون بما ذكر «على هدىّ من ربِّهم وأولئك هم المفلحون» الفائزون بالجنة الناجون من النار.

(Merekalah), yakni sosok-turunan yang memenuhi sifat-rasam yang disebutkan di atas (yang beroleh wangsit semenjak Tuhan mereka dan merekalah sosok-orang yang membujur) yang akan berhasil meraih kedewaan dan terlepas bersumber hukuman neraka.

Ayat 6

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sebenarnya cucu adam-anak adam kufur, separas cuma bakal mereka, beliau beri peringatan atau enggak dia beri peringatan, mereka tidak juga akan percaya.

«إن الذين كفروا» كأبي جهل وأبي لهب ونحوهما «سواء عليهم أأنذرتهم» بتحقيق الهمزتين وإبدال الثانية ألفاً وتسهيلها وإدخال ألف بين المسهلة والأخرى وتركه «أم لم تنذرهم لا يؤمنون» لعلم الله منهم ذلك فلا تطمع في إيمانهم، والإنذار إعلام مع تخويف.

(Sesungguhnya orang-orang kafir) seperti Abu Jahal, Tepung Lahab dan lainnya (sama semata-mata bagi mereka, apakah kamu beri peringatan) dibaca, a-andzartahum, yakni dengan dua buah hamzah secara tegas. Dapat pula hamzah yang kedua dilebur menjadi alif hingga sahaja lalu satu hamzah saja yang dibaca panjang (maupun tidak engkau serah peringatan, mereka enggak juga akan beriktikad.) Hal itu telah diketahui oleh Allah, maka janganlah kamu berharap mereka akan beriman. ‘Indzar’ atau peringatan, artinya manifesto disertai ancaman.

Ayat 7

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-hening hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka hukuman yang amat berat.

«ختم الله على قلوبهم» طبع عليها واستوثق فلا يدخلها خير «وعلى سمعهم» أي مواضعه فلا ينتفعون بما يسمعونه من الحق «وعلى أبصارهم غشاوة» غطاء فلا يبصرون الحق «ولهم عذاب عظيم» قوي دائم.

(Halikuljabbar mengunci senyap hati mereka) maksudnya menutup bersebelahan hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan (seperti itu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-radas atau sumber-perigi rungu mereka dikunci sehingga mereka bukan memperoleh kemustajaban dari legalitas nan mereka terima (sementara itu penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak bisa melihat kebenaran (dan untuk mereka hukuman yang besar) nan pelik lagi tetap. Terhadap manusia-orang munafik diturunkan:

Ayat 8

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Di antara orang ada yang mengatakan: “Kami berketentuan kepada Allah dan Perian kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya tidak turunan-orang yang beriman.

ونزل في المنافقين: «ومن الناس من يقول آمنا بالله وباليوم الآخر» أي يوم القيامة لأنه آخر الأيام «وما هم بمؤمنين» روعي فيه معنى من، وفي ضمير يقول لفظها.

(Di antara manusia ada orang yang mengatakan, “Kami berketentuan kepada Allah dan waktu akhir.”) yaitu hari hari pembalasan, karena perian itu adalah hari keladak. (Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman). Di sini ditekankan fungsi pembukaan ‘sosok’, jika kata ganti yang disebutkan lafalnya, yakni ‘mereka’.

Ayat 9

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Almalik dan bani adam-makhluk yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri semenjana mereka lain pulang ingatan.

«يخادعون الله والذين آمنوا» بإظهار خلاف ما أبطنوه من الكفر ليدفعوا عنهم أحكامه الدنيوية «وما يخدعون إلا أنفسهم» لأن وبال خداعهم راجع إليهم فيفتضحون في الدنيا بإطلاع الله نبيه على ما أبطنوه ويعاقبون في الآخرة «وما يشعرون» يعلمون أن خداعهم لأنفسهم، والمخادعة هنا من واحد كعاقبت اللص وذكر الله فيها تحسين، وفي قراءة وما يخدعون.

(Mereka hendak menipu Allah dan orang-individu nan berkepastian) yakni dengan berpura-pura beriktikad dan menyembunyikan kekafiran guna mereservasi diri mereka dari hukum-syariat duniawi (padahal mereka hanya menipu diri mereka seorang) karena bencana tipu daya itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri. Di bumi, rahasia mereka akan diketahui juga dengan dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di alam baka mereka akan menerima hukuman setolok (belaka mereka tidak menyadari) dan tidak menginsafi bahwa semu daya mereka itu menjangkiti diri mereka sendiri. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul berpangkal suatu pihak, jadi bukan bermakna berserikat di antara dua belah pihak. Contoh nan lainnya mu`aqabatul lish yang berarti menghukum perampok. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu mulai sejak tren bahasa namun. Menurut suatu qiraat tak termuat ‘wamaa yasy`uruuna’ semata-mata ‘wamaa yakhda`uuna’, artinya ‘tetapi mereka tidak berhasil menipu’.

Ayat 10

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

Privat hati mereka ada penyakit, habis ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

«في قلوبهم مرض» شك ونفاق فهو يمرض قلوبهم أي يضعفها «فزادهم الله مرضاً» بما أنزله من القرآن لكفرهم به «ولهم عذاب أليم» مؤلم «بما كانوا يُكذّبوِن» بالتشديد أي: نبي الله، وبالتخفيف أي قولهم آمنا.

(Kerumahtanggaan hati mereka ada masalah) berupa keragu-raguan dan kemunafikan nan menyebabkan sakit atau lemahnya lever mereka. (Dulu ditambah Tuhan problem mereka) dengan menurunkan Alquran yang mereka ingkari itu. (Dan bagi mereka ikab yang pedih) yang menyakitkan (disebabkan kedustaan mereka.) Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya amat mendustakan, merupakan terhadap Nabi Tuhan dan tanpa tasydid ‘yakdzibuuna’ yang bermakna berdusta, yakni dengan mengakui berkepastian padahal tidak.

Source: https://ibnothman.com/quran/surat-al-baqarah-dengan-terjemahan-dan-tafsir/1