Tangga Nada Lagu Padamu Negeri

NEGERI, dengarkanlah curhatan kami. Penutup-pengunci ini kami merasakan sesuatu yang aneh dalam diri kami. Ini benar-bermoral aneh.
Seken-seken
aneh! Mengapa tiap berlagu lagu terbiasa kewarganegaraan “Padamu Wilayah (Bagimu Kawasan)”, kami selalu pangling lirik ketiga?

Ah, danau memangnya bangun? Coba nyanyi!

//Padamu area kami bertaki/
Padamu daerah kami berbakti/ Padamu negeri kami bertuankan/ Bagimu Negeri jiwa bodi kami…//

Eh, siuman? Makara, Anda sungguh-sungguh ingat?
Yah, kalau Anda bangun, tak jadi
dong
saya narasi.
Ah, jangan dengarkan dia, Kawasan! Cukup dengarkan curhatan kami!

***

Suatu bisa jadi intern ritual, dinyanyikanlah lagu “Padamu Kewedanan (Bagimu Kewedanan)”. Kami (para murid) bersiap. Tatapan alat penglihatan lurus ke depan, tak lupa dada dibusungkan dan tangan memerah santan (bukan tetek). Napas dalam dada mutakadim siap bermetamorfosis nada.

Setelah aba-aba diisyaratkan, maka bernyanyilah kami: “Padamu kawasan kami bertaki. Lirik itu tentu diucapkan dengan pasti dan tegas. Pun pada lirik kedua:
Padamu negeri kami berbakti. Rasanya surai kuduk start merinding, mata menginjak berbinar, langit berubah nyala bangkang, kami merasa hanyut dalam suasana patriotik. Tentu, nada dan lirik yang kami ucapkan bermartabat.

Nah, giliran lirik ketiga dilantunkan:
Padamu daerah kami meng…, seketika kami mengubah notasi menjadi
ritardando. Suara leleh dan hampir hilang. Kami tak dapat mengucapkan lirik itu. Kami lupa. Tetapi, sampai puas lirik buncit, mulai-berangkat kami juga ke perkembangan yang moralistis, dengan berpengharapan, keras, dan berkumandang mengucapkan:
Bagimu negeri spirit fisik kami

Begitulah, Area. Begitulah ilustrasi yang bisa kami gambarkan tentang fenomena mendayukan lagu sakral karya Sampul Khusbini, yang sejak mungil telah kami dengar dan nyanyikan itu. Semestinya, karena sejenis itu hampir di telinga, kami tidak melupakannya. Cuma, plong kenyataannya kami mendalam lupa. Sekian kali bernyanyi, sekian bisa jadi lupa. Lalai lirik ketiga:
Padamu kewedanan kami mengabdi.

Di sanalah kadang kami merasa aneh. Ya, memang cak bertanya lupa lirik saat bersenandung yakni situasi yang biasa. Tapi, tiap nyanyi lagu itu
cak kenapa
cerbak pangling lirik yang itu. Pun lirik yang itu:
Padamu Negeri kami bertuankan. Lupa yang terjadi secara kolektif, bukankah itu hal yang aneh, Negeri?

Kami kaprikornus syak hati. Jangan-jangan, ini enggak lupa biasa, doang lupa yang mutakadim mendarah daging, mungkin mengaras tulang. Kami sengaja tidak mengingat itu. Kami sengaja menelantarkan “Padamu negeri kami menghamba.

Ah,
jangan-jangan ini cerminan kami, Provinsi. Iya, cerminan kami. Kami menemukan pola yang sebabat antara cara kami melagukan lagu “Padamu Negeri (Bagimu Negeri)” dengan kaidah kami menjadi anakmu (baca: Anak Negeri)”

Padamu Daerah Kami Berjanji

Begitu juga ilustrasi di atas, “padamu negeri kami berjanji”” diucapkan seterang janji-ikrar yang ditebarkan. Nan terang dan tegas hanya janjinya, tanya menepatinya biarkan diterbangkan angin lampau. Barangkali total janji nan (hanya) diucapkan melebihi jumlah hutang yang dibuat atas namaku, area nan katanya tanah indraloka ini. Munculnya, istilah “obral janji”, menandakan alangkah mudahnya kami berjanji. Usia janji di provinsi ini, layaknya lapak baju di pasar, diobral murah-megah-menanah, membusuk (Selain membuat acara seribu rumah bersubsidi, tampaknya pemerintah juga perlu membuat toko-toko yang unik mengobral taki. Takdirnya yang ini bukan tokonya nan disubsidi, tapi janjinya. Hohoho). Begitulah, Area. Namanya pun usaha!

Padamu Daerah Kami Berbakti

Lirik “padamu kawasan kami berbakti” juga diucapkan dengan benar dan tepat. Seperti dengan kami nan juga benar-benar berbakti padamu, yang disebut negeri yang bisa menyulap tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Tidak boleh cak semau suatu orang pun yang menghinamu (padahal mengkritik). Lihatlah! Betapa gemasnya kami menertawai dan menghukum basyar yang mutakadim melakukan kesalahan sekecil apapun terhadapmu. Betapa marahnya kami, terhadap tetangga yang mengklaim hoki kami. Bukan main berangnya kami momen kau diobrak-abrik maka dari itu segelintir orang. Bukankah itu mencerminkan bahwa kami mutakadim berbakti?

Padamu Negeri Kami Lupa nan Satu ini

Weh, untuk yang satu ini, begini Negeri. Ini sungguh-sungguh Distrik, dalam diri kami masih ada
kok
rasa mau
mengabdi
itu, sekadar saja kami tengung-tenging (untuk tidak menyebut sengaja). Sama dengan kata Teori Intrusi, “Album yang disimpan dalam jangka panjang masih tersimpan intern gudang album. Proses lupa terjadi karena rekaman nan satu mengganggu proses menghafal memori yang lainnya. Kali itu yang terjadi pada kami, ada satu hal yunior yang mengganggu kami lakukan mengingat “menghamba””itu.

Dulu kami memang punya memori bersama Kakek-nenek John F. Kennedy. Saat itu, kami duduk bersama di bawah pohon yang rindang, belajar bersama Kakek-nenek. Sebelum kami berpisah, Eyang berkata, “”Jangan tanyakan apa yang diberikan daerah kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negerimu!”. Sejarah itu masih tersimpan, hanya tetapi diganggu rekaman hijau yang diberikan sang Hedonis kepada kami. “Jangan tanyakan apa yang diberikan negeri kepadamu, memadai tanyakan berapa yang diberikan negeri kepadamu!”, begitu katanya.

Tapi memori yang diberikan si Hedonis itu, benar adanya. Gara-gara itu, kami punya pamrih baru yang takhlik kami senang. Omong nol kata si Eyang itu, Tapi, tenang saja kawasan, jiwa raga kami tetap dirimu mengapa!”

Sekian, Wilayah. Terima kasih sudah mendengarkan! Da da…

***

Pasca- mendengar curhatanku, Negeri pun berbisik dalam hati:

“Memang bersusila introduksi George Orwell, “Manusia hanya mengabdi pada dirinya sendiri”. Hohohoho. Begitu juga ilustrasi di atas setelah kalian lupa menghamba, lagi-kembali dengan yakin, persisten, dan berkumandang kalian menitahkan: BAGIMU NEGERI JIWA Awak KAMI! Ambil
smartphone, berswafoto berlatar merah-kudus-buka media sosial-unggah foto. Tak lupa dengan
#SayaIndonesiaSayaPancasila.”

(T)”

Source: https://tatkala.co/2017/07/12/menyanyikan-bagimu-negeri-maaf-kami-lupa-bagian-yang-satu-itu/