Tujuan Hidup Mencari Ridho Allah

Hidayatullah.com | Tegaknya
peradaban Islam merupakan visi kita bersama. Sahaja, jangan keliru! Engkau bukan tujuan hidup kita. Sebab, kebudayaan Selam –dengan atau sonder kita– tentu akan tegak. Ini sudah dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ dalam Hadits yang diriwayatkan makanya Ahmad ibn Hambal. Bukankah sesuatu yang pasti tak tepat bila dijadikan harapan?

Lalu, segala sebenarnya tujuan hidup kita? Beribadah kepada Halikuljabbar Ta’ala. Itulah intensi nasib kita, begitu juga disebutkan oleh Allah Ta’ala intern al-Qur’an pertinggal Az-Zariyat [51] ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ibadah, secara bahasa, berguna tunduk. N domestik makna nan lebih luas, para jamhur menyatakan ibadah mencengam seluruh segala nan diridhoi oleh Allah Ta’ala.  Inilah bahasa lain berbunga maksud kehidupan manusia. Segala pula yang membuat Allah Ta’ala ridho, akan kita cak bagi dengan segala ketundukan.

Riuk satu kejadian nan mewujudkan Allah Ta’ala ridho adalah keterlibatan kita dalam proses membangun peradaban luhur sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ membangun tamadun Madinah. Hanya, proses ini tidak bisa dijalankan secara tergesa-gesa. Proses ini akan tinggi dan terlazim tingkatan nan benar hendaknya betul-betul teladan.

Tahapan awal, jika merujuk perjalanan Rasulullah ﷺ, ialah ber-iqro, yakni mengaji dan mengerti siapa itu Rabb, barang apa yang diperintahkan oleh-Nya, dan apa pula yang dilarang maka itu-Nya. Pemahaman ini harus diikuti maka itu ketaatan bakal mematuhinya.

Tahap lebih lanjut, kita harus berdakwah, mengajak cucu adam enggak untuk meniti jalan literal bersama kita, jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi.

Jalan para Rasul lain pernah mudah, demikian juga perkembangan dakwah yang kita ikuti ini. Sebab, menurut Rasulullah ﷺ dalam Hadits yang diriwayatkan maka itu Bukhari, orang yang minimum susah cobaannya adalah para Nabi. Setelah itu orang-orang shaleh sesuai tingkat kesalehannya. Bila ia lestari, akan ditambah cobaan baginya. Bila dia litak dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya.

Ibni Taimiyyah juga menyatakan hal serupa n domestik al-Ubudiyyah. Menurutnya, orang-orang yang minimal keras cobaannya yaitu para Nabi, kemudian yang paling kecil menyerupai para Nabi, lalu yang paling menyerupai lagi. Karena itu, dakwah butuh keluasan pikiran. Mereka cak bagi menemui banyak hambatan. Bahkan, bisa makara mereka akan berhalaman-halaman dengan orang tuanya koteng, anak kandungnya, tampin hidupnya, atau cucu adam-orang yang dicintainya.

Dari proses dakwah inilah akan terbangun lingkungan yang punya tatanan sesuai ilham tanzil. Mulai dari lingkungan terkecil sebagai halnya keluarga, lama kelamaan, seandainya Allah Ta’ala menghendaki, membesar dan kian banyak.

Dulu pun demikian. Rasulullah ﷺ membangun lingkungn kecil di Madinah yang berpusat di Surau Nabawi. Suntuk sedikit berangsur-angsur berangkat meluas menyentuh seluruh Madinah. Kemudian membesar mencapai daerah-wilayah sekitar Madinah. Lebih-lebih, lega zaman Umar polong Khaththab, provinsi Selam semakin menular, meliputi semenanjung Arabia, Palestina, Suriah, Iraq, Persia, dan Mesir.

Sahaja, karena ini zakar proses yang lama, kali sejauh hidup kita, peradaban Islam tak pernah mengirik. Enggak mengapa! Sebab, intensi hidup kita bukan itu. Tujuan hidup kita adalah mencari ridho Allah Ta’ala.

Jika kita masuk terlibat n domestik upaya membangun peradaban Islam sebagaimana sangat Rasulullah ﷺ membangun peradaban Madinah, melintasi janjang-tahapannya dengan kepala dingin, maka isnya Allah, kita telah menjadi pemenang.

Wallahu a’lam.*

Rep: Mahladi

Editor: Individu Kamil

Source: https://www.hidayatullah.com/none/read/2020/12/08/197066/ridho-allah-itulah-tujuan-hidup.html