Umar Dan Ali Pergi Menonton

Sahabat Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib konsisten bina rumah tingkatan.

REPUBLIKA.CO.ID,Sikap eksemplar Rasulullah SAW kerumahtanggaan membina tanggungan juga dilakukan para sahabat beliau. Salah satunya Umar bin Khattab.

Alkisah, sebagai halnya dinukilkan Ahmad Rofi Usmani n domestik “Loklok Akhlak Rasulullah”, lega suatu waktu seorang pria menclok ke rumah Umar bin Khattab hendak mengadukan ki kesulitan budi pekerti istrinya.

Tetapi, sesampai disamping rumahnya, anda mendengar ampean Umar bin Khattab membebaskan alas kata-kata yang keras kepada suaminya, darurat Umar tidak menjawab sepatah kata pun. Alhasil, orang itu nanang, semoga dia membatalkan niatnya.

Detik basyar itu hendak mengambul pulang, Umar baru saja keluar dari portal rumahnya. Umar buru-buru berteriak menegur orang itu. Umar langsung bersuara kepadanya, “Engkau datang kepadaku pasti hendak membawa suatu berita nan terdepan. Basyar itu lalu berkata terus terang, “Ya, sahabat Umar bin Khattab, aku nomplok kepadamu hendak mengadukan ki aib akhlak istriku terhadapku. Akan tetapi, setelah aku mendengar kelancangan istrimu tadi kepadamu, dan sikap diammu terhadap perbuatannya, aku kaprikornus menyangkarkan niatku buat melaporkan kejadian itu.

Mendengar perkataan yang bonafide itu, Umar tersenyum boncel sembari berbicara, “Wahai saudaraku, istriku mutakadim memasakkan makanan untukku. Beliau juga telah kumbah pakaianku, mengurus urusan rumahku, dan mengasuh anak-anaku dengan tiada hentinya.

Oleh, bila ia berbuat suatu dua kesalahan, tidaklah cukup kita mengenangnya, medium arti-kebaikannya kita lupakan. Ketahuilah, wahai saudaraku, antara kami dan dia sekadar ada dua hal. Kalau kami tidak meninggalkannya dan terbebas dari perangainya, dia akan meninggalkan kami dan terbebas mulai sejak perangai kami pun. Begitulah pendirian Umar bersabar dengan istrinya.

Selain narasi Umar, terserah juga kisah Ali bin Abi Thalib yang mencoba membahagiakan istrinya. Ka’b al-Akhbar merenjeng lidah, ketika Fatimah pemudi Rasulullah sedarun istri Ali terban sakit, ia ditanya maka itu suaminya, “Ya Fatimah, engkau ingin buah barang apa? Jawabnya, “Aku cak hendak buah delima serikaya.” Ali pun tertegun sejenak sebab tiada tip sepeser sekali lagi baginya.

Semata-mata, dia segera menghindari berupaya meminjam uang sedirham, dahulu menjauhi ke pasar membeli biji zakar delima. Di tengah perjalanan pulang, terlihat seseorang nan jebluk sakit menggeletak di pinggir jalan maka Ali pula mengetem dan bertanya, “Hai ayah bunda barang apa nan dinginkan hatimu?” jawabnya, “Ya Ali, sejak lima hari aku tergeletak di arena ini, banyak basyar terlampau alang-alang di tempat ini, tiada seorang pun yang acuh padaku, padahal hatiku mereguk liur plong biji pelir delima.”

Maka Ali pun bungkam sejenak, kata hatinya, “Sebuah delima serikaya ini sengaja kubeli kerjakan istriku (fathimah), takdirnya kuberikan plong orang ini Fathimah karuan kecut hati, tetapi jika tidak kuberikan berarti aku enggak menepati firman Tuhan SWT.”

Kemudian, delima itu sekali lagi dibelah menjadi dua, separuhnya diberikan kepada orang tua itu, dan langsung sembuh, separuh lainnya untuk Fathimah, moga dia kembali buru-buru sembuh bersumber sakitnya. Sesampainya di rumah, Ali malu disambut   Fathimah yang merangkul dan mendekapnya sekali lalu berkata, “Sedihkah Anda, demi Allah yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, saat engkau ulurkan tangan dan mengasihkan buah delima kepada orang jompo itu maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu,” dan Ali pun lampau gembira dengan artikulasi istrinya itu.

sumber : Surat kabar Republika

BACA JUGA: Update Berita-Berita Garis haluan Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Source: https://www.republika.co.id/berita/q8ve34320/keteladanan-sahabat-umar-dan-ali-dalam-membina-rumah-tangga